11 Kiat Rawat Batik Tulis bagi Para Kolektor

Telah mengenal dan mengoleksi batik tulis sejak 4 dekade lalu, Neneng Iskandar yang juga pengurus Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia itu memberikan 11 kiat singkat merawat kain batik tulis yang harganya tidak murah bagi kantong kebanyakan orang. Berikut adalah 11 yang terpenting sebagaimana saya sarikan dari penjelasan beliau sepekan lalu (20/12/2014) di acara diskusi batik sekar jagad koleksi Kurnia Effendi di Galeri Batik, Museum Tekstil, Jl. KS Tubun, Jakarta Barat.

Hindarkan kain batik dari kelembaban tinggi
Tinggal di Indonesia yang tingkat kelembaban udaranya tinggi memang harus membuat kolektor batik hati-hati. Cara memerangi kelembaban ialah dengan membuka dan mengeluarkan kain batik itu dari almari atau peti penyimpanannya secara rutin. Istilahnya, diangin-anginkan di udara terbuka agar tidak lembab.

Almari atau tempat penyimpanan kain batik itu juga idealnya diberikan alas berupa kertas bebas asam yang biasa diimpor dari Jepang tetapi jika tidak memilikinya, gunakan kain belacu yang sudah dicuci atau direbus (agar kuman-kumannya mati). Dengan menaruh kain ini sebagai alas almari dan peti penyimpan kain batik, risiko kelembaban dan hewan kecil untuk masuk bisa ditekan.

Jika masih ingin memastikan agar koleksi batik tulis Anda yang berharga itu lebih terhindar dari kelembaban, gunakan saja silicon gel yang bisa didapatkan di toko-toko. Letakkan saja dalam bentuk kantong-kantong kecil dan masukkan ke tempScreen Shot 2014-12-26 at 09.34.30at penyimpanan batik tulis Anda.

Jangan diberi kapur barus
Serangan rayap atau binatang-binatang kecil memang masih susah dihindari. Namun, Neneng menyarankan sesuai anjuran dari gurunya mendiang Go Tik Swan:”Jangan diberi bahan-bahan apapun seperti kapur barus, akar wangi, dan sebagainya. Lebih baik diberi merica.” Pengasapan dengan ratus membuat kain batik lebih segar baunya tetapi menurut Neneng tidak banyak membantu mengusir hewan-hewan itu.

Sekali lagi Neneng menekankan, kalau Anda tidak mau menyesal, jangan diberikan bahan-bahan pewangi lainnya agar kain tetap awet.

Gunakan biji lerak
Lerak mungkin sudah lebih jarang dipakai oleh banyak orang saat mencuci pakaian dibandingkan deterjen kimia yang menggunakan surfaktan minyak bumi yang mencemari persediaan air bersih dalam tanah. Neneng mengatakan dirinya lebih memilih menggunakan lerak dalam bentuk biji utuhnya, bukan yang sudah dikemas dalam botol-botol. Ia mengaku ada seorang teman yang menjualnya. Atau kalau tidak, ia pergi ke Yogyakarta dan Solo untuk memborong biji-biji lerak untuk persediaan mencuci koleksi batiknya.

“Simpan saja biji lerak tadi di botol, kalau sudah agak kering, rebus dulu sebelum dipakai mencuci,” tukas Neneng. Ia menandaskan dirinya selalu setia memakai biji lerak, tidak pernah memakai yang lain. Sekalipun itu lerak instan.

Jemur di tempat teduh
Saat kain batik sudah selesai dicuci dengan lerak, rentangkan di tempat yang teduh atau tak terkena sinar matahari langsung.

Gunakan kanji
Berikan kanji pada kain batik Anda. “Karena kanji itu sifatnya melindungi kain (batik -pen),” imbuhnya.

Lipat di bagian berbeda
Setiap Anda melipat kain batik tulis, usahakan selalu ubah arah dan cara pelipatannya. Intinya selalu ubah cara pelipatannya. Intinya, lakukan rotasi. “Agar tidak ngecap, apalagi kalau kainnya tidak disentuh bertahun-tahun, bisa rusak kalau dilipat dengan cara yang sama.”

Hindari wiron
Wiron atau wiru adalah lipatan-lipatan kecil di kain batik khususnya jarik/ tapih yang dipakai oleh orang Jawa dahulu untuk membuatnya lebih rapi dan menarik dipandang mata. Menyimpan kain saat masih dalam bentuk wiron akan membuat kain batik makin lama makin keras (getas) sehingga jika dipegang nantinya akan rapuh dan bisa sobek dengan mudah.

Jangan pakai penjepit kertas
Terkait dengan wiron, Neneng juga mengatakan sebaiknya hindari menjepit kain batik dengan penjepit kertas dari bahan logam yang berpotensi merusak kain.

Setrika dengan suhu sedang
Neneng mengatakan boleh saja menyeterika kain batik tulis tetapi tidak dalam suhu tinggi. Untuk di-press boleh saja, katanya, karena bisa diberi kanji.

Beri furing
Kalau memiliki kain batik yang usianya sudah berpuluh-puluh tahun, jangan ragu untuk memberinya lapisan furing. Alasannya, menurut Neneng, agar kain yang amat berharga itu tidak mudah sobek saat dipamerkan, terutama karena terkena jarum. “Jadi yang kena jarum adalah furingnya, bukan kain batik aslinya,” jelas wanita kolektor batik itu.

Tisik jika sudah mulai robek
Bagaimana jika sudah mulai robek? Kata Neneng, jangan mengabaikan robek sesedikit apapun dalam kain batik tulis karena bisa tambah parah.

 

Semoga bermanfaat!

(Sumber foto: Kurnia Effendi)

2 Comments

Filed under save our nation

2 responses to “11 Kiat Rawat Batik Tulis bagi Para Kolektor

  1. Tapi soal wiron bagi orang Jawa kan sudah pakem kalau buat jarik,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s