Meski Sunda, Jiwa Jawa

img 20130929 00084

img 20130929 00084

Saya membuka pintu taksi. Di dalamnya seorang sopir menyapa dalam bahasa Jawa.  Logatnya aneh. Bukan orang Jawa, meski harus diakui ia cukup lancar. Namanya Nana R. begitulah yang tercetak di permukaan tanda pengenal pengemudi taksi di dasbor mobil. Remang-remang memang tetapi saya masih bisa membaca dengan jelas.

Nana jelas-jelas orang Sunda tetapi memiliki kebanggaan menggunakan bahasa Jawa. Ia malu-malu mengaku pada saya dirinya belajar bahasa Jawa dari banyak orang Jawa di sekitarnya. “Tapi saya tidak bisa kalau bahasa Jawa halus, mas. Apa namanya? Boso Kromo?”

Nana dan taksinya mengarungi malam yang pekat tanggal 13 Desember itu, mengantar saya menuju tujuan dari Taman Ismail Marzuki.

Ketakjuban Nana pada budaya Jawa tak hanya pada bahasanya yang rumit. Percakapan tiba-tiba bergulir ke batik.

Nana bercerita panjang lebar – tanpa saya pinta dan tanya – bahwa dirinya berkenalan dengan batik saat bekerja dengan orang India.

“Dia tekun sekali. Orangnya ulet. Di negeri asalnya, dia orang miskin tetapi di sini dia kaya raya,” ujar Nana.

Majikannya berasal dari India, tepatnya Bombay. Mungkin juga kebetulan sang majikan dan keluarganya sangat suka menambahkan bawang bombay dalam masakan mereka.

Tan Singh, nama sang majikan, sadar bahwa kain batik bisa menjadi ladang bisnis. Ia pun berkeliling Indonesia untuk mengunjungi sentra-sentra produksi batik di masa orde baru. Saat itu, kaya Nana, majikannya bisa menjual beberapa kontainer batik ke tanah kelahirannya. Nana yang saat itu masih lajang pun bekerja padanya selama 5 tahun. Ia mengaku tak betah karena Tan pelit, cerewet.

Tan tidak hanya membeli batik-batik yang sudah bagus dan kualitasnya memenuhi standar yang ia tetapkan, tetapi ia juga membina sejumlah produsen batik yang potensial sehingga mereka bisa meningkatkan produk mereka dalam hal kualitas dan kuantitas agar nantinya bisa dibeli dan diekspor ke India. Bersama Nana, Tan menelusuri kantong-kantong produsen batik di Indonesia dan membeli dalam partai besar. Tutur Nana,”Dulu saat masanya Pak Harto, batik sudah ekspor. Entah sekarang.”

Sambil menyetir taksinya, Nana bercerita lagi,”Yang laku (dari batik ñ pen) itu kan keunikannya. Sampai merata gitu kan. Ini motifnya sama dan dengan tangan! Terkenalnya Indonesia kan karena itu.”

Batik juga membuat orang mancanegara suka dengan tenaga kerja Indonesia, kata Nana. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa? “Ya kan sabar, rajin, bertalenta, apalagi yang di luar Jawa seperti Dayak.”

Nana menyayangkan sikap sebagian orang Indonesia sendiri yang kurang mencintai batik sebagai kekayaan budaya nasional bangsa. “Orang bule aja setiap lihat di Senayan (antusias – pen). Orang Jepang, Korea, yang lihat, masak orang kita (malah tidak mencintai batik – pen) tapi sekarang sudah mulai sadar sih.”

Semua itu ia ceritakan hingga kami sadar Nana belum menyalakan argo taksinya sejak tadi.

“Aduh, bagaimana ini??!!” ia kebingungan.

Nah, siapa suruh keasyikan cerita!

1 Comment

Filed under save our nation

One response to “Meski Sunda, Jiwa Jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s