Interviu, Saat Tepat untuk Membual bagi Pria

Rendah hati itu perlu bahkan menjadi daya tarik saat bergaul. Akan tetapi jangan lupa, ia juga bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya di saat-saat penting. Salah satunya adalah wawancara kerja.

Saat wawancara kerja, mereka yang menjadi pelamar kerja haruslah pintar membual atau siap-siap gigit jari! Demikian kurang lebih pesan yang bisa dipetik dari hasil penelitian ilmiah yang dilakukan pada sekelompok pelamar kerja pria. Bersikap apa adanya dan rendah hati malah membuat peluang mendapatkan pekerjaan makin tipis.

Menurut ilmuwan Corinne Moss-Racusin yang tengah menempuh program doktoral psikologi di Rutgers, para pelamar kerja di tahap wawancara dinilai sama kompetennya namun mereka yang bersikap apa adanya dan rendah hati malah kurang disukai. Inilah yang saya sebut sebagai bumerang.

Rendah hati dianggap sebagai kelemahan dalam wawancara kerja, sebuah sifat yang menunjukkan status yang rendah bagi para pria yang bisa mempengaruhi secara negatif potensi pendapatan dan penerimaan lamaran kerja mereka. Kerendahhatian pada perempuan sebaliknya tidak dianggap sebagai indikator negatif dan tak dikaitkan dengan status. Seksis? Betul sekali.

Temuan dalam studi ini dilaporkan dalam jurnal Psychology of Men and Masculinity.

Moss-Rascusin menjelaskan lebih lanjut, bagi para pria dan perempuan, aturannya sama sekali lain. “Perempuan haruslah lebih komunal dan berorientasi lain tetapi mereka tidak boleh dominan. Secara historis dan lintas budaya, pria dikaitkan dengan pihak yang berbuat, yaitu, lebih independen dan memiliki fokus daripada perempuan,” terangnya.

Dalam studi ini, 132 mahasiswi dan 100 mahasiswa menjadi relawan dengan mengikuti wawancara kerja selama 15 menit. Peneliti ingin mengetahui perbedaan stereotip gender dan bagaimana ia menjadi bumerang bagi individu.

“Perempuan diperbolehkan untuk menjadi lemah sementara sifat ini sangat dihindari pada pria,” ujar Moss-Racusin. “Sebaliknya, dominasi diharapkan ada dalam diri pria dan dilarang ada dalam perempuan. Maka dari itu, stereotip gender mencakup 4 pasang aturan dan ekspektasi perilaku.

Leave a comment

3 January 2015 · 10:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s