Sekat-sekat Muslihat

Dalam berita yang saya pernah dengar menjelang malam Natal, yang biasanya saya dengar adalah aparat kepolisian disibukkan dengan penjagaan di Gereja Katedral Jakarta. Saya tidak banyak bertanya mengapa katedral yang kerap kali disebut. Jika saya cermati memang lebih jarang saya mendengar ada pemberitaan penjagaan aparat di gereja-gereja Kristen Protestan di media massa.

Saya tak ambil pusing dengan itu karena saya tidak terpikir ada perbedaan di antara gereja Kristen Katholik dan Protestan.

Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang berkeyakinan Katholik. Pagi itu kami bersantap bersama di sebuah kedai makanan di alam terbuka. Kami menyinggung tentang Ahok yang berhalangan datang ke taman meskipun sudah diundang jauh-jauh hari.

“Saya juga sudah ragu kalau Ahok benar-benar akan datang ke sini,” terang teman saya itu. Pasalnya, Ahok memeluk Kristen Protestan. Dan katanya lagi, pemeluk Kristen Protestan memiliki keterikatan dengan gereja tempat ia menjadi jemaat. Seperti ada keanggotaan tetap dan mereka diwajibkan untuk datang dan menyumbang ke gereja itu sepanjang waktu.

“Lain dengan orang Katholik seperti saya,” imbuhnya. Gereja-gereja Katholik kata dia lebih terbuka dalam hal menyambut orang yang ingin beribadah. Tidak ada keanggotaan yang mengikat dan mereka diperkenankan untuk beribadah di gereja Katholik manapun di dunia ini, tidak cuma di satu gereja yang sudah menjadi tempat mereka memberikan komitmen penuh untuk beribadah.

Itulah mengapa kita tidak perlu heran saat ada tetangga yang memeluk Kristen Protestan yang tidak memilih untuk beribadah di gereja protestan di dekatnya dan lebih memilih beribadah di gereja yang lebih jauh. Ternyata itu karena ia sudah menjadi semacam anggota di gereja yang bersangkutan.

Karena itulah gereja Katholik lebih rawan terhadap penyusupan dan pemboman teroris yang mencoba mengacaukan kondisi yang kurang kondusif di antara umat beragama saat ini. Apalagi kita telah tahu munculnya bibit-bibit radikalisme di masyarakat Indonesia.

Dalam umat Islam sendiri – yang di dalamnya saya menjadi bagian – bisa dijumpai pula fenomena semacam ini. Ayah saya yang bergabung dalam Muhammadiyah hanya beribadah di satu masjid yang sudah ia bangun bersama kawan-kawannya. Lalu meninggalkan masjid Muhammadiyah di kampung lainnya yang sebelumnya biasa ia kunjungi yang juga sama dekatnya untuk beribadah hanya untuk beribadah di masjid baru tadi. Dan sangat tipis kemungkinan ayah saya mau sholat di masjid dekat rumah yang dibangun orang Nahdlatul Ulama (NU), kecuali semua masjid Muhammadiyah di desa, kecamatan atau kabupaten kami runtuh, rata dengan tanah.

Memang ayah saya tidak sampai seekstrim menghindari sholat di masjid lain saat berada di luar kota tetapi tetap saja ini membuat saya jengah. Mengapa harus fanatik seperti itu? Mengapa tidak sesekali ke masjid-masjid lain di sekitar kita, menjumpai orang baru yang sama sekali bukan warga kampung, orang yang bukan anggota organisasi yang sudah kita masuki, yang bukan bagian dari keluarga besar kita?

Leave a comment

3 January 2015 · 10:00 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s