Salah Kaprah Semangat “Just Do It!” dalam Bisnis dan Hidup (Ulasan Novel Pendek Kaas)

‎Terlalu seringnya orang menganjurkan kita untuk tak banyak berpikir dan langsung berbuat sesuatu yang nyata membuat mereka kerap mengutip semboyan Nike: “Just Do It!”. ‎Tak banyak orang yang sadar pemikiran asal berbuat seperti itu juga bisa menjadi mata pedang yang melukai diri sendiri.

Saya ingat dengan penuturan seorang entrepreneur, Rama Mamuaya. Pendiri DailySocial.net itu mengajak orang mengkritisi semboyan “Just Do It!”. Karena waktu sungguh berharga, dan jangan membuang waktu hanya untuk melakukan hal-hal tanpa landasan dan analisis yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, yang hanya membuat kita melakukan berbagai kesalahan yang semestinya bisa dihindari. Melakukan sesuatu memang penting tetapi juga harus disertai strategi yang tepat, begitu kira-kira ia berkata. Saya sepakat dengan Rama. Hal ini tidak cuma berlaku di entrepreneurship tetapi juga dalam banyak bidang kehidupan.

Dalam novella terjemahan dari Belanda yang terbit atas bantuan dana Erasmus Huis (Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta) yang berjudul “Keju” (Kaas) , pelajaran yang disuguhkan sang penulis asal Belgia, Willem Elsschot (nama pena dari Alfons de Ridder), sungguh amat mirip dengan apa yang disampaikan Rama tadi. Elsschot memang tidak sempat mengupas lebih dalam mengenai sisi-sisi gelap manusia yang tidak sabar, ingin menempuh jalan pintas, meremehkan masalah dan haus pengakuan dari orang-orang di sekitarnya tetapi ia mampu memberikan teguran atas sifat alami sebagian manusia untuk ingin cepat kaya dengan senjata optimisme semata tanpa diiringi sikap, pola pikir dan mentalitas yang tepat.

Cerita bergulir saat seorang pria Belgia bernama Frans Laarmans ingin mengubah peruntungannya begitu ia mendapat tawaran berbisnis keju Edam (jenis keju yang berbungkus lapisan merah berbentuk mirip roda). Laarmans yang cuma bekerja sebagai kerani (juru ketik dokumen-dokumen perdagangan) di galangan kapal ‎itu memang sudah muak dengan kondisi sosial ekonominya yang stagnan. Begitu masuk ke lingkaran sosial atas yang dipimpin Mijnheer van Schoonbeke, dalam diri Laarmans muncul hasrat ingin dihargai, dan satu-satunya jalan yang terbuka di depannya saat itu adalah menjadi pebisnis keju Edam. Ia ditawari menjadi importir keju Edam dari Belanda dan ditugasi menjualnya ke berbagai pelosok Belgia dan Luksemburg. Untuk itu ia sampai ingin meninggalkan pekerjaan keraninya. Sang istri menolak ide itu. Akhirnya ia merintis bisnis keju secara penuh waktu dengan dalih sakit syaraf. Alhasil, pria beranak dua itu diperbolehkan izin 3 bulan cuti tanpa digaji. Tetapi tak masalah, pikir tokoh utama kita itu karena gaji dan komisinya sebagai importir keju dua kali lipat dari gaji kerani.

Penulis kerap menunjukkan ‎betapa bebal dan tak siapnya si kerani itu menjalani kehidupan sebagai pebisnis keju. Frans tak tahu seluk beluk keju. Bahkan ia tak makan keju yang ia jual. Alasannya karena ia tak suka. Bagaimana seorang pebisnis bisa menggambarkan produknya pada calon pembeli jika ia saja tak suka dan tidak tahu? Dan yang lebih konyol, Frans tak terlalu percaya diri dengan disebut sebagai pedagang keju. Dengan berbagai trik, ia memilih nama perusahaan yang lebih bergengsi daripada hanya sekadar mengatakan berjualan keju Edam yang berkualitas tinggi.

Ego Frans sebagai pebisnis yang masih seumur jagung terus diuji tatkala ia menemui fakta bahwa menjual keju tak semudah yang ia sangka. Telah merekrut sejumlah orang sebagai agen penjual, bisnisnya tak kunjung sukses dalam hitungan pekan dan bulan. Hingga akhirnya sang mitra, Hornstra dari Amsterdam, yang mengiriminya keju Edam 20 ton berencana datang ke rumah yang ia juga pakai sebagai kantor. Frans gentar. Harga dirinya sebagai pimpinan keluarga dan bisnis sudah tercabik-cabik. Ia tak sanggup menghadapi Hornstra dan mengabari bahwa ia menyerahkan semua tanggung jawab penjualan keju tadi kembali pada Hornstra. Hanya sedikit sekali yang berhasil terjual. Itu pun karena upaya anak laki-lakinya yang masih berusia 15 tahun tetapi sudah cakap berbahasa Inggris dan mendapatkan pembeli. Frans sudah tak lagi tahan menjadi pengusaha keju dan memutuskan kembali menjadi kerani. Untung saja ia menuruti nasihat sang istri untuk tidak mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja.

Dalam beberapa kali penuturan, pembaca bisa menemukan kekonyolan Frans yang ingin menjalankankan bisnisnya dengan pola pikir seorang kerani, bukan cara pikir dan kerja seorang pengusaha.‎ Ia misalnya lebih memusingkan kertas dinding, meja kerja dan mesin ketik serta kertas surat berkop resmi Gapfa (begitu nama perusahaannya) daripada bagaimana agar keju 20 ton itu terjual laris secepatnya, menghasilkan untung dan mengembangkan usaha keju itu terus menerus. Jelas pengarang ingin memperolok sang tokoh utama yang demikian bebal karena ia mengira menjual keju adalah perkara mudah, hanya karena asumsi bahwa keju adalah makanan yang selalu dibutuhkan semua orang.

‎Elsschot menggambarkan ironi yang banyak dihadapi orang saat ini meski novella ini diterbitkan tahun 1969. Ironi itu adalah betapa banyaknya orang yang ingin menjadi entrepreneur tetapi belum sadar bahwa mental mereka belum atau bahkan sama sekali tidak dan tidak akan pernah menjadi entrepreneurial. Tak banyak yang bisa menerima bahwa keahlian berwirausaha memang sebuah bakat di dalam diri yang juga harus diiringi kerja ekstra keras, koneksi yang luas dan keberuntungan yang tinggi jika mau sukses. Pesan moralnya mungkin adalah semua orang mau mencicipi atau menangguk nikmat menjadi pengusaha tetapi belum siap dengan sengsara yang harus dijalani sebelumnya. Karena meski kesempatan itu datang menghampiri, kerap kali kita justru belum menyiapkan diri.

1 Comment

Filed under entrepreneurship

One response to “Salah Kaprah Semangat “Just Do It!” dalam Bisnis dan Hidup (Ulasan Novel Pendek Kaas)

  1. Keren ini kisah, apapun usaha dan tekad memang tidak langsung “just do it” karena soal wirausaha bukan sebatas memakai sepatu lalu lari😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s