The Price of Speech and Press Freedom ( #JeSuisCharlie )

‎In 2014, we witnessed the beheading of American journalist James Foley and freelance reporter (or some say, humanity worker) Steven Sotloff by Islamic State on a viral video on the web. They are amongst 71 journalists murdered during the turmoil in Syria, wrote democracynow.org on September 3, 2014. ‎
Another senseless tragedy in journalism involving Islamic State occured recently‎. As the year of 2015 unfolds, French satire magazine Charlie Hebdo has become the headline itself. As BBC reported on January 7, 2015, several men with guns “have shot dead 12 people at the Paris office of French satirical magazine Charlie Hebdo in an apparent militant Islamist attack.” ‎
Being a moslem and a journalist myself, I feel particularly disgusted‎ when I read on the news they screamed “Allahu Akbar!” as the suspects raided the magazine office in Paris. It’s not they way we want as moslems. ‎
‎A moslem Indonesian journalist Pepih Nugraha of national prominent paper Kompas commented on the bloody incident on his Facebook account:
“Tanpa bermaksud merendahkan arti “kebebasan berpendapat dan berekspresi” yang diagung-agungkan Barat, ada baiknya kita simak pernyataan (tepatnya pertanyaan filosofis) yang pernah dilontarkan Menlu Perancis Laurent Fabius terkait kebebasan tanpa batas ala majalah satir mingguan Charlie Hebdo Officiel, yang gemar menghina agama, khususnya menghina Nabi Muhammad dalam bentuk kartun: “Apakah itu namanya tindakan cerdas atau masuk akal menuangkan minyak ke atas api yang membara?” Pernyataan Fabius ini ditujukan kepada pengelola majalah Charlie Hebdo yang gemar memuat tulisan humor, satir, gambar, atau kartun yang menghina Nabi Muhammad, yang telah memunculkan gelombang amarah di kalangan Muslim dunia.

Jualan majalah mingguan ini memang provokasi, khususnya memprovokasi orang beragama. Pada hampir setiap edisi, selalu tersedia ruang yang seakan-akan khusus diperuntukkan untuk menghina Nabi Muhammad. Memang menyedihkan, bahkan pikiran Barat yang konon hebat-hebat itu mengandalkan hidup dan menjalankan profesinya sebagai penghina keyakinan orang. Boleh jadi Fabius bukan orang soleh-soleh amat, bahkan mungkin ia tidak punya keyakinan religi, dan tidak pula bermaksud membela Islam atas pernyataannya itu. Tetapi pemikirannya justru telah melampaui batas para pengelola mingguan Charlie Hebdo sendiri sehingga paham akan “bahaya” atas “kebebasan berpendapat tanpa batas” yang diagung-agungkan itu. Hanya saja Charlie Hebdo “kopig” (kepala batu) atas “alerting” dari Fabius dan menganggapnya sekadar angin lalu.

Takkan ada asap jika tidak ada api. Charlie Hebdo berkali-kali mendapat serangan kekerasan berdarah. Tetapi apa boleh buat, hidup-matinya mingguan ini rupanya hanya dengan cara menghina agama, memperolok-olok keyakinan orang, dan menghina sosok Nabi yang begitu dihormati ratusan juta orang. Namun demikian, penyelesaiannya bukanlah dengan cara kekerasan seperti yang ditunjukkan dalam peristiwa berdarah kemarin itu, apalagi harus menelan korban jiwa sampai 12 orang tewas. Penghormatan tetap pada 12 korban dan hukum pada para pelaku kekerasan harus diterapkan dengan seadil mungkin. Semoga dengan peristiwa ini, Charlie Hebdo tidak lagi menghidupi dirinya dengan cara menghina agama dan keyakinan orang lain.

Soyez le français était digne, Monsieur! ” (Pepih Nugraha)

Pepih strongly believes that speech and press freedom has its own boundaries, i.e. by not mocking and insulting other people’s belief. He quoted Foreign Affairs Minister Laurent Fabius, who questioned Charlie Hebdo objective of publishing insulting cartoons of Muhammad and many other religious, highly respected personalities. Why should it be always in form of mockery and satire? Can they sell magazines without insulting other people’s belief?

Pepih highlighted that the violence against Charlie Hebdo staff is never justifiable but he also mentioned about the very delicate boundaries any press and journalists should respect before they ‎publish anything.

Or else, are we ready to pay the price of speech and expression freedom?

Leave a comment

Filed under journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s