Ananda Sukarlan

 Tidak salah jika pianis Indonesia Ananda Sukarlan (46) terpilih sebagai Tokoh Seni 2014 oleh Majalah Tempo. Ia sudah malang melintang di dunia seni musik sejak usia 5 tahun, saat ia mulai belajar dengan sang kakak Martani Widjajanti hingga sekarang tampil di berbagai perhelatan internasional. Lulusan University of Hartford itu meraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri. Pengakuan terbaru atas kiprahnya ialah dicantumkannya Ananda dalam buku “The International Who’s Who in Music”, yang membuatnya menjadi pianis Indonesia pertama di dalamnya.

Sore itu (11/1/2015), Ananda tampil di panggung dengan mengenakan setelan jas batik yang menurutnya sedikit membuatnya gerah. Maklum, meskipun ia duduk, tangan dan tubuhnya  harus banyak bergerak memainkan grand piano di depannya. 

Dalam hajatan Konser Tahun Baru itu yang digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta itu, Ananda terseret ke kenangan masa kecilnya. Bersamanya akan tampil pula dua orang pianis prodigy (anak berbakat -pen) dari kota Surabaya yang memenangkan Ananda Sukarlan Award tahun lalu: Olivia T. S dan Hamond Rahardjo. “Kalau saya usia 8 tahun, belum bisa bermain sebagus mereka,” tutur pria itu mengenang masa kecilnya.  

Banyak anak-anak yang hadir dalam konser yang berlangsung selama 90 menit itu. Mereka duduk bersama orang tua mereka menyaksikan Ananda dan dua orang penampil cilik itu menyuguhkan berbagai nomor.

Karena temanya “Havin’ a Good Time”, Ananda ingin konser tersebut berjalan tidak sekaku pertunjukan musik klasik formal yang meniadakan interaksi dengan audiens. Di antara permainannya, ia menyempatkan untuk berbicara sembari memberikan sedikit pengantar mengenai komposisi yang ia akan mainkan. “Silakan jika ingin bertanya langsung, atau jika terlalu malu, bisa tweet ke @anandasukarlan supaya saya bisa jawab,” ungkap salah satu pendiri Musica Presente dan Jakarta Conservatory of Music itu. Untuk itu, ia tak segan membawa BlackBerry-nya di dalam kantong agar bisa membaca cuitan tanggapan dari audiens konser. 

Ananda yang aktif di Path dan Twitter ini juga mendorong audiens mengunggah foto konser itu ke jejaring sosial untuk memperkenalkan musik klasik ke masyarakat luas. 

Permainan Ananda membuka pertunjukan saat lewat pukul 4 sore. Sebagai pemanasan ia memainkan Rapsodia Nusantara nomor 1 yang diilhami dengan lagu-lagu rakyat di Jakarta, yaitu Jali Jali dan Kicir Kicir. Dalam konsernya kali ini ia memainkan sejumlah nomor pilihan dari koleksi Rapsodia Nusantara yang terinspirasi dari berbagai lagu daerah Indonesia.

Mengenal dan belajar musik klasik sejak dini bagi Ananda merupakan sesuatu yang perlu. “Pendidikan musik itu untuk semua, bukan hanya untuk mereka yang ingin menjadi musikus,” ujarnya. Baginya, pendidikan musik berguna untuk jiwa, otak, kecerdasan, dan sebagainya. Belajar musik belum tentu membuat seorang anak nantinya berkarir sebagai musikus setelah dewasa, kata Ananda lagi.

Sang pianis menyuguhkan dua nomor yang menandai pengalamannya sebagai seorang ayah yang membimbingi anaknya untuk belajar piano. Anaknya Alicia menjadi pendorongnya untuk menggubah dua karya pendek untuk anak-anak dan remaja; Baroque Dance dan Song of the Lotus Flowers. Lagu yang kedua membuat anak belajar mengenali suara air, kata Ananda.

Musik klasik menginspirasi banyak orang. Tidak terkecuali para pemusik pop. Mereka menggunakan melodi-melodi yang ada dalam sejumlah lagu klasik untuk diadaptasikan dengan selera kekinian. Misalnya lagu milik Phil Collins yang menurut Ananda memiliki kemiripan dengan lagu klasik Sonatine yang digubah oleh komposer abad ke-18 dari Eropa.

Ananda juga menampilkan secara perdana karya teranyarnya Rapsodia Nusantara no12 A, karya piano solo virtuoso dalam Jakarta New Year Concert ini.

Hamond dan Olivia bermain silih berganti secara solo memainkan komposisi pilihan. Kemudian suasana makin seru saat kedua anak itu memainkan komposisi “Apfelstrudel”, “Strawberry Cheesecake” dan “Chocolate Mousse” dalam satu piano dalam waktu bersamaan. Karena tubuh mereka yang mungil, keduanya harus menggeser-geser letak kursi agar lebih nyaman di depan piano besar di panggung. Dan untuk itu, mereka berkali-kali mengubah posisi kursi sebelum bermain hingga membuat penonton terkekeh. Sebuah pemandangan yang langka jika masuk ke pertunjukan musik yang dimainkan pianis dewasa. Semua komposisi itu dibuat Ananda untuk dimainkan oleh 4 tangan, yang dulunya dikhususkan untuk putrinya sehingga ia bisa memainkan piano bersama sang anak.

Ananda lalu ikut bergabung memainkan “Not Rapsodia Nusantara, but Almost” dengan Hamond dan Olivia dalam satu piano. Trio ini memainkan komposisi tersebut dengan tempo cepat dan sanggup memukau audiens. Uniknya, Hamond dan Olivia memainkan tanpa melihat partitur, sementara Ananda masih harus membaca partitur. “Kami pakai partitur karena yang tidak hafal justru saya!” selorohnya sebelum bermain. Alunan lagu “Gundul Gundul Pacul” yang riang dari Jawa Tengah mendominasi karya yang mereka bawakan.

Ananda juga membawakan karya Rapsodia Nusantara no 12 A dan 15 yang ia mainkan hanya dengan tangan kiri. “Kenapa untuk satu tangan? Karena saat latihan bisa juga sambil minum wine atau memegang yang lain,” canda Ananda. Namun, alasan sebenarnya ialah karena ia pernah bekerjasama dengan Ratu Sophia dari Spanyol yang memiliki perhatian besar pada pembelajaran musik klasik termasuk untuk anak-anak yang difabel. Lagu yang ia bawakan itu Ananda buat untuk dimainkan oleh anak-anak difabel agar mereka masih bisa bermain piano atas permintaan Ratu Sophia. “Ada karya yang bisa dimainkan untuk tangan kiri saja, tangan kanan saja, bahkan tanpa pedal bagi anak-anak yang tidak memiliki kaki.”

Dalam intermezzo-nya, Ananda menyampaikan kegundahannya mengenai dokumentasi lagu-lagu daerah nusantara yang masih memprihatinkan. “Himbauan untuk pemerintah yang baru, dokumentasi lagu rakyat Indonesia masih kurang. Terus terang kalau saya mencari di Internet, saya tidak bisa menemukan melodi lagu-lagu rakyat asli Indonesia. Yang ada cuma judulnya, padahal yang dibutuhkan melodinya,” kritik Ananda. 

Konser itu ditutup dengan permainan lagu “Lonely Child” yang ia persembahkan untuk para korban dan terutama anak-anak yang ditinggal mati orang tua mereka yang menjadi korban kecelakaan AirAsia QZ8501 akhir tahun 2014 lalu. (*/Akhlis)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.