Dari Konser Awal Tahun Ananda Sukarlan

‎Suara pianis itu terbata-bata di tengah ruangan besar yang nyaris gelap gulita. Ada vibrasi di dalam suaranya. Bukan vibrasi seperti milik Siti Nurhaliza. Ini getaran yang lebih mirip gemuruh retaknya dinding Situ Gintung sebelum beberapa saat ambrol karena tak kuasa lagi menahan air di dalamnya. Hanya saja bukan air bah atau airmata yang keluar. Emosi yang tertahan itu segera ia luapkan melalui ujung jari jemarinya ke tuts piano sore kemarin.

“Sebenarnya karya ini ditulis untuk film dokumenter tentang anak-anak autis. Judulnya ‘Lonely Child’,” tutur pianis Indonesia Ananda Sukarlan yang baru saja menggelar Jakarta New Year Concert 2015 hari Minggu (11/ 1/ 2015) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki Jakarta. Ananda sendiri hidup dengan Asperger’s Syndrome, salah satu jenis autisme. Mungkin itulah yang membuatnya agak emosional saat bermain. Dan mungkin juga karena ia mendedikasikan permainannya pada korban kecelakaan AirAsia QZ8501 akhir tahun lalu dan anak yang menjadi yatim piatu karena peristiwa naas itu. Ananda sendiri menyebut ada kenalan yang juga menjadi korban di dalamnya.

Namun, berbeda dari tema lagu pamungkas nan sendu itu, atmosfer dominan pertunjukannya yang berlangsung selama 90 menit itu sebetulnya cerah ceria. Agar lebih meriah, Ananda tak tampil solo sore itu di panggung. Ia mengajak serta Hamond Rahardjo dan Olivia Sutikno yang masih berusia 8 tahun.

‎Konser piano sore itu agak sedikit terganggu saat seorang anak kecil beberapa kali menangis karena mungkin takut kegelapan. Digendong sang ayah keluar, tangisannya masih cukup terdengar. Mendekati akhir konser, Ananda ingin juga menyapa seorang teman sesama pianis yang tak ia temukan di tempat duduk. Ternyata temannya itu si bapak yang keluar menggendong anak tadi.

Ananda mengemas konser tersebut agar lebih interaktif. Lebih social media savvy, begitu istilah modernnya. Tak malu-malu ia mengundang audiens berinteraksi mengenai karya-karya yang dibawakannya agar suasana lebih ‎komunikatif dan hidup. Ia mempersilakan audiens untuk juga menyampaikan respon via Twitter. Apa daya, koneksi Internet di dalam ruangan itu lemah. Ananda pun mengusulkan konser berikutnya agar memberikan fasilitas hotspot di dalam ruang sehingga audiens lebih leluasa mengunggah tanggapan mereka. Sebuah ide yang menarik.

Ananda memainkan sejumlah lagu dari Rapsodia Nusantara. Di antaranya Rapsodia Nusantara nomor 7 yang ia bawakan sebagai pembuka konser. Lagu ini diilhami oleh Kicir-Kicir dan Jali-Jali dari Jakarta.

Mood audiens dibimbing menuju klimaks dengan menyuguhkan penampilan dua pianis belia dari Surabaya. Olivia dan Heymond sama-sama masih 8 tahun. Mula-mula mereka bermain sendiri-sendiri, lalu berpasangan di satu grand piano hingga puncaknya bermain bertiga secara simultan dengan Ananda di nomor “Not Rapsodia Nusantara But Almost”. Di dalamnya ada irama Gundul Gundul Pacul dari Jawa Tengah yang diaransemen ulang.

Nomor lain yang tak kalah syahdu ialah “Another Form” yang menurut Ananda digubah dengan diilhami kutipan bijak Rumi yang mengatakan:”Everything you lose comes in another form”.

Ananda yang ternyata pribadi yang jenaka itu berseloroh dengan nada mengkritik mengenai kurangnya upaya dokumentasi lagu-lagu daerah Indonesia. “Kalau dicari di Internet, yang ada hanya judul-judul lagunya. Buat apa kalau cuma judulnya? Yang dibutuhkan itu melodi-melodinya.”

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s