Kucing Mencret Terkutuk

‎Ibu kos gusar bukan kepalang. Bukan karena ada yang menunggak uang kos bulanan yang naik cuma Rp50.000 tahun ini. Bukan juga karena rencana pemerintah yang akan mengenakan pajak bagi rumah-rumah kos di ibukota ini. Ia juga sudah tak ambil pusing kalau ada orang yang sembarangan parkir sepeda motor di garasi sempit itu.

Ibu kos ‎jengkel kali ini karena seekor kucing bermalam di kos kami tanpa izin. Sudah menginap gratis di atas almari yang hangat, kucing keparat itu bukannya meninggalkan uang atau makanan enak untuk kami. Ia malah meninggalkan “bonus lezat” berupa tinja encer yang ia seret-seret ke mana-mana. Baunya jangan ditanya.

Pagi buta bu kos pantas murka. Untung saja saya masih lelap di ranjang. Menyaksikan lantai di sebagian koridor ‎terkena tinja, bu kos pasrahkan saja pada sang suami. “Pak, bersihkan ya. Mau nyuci nih,” pintanya pada sang suami sembari mengambil pakaian kotor penghuni kos yang harus dicucinya pagi itu. Kalau kesiangan ia bisa ketinggalan sinar mentari yang makin langka saja beberapa hari belakangan. Di teras balkon, cucian lembab bergantungan rapat hingga menutup pandangan kami. Anggap saja sebagai tirai sementara. Toh nanti kalau sudah kering, pasti kembali lega pandangan mata ini.

Tinja kucing bangsat itu, menurut penuturan bu kos, tidak sampai ke depan kamar ‎kos saya. Sambil terkekeh ia bercerita tinja yang mirip bubur kertas berwarna kuning pucat itu tercecer di lantai bawah kos hingga akhirnya sang kucing memutuskan untuk menuntaskan proses defekasi dini harinya itu di depan pintu kamar kos seorang wanita. Esok harinya wanita itu bertanya tanpa curiga. “Apa sih itu mbak yang tercecer di depan kamarku?” Dengan kegeraman seorang tukang jagal, ia menjawab,”Ada kucing mencret.”

Setelah bercerita tentang kucing laknat yang berak secara random itu, bu kos kemudian mengenang seorang tetangga yang menjemur beras berkutu di halaman. Setelah seharian dijemur, esoknya ia menemukan beras di tampah itu sudah tidak berkutu. Hanya saja, ada cairan setengah padat di dalamnya. “Itu apa ya?” tanya si pemilik beras. Bu kos menjawab dengan enggan,”Tai kucing mencret.” Lalu si pemilik beras itu mengambil tampah tadi dan masuk ke dalam rumah. Bukannya dibuang semuanya, tetapi sebagian beras yang tidak kena tai kucing itu disisihkan oleh si tetangga dan dimasak jadi nasi yang lezat. Begitu cerita bu kos sambil menyeringai jijik.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s