Maya Tidak Gila

Study of a Seated Veiled Female Figure (19th Century)

Study of a Seated Veiled Female Figure (19th Century)

Maya itu aneh tetapi nyata. Di kelas, selama kurang dari setahun kami berada di satu bangku yang sama, ia diam seribu bahasa. Kami tak saling menyapa. Ia tidak bisu. Hanya saja, saya hidup di dunia nyata. Maya, di dunia Maya sendiri. Dunia itu penuh dengan aktor-aktor Hongkong terkenal. Andy Lau, Jay Chou, Jimmy Lin. Pria-pria semacam mereka itulah. Mereka sipit, berkulit bersih, rupawan, bergelimang dollar (Hong Kong, tentunya) dan ketenaran sebagai selebritas.

Maya kerap menjadi bahan olok-olok. Hidupnya di lingkungan sekolah cukup susah. Toh ia bisa bertahan selama 3 tahun, dan lulus dengan begitu susah payah. Saya tahu itu.

Saya masuk ke kelas ini atas pilihan pribadi saya. Tanpa peduli pertimbangan orang lain, saya putuskan masuk ke kelas IPS setelah di kelas IPA otak saya menolak bekerja. Sayangnya, cuma kelas IPS 1 yang muridnya berjumlah ganjil. Dan kursi kosong itu hanya ada satu. Di sebelah Maya. Kalau Anda jadi saya, harus bagaimana?

Suaranya yang kecil dan tidak jelas di telinga saat diajak bicara membuat siapa saja merasa terkekeh, ingin menggoda dan memanfaatkan kepolosannya untuk sekadar hiburan di waktu rehat. Keji sekali kelihatannya, tetapi olok-olok itu tampak normal saja di mata kita, orang-orang di sekitarnya yang menganggap Maya idiot.

Sebetulnya kata idiot kurang pas diberikan pada Maya nan malang itu. Ia bukannya anak yang begitu dungu. Apalagi ber-IQ jongkok. Sama sekali salah. Ia masih bisa berpikir. Hanya saja, kata orang, ia tak kuat lagi dengan orang tuanya. Mereka berdua menekan Maya agar bisa menjadi anak berprestasi di sekolah. Begitu kira-kira selentingan yang beredar selama ini di sekolah kami yang besar itu.

Wajahnya sering terlihat menunduk ke arah lantai. Saya juga penasaran kenapa ia kerap memandang ubin kelas kami yang kotornya minta ampun kala hujan. Saat diajak berbicara, pandangan matanya sedetik dua detik terarah ke lawan bicara dan sisanya ia arahkan lagi ke lantai. Ia terus memandang lantai, lalu mengangguk-anggukkan kepala seolah sudah paham perkataan yang baru diucapkan lawan bicaranya. Bila Maya tak setuju atau punya komentar, ia akan tetap tertunduk dan mulutnya komat kamit dalam tingkat kejelasan suara yang rendah. Cara melangkah Maya terlalu lebar bagi seorang anak gadis. Kakinya itu pendek tetapi tak mau kalah dengan lebarnya langkah Tim yang pemain basket nan jangkung itu. Di punggungnya yang kecil, Maya biasa menggantungkan sebuah tas punggung berukuran besar. Isinya macam-macam. Anehnya, buku-buku Maya itu bercampur aduk tak karuan. Saya menebak ia tak peduli apakah sudah membawa buku-buku yang diperlukan sesuai jadwal pelajaran atau tidak. Maya hanya membawanya saja di punggung. Masa bodoh dengan kesesuaian jadwal di sekolah atau tidak. Karena itu, Maya juga sering dimarahi karena tak mengerjakan atau membawa hasil pekerjaan rumah. Di sinilah, saya kadang sangat percaya ia idiot.

Perilakunya susah ditebak. Jalan pikirannya juga bukan milik orang biasa. Ada sesuatu yang salah di otaknya. Sangat salah. Katakanlah, murid kebanyakan lebih suka mencontek daripada tertangkap basah guru tidak mengerjakan PR. Maya cukup berani mengabaikan kewajiban itu dan masuk ke kelas tanpa merasa bersalah dengan buku kosong. Guru-guru kami sudah tahu ia berbeda. Begitu berbedanya hingga ia diperlakukan bagai anak bawang dalam sebuah permainan. Saat ia diketahui tak mengerjakan PR, guru-guru biasanya diam saja. Mereka tak banyak bicara, apalagi memaksa. Alhasil, nilai-nilai Maya ada di batas bawah rata-rata nilai kelas.

Maya pernah suatu saat menjadi sasaran keisengan guru yang jahil. Guru PPKn, tepatnya. Siang itu, kami semua tengah menyimak pemaparan sang guru di depan. Membosankan. Kami menatap lembar demi lembar buku teks itu. Maya yang ada tepat di depan guru tampak sungguh sibuk. Tubuhnya membungkuk. Ah, dia cari mati, batin saya. Kegiatan itu sudah menjadi favoritnya sebagai alat pembunuh kebosanan yang meraja. “Tapi bukan begitu caranya!” teriak saya dalam hati. Saya tak bisa bayangkan jika si guru memergokinya menggambar kartun-kartun ala komik Jepang itu. Ya, ia pandai sekali menggambar. Sketsa-sketsanya mirip milik komikus profesional. Beberapa siswi di kelas kami bahkan terus terang menyukai dan memuji bakat artistik Maya itu. Maya yang keasyikan menggambar itu akhirnya diingatkan si guru PPKn untuk menggarap pekerjaan yang dibebankan. Tak mau, Maya melanjutkan menggambar karakter kartunnya di buku catatannya. Semua buku catatannya lebih mirip buku gambar. Tulisan tangannya yang jelek itu lebih sedikit daripada jumlah sketsa tokoh kartun idolanya. Sekarang tahu rasa dia kepergok guru begitu, pikir saya. Sejurus, karena mungkin kesal, guru itu merebut buku Maya, lalu memamerkan hasil coretannya ke seisi kelas dan membahasnya. “Ini siapa, Maya?” tanya guru PPKn itu padanya. Maya sontak terkejut, ekspresinya mirip anak yang mainannya tiba-tiba direbut anak lain. Ia gusar sekali, berteriak dengan kedua tangan terjulur ke atas mencoba meraih kembali buku itu. Tergambar di lembar buku itu sesosok pria muda. Bisa jadi itu lelaki idamannya. Setidaknya dalam fantasinya. Suara gadis itu meraung-raung. Saya cemas ia akan pingsan atau meracau atau berbuat nekat yang tak bisa ditebak. Begitu juga kejadiannya dengan guru sejarah kami yang marah karena Maya membiarkan lembar kegiatan siswanya kosong melompong. Maya beranjak tiba-tiba dari tempat duduknya dan keluarlah ia dari kelas. Tatapan mata kami mengikuti. Semenit, dua menit, lima menit, ia tak kunjung kembali. Kemudian pelajaran tertunda. Maklum guru kami juga jadi cemas karenanya. Jelas ini murid yang sungguh istimewa sehingga tidak bisa ditangani dengan metode yang lazim. Maya kembali ke kelas di jam pelajaran berikutnya. Ia tak mau lagi berada di kelas saat ada guru-guru tadi. Tapi pekan depannya, ia rupanya sudah lupa. Tandanya, ia sudah masyuk dengan aktivitas sketsanya yang lebih membuat jiwanya puas dan bahagia itu. Begitu ia menggambar, dunia ada di kertas dan pensil yang ia hadapi. Apakah ini suatu jenis autisme? Saya kurang tahu.

Untung wali kelas kami wanita penyabar. Bagaimana kami tahu ia penyabar? Rambutnya selalu memiliki gulungan dan lengkungan menawan di ujung-ujungnya. Ikal mayang yang tidak alami, kami tahu. Rol-rol rambut itu membantunya mencapai tatanan rambut yang maksimal. Wajahnya juga terias baik. Bukan jenis riasan yang selesai dalam 5 menit, tetapi 50 menit. Itulah kenapa saya katakan ia sabar. Setelah ia memberikan instruksi, biasanya ia menyapa Maya untuk membawa anak itu kembali ke dunia nyata.

Jelang ujian, Maya tetap menggambar seperti biasa. Kalau bosan melanda, gadis berambut sebahu itu membaca buku komik pinjamannya dari rental buku di pusat kota. Ia membuat saya geleng-geleng kepala saat dengan lihai menaruh komik itu ke dalam buku teks pelajaran yang ukurannya bisa dua kali lipat. Ia tahu guru di depannya tak akan menarik perhatian, karena guru mana yang tidak senang melihat muridnya tekun membaca buku? Mereka mengira Maya fokus menyerap saripati pelajaran dalam buku. Di saat-saat seperti itulah, saat ia tak peduli dengan akibat yang bisa ditimbulkan kenekatannya itulah, saya yakin ia bukan manusia waras. Kami sudah kelas tiga dan murid terbengal di kelas pun telah memeras otak, memikirkan bagaimana bisa lulus dari sekolah ini dan melanjutkan hidup mereka di luar tembok sekolah yang mengungkung ini. Maya tak tampak mencemaskan hal-hal semacam itu. Yang ada di di kepalanya bagaimana menggambar Jimmy Lin dengan lebih realistis lagi, bagaimana menggambar semua tokoh kesayangannya di komik Jepang yang baru ia pinjam tadi sore.

Ebtanas menjelang dan ia bergeming dari hobinya itu. Yang penting, akhirnya ia lulus dari sekolah ini. Akhirnya ia bebas menggambar apa saja. Meski nantinya kembali terkungkung di bangku kuliah. Entah bagaimana ia berhasil keluar dari sana, tetapi ia pasti lebih menderita. Dunia memang kejam baginya.

Update:

Februari tahun kemarin seorang teman bertemu dengan Maya di sebuah usaha foto dan syuting video bernama “Macro”  (depan Pasar Wergu Wetan sebelah selatan Jamu Nyonya Mayong).

Leave a comment

Filed under fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s