Mengapa Menjadikan Yoga sebagai Bagian Kurikulum Sekolah Bukan Ide Bagus

‎Sementara ada seorang guru yoga di tanah air ingin memasukkan yoga dalam kurikulum sekolah, Departemen Pendidikan India telah melangkah lebih maju. Terhitung sejak 4 Februari 2015 kemarin, mereka memberlakukan sun salutation atau surya namaskar (rangkaian gerakan yang kerap dipakai sebagai pemanasan sebelum beryoga) sebagai bagian dari materi yang harus diajarkan di sekolah menengah swasta dan negeri di seluruh pelosok negeri itu, demikian dikutip dari laman The Times of India.

Tujuannya sendiri, seperti dikatakan oleh Suwalal (Direktur Pendidikan Menengah di Rajasthan), adalah “meningkatkan lingkungan pendidikan dengan menguatkan kesegaran jasmani dan mental.” Sementara ‎pemerintah Madhya Pradesh sudah menerapkan surya namaskar dalam lingkungan sekolah negeri, pemerintah Rajasthan lebih jauh lagi melangkah dengan meminta sekolah swasta memperkenalkannya pada siswa-siswi mereka.

Kita memang mengenal yoga sebagai bagian dari warisan budaya India. Mirip pencak silat dan sepak takraw bagi Indonesia. Tetapi di negeri asalnya itu, penerapan yoga dalam lingkungan sekolah juga bukannya tanpa hambatan sama sekali. Protes muncul di mana-mana pasca pemberlakuan kebijakan di atas. Pasalnya, siswa-siswi sekolah harus berkumpul bersama untuk melakukan latihan asana yoga selama 20 menit. Dan lain dari kebijakan senam kesegaran jasmani yang pernah kita alami dulu, kelas yoga itu diadakan setiap hari. Apa saja yang diajarkan selama 20 menit itu? Mereka akan diajari surya namaskar, meditasi dan membaca surat kabar dalam bahasa Inggris dan Hindi. Sebelumnya pemerintah Madhya Pradesh juga sudah mengeluarkan aturan serupa.

Yang paling dipermasalahkan adalah (lagi lagi) mantra. ‎Sebuah sumber yang dikutip media The India Times mengatakan surya namaskar, doa dan meditasi tidak bisa dilakukan tanpa mengucap mantra. Tidak heran sekolah-sekolah milik komunitas muslim dan Kristen tampaknya keberatan dengan kebijakan tersebut. Sejumlah sekolah itu bahkan memilih untuk tidak menanggapi dan menindaklanjuti kebijakan pewajiban yoga di sekolah.

Sang menteri pendidikan India, Vasudev Devnani, beralasan langkah yang ditempuhnya itu dimaksudkan untuk membangkitkan nasionalisme dalam masyarakat India modern. Karena seperti banyak masyarakat di dunia, warga India juga dianggap sudah tercabut dari akarnya. Dengan belajar yoga di sekolah, generasi muda diharap bisa mengenal kembali sistem nilai India kuno dan budayanya yang luhur.

Menurut saya, menteri itu memiliki alasan yang kuat karena memang generasi muda makin melupakan warisan budaya mereka sendiri. Seorang pemuda keturunan India yang pernah saya temui mengaku kakeknya adalah pelaku yoga yang rajin satu-satunya di keluarga besarnya. “Dan tidak ada lagi anggota keluarga kami yang beryoga. Tapi kakek memang masih sehat sampai sekarang di usia 80 tahun,” tuturnya pada saya di suatu kesempatan makan malam.

‎Maka dari itu, secara realistis, memasukkan yoga dalam kurikulum di sekolah Indonesia – yang notabene mayoritas muslim – akan lebih menantang lagi. Pertama, yoga bukan warisan budaya Indonesia. Itu yang pasti. Kalau mau mewajibkan olahraga tertentu, kenapa tidak pencak silat, atau sepak takraw yang memang asli Indonesia?

Kedua, yoga akan diseragamkan jika masuk ke lingkungan sekolah. Dan percayalah, penyeragaman itu tidak akan bisa dan memang tidak seharusnya terjadi. Yoga sangatlah personal. Bayangkan jika Anda masuk ke kelas yoga dengan perasaan terpaksa dan jengkel karena tidak bisa menolak? Saya tidak bisa membayangkan yoga akan dianggap menjadi momok bagaikan matematika atau bahasa asing bagi anak-anak sekolah. Lalu akan ada anak-anak yang mengikuti kelas yoga hanya demi nilai rapor atau agar bisa lulus sekolah.

Alangkah mengerikannya jika itu terjadi. Yoga seharusnya sesuatu yang menggembirakan, membebaskan, melegakan, menjadi kesempatan bagi anak-anak itu untuk sedikit beristirahat dari deraan dan tuntutan akademis. Dan saya sangat yakin, untuk memperkenalkan yoga kita bisa tempuh jalan lain di luar tembok sekolah.

Alih-alih menurunkan stres, yoga di sekolah malah bisa menjadi pemicu stres lainnya bagi anak-anak. Dan ini bukanlah hal yang pastinya kita semua inginkan.

Mungkin ada sebagian dari Anda yang yakin tidak sepenuhnya benar demikian. Tentu saja, Anda berhak beropini demikian. Namun, jangan lupa risiko tatkala yoga masuk ke ranah formal, kelembagaan, yang penuh rambu-rambu dan aturan. Akan muncul berbagai distorsi nilai juga yang perlu diantisipasi. Kelak bisa jadi beryoga bukan lagi cuma untuk pemuasan spiritual, dedikasi, atau sekadar menguruskan badan, ‎tetapi juga untuk kelulusan.

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s