Strategi BuzzFeed

Dikenal sebagai situs yang kontennya kerap beredar secara viral di Internet, BuzzFeed bisa dikatakan menjadi salah satu fenomena media yang mencengangkan di abad informasi ini. Valuasinya diketahui mencapai miliaran dollar AS. BuzzFeed sukses sebagian karena mampu mencerminkan bagaimana kita merespon konten di dunia maya.

Seperti dirangkum dari laman TechinAsia, Buzzfeed sukses berkat beberapa strategi yang sebelumnya tak banyak terpikirkan oleh pebisnis media.

Tidak cuma menarik dan bagus, konten harus memiliki kepentingan sosial. Masalahnya hal itu cukup sukar dirumuskan. Semuanya cuma berdasarkan naluri tim editorial semata. Bahkan BuzzFeed menjadikan jejaring sosial sebagai tujuan utama pembuatan kontennya. Dengan 200 editor di dalamnya, BuzzFeed mempublikasikan 700 hingga 900 konten dalam sehari di situs mereka. Para penulis dibiarkan begitu saja mempublikasikan konten mereka namun tidak semuanya akan ditampilkan di laman depan situs. Bila konten itu tidak banyak dibagikan orang, ia akan lenyap dengan sendirinya. BuzzFeed akan habis-habisan mempromosikan konten yang begitu menarik bagi orang setelah menarik perhatian orang di jejaring sosial.

BuzzFeed mensurvei ke sebanyak mungkin orang. Dengan bertanya ke sebanyak mungkin orang yang akan menjadi target pembacanya, BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan minat mereka sehingga kontennya tetap digemari. Jadikan topik-topik yang paling digemari sebagai prioritas utama tanpa harus mengabaikan topik konten lainnya yang juga penting untuk menjangkau audiens baru yang sebelumnya tidak banyak digarap situs berita lain. Ini penting untuk terus menumbuhkan jumlah pembaca situs.

BuzzFeed merekrut blogger-blogger top. BuzzFeed berinvestasi secara serius dalam hal sumber daya penulis kontennya. Perusahaan media itu menarik blogger-blogger dengan audiens yang sudah setia untuk membuat konten di situs BuzzFeed.

BuzzFeed juga bereksperimen dengan banyak bentuk konten, termasuk bentuk konten tulisan panjang dan analitis yang mungkin bagi sebagian orang berbeda dari bentuk konten listicle atau kumpulan foto dan meme yang kurang mengasah intelektual pembacanya. Namun demikian, konten listicle yang bombastis, instan dan menarik utnuk dibagikan masih menjadi yang utama. Ini dilakukan karena pola konsumsi konten juga berubah. Untuk itu, mereka menunjukkan keseriusan dengan membawa masuk Ben Smith (jurnalis politik berpengalaman) dan Steve Kendall dari majalah Spin untuk menangani konten jenis long-form. Demi mengukur kinerja konten long-form, BuzzFeed tidak menggunakan tolok ukur (metrics) yang sama dengan konten listicle atau meme lainnya. Memang tidak ada yang absolut dalam mengukur kinerja konten. Cuma
mengandalkan logika, spekulasi, perasaan dan naluri.

BuzzFeed mengutamakan waktu yang dihabiskan dalam mengkonsumsi konten. Durasi waktu yang dibutuhkan orang untuk membaca konten dijadikan tolok ukur yang makin penting.

BuzzFeed membuat konten lebih mudah dibagikan dan sesuai untuk dibagikan di aplikasi percakapan mobile seperti WhatsApp, Line, Kakao Talk, WeChat, dan sebagainya. Ini penting bagi pasar dengan audiens yang getol mengakses konten via ponsel cerdas.

BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan berbagai situs jejaring sosial dan cara-cara lain yang membuatnya lebih mudah dibagikan dan ditemukan. Pertama, mereka menggunakan istilah-istilah pencarian dan mengunggah berbagai konten yang bertema serupa. Kemudian mereka mulai menggunakan Facebook lalu Pinterest. BuzzFeed tidak ambil pusing dengan algoritma jejaring sosial yang berubah-ubah karena mereka hanya fokus pada pembuatan konten yang menarik untuk disebarkan, entah itu tulisan, foto dan video.

BuzzFeed membolehkan artikel ‘daur ulang’. Namun, ini bukan berarti tinggal salin rekat (copy paste) begitu saja. Masih diperlukan pengolahan agar sudut pandang, nada penyampaian dan suara yang digunakan berbeda dari yang sudah ada.

BuzzFeed tak banyak menggunakan judul artikel yang bersifat menipu pembaca. Judul-judul yang disebut “clickbait” itu memang awalnya bisa mendatangkan banyak pengunjung tetapi efeknya dalam jangka panjang, makin sedikit orang yang percaya dan memilih untuk mengabaikan karena telah pernah dikecewakan sebelumnya karena judul yang tidak sesuai dengan kenyataan atau dilebih-lebihkan.

BuzzFeed menggunakan prinsip “tak banyak membual tapi memberikan lebih banyak” dalam tim editorialnya. Ini karena mereka mendorong pembaca untuk tidak hanya mengklik sebuah judul atau tautan tetapi juga mendorong mereka membagikannya ke sebanyak mungkin orang via jejaring sosial. Jika judul bombastis, dan isinya kurang sesuai harapan dan membuat kecewa, mana mungkin orang mau membagikannya?

(image credit:smallbusiness.foxbusiness.com)

Leave a comment

Filed under journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s