Saat Sastra Mengkritisi Agama: 26 Tahun Fatwa Mati Salman Rushdie (2)

salman rushdie

salman rushdie

Kebebasan Berpendapat

Pemerintah Inggris melalui Foreign Secretary Jeffrey Howe yang disiarkan oleh BBC World Service mencoba memberikan pemahaman pada dunia dan terutama Iran, karena kedua negara baru saja membangun hubungan bilateralnya, bahwa pihaknya tidak terkait dengan novel The Satanic Verses. Mereka hanya mendukung kebebasan berpendapat dan jika dikatakan tersinggung, pemerintah Inggris juga sepatutnya tersinggung karena Perdana Menteri Margaret Tatcher juga disindir melalui penggunaan nama Mrs Torture (Nyonya Penyiksa) dan para polisi Inggris dalam deskripsi di novel tersebut juga digambarkan bengis dan rasis terhadap karakter Saladin.

Fatwa itu juga memicu korban di kalangan muslim Eropa sendiri. Seorang pimpinan muslim moderat di Belgia, yang menyatakan sikap kontra pada fatwa mati Rushdie di televisi, akhirnya tewas menjadi korban penembakan.

Dalam waktu sebulan, agar bisa terus menghindari kejaran, Rushdie berpindah tempat tinggal 57 kali. Ia hidup dalam pelarian, sehingga tak bisa tinggal di satu tempat lebih dari 1 malam. Kehidupannya mulai kehilangan keseimbangan.

Setelah Ayatollah Khomeini meninggal dunia, tidak seorang pun memiliki keberanian dan kekuasaan yang setara untuk menarik kembali fatwa mati Rushdie.

Di dalam negeri sendiri, pembelaan terhadap Rushdie dipersoalkan oleh beberapa pihak termasuk sejumlah penulis asli Inggris yang menganggap Rushdie – yang tidak terlahir di Inggris – tak pantas untuk dibela sedemikian rupa hingga begitu banyak ongkos yang harus dikeluarkan, baik dari sisi pemerintah hingga rakyat Inggris sendiri. Novelnya itu memang sudah mengoyak-ngoyak Inggris sedemikian rupa. Keresahan sosial politik terus meluas karena penerbitan The Satanic Verses.

Rushdie sendiri mengalami keruntuhan psikologis dan mental. Kehidupan rumah tangganya hancur. Ia bercerai dari istri keduanya Marianne Wiggins. Rushdie menyalahkan statusnya sebagai pesakitan fatwa mati Khomeini adalah biang keladinya. Selama 18 bulan, Rushdie juga tidak dihubungi oleh pemerintah Inggris. Ia diperlakukan seperti diasingkan. Pemerintah Inggris tampaknya juga tidak banyak membela Rushdie karena masih harus mempertimbangkan hubungan diplomatiknya dengan Iran, yang perlahan mulai dipulihkan kembali secara diam-diam setelah 18 bulan fatwa dikeluarkan. Inggris tidak mau terkesan banyak membela Rushdie yang menjadi musuh Iran. Dan bisa jadi pemerintah Inggris juga menyalahkan Rushdie atas semua kekacauan yang terjadi dalam bidang lain, misalnya pembebasan tawanan dan tahanan Inggris di Iran juga. Setelah The Satanic Verses terbit dan fatwa mati muncul, Inggris jadi was-was kalau warganya yang ditahan di Iran akan dihukum mati pula jika Rushdie tidak diserahkan untuk dihukum mati. Dikatakan oleh Frances D’Souza yang menjabat sebagai salah satu anggota Komite Pembela Rushdie, novelis itu memang merasa tidak berguna, tidak nyaman, tertekan karena terisolasi dari kehidupan normal, ditinggalkan orang-orang terdekatnya.

Rushdie Masuk Islam

Dalam sebuah wawancara, Rushdie menyebut kata “Tuhan”. Dan mengetahui itu, Essawy terhenyak,”Kenapa bisa sampai seorang atheis menyebut nama Tuhan?” Ia kemudian mencoba menghubungi Rushdie dengan menyerahkan nomor teleponnya, dan mereka bercakap-cakap via telepon selama berpuluh-puluh jam.

Essawy kemudian bertatap muka dengan Rushdie. Saat Essawy mengatakan bahwa Rushdie tak bisa berempati dengan muslim karena ia bukan bagian dari umat muslim, Rushdie menyanggah,”Saya muslim!” Rushdie berupaya meyakinkan Essawy bahwa dirinya ingin masuk Islam. Essawy menyusun rencana untuk memastikan Rushdie menjadi muallaf dengan sah. Ia mengundang dukungan dari presiden Mesir kala itu, Husni Mubarak, serta 6 ulama besar Islam. Mereka bertemu di Paddington Green untuk menyaksikan Rushdie bersyahadat di malam Natal 1990. Bersamaan dengan itu, Rushdie menyetujui pembatalan penerbitan edisi paper back novel The Satanic Verses dan resmi menjadi muslim dengan ulama-ulama sebagai saksinya.

Sayangnya, semua itu membuat posisinya malah makin terdesak. Para penentangnya tidak percaya ia benar-benar tulus masuk Islam, dan para pendukungnya menjadi terbelah dua. D’Souza yang semula membelanya juga berang tatkala mengetahui Rushdie menyatakan masuk Islam secara terbuka di media. Saudara perempuannya juga tidak percaya Rushdie masuk Islam.

Rushdie memang hanya berakting. Ia melakukan itu semua untuk meluluhkan hati para pendukung fatwa matinya. Dalam sebuah catatan harian tertanggal 1 Januari 1991, ia menulis:”Sejak berkompromi dengan ulama muslim di malam Natal itu, saya merasa muak. Muak di hati dan mual di perut. Ini bukan saya. Saya menelpon saudara saya, ia berkata,’Kau sudah gila?’ Dan ulama yang saya temui itu ada di TV mengutuk homoseksual, yang lain menulis artikel di surat kabar bahwa menampar istri kita yang melawan bukan hal terlarang. Apa yang sudah saya lakukan? Saya mengulangi alasan saya terus menerus. Saya ingin umat muslim tahu bahwa saya bukan musuh mereka. Saya hanya ingin umat muslim menjadi lebih baik, terbuka dan lebih ramah, tidak serepresif sekarang. Saya pikir saya bisa melakukannya dengan menjadi bagian mereka. Tampaknya omong kosong. Itu cuma pembenaran diri. Ini hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup saya.” Beberapa waktu kemudian Rushdie mengumumkan ia tak lagi menjadi muslim.

Setelah peristiwa pembunuhan Prof Hitoshi Egarishi penerjemah The Satanic Verses di Jepang dan penyerangan terhadap penerjemah Italia, pemerintah Inggris meminta Rushdie ‘tutup mulut’.

Tahun 1993, Rushdie bertemu dengan pemerintah Inggris dan mengatakan hasil pertemuan sangatlah positif. Inggris kemudian bertemu dengan Iran dan membicarakan penghapusan fatwa mati Rushdie. Iran mengatakan pencabutan fatwa secara teknis tidak mungkin terjadi tetapi Iran memastikan tidak ada lagi pengiriman orang untuk melenyapkan nyawa sang novelis.

Pembicaraan Iran dan Inggris di Kantor Pusat PBB, New York, membuahkan hasil. Tanggal 24 September 1998, menlu Iran mengumumkan pemerintahnya tidak ingin mengancam nyawa Rushdie dan semua pihak yang terkait dengannya. Namun, kaum garis keras tetap menganggap fatwa tak akan bisa dicabut begitu sudah ditetapkan. Dan bagi mereka pemerintah Iran tak memiliki kuasa setinggi Ayatollah Khomeini untuk bisa mencabutnya. Toh Rushdie menyatakan kepuasannya atas pernyataan resmi menlu Iran itu.

D’Souza berpendapat pencabutan fatwa mati itu penting karena itu menjadi jalan untuk menegaskan kembali kebebasan mengutarakan pendapat, menyelesaikan perselisihan pendapat dengan perundingan bukan kekerasan. “Inilah pilar demokrasi dan patut diperjuangkan,” kata D’Souza.

Bumerang bagi Muslim

Inayat Bunglawala (penulis isu-isu Islam) setuju bahwa umat muslim Inggris harus lebih bijak di masa datang jika dihadapkan pada skenario yang sama. Bila ada karya sastra yang dianggap melecehkan ajaran agama mereka, unjuk rasa dan pembakaran buku untuk mendesak penarikan dan pelarangan buku itu kurang efektif. Yang terjadi malah memburuknya citra muslim di masyarakat Inggris dan dunia. “Citra yang ditinggalkan di benak masyarakat Inggris (atas pembakaran buku itu) sangatlah negatif,” jelas pendukung Ayatollah itu. Alih-alih demikian, Inayat menyarankan masyarakat muslim untuk menyediakan ruang untuk bertarung secara intelektual. Dengan demikian, ide dilawan dengan ide. Karena ide tidak bisa mati dengan menembak kepala si pemilik ide atau dengan membakar buku yang bermuatan ide itu, apalagi setelah sebuah buku terbit secara luas.

Semua kekerasan memang menjadi bumerang bagi pelakunya, tidak peduli dilakukan demi kejahatan atau kebaikan. Efeknya sama saja. Buruk. Di samping memburuknya citra muslim, Rushdie malah makin menarik simpati publik. Ia kini dianggap sebagai korban dan pihak yang tertindas, meski sebelumnya ia bisa dikatakan sebagai penyerang, agresor yang semestinya dihukum berat. Rushdie pun diganjar penghargaan Knighthood (menyandang gelar Sir dari Ratu Elizabeth) karena dianggap sebagai sosok yang menginspirasi dalam dunia sastra. Sebuah pil pahit untuk umat muslim. Sesuatu yang bisa dihindari jika saja umat muslim bisa lebih bijak menyikapi.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s