Sai Blackbyrn: Entrepreneur Pemberontak

DARI meninggalkan bangku sekolah, kebangkrutan orang tuanya hingga merasakan ‘terdampar’ di pulau dewata Bali karena kesalahpahaman tentang perizinan imigrasi yang membuatnya harus bertahan hidup dengan dana terbatas membuat Sai Blackbyrn (25) menjadi pribadi yang makin tangguh. Dinamika hidupnya sungguh dramatis seperti sebuah film. Pada saya, ia membagikan kisahnya sebagai seorang entrepreneur penyuka tantangan dan penakluk risiko.

Sai memiliki dua orang ayah: ayah angkat (software engineer) dan ayah biologis (mantan eksekutif utama di instansi pemerintah). Akan tetapi yang justru paling memberikan pengaruh besar terhadap Sai adalah sang bunda yang bercita-cita menjadi dokter bedah syaraf. Ibu Sai kemudian mendirikan sebuah perusahaan di Arab Saudi. Ia kemudian pindah ke Inggris dan mendirikan perusahaan lain dan menjadi produser film Bollywood, bekerja sebagai pengembang real estate. Semuanya sirna begitu sang ibu pailit. “Kami kehilangan semuanya,” kenang Sai. Namun bagi Sai, itulah yang membuat kisah sang ibu menarik. 

“Kini ibu saya bekerja mengumpulkan dana 300 juta dollar untuk proyek real estate,” tukas Sai. 

Alih-alih menyebut, semangat entrepreneurship sebagai bakat yang dapat diturunkan, Sai lebih suka menyebutnya sebagai “kebodohan”. “Karena (entrepreneurship) itu berat… sangat berat,” ujar warga Inggris yang juga penyuka olahraga lari pagi itu. “Tetapi orang tidak menyadari itu.”

Sai kagum dengan karakter ibunya yang pantang menyerah, meskipun kondisi yang ia hadapi sangatlah sulit sekalipun. “Ia panutan saya dalam berbisnis,” kata Sai yang menguasai sedikit bahasa Indonesia itu.

Tidak sadar menderita kelainan disleksia, Sai mengalami kesulitan belajar saat masih kecil. Di masa remaja, ia pun memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah menengah dan tidak masuk ke universitas. 

Bukan berarti Sai ingin bermanja-manja. Ia kemudian terbang ke negeri leluhurnya, India. Sai bekerja tanpa dibayar sebagai broker saham. “Saya gagal dengan sangat menyedihkan.”

Namun, berkat kegagalan dalam bidang saham itulah, Sai terdorong untuk mendirikan bisnisnya sendiri. Ia pernah bekerja sebagai karyawan tetapi merasa bahwa bekerja seperti itu bukan jenis kehidupan yang ia inginkan.

Jadikan Ibu sebagai Panutan

Sai mengakui entrepreneur itu mirip penganggur. Dan ia bangga satu-satunya pekerjaan yang ia miliki hingga saat ini adalah saat ia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Itupun ia sanggup lakukan hanya selama dua hari. Ia sungguh tidak paham konsep sebuah pekerjaan.

Saat gagal, kegagalan yang dialami ibu Sai juga tidak ringan karena diketahui publik dan pers. Namun, ibu tidak menyerah. Inilah pelajaran yang Sai yakini sebagai nilai sungguh krusial bagi dirinya dalam menjalani kehidupan, termasuk bisnis.

Ibunya juga mengajarkan Sai untuk menghindari menjalani hidup berdasarkan dogma. “Anda tahu apa itu dogma? Sebuah kehidupan yang dipilih berdasarkan preferensi orang lain,” terangnya. Ibu Sai dibesarkan di keluarga India tipikal yang mengajarkan padanya untuk menikah dan memiliki anak dan menjadi ibu rumah tangga. Kakek Sai memiliki pekerjaan mapan di sebuah bank dan menghendaki semua anak perempuannya untuk berumahtangga dan memiliki pekerjaan yang mapan, tetapi sayang kenyataan tidak berjalan sebagaimana harapannya. Menariknya, semua anak perempuan dalam keluarga itu malah menjadi entrepreneur, mengalami perceraian dan pernah bangkrut. 

Kehidupan yang dinamis dan jauh dari kesan stabil dan mapan itu dipilih secara sadar oleh ibu Sai berkat dukungan dari sang ibu yang berasal dari keluarga revolusioner di masa kemerdekaan. Ia tumbuh di sebuah lingkungan yang berbudaya, penuh atmosfer seni dan sastra, serta tidak menyukai kekerasan. Nenek Sai menyandang gelar Ph. D., piawai bermain biola, suka tampil berpuisi di muka umum. “Tetapi karena tekanan budaya, nenek terpaksa menjadi ibu rumah tangga. Dan ia mengajarkan anak-anaknya untuk tidak seperti itu. Mereka diajarkan untuk hidup dengan keyakinan mereka sendiri, tanpa perlu mengindahkan pendapat orang lain.”

Mengkritisi Pendidikan Formal

Penyuka olahraga crossfit itu memiliki pemikiran berbeda mengenai manfaat pendidikan. Sai bukan anak yang bodoh di kelasnya saat sekolah. Ia bahkan mengaku nilainya bagus. Namun, mengapa ia tidak melanjutkan pendidikan formalnya? Sai berbicara pada guru-gurunya di sekolah menengah setelah ia mendapatkan nilai terburuk (U di Inggris adalah nilai yang lebih buruk dari F). Guru-gurunya pun mengajarinya bagaimana mendapatkan nilai bagus, yaitu dengan menghapal dan menyerap yang disampaikan. Dari nilai U, Sai mendapatkan nilai A di semester berikutnya. Menemukan cara untuk mengakali sistem pendidikan formal, Sai merasa kecewa. “Hal ini membuat saya mempertanyakan manfaat pendidikan (formal) karena jika seseorang seperti saya bisa mendapatkan nilai bagus hanya dengan menghapal. Lalu apa manfaatnya kuliah sebetulnya?”

Sebelum sampai ke keputusan mengabaikan bangku kuliah, Sai berbicara secara terbuka dengan orang tua dan neneknya yang tentu saja menyarankan untuk mengenyam pendidikan tinggi karena mereka menyandang gelar akademik. Namun, Sai tidak menyerah. Untuk meyakinkan mereka dan dirinya sendiri, Sai berbicara dengan banyak orang yang telah mendirikan bisnis. “Saya bertanya,’Apakah manfaat pendidikan tinggi bagimu?’,” terang Sai. Mereka menjawab pendidikan formal ‘hanya’ membantu mereka mengantongi selembar ijazah untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka. “Bagaimana dengan bisnis?” tanya Sai pada para entrepreneur itu, dan mereka mengatakan semua ketrampilan berbisnis itu harus dipelajari dari nol. Dari 12 orang yang ia tanya, hanya 1 orang yang mengatakan pendidikan formal begitu bermanfaat. “Saya sangat yakin dengan manfaat pendidikan, tetapi untuk pendidikan formal hingga saat ini saya masih mempertanyakannya. Lagipula pendidikan formal lebih banyak berdasarkan pada teori-teori yang disusun di masa lalu, yang kurang berguna saat kita harus mendirikan sebuah bisnis.”

Dari sana, Sai meneguhkan tekadnya untuk berhenti sekolah alias drop out dan memutuskan untuk mengedukasi dirinya sendiri di kehidupan nyata, bukan di bangku kelas , untuk menjadi entrepreneur. 

“Kau bisa menjadi orang yang terpandai di kelas atau orang yang tersukses di kelompok Anda,” tukas Sai. Dan ia memilih yang kedua.

Dari Dini

Sai telah menampakkan bakat bisnisnya sejak kecil. Di usia 10 tahun, ia mengaku sudah menggunakan ketrampilannya bermain trik sulap, dan hebatnya ia dibayar oleh teman-temannya untuk itu.

Saat masih bersekolah, Sai mencoba mengunduh banyak film dan menjualnya pada teman-teman sekolahnya. “Tetapi kemudian saya sadar, mereka tidak mau film – mereka mau pornografi!” kenangnya. Ia pun melayani permintaan pasar itu.

Bisnisnya itu tak bertahan lama karena Sai kemudian tertarik ke dunia games. Ia tahu dari televisi ada sebagian orang yang menghasilkan uang dari game online Roomscape yang dapat dimainkan beberapa orang secara real time. Ia pun mencari tahu caranya. “Ternyata mereka menjual uang (virtual) dalam video game untuk ditukarkan dengan uang sebenarnya melalui eBay. Keren sekali!”

Sai pun menghabiskan belasan jam setiap harinya untuk bermain video game itu demi mendapatkan peluang menghasilkan keuntungan tadi. Kenyataannya tidak semudah yang ia bayangkan. 

Sai yang saat itu berusia 16 tahun secara bertahap menguasai sistem bisnis itu dengan mantap. Seorang pembeli setia membeli koin-koin virtualnya setiap 2 pekan sekali dan Sai berhasil meraup untung 6000 sampai 7000 dollar dari video game itu. Akan tetapi, ia harus berhati-hati karena jika mencurigakan, akunnya akan diblokir. “Itulah pengalaman saya pertama kali berbisnis yang sukses. Karena keuntungan 6-7000 dollar tadi dihasilkan hanya dari total 9 jam bermain.’

Seperti banyak anak muda seumurnya, Sai juga tergiur dengan skema cepat kaya yang ditawarkan banyak pihak. Ia pun mencoba berbisnis properti dan saham, tetapi gagal.

Tanpa memiliki gelar, Sai kesulitan mendapatkan pekerjaan broker saham di Inggris. Namun, di Bombay Sai berhasil mendapatkan tawaran itu. Di sini ia tidak dibayar saat bekerja sebagai broker saham. Ia menganggapnya sebagai salah satu pendidikan yang berharga. Dalam waktu 4 bulan bekerja sebagai broker saham, Sai merasakan tingkat kesulitan yang demikian tinggi. “Saya tidak bisa mengendalikan emosi, padahal sebagai trader Anda mesti bisa mengendalikan saat bekerja.”

Sai malah lebih menikmati dunia kencan. Ia menyukai saat-saat ia dapat bertemu wanita, menjemput mereka dan berbincang. Selama 8 bulan pertama ia mengerjakannya kemudian ada sejumlah orang yang ingin Sai mengajarinya cara-cara berkencan yang baik. Dan ia pun mulai mengenakan tarif atas layanannya sebagai konsultan perkencanan dan asmara.

Karena bisnis itu tidak banyak menghasilkan uang, akhirnya Sai mulai kehabisan uang. 

“Saya tak paham tentang struktur bisnis, penjualan, pemasaran, dan hal-hal semacam itu, bisnis saya pun surut. Lalu saya kembali ke Inggris, dan saat itulah orang tua saya menyatakan diri bangkrut,” kenang Sai.

Di saat sulit itulah, ia harus pindah ke satu rumah bersama kakek neneknya, bibi-bibinya, sepupunya. Ada 8 orang dalam satu rumah mungil dan Sai ingat toiletnya kerap tersumbat. 

Keluarganya pun meminta jaminan sosial dari pemerintah karena pailit, suatu kondisi yang begitu kontras dari kehidupan sebelumnya saat orang tuanya begitu kaya raya.

Sai kemudian bekerja untuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sales dan marketing. Salah satu orang di dalam perusahaan itu tertarik dengan apa yang Sai lakukan dan berinvestasi 100 ribu dollar pada bisnisnya. 

Indonesia, Wild West bagi Entrepreneur

Indonesia adalah salah satu negara yang pernah disinggahi Sai. Dibandingkan dengan Inggris, Australia dan India, Sai menggambarkan Indonesia sebagai sebuah rimba tak bertuan yang menawarkan sejuta peluang dan tantangan. 

Sai bukan entrepreneur yang turut serta dalam arus besar tren bisnis terkini. Meskipun ia tahu banyak bisnis digital yang bermunculan di seluruh pelosok dunia terutama karena terdorong keberhasilan banyak startup di Silicon Valley, ia mengatakan – selain Uber dan Clash of Clans (game) – tidak ada satu pun bisnis online itu yang memiliki model bisnis yang masuk akal. “Bagaimana bisa sebuah aplikasi chat divaluasi sedemikian tinggi padahal tidak pernah menghasilkan uang sepeserpun?” Bagi Sai, berbisnis harus menghasilkan uang dari hari pertama beroperasi. Atau tidak sama sekali.

Karena itu, Sai yakin jika sebuah bisnis sudah solid dari dalam (dari model bisnisnya yang teruji), ia tidak akan memerlukan suntikan dana dari para investor. Ia bisa mendanai dirinya sendiri, alias bootstrapping, dengan menghasilkan pemasukan dari hari pertama. Ketergantungan pada investor membuat Sai membayangkan tech bubble. “Bagaimana jika terjadi bubble burst, dan para investor tidak ada yang mau mendanai bisnis Anda lagi? Itulah yang saya cemaskan,” kritiknya. 

Selain itu, Sai mencemaskan tingkat intervensi yang meninggi dalam menjalankan bisnis jika terlalu mengandalkan investor. “Setiap keputusan bisnis bisa disetir oleh investor berdasarkan nilai investasi mereka.” (*/)

Koruptor Sejati ala Cak Lontong

Menjadi koruptor sejati itu sulit sekali. Salah satu syaratnya harus tangkas. Seperti saat menjawab salam yang dikatakan sendiri, karena saat menjawab salam ada pahala yang mengalir pula. Ketamakan itu membuat kami terus berlomba meski raihannya tidak konkret.

Koruptor sejati tidak perlu gelar tinggi apalagi pendidikan kampus yang mahal. Hanya dibutuhkan cita-cita tinggi nan mulia: memerangi kemiskinan. Hanya saja, koruptor sejati baru tahap belajar jadi mereka egois dalam memerangi kemiskinan; mereka hanya memerangi kemiskinan finansial dirinya sendiri. Sementara itu, orang lain sudah berpikiran lebih luas, kami baru sesempit itu.

Koruptor itu bukan orang yang melakukan korupsi, tetapi orang yang tertangkap atau ketahuan melakukan korupsi. Karena kalau belum ketahuan, masih dianggap bukan koruptor.

Untuk memberantas koruptor hanya bisa ditempuh dengan dua cara. Pertama, eksekusi mati koruptor. Kedua, jangan tangkap koruptor. Jumlahnya pasti tetap.

Kalau Anda punya cita-cita ingin kaya tetapi Anda tidak pintar, nah! Itu tandanya bakat koruptor Anda kuat.

Bangsa ini tidak akan bangkrut karena ribuan pengemis tapi akan bangkrut dengan hadirnya 10 koruptor.

Penerjemahan Karya Sastra, Pekerjaan Rumah Berlimpah bagi Indonesia

Ada hal yang menggelitik tatkala Wakil Pimpinan Frankfurt Book Fair Claudia Kaiser menyampaikan kritik transparannya mengenai proses kerjasama dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), yang menurutnya berjalan sangat lamban. Kaiser menyatakan dengan nada kritis, yang segera dihentikan oleh editor John H. McGlynn dari Yayasan Lontar yang tampil bersamanya hari itu (22/3/2015) dalam diskusi “The Role of Literary Translation” dalam rangkaian Asean Literary Festival 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Meskipun interupsi McGlynn itu disampaikan dengan mimik muka bercanda, saya tahu hal yang Kaiser coba untuk sampaikan mungkin bisa disalahartikan oleh sebagian pihak dan berdampak pada kerjasama nantinya.

Desliana Maulipaksi telah menuliskan laporan selayang pandangnya yang berjudul “Pentingnya Program Penerjemahan Karya Sastra Suatu Negara” di Kemdikbud.go.id. Dan kini saya akan melengkapi reportasenya itu, bukan dengan sudut pandang birokrat atau pihak luar/ asing yang bekerjasama dengan birokrat, tetapi lebih sebagai bagian dari kelompok akar rumput alias rakyat yang mencemaskan kemajuan susastra negerinya di tingkat dunia.

Kaiser mengaku pemerintah Indonesia saat itu memiliki minat yang besar dalam berpartisipasi dalam Frankfurt Book Fair. “Tetapi kami katakan dibutuhkanwaktu setidaknya 3 tahun untuk mempersiapkan diri dengan baik,” sarannya pada kementerian. “Kami pun banyak menelepon, bertukar surel, dan kami menunggu selama 2 tahun. Akhirnya kami putuskan kami tak bisa menunggu lebih lama. Saat kami sudah berhenti berharap, nota kesepahaman diteken tiba-tiba. Namun, (persiapannya) sudah terlambat. Akhirnya hanya ada waktu 2 tahun untuk bersiap-siap.”

Masih kata Kaiser, program pendanaan penerjemahan juga menemui aral. Perubahan dari pihak pemerintah Indonesia terjadi terus menerus bahkan setelah jadwal dan linimasa sudah ditetapkan sebelumnya oleh pihak Frankfurt Book Fair.

McGlynn bukannya tidak mengkritik sama sekali. Tinggal di Indonesia puluhan tahun membuatnya tahu bagaimana menyampaikan kritik dengan lebih ‘Indonesia’, lain dari cara Kaiser yang lebih ‘Aryan’. Ia turut memberikan masukan mengenai kurangnya perhatian pemerintah pada perkembangan dunia susastra di sini. “Sudah banyak festival sastra di Indonesia, itu bagus. Akan tetapi untuk menghadiri acara-acara itu pun para penulis dan penerbit masih belum didukung oleh pemerintah. Tidak ada anggaran yang teralokasikan secara khusus untuk mendanai kegiatan para penulis dan penerbit untuk memperkenalkan karya-karya di festival sastra,” ujar McGlynn.

Selama ini, masih kata McGlynn, para penulis harus menggunakan kenalan mereka di dalam lingkaran birokrasi. Mereka yang diberangkatkan biasanya adalah para pegiat sastra yang dikenal kalangan pemerintah juga. Jika tidak dikenal, pupus sudah harapan untuk diajak.

McGlynn menyarankan pemerintah untuk merealisasikan rencana besar (grand plan) khusus bagi pegiat sastra di Indonesia agar mereka makin dimudahkan dalam berkarya dan memperkenalkan karya-karya mereka. Bertahun-tahun lalu saat McGlynn memulai karirnya sebagai penerjemah, digagas sebuah program penerjemahan sastra ke bahasa-bahasa negara Asean. Dan ia menegaskan ini bukan proyek yang bersifat komersial. “Siapapun yang memberikan uangnya untuk proyek ini akan kehilangan uangnya itu,” tegas McGlynn terus terang.

“Karena itulah diperlukan peran pemerintah,” timpal Kaiser dengan gemas sedetik setelah McGlynn berbicara.

Di Indonesia, peran pemerintah memang tidak bisa diabaikan. Namun, sebuah kebodohan untuk menunggu pemerintah mengatasi semua tantangan di lapangan secara otomatis dalam waktu secepatnya.

Untungnya, pihak swasta juga sudah menunjukkan kepeduliannya. “Ada sebagian kalangan swasta yang sudah menunjukkan kepeduliannya,” katanya. Lagi-lagi, tidak ada skema insentif yang dapat mendorong korporasi swasta Indonesia untuk secara kontinu menjadi penyandang dana proyek-proyek penerjemahan. Buktinya, tidak diberikan pemotongan terhadap jumlah pajak yang dibebankan pada perusahaan-perusahaan yang menyumbang di proyek-proyek penerjemahan karya sastra. McGlynn menjelaskan,”Diperlukan adanya struktur pajak yang memberikan keuntungan bagi korporasi swasta yang bersedia memberikan sumbangsih bagi keberlangsungan institusi-institusi budaya. Anda bisa mendapatkan insentif pajak untuk olahraga di Indonesia, tetapi tidak untuk sastra.” Skema insentif pajak semacam itu sudah terbukti sukses di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita semua.

Jerman juga mengalami tantangan yang sama. Menurut Kaiser, minat korporasi swasta di negerinya untuk mendanai program penerjamahan karya sastra masih rendah karena mereka lebih mengutamakan visibilitas brand. Karenanya, mendukung sebuah acara olahraga akan lebih menguntungkan daripada mendukung program sastra, tandas wanita yang menguasai bahasa Mandarin itu. Kalaupun ada proyek penerbitan yang didanai, lanjutnya, buku hasil pendanaan biasanya bertema sejarah perusahaan yang memberikan pendanaan.

Zero to One: Catatan Kampus yang Berisi Pemikiran Seorang Jenius

‎Blake Masters mungkin tak pernah menyangka catatan kuliahnya akan dibaca jutaan orang di dunia. Masters duduk di bangku kuliah Stanford Law School di tahun 2012, saat entrepreneur super sukses Peter Thiel menyambangi kampusnya untuk berbagi ilmu dan wawasan. Dengan tekun sekali, Masters mencatat pemikiran-pemikiran sang guru dalam catatan kuliahnya yang bertajuk “Computer Science 183: Startup”. Catatannya itu ia unggah ke dunia maya dan abrakadabra! Begitu banyak orang membacanya. Thiel pun turun tangan. Ia mengajak Masters merevisi catatan kuliah yang begitu bermanfaat itu bagi audiens global. Tahun 2014, buku ini pun lahir dan siap dikonsumsi pasar.

Dalam sebuah kesempatan, Thiel pernah mengatakan bahwa ia TIDAK menganggap kemajuan teknologi seperti iPhone sebagai suatu inovasi. ‎Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru dan segar serta aneh dari iPhone yang telah sampai ke seri keenam itu. Bukan berarti ia benci terhadap semua perkembangan teknologi informasi yang terjadi dengan pesat ini, tetapi Thiel yakin bahwa semua itu cuma kemajuan horisontal. Thiel mau kemajuan vertikal yang lebih banyak terjadi dalam kehidupan kita sekarang. Dan buku ini tampaknya memiliki misi untuk menanamkan pemikiran itu dalam benak para pembacanya, yaitu agar mereka terdorong membuat sesuatu yang baru dan aneh. Bukan cuma mengekor dan memperbanyak sesuatu yang sudah ada dan sudah terbukti sukses.

Sebagai sebuah himpunan informasi , buku ini memang berbeda. Bagi penyuka buku dengan judul yang berpola bombastis seperti “kiat sukses (masukkan ambisi apapun yang Anda mau)”, atau “rahasia menuju (ketikkan cita-cita paling muluk-muluk yang Anda pernah bayangkan), saya sarankan jangan membeli buku ini. Pasti Anda akan kecewa. Anda juga tidak akan menemukan formula-formula sukses dari Thiel atau kumpulan kisah keberhasilan yang standar, monoton dan bisa ditebak yang digemari kebanyakan orang. Itu karena buku ini menyasar mereka yang mau diajak berpikir berat, sangat berat.

Yang menarik, Thiel berpendapat entrepreneurship tidak dapat diajarkan hanya dengan menyuguhkan formula, akronim, rumus atau jargon ‎penjamin sukses. Dalam sekapur sirih di awal buku, Thiel menjelaskan:”Paradoks dalam mengajarkan entrepreneurship ialah bahwa formula (untuk sukses -pen) tidak ada; karena tiap inovasi itu baru dan unik, tidak ada pihak yang bisa merumuskan dalam istilah nyata cara untuk berinovasi. Sungguh, satu-satunya pola yang paling menonjol yang saya ketahui ialah bahwa orang-orang sukses menemukan nilai di tempat-tempat yang tidak terduga, dan mereka melakukan itu dengan memikirkan mengenai bisnisnya dari prinsip-prinsip pertama daripada (mengandalkan -pen) formula-formula” (Zero to One, hal 2-3).

Zero to One yang terdiri dari 14 bab itu membuat kita berpikir keras untuk memahami hakikat teknologi, perkembangannya, kegunaan sejatinya bagi kemaslahatan manusia, dan lain-lain. Thiel mungkin dapat dikatakan sebagai filsuf teknologi abad modern karena ia menggunakan sejumlah sudut pandang keilmuan di dalam penjelasannya. Dalam bab “You Are Not a Lottery Ticket” misalnya Thiel memakai tinjauan sejarah, budaya, psikologi dan ekonomi dalam menjelaskan 4 kelompok besar berdasarkan perspektif terhadap masa depan. Di sini ia mencomot sejarah bangsa-bangsa dan masyarakat besar dunia untuk memberikan gambaran lengkap mengenai pemikiran dan sikap yang berbeda-beda dalam memandang masa depan. Anda bisa menemukan penjelasannya di halaman 62.

Dalam bab pamungkas “Stagnation or Singularity?”, Thiel mencoba mengajak kita kembali berpikir dan mengambil simpulan besar. Dari sana, ia mendorong kita yang membaca untuk bertindak dengan memberikan tugas agung. Berikut kalimatnya di halaman terakhir buku itu:

“Tugas kita saat ini ialah menemukan cara-cara tunggal dalam membuat hal-hal baru yang akan membuat masa depan tidak cuma berbeda tetapi juga lebih baik – naik dari nol menjadi satu. Langkah pertama dan utamanya yaitu berpikir untuk diri Anda. Hanya dengan memandang dunia kita dengan cara baru, sesegar dan seaneh para leluhur memandangnya pertama kali dahulu kala, baru kita bisa menciptakannya kembali dan melestarikannya untuk masa depan”. (Zero to One, hal 195)

‎Setelah membaca buku ini, perspektif kita mengenai entrepreneurship tak akan pernah sama lagi. Tiba-tiba kita menjadi lebih kritis untuk bertanya,”Benarkah mereka yang dilabeli atau mengklaim diri sebagai entrepreneur itu betul-betul entrepreneur? Atau cuma hebat dalam menjual dan mengemas lalu mengeruk untung untuk ditimbun? Apakah inovasi yang selama ini dibangga-banggakan itu sungguh suatu inovasi sejati yang mengarah ke atas (vertikal)? Atau jangan jangan cuma ilusi yang Thiel sebut sebagai kemajuan horisontal?”

Dalam Karya Berikutnya, Ahmad Tohari Ingin Kritik Generasi Muda

“Saya sedih melihat generasi muda sekarang; saat laki-lakinya ‘cantik’, tidak pernah berkeringat,” ucap novelis Ahmad Tohari petang itu. Begitu ucapannya selesai, seekor burung pekat yang melayang di atas Taman Ismail Marzuki itu mencuit berkali-kali, menyetujui kritiknya yang tajam itu. Kami yang berkerumun di sekitar Tohari yang suka mengenakan topi itu memberikan berbagai reaksi berbeda. Ada yang mengangguk, ada yang meringis, atau tersenyum tipis. “Anak-anak muda ini cantik, tidak ada yang berotot.”

Tohari mengamati kondisi itu tidak cuma terjadi di kota-kota besar. Di desa-desa juga hal yang sama melanda generasi muda pria. “Mereka ini siang malam ‘ditodong’ televisi. [Jadi] maunya cantik, mewah, kaya,” terangnya lagi. Ia yakin bahwa apa yang dimaui anak muda saat ini adalah “hidup asyik, mewah, penuh kemanjaan”.

“Jadi bagaimana dong?! Ini ulah siapa?” keluh pria Jawa yang suka sekali mengenakan topi itu. Kami berlima yang usianya jauh lebih muda sedang duduk mengelilinginya. Tohari mengarahkan pandangannya pada salah satu dari kami saat melontarkan pertanyaan itu. “Kamu tahu siapa?”

“Kapitalisme…,” kata seorang pria di samping Tohari yang mengaku berusia 29 tahun itu lirih, tersipu-sipu padahal tidak perlu begitu. Tidak ada yang menampik bahwa ia sudah menipu publik. Namun, siapa peduli? Toh usia bukan hal penting. Karena katanya, ia hanya ingin jujur untuk sesuatu yang maha penting.

Tohari meneruskan kalimat wejangannya,”Mereka ingin menyiapkan bibit-bibit konsumen. Agar mereka berubah menjadi konsumen yang rakus, anak-anak muda harus diubah menjadi generasi yang pragmatis”. Saat pragmatisme sudah memasuki ruh anak-anak muda, akan lebih mudah untuk membuat mereka makin konsumtif.

Tiba-tiba Tohari menyeret kami ke masa lalu, dengan membahas alasan Bung Karno melarang lagu-lagu Barat yang begitu populer tetapi merusak jiwa muda yang sedang rapuh. Di usianya saat ini yang sudah 6 dekade, Tohari sepakat dengan kebijakan sang proklamator untuk melarang konsumsi produk-produk budaya Barat seperti lagu gubahan The Beatles, atau lagu-lagu yang menunjukkan pengaruh budaya Barat yang
mendayu-dayu seperti Koes Plus.

“Bung Karno bilang,’Lagu-lagu populer nan cengeng itu akan melemahkan semangat rakyat Indonesia’,” ungkapnya.

Dahulu Tohari juga melawan pemikiran Bung Karno itu. Tohari remaja sangat suka lagu-lagu semacam itu. “Karena saya suka sekali John Lennon. Kalau sudah mendengar lagunya Send Me The Pillow,
melayang-layang rasanya,” sang sastrawan mengakui di depan kami. “Sekarang saya membenarkan [pelarangan itu – pen] seratus persen!”

Tohari tua prihatin bahwa anak-anak muda sekarang dituntut untuk tahu lagu-lagu terbaru tanpa peduli kualitas sastrawi lirik-liriknya. “Lagunya sangat jelek, syairnya apalagi!”, komentarnya tentang lirik lagu-lagu Indonesia zaman sekarang. “Kuping saya pegel rasanya….”

Saat Keluarga Tak Mendukung, Orang Cenderung Kasar di Tempat Kerja

Apakah di tempat Anda bekerja sekarang ada seseorang yang sering berkata dan berperilaku kasar? Bisa jadi itu dipicu oleh
ketidakseimbangan dalam kehidupan kerja dan keluarga. Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Applied Psychology,
disimpulkan bahwa mereka yang memiliki keluarga yang tidak mendukung mereka untuk bekerja secara maksimal. Orang-orang ini cenderung lelah secara fisik dan emosional dan pada gilirannya akan melampiaskannya secara verbal pada teman-teman kerjanya dan juga anggota keluarga di rumah.

Akan tetapi beruntunglah bagi mereka yang memiliki atasan yang akomodatif dan memahami masalah yang dihadapi sang bawahan. Memiliki atasan yang semacam itu dikatakan dapat memutus lingkaran setan ini, kata peneliti Chu-Hsiang Chang, asisten pengajar ilmu psikologi dari Michigan State University.

Ia mengatakan,”Tampaknya memiliki atasan yang paham dan mendukung adanya keseimbangan pekerjaan dan keluarga tidak hanya bisa mengurangi konflik tetapi juga menurunkan agresivitas verbal seseorang.”

Chang dan rekan-rekannya meneliti 125 orang pekerja di 5 perusahaan TI 4 kali seminggu selama 3 pekan tanpa henti. Tujuan penelitian itu sendiri adalah untuk melihat apakah orang yang mengalami konflik kerja dan keluarga memiliki kemampuan lebih rendah dalam menekan
kecenderungan berkata kasar dan lebih terdorong berperilaku agresif di kantor.

Saat kepentingan keluarga dan kehidupan profesional bertabrakan, seperti saat seseorang harus melewatkan pertemuan bisnis penting karena anak yang sakit, partisipan mengatakan mengalami kelelahan emosional yang berat yang membuat mereka menjadi lebih kasar dan lebih sering berkata kasar bahkan pada atasan, rekan mereka dan anggota keluarga lain.

Karena adanya atasan yang memahami itu penting, Chang menyarankan perusahaan-perusahaan untuk memprioritaskan pemilihan dan pelatihan bagi manajer yang mampu memberikan dukungan bagi keseimbangan keluarga dan kerja bagi karyawan mereka.

Para manajer yang suportif itu tahu bahwa mereka harus memberikan contoh, misalnya dengan tidak mengirim surel pada karyawan pukul 11 malam dan mengharuskan mereka untuk membalas segera.

Para karyawan juga perlu proaktif dalam menjaga keseimbangan kehidupan kerja dan keluarga. Mereka misalnya bisa memilih makan siang di luar kantor untuk menjernihkan pikiran atau sekadar melakukan olah fisik ringan dan peregangan agar tubuh kembali segar di waktu senggang. Itu semua untuk membuat keseimbangan tercapai. Memang tidak mudah, tetapi mungkin dicapai jika tekad yang ada tinggi.

Chairil Anwar, Sang “Robin Hood” Jenius dari Belantara Persajakan Indonesia

Kata orang, ada tindakan mencuri yang baik. “Mencuri” salam, begitu jawab mereka. Tentu saja mencuri salam memang baik, karena siapa peduli salam Anda dicuri oleh orang. Toh, ia hanya kata-kata yang terlontar dengan mudahnya. Tak perlu banyak usaha. Sekali dua kali meniru, sudah bisa.

Mencuri sudah bukan barang aneh dalam dunia seni, sebuah dunia yang begitu dikenal mengagung-agungkan orisinalitas, keaslian, kreativitas yang murni dari hati dan mungkin sedikit “wahyu” dari Ilahi. Apalagi setelah kapitalisme meresap hingga ke inti, para seniman
berbondong-bondong meminta karya mereka dilindungi oleh negara melalui undang-undang hak cipta dan akhirnya konsep orisinalitas menjadi senjata ampuh untuk mempertahankan sumber penghidupan.

Membedakan antara “terilhami” (atau bisa juga dikatakan “terpengaruh”) dan “dengan sengaja mencuri karya orang lain” (plagiat) itu memang bukan perkara gampang. Karena yang benar-benar tahu hanyalah diri kita sendiri yang melakukannya. Sejuta alasan bisa disemburkan ke muka publik demi menyelamatkan muka pelaku tetapi tidak ada yang tahu itikad meniru itu sejatinya.

Akan tetapi jikalau saya ditanya bedanya, akan saya jawab pembedanya terletak pada sukar mudahnya peniruan itu dilakukan. Jika memang sangat mudah melakukannya dan sama sekali tak dibutuhkan upaya intelektual, waktu yang panjang dan tingkat kerumitan yang relatif rendah, kemungkinan besar itu cuma perkara plagiarisme murahan biasa. Sama seperti penulis blog yang menyalin tempel (copy and paste) artikel orang lain di blognya begitu saja tanpa merasa bersalah.

Isu ini turut mengemuka dalam pertukaran pikiran yang diadakan di acara diskusi “Blast from the Past” yang dihelat kemarin sore (22/3/2015) di Taman Ismail Marzuki dalam rangka Asean Literary Festival 2015. Musisi Ananda Sukarlan petang itu menanyakan tentang tuduhan plagiarisme yang diarahkan pada mendiang Chairil Anwar yang menulis sajak legendaris nan heroik “Karawang Bekasi”. Dikatakan bahwa sajak tersebut memiliki kemiripan yang mengejutkan dengan sajak berjudul “The Young Dead Soldiers” gubahan Archibald MacLeish, seorang penyair Amerika Serikat. Dugaan plagiarisme terhadap Chairil muncul begitu sajak MacLeish dimuat di majalah Reader’s Digest sekitar tahun 1946-47, kata Hasan Aspahani yang menulis buku tentang kehidupan sang penyair kenamaan itu.

Sebagai musisi, Ananda mengambil kasus dalam dunia musik. Curi mencuri juga sudah jamak di dalam dunia musik. Dan salah satu musisi yang bernama Stravinsky begitu menunjukkan dukungannya pada plagiarisme dengan sengaja berkata:”Komposer hebat tidak meminjam tetapi mencuri!”

Hasan mengatakan sajak “Karawang Bekasi” ditulis tahun 1948 saat Agresi Militer Belanda II berkobar. Kedua kota itu diluluhlantakkan Belanda untuk mendesak tentara Indonesia keluar dari Batavia. Bekasi menjadi titik terdepan bagi tentara kita untuk bertahan. Saat tentara Inggris mendarat, para pemuda Indonesia menyerang mereka. Sekitar 20 tentara Inggris pun tewas begitu saja, yang membuat geram NICA (Inggris dan Belanda) sampai Bekasi dibombardir habis-habisan. Chairil berada di Karawang — tempat asal sang istri — dan menjadi saksi mata sekaligus pelaku dan pencatat peristiwa bersejarah dan berdarah itu dalam larik sajaknya. Begitu dahsyatnya peristiwa itu hingga muncul dorongan kuat dalam diri Chairil untuk menulis (atau lebih tepatnya menyalin dengan kreatif) sajak, hingga lahirlah “Karawang Bekasi” yang dibuat untuk menyemangati semangat para pejuang di era Agresi Militer Belanda I dan II yang begitu dahsyat.

Adapun sajak “The Young Dead Soldiers” ditulis MacLeish untuk menyemangati tentara Amerika Serikat. Ia menulis sajak itu dan menyerahkannya pada badan propaganda AS. MacLeish menolak namanya disebut sebagai pembuat saja karena ia ingin sajaknya menjadi sajak semua orang. Jadi jangan sampai namanya menjadi penghalang bagi orang untuk tersemangati oleh sajak tersebut.

Menurut Hasan, Chairil bukan semata-mata menjiplak sajak MacLeish. Ada bukti-bukti upaya Chairil yang juga tidak kalah hebat untuk membendung pengaruh MacLeish dalam sajak “Karawang Bekasi”. Di antaranya adalah perbedaan penggunaan kata “mereka” (they – kata sapaan orang ketiga jamak) di sajak MacLeish menjadi “kami” (we – kata sapaan orang pertama jamak) di sajak Chairil. “Kalau ini mencontek, tinggal terjemahkan saja. Selesai. Tetapi tidak! Chairil mengganti sudut pandangnya. Menurut saya, ini (sajak “Karawang Bekasi”) adalah saduran yang jenius,” tegas Hasan. Setelah diketahui ada kemiripan itulah, sajak “Karawang Bekasi” yang semula dilabeli sajak asli perlahan diturunkan derajatnya menjadi sajak saduran.

Asrul Sani, sahabat dekat Chairil, juga membantu menjelaskan duduk perkaranya dalam sebuah surat pembaca yang konon kata Hasan
dikarangnya sendiri. Asrul mengirimkan sebuah surat berisi pertanyaan dengan nama palsu untuk ia jawab sendiri terkait tuduhan plagiarisme Chairil dalam sajak “Karawang Bekasi”. Menurut Hasan, cara pembelaan Asrul juga tidak kalah jenius. Ia menyimpulkan bahwa esai bernada pledoi dari sang sahabat itu adalah:” Terpengaruh? Iya. Menjiplak? Tidak.”

Penyair kontemporer Joko Pinurbo menimpali bahwa Chairil mampu tetap tenang tatkala menulis sajak perjuangan seperti itu. Kecerdasan puitisnya tidak hilang, ujar Joko. Dan ia adalah pencuri yang paling ulung.

“Soal mencuri buku tidak ada nilainya bagi saya tetapi mencuri ilmu, mencuri teknik persajakan penyair-penyair lain, itu yang patut kita pelajari darinya. Sampai orang tidak sadar itu sajak curian,” ungkapnya. “Pencuri yang baik adalah pencuri yang sanggup membuat pembaca tidak sadar bahwa itu adalah pencurian. Ia menerjemahkan puisi tetapi terjemahannya menjadi lebih indah dibandingkan karya aslinya.” Bagi Joko, kebiasaan pencurian buku Chairil menjadi sebuah metafora, meski memang tidak dapat disangkal menjadi bagian dari fakta hidup sang pujangga.

(Sumber foto: Wikimedia)

Plastik Biodegradable Tak Seramah Lingkungan yang Kita Duga

Jangan tertipu. Hanya karena ada awalan “bio”, tidak serta merta sesuatu pasti ramah lingkungan. Seperti itulah yang ditemukan oleh tim peneliti dalam sebuah studi ilmiah yang menyimpulkan bahwa zat tambahan yang umum dibubuhkan dalam plastik yang diklaim biodegradable (lebih mudah dan cepat diurai secara alami di alam bebas) sebenarnya tidak lebih cepat membantu penguraian bahan tersebut dibandingkan plastik yang tidak diklaim biodegradable.

Dengan naiknya populasi manusia dan meluasnya tempat penimbunan sampah, sampah plastik menimbulkan masalah besar di seluruh dunia. Lain dari banyak jenis sampah lainnya, plastik membutuhkan puluhan tahun untuk bisa terurai. Sejumlah perusahaan mengklaim telah bisa memecahkan masalah itu dengan memproduksi plastik yang mereka klaim sebagai “biodegradable”. Plastik jenis itu memiliki zat tambahan yang dikatakan mampu mempercepat penguraian bahan-bahan kimia dalam plastik.

Plastik yang tidak tertimbun di tempat pembuangan akhir (TPA) kerap tertimbun begitu saja di jalan-jalan perkotaan, dan berakumulasi di sungai-sungai, lautan dan sumber air minum.

Baru-baru ini, sebuah tim peneliti dari Michigan State University yang dikelapai oleh Susan Selke dan Rafael Auras menguji tingkat
keteruraian plastik yang memiliki 5 senyawa berbeda yang dikatakan bisa meningkatkan kecepatan proses penguraian plastik.

Tim peneliti yang menjadi bagian dari Center for Packaging Innovation and Sustainability
kampus tersebut menguji plastik di bawah timbunan sampah di lab dan plastik yang terkubur dalam tanah selama 3 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada satu pun senyawa itu yang meningkatkan kadar keteruraiannya.

Studi ini diterbitkan pekan ini dalam jurnal Environmental Science and Technology.

“Saya merasaskeptis mengenai plastik biodegradable dari awal karena material itu tak biasanya terurai dengan mudah,” ujar Fred Michel, pakar manajemen sampah dan profesor di Ohio State University yang dikutip oleh KQED. “Sulit untuk membayangkan material yang Anda tambahkan ke plastik yang akan secara ajaib membuatnya terurai dengan lebih mudah.”

Michel dan rekan-rekannya juga menemukan bahwa klaim dari
pabrikan-pabrikan plastik itu sebagian besar tidak dapat
dipertanggungjawabkan.

“Saya tidak terkejut,” ucap Michel,”tetapi menarik mengetahui adanya material di pasar yang seperti itu, yang memiliki klaim yang tak bisa dibuktikan dalam pengujian kami.”

Berkarya Lain dari Bergaya ( Dari @aseanlitfest)

Terpanggang hingga hampir matang di bawah tenda di depan panggung itu tidak membuat kami meninggalkan diskusi tentang dua penyair Indonesia kenamaan yang sudah berpulang. Yang satu sudah lama wafat sementara yang lain baru-baru ini berpulang. Karena panitia Asean Literary Festival 2015 tidak bisa mengundang arwah Chairil Anwar dan Sitor Situmorang, mereka pun menghadirkan Joko Pinurbo (yang secara absurd dipanggil Jokpin) dan Hasan Aspahani. Pertukaran pemikiran kedua pembicara di diskusi “Blast from the Past” sore tadi (22/3/2015) di Taman Ismail Marzuki Jakarta itu makin membara – selain karena sengatan mentari di atas sana – juga berkat kepiawaian Damhuri Muhammad ‎dalam menyarikan dan menegaskan poin-poin penting dalam pernyataan-pernyataan yang menggelitik, menohok, dan jitu.

Dalam diskusi, bertebaran kalimat dan anekdot-anekdot seksi tentang sastra, nasib menjadi penyair hingga durian ketan. ‎Salah satunya yang menarik ialah sindiran Jokpin yang jenaka dan sarkastis tentang bedanya bergaya dan berkarya. “Kadang-kadang kita lebih tertarik untuk memperhatikan gaya hidup pengarang dibanding mempelajari benar-benar karyanya,” kritik pria berambut abu-abu itu. “Kita terpukau dengan gaya hidupnya. Itu yang kita jadikan panduan kita. Kita harus seperti dia tapi kita tidak belajar apapun dari karyanya.”

Jokpin sendiri mengakui dirinya pernah menjadi korban tren gaya hidup penyair ala Chairil. Hanya karena pernah disebutkan Chairil sering mencuri buku di perpustakaan, banyak calon penyair muda‎ Indonesia seangkatan Jokpin yang berlomba-lomba mencuri buku pula. Sayangnya, dalam hal berkarya, sebagian besar pencuri buku itu nol besar. Saya sendiri juga mengakui demikian; membeli MacBook hanya karena J. K. Rowling, Haruki Murakami dan John Green memakainya. Sial!

Budak dan Membudak

Usai salat Ashar di musholla gedung itu, biasanya imam yang berambut kuning itu mengeluarkan BlackBerry-nya. Bukan untuk membaca BBM tetapi membacakan pada kami kalimat-kalimat indah dari hadist atau kitab suci. Rekan-rekannya sempat berseloroh bahwa kalau sang imam tidak hadir dan mereka yang mengimami, mereka akan berkata saja,”Maaf, BlackBerry-nya tidak ada, jadi tidak bisa membacakan apa-apa.”

Sore tadi, imam itu agak panjang menjelaskan sebuah kisah yang aku tak tahu dari mana riwayatnya. Tak jelas juga apakah itu kisah atau sebuah satir belaka. Tidak ada nama tokoh apapun, tempat apapun. Alur ceritanya juga tak jelas.

Ia hanya menyinggung tentang budak dan membudak. Katanya, budak yang sebenarnya bukanlah mereka yang terpaksa menjadi budak karena keterpaksaan kondisi ekonomi atau sosial. Mereka ini adalah orang yang merdeka tetapi kurang beruntung saja. Pada hakikatnya, mereka masih orang merdeka. Dan karena mereka dari dalam jiwa masih menghendaki kemerdekaan, mereka sekuat tenaga berupaya melepas belenggu yang majikan ikatkan padanya.

Lalu sang imam mengisahkan budak dalam arti sebenarnya. Budak sejati adalah mereka yang dengan sengaja membuat dirinya menjadi budak. Orang-orang ini tidak segan menyerahkan diri mereka dalam rantai kekangan majikan-majikan. Mereka tahu bahwa majikan-majikan itu sungguh kejam. Mereka tahu sakitnya diinjak-injak. Mereka tahu perihnya dicederai dengan kata-kata yang menghina. Akan tetapi, itu semua tidak membuat mereka – para budak sejati – menjadi jera. Mereka ditempeleng, meringis, atau bahkan menjerit, tetapi sesaat kemudian kembali merangkak-rangkak, mendekati para majikan, mengharap bisa kembali menghamba. Karena mereka tahu, kemerdekaan itu konsekuensinya berat. Sungguh tidak ringan. Memperolehnya saja sudah sukar, apalagi mempertahankannya. Inilah mereka yang mungkin banyak kita temui sekarang di kehidupan sehari-hari.

Budak-budak sejati ini malah kadang lebih keji dan durjana dari para majikannya dalam memperlakukan orang-orang yang merdeka. Mereka tahu diri mereka terlindung berkat adanya para majikan yang memberikan segala fasilitas hidup. Hidup budak-budak itu menjadi aman, nyaman, tenteram, sentosa benar. Asal setimpal dengan penghinaan yang mereka terima tiap saat, kenapa tidak?!

Sebelum sang imam membacanya hingga habis, beberapa orang mulai meninggalkan musholla. Satu per satu jamaah pergi. Mereka berlalu karena ia berkisah terlalu panjang, padahal pekerjaan masih banyak. Iya, pekerjaan-pekerjaan dari para majikan besar.

Tetapi aku duduk saja bersama sebagian lainnya. Tak juga beranjak meskipun memang wejangannya agak lebih lama dari biasanya. Aku tahan saja sejenak. Toh bukan masalah besar jika waktu salat molor. Pekerjaanku hari itu sudah selesai. Kewajiban sudah ditunaikan. Lunas, tandas, tuntas.

Sesaat terlintas pertanyaan:”Aku jenis budak yang mana?”

(image credit: wikimedia)

A Type of Fear #Writers Don’t Get

(Noun) graphophobia: fear of writing

How on earth can someone hate writing? It’s maybe the best part of life, which is to witness or feel or perceive things around us or inside us and let other people know about them.

Yet, this sort of fear is really existent for sure. I have one friend who contacted me the night before we had to submit a piece of brief composition called “reflective journal”. She confessed she found it extremely hard to write what she felt and thought. The barriers were so daunting to her she decided to seek my assistance. She knew I’m better at handling words and writing them down. At first I thought she was joking, or even worse, simply lazy and exploitative. But she apparently meant it. She had no single idea as to what to write down and read to the entire class the day after. 

So I truly believe that such fear is real though to me it is so surreal.

Towards a More Robust Vocabulary than Ever

‎In I went to the bookstore in the very impulsive fashion while it was raining outside and look what I found! This book is absolutely what I need to beef up my shamingly weak, rarely upgraded and unbearably monotonous vocabulary.

Norman Lewis is really convincing at presenting ways to “increase our knowledge and mastery of English”. As we all know, vocabulary is the highly important tool that any wordsmith needs to have and most importantly use when they are doing their creative process.

As a reporter, blogger and writer who happens to partly target wider audience, I also write in English. And when you’re not a native speaker of English, there must be a demand to achieve such ‎native-like mastery of words and language. Of course I can grab a dictionary or thesaurus in the process, but that won’t work during conversations, or interviews which I sometimes have to conduct.

Yet, vocabulary isn’t always about how many words one can master. It’s also about how to employ the right word in the right context. This is seriously important if one aims to become a writer working for a serious publication or media company. Using the laymen vocabulary maybe makes your writeup more readable but how about the subtlety of picking the right words to convey our message effectively, and at the same time avoiding misunderstanding? That’s why we need to read and do the exercises in the book.

%d bloggers like this: