Obsesi terhadap Kelenturan dalam Beryoga dan Dampaknya di Usia Tua

Kelenturan alias hipermobilitas di sendi-sendi dan tulang belakang kerap menjadi dambaan bagi banyak orang, terutama para pegiat yoga. Sebagian orang berlomba-lomba secara ambisius‎ untuk mencapainya. Mereka berlatih tiap hari untuk bisa menekuk tubuh melebihi “kewajaran”.

Saya juga tidak terkecuali. Hanya saja saya terlalu malas untuk menghabiskan waktu melakukan stretching selama berjam-jam. Alhasil, saya tidak bisa selentur mereka yang berlatih tiap hari untuk itu. Sementara ada orang yang mendokumentasikan proses mereka berlatih dari yang awalnya kaku menjadi lebih luwes, saya hanya menikmati prosesnya saja. Tanpa ekspektasi dan target. Kalau bisa, bagus. Kalau tidak, bukan masalah besar juga.

‎Beberapa waktu lalu saya melontarkan pertanyaan terkait hipermobilitas yang saya miliki. Iseng saja saya ajukan pertanyaan pada praktisi asana (pose) yoga yang berpengalaman, Setyo Djojo, dari Bandung. Beliau memang sudah banyak diakui sebagai pakar yang memahami seluk beluk anatomi dan aplikasi anatomi dalam praktik asana yoga.

Hipermobilitas, bagi Anda yang belum tahu, adalah terlalu luasnya ruang gerak sendi-sendi dalam tubuh yang membuat tubuh lebih lentur di mata orang awam.

Menurut Setyo, hipermobilitas‎ tidak selamanya bagus. Ia perlu disikapi dengan bijak. Hipermobilitas sendiri tidak perlu dicemaskan jika memang sudah bawaan dari lahir. Namun bagi mereka yang hipermobilitasnya didapat dari latihan peregangan (yang terlalu) rutin seperti dalam beberapa asana yoga, patut diketahui bahwa ada konsekuensinya di usia senja nanti. Apa itu?

“Konsekuensi hipermobilitas (bawaan) hampir tidak ada. Akan tetapi ini berbeda dari mereka yang semula kaku lalu menjadi lentur karena berlatih berat hingga menimbulkan scar (bekas luka) di otot, ligamen, dan fascia,‎” tuturnya. Dalam pengamatannya, sejumlah praktisi yoga yang dulunya tak lentur tetapi kemudian diketahui berhasil berubah menjadi luar biasa lentur setelah bertahun-tahun latihan asana, di usia tua mereka cenderung lebih kaku daripada mereka yang tak berlatih peregangan yang sangat intens. Mereka ini umumnya baru belajar yoga sejak usia 20-an atau 30-an dan latihan peregangan terus menerus secara berlebihan. Di usia 70-80, beberapa di antaranya bahkan menurut Setyo tak bisa lagi memegang ibu jarinya dengan tangan.

Scar atau luka di otot, ligamen, fascia itu semualah yang menjadi biang keladi mengapa para praktisi yoga kehilangan fleksibilitas di usia senja. “Saya melihat ada beberapa pengajar senior yang dulu lentur sekali tetapi saat tua menjadi lebih kaku daripada mereka yang tak pernah beryoga,” Setyo menjelaskan.

“Itu sebabnya kita harus mengukur kemampuan dan kebutuhan tubuh kita,” pungkasnya lagi.

Nah, sudahkah kita mendengar ‘suara’‎ tubuh kita dan memperhatikannya sungguh-sungguh? Atau kita sudah mendengarnya tetapi toh tetap mengabaikannya jua?

Leave a comment

Filed under health

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s