Gerakan Sun Salutation dalam Yoga, Haramkah?

“Suryanamaskar” atau “salam matahari” kini hampir tidak dapat dipisahkan dari aktivitas di kelas-kelas asanas dan latihan yoga. Meski telah menjadi sebuah ‘paragraf’ asanas yang sangat populer, Suryanamaskar pernah mengalami ‘penolakan’ oleh sebagian kelompok orang dan dianggap sebagai aktivitas menyembah matahari dan/ atau bahkan dianggap sebagai ritual agama tertentu.

Oleh sebab itu, kita harus menelisik sejarah dan evolusinya. Dengan begitu, kita semua diharapkan akan menjadi lebih nyaman, mantap dan ‘terang benderang’ tentang hal ini.

Suryanamaskar pada awalnya memang merupakan bentuk ‘ritual’ dari salah satu kelompok keagamaan di masyarakat India kuno ( produk budaya ), jauh sebelum Inggris dan Islam masuk dan menguasai India. Suryanamaskar menjadi salah satu bentuk ritual puji sukur dan terima kasih pada sang keilahian ( Brahman ) dengan terbitnya matahari, dengan itu berarti masih diberikannya kesempatan berbakti, hidup, berkarya dan atau mengabdi pada semesta. Matahari sebagai sumber kehangatan dan kehidupan. Suryanamaskar dalam bentuk klasik ini dilakukan dengan melantunkan japa mantra di setiap gesturnya dan dilakukan tanpa teknik pernapasan ( tidak seperti di kelas-kelas yoga asana sekarang ).

Teknik dan runutan yang mengalir dinamis nan efektif ini kemudian oleh Shivaji ( Pendiri Kemaharajaan Maratha 1627-1680 ) diminati untuk dikreasi dan diadopsi untuk tentara-prajurit kerajaan. Dengan cara mendorong pemimpin keagamaanya Sri Samartha Ramdas agar ‘menghidupkan kembali’ dan menyebarkan Surya Namaskar ke seluruh pelosok kerajaan Maratha ( khususnya bagi prajurit untuk pemanasan di pagi hari ). Meski demikian seiring perubahan waktu, jaman dan kekuasaan. Pada akhir abad ke-19 Surya Namaskar hampir terlupakan di benak masyarakat India.

Dan baru pada tahun 1938 Bhavanrao Shrimant Balasahib Pandit Pathinidi, mempopulerkan kembali suryanamaskar dengan menerbitkan bukunya The Ten Poin-way to Health – Surya Namaskars , raja dari kerajaan Aundh ( sekitar Mumbai ). Beliau sendiri adalah praktisi dan penggemar gulat tradisional khas India, dan telah mempraktikkan senam singkat nan efektif bagi kesehatan yang dinamakan Suryanamaskar ( versi ‘original’ 10 rangkaian gerak dan pose ) sejak tahun 1908, dimana inspirasi senam ini diperolehnya dari Shrit. Balasaheb Mirajkar, raja terakhir dari kerajaan Miraj. Bhavanrao kemudian memodifikasi metode klasik – lamanya, memperkenalkan dan mempopulerkan senam ini salah satunya juga dengan cara membuat film pendek yang kemudian ia pertunjukan juga di British Film Institute, London.

Perbedaan suryanamaskar klasik ( ritual keagamaan ) dengan Suryanamaskar Pathinidi adalah dalam runutan, japa mantra dan pernafasan. Dalam ketiga hal tersebut telah direkayasa oleh Pathinidi menjadi disistematisir ( runutan, posisi kaki, dll ), tanpa japa mantra dan dimasukannya postur dan teknik / pernapasan ke dalamnya. Buku, inovasi dan karya Pathinidi menjadi sangat populer kala itu, khususnya di kalangan praktisi Gulat. Suryanamaskar merupakan aktivitas pemanasan yang wajib dilatih dan dilakukan seorang pegulat kala itu, bahkan hingga ratusan kali perharinya karena dipercaya selain menguatkan jantung, otot-otot lengan juga meningkatkan vitalitas.

Suryanamaskar dijaman Pathinidi, bukan dan belum menjadi bagian dari yoga dan aktivitas asanas. Baru beberapa tahun kemudian Suryanamaskarnya Pahinidi diadopsi dan dijadikan ( juga ) pemanasan sebelum berasanas oleh berbagai praktisi yoga ( belum ada data sejarah siapa yogi pertama yang mengadopsi suryanamaskar menjadi bagian dari asanas, kemungkinan besar oleh Shivananda dan atau Krishnamahacarya ). Jadi suryanamaskar pada awalnya bukan menjadi bagian dari yoga, dan baru berusia sekitar 100 tahunan.

Kini, suryanamaskar sudah berevolusi dengan sangat beragam. Silakan pilih sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Sumber rujukan:
– Ensiklopedia of Indian Physical Culture (1950) by. D.C. Mujumdar. – The Ten Poin-way to Health – Surya Namaskars, 1936

(Disalin tempel dari penjelasan Setyo Djojo dari grup Facebook Yoga Indonesia, dengan suntingan seperlunya) ‎

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s