Dalam Karya Berikutnya, Ahmad Tohari Ingin Kritik Generasi Muda

“Saya sedih melihat generasi muda sekarang; saat laki-lakinya ‘cantik’, tidak pernah berkeringat,” ucap novelis Ahmad Tohari petang itu. Begitu ucapannya selesai, seekor burung pekat yang melayang di atas Taman Ismail Marzuki itu mencuit berkali-kali, menyetujui kritiknya yang tajam itu. Kami yang berkerumun di sekitar Tohari yang suka mengenakan topi itu memberikan berbagai reaksi berbeda. Ada yang mengangguk, ada yang meringis, atau tersenyum tipis. “Anak-anak muda ini cantik, tidak ada yang berotot.”

Tohari mengamati kondisi itu tidak cuma terjadi di kota-kota besar. Di desa-desa juga hal yang sama melanda generasi muda pria. “Mereka ini siang malam ‘ditodong’ televisi. [Jadi] maunya cantik, mewah, kaya,” terangnya lagi. Ia yakin bahwa apa yang dimaui anak muda saat ini adalah “hidup asyik, mewah, penuh kemanjaan”.

“Jadi bagaimana dong?! Ini ulah siapa?” keluh pria Jawa yang suka sekali mengenakan topi itu. Kami berlima yang usianya jauh lebih muda sedang duduk mengelilinginya. Tohari mengarahkan pandangannya pada salah satu dari kami saat melontarkan pertanyaan itu. “Kamu tahu siapa?”

“Kapitalisme…,” kata seorang pria di samping Tohari yang mengaku berusia 29 tahun itu lirih, tersipu-sipu padahal tidak perlu begitu. Tidak ada yang menampik bahwa ia sudah menipu publik. Namun, siapa peduli? Toh usia bukan hal penting. Karena katanya, ia hanya ingin jujur untuk sesuatu yang maha penting.

Tohari meneruskan kalimat wejangannya,”Mereka ingin menyiapkan bibit-bibit konsumen. Agar mereka berubah menjadi konsumen yang rakus, anak-anak muda harus diubah menjadi generasi yang pragmatis”. Saat pragmatisme sudah memasuki ruh anak-anak muda, akan lebih mudah untuk membuat mereka makin konsumtif.

Tiba-tiba Tohari menyeret kami ke masa lalu, dengan membahas alasan Bung Karno melarang lagu-lagu Barat yang begitu populer tetapi merusak jiwa muda yang sedang rapuh. Di usianya saat ini yang sudah 6 dekade, Tohari sepakat dengan kebijakan sang proklamator untuk melarang konsumsi produk-produk budaya Barat seperti lagu gubahan The Beatles, atau lagu-lagu yang menunjukkan pengaruh budaya Barat yang
mendayu-dayu seperti Koes Plus.

“Bung Karno bilang,’Lagu-lagu populer nan cengeng itu akan melemahkan semangat rakyat Indonesia’,” ungkapnya.

Dahulu Tohari juga melawan pemikiran Bung Karno itu. Tohari remaja sangat suka lagu-lagu semacam itu. “Karena saya suka sekali John Lennon. Kalau sudah mendengar lagunya Send Me The Pillow,
melayang-layang rasanya,” sang sastrawan mengakui di depan kami. “Sekarang saya membenarkan [pelarangan itu – pen] seratus persen!”

Tohari tua prihatin bahwa anak-anak muda sekarang dituntut untuk tahu lagu-lagu terbaru tanpa peduli kualitas sastrawi lirik-liriknya. “Lagunya sangat jelek, syairnya apalagi!”, komentarnya tentang lirik lagu-lagu Indonesia zaman sekarang. “Kuping saya pegel rasanya….”

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s