Zero to One: Catatan Kampus yang Berisi Pemikiran Seorang Jenius

‎Blake Masters mungkin tak pernah menyangka catatan kuliahnya akan dibaca jutaan orang di dunia. Masters duduk di bangku kuliah Stanford Law School di tahun 2012, saat entrepreneur super sukses Peter Thiel menyambangi kampusnya untuk berbagi ilmu dan wawasan. Dengan tekun sekali, Masters mencatat pemikiran-pemikiran sang guru dalam catatan kuliahnya yang bertajuk “Computer Science 183: Startup”. Catatannya itu ia unggah ke dunia maya dan abrakadabra! Begitu banyak orang membacanya. Thiel pun turun tangan. Ia mengajak Masters merevisi catatan kuliah yang begitu bermanfaat itu bagi audiens global. Tahun 2014, buku ini pun lahir dan siap dikonsumsi pasar.

Dalam sebuah kesempatan, Thiel pernah mengatakan bahwa ia TIDAK menganggap kemajuan teknologi seperti iPhone sebagai suatu inovasi. ‎Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru dan segar serta aneh dari iPhone yang telah sampai ke seri keenam itu. Bukan berarti ia benci terhadap semua perkembangan teknologi informasi yang terjadi dengan pesat ini, tetapi Thiel yakin bahwa semua itu cuma kemajuan horisontal. Thiel mau kemajuan vertikal yang lebih banyak terjadi dalam kehidupan kita sekarang. Dan buku ini tampaknya memiliki misi untuk menanamkan pemikiran itu dalam benak para pembacanya, yaitu agar mereka terdorong membuat sesuatu yang baru dan aneh. Bukan cuma mengekor dan memperbanyak sesuatu yang sudah ada dan sudah terbukti sukses.

Sebagai sebuah himpunan informasi , buku ini memang berbeda. Bagi penyuka buku dengan judul yang berpola bombastis seperti “kiat sukses (masukkan ambisi apapun yang Anda mau)”, atau “rahasia menuju (ketikkan cita-cita paling muluk-muluk yang Anda pernah bayangkan), saya sarankan jangan membeli buku ini. Pasti Anda akan kecewa. Anda juga tidak akan menemukan formula-formula sukses dari Thiel atau kumpulan kisah keberhasilan yang standar, monoton dan bisa ditebak yang digemari kebanyakan orang. Itu karena buku ini menyasar mereka yang mau diajak berpikir berat, sangat berat.

Yang menarik, Thiel berpendapat entrepreneurship tidak dapat diajarkan hanya dengan menyuguhkan formula, akronim, rumus atau jargon ‎penjamin sukses. Dalam sekapur sirih di awal buku, Thiel menjelaskan:”Paradoks dalam mengajarkan entrepreneurship ialah bahwa formula (untuk sukses -pen) tidak ada; karena tiap inovasi itu baru dan unik, tidak ada pihak yang bisa merumuskan dalam istilah nyata cara untuk berinovasi. Sungguh, satu-satunya pola yang paling menonjol yang saya ketahui ialah bahwa orang-orang sukses menemukan nilai di tempat-tempat yang tidak terduga, dan mereka melakukan itu dengan memikirkan mengenai bisnisnya dari prinsip-prinsip pertama daripada (mengandalkan -pen) formula-formula” (Zero to One, hal 2-3).

Zero to One yang terdiri dari 14 bab itu membuat kita berpikir keras untuk memahami hakikat teknologi, perkembangannya, kegunaan sejatinya bagi kemaslahatan manusia, dan lain-lain. Thiel mungkin dapat dikatakan sebagai filsuf teknologi abad modern karena ia menggunakan sejumlah sudut pandang keilmuan di dalam penjelasannya. Dalam bab “You Are Not a Lottery Ticket” misalnya Thiel memakai tinjauan sejarah, budaya, psikologi dan ekonomi dalam menjelaskan 4 kelompok besar berdasarkan perspektif terhadap masa depan. Di sini ia mencomot sejarah bangsa-bangsa dan masyarakat besar dunia untuk memberikan gambaran lengkap mengenai pemikiran dan sikap yang berbeda-beda dalam memandang masa depan. Anda bisa menemukan penjelasannya di halaman 62.

Dalam bab pamungkas “Stagnation or Singularity?”, Thiel mencoba mengajak kita kembali berpikir dan mengambil simpulan besar. Dari sana, ia mendorong kita yang membaca untuk bertindak dengan memberikan tugas agung. Berikut kalimatnya di halaman terakhir buku itu:

“Tugas kita saat ini ialah menemukan cara-cara tunggal dalam membuat hal-hal baru yang akan membuat masa depan tidak cuma berbeda tetapi juga lebih baik – naik dari nol menjadi satu. Langkah pertama dan utamanya yaitu berpikir untuk diri Anda. Hanya dengan memandang dunia kita dengan cara baru, sesegar dan seaneh para leluhur memandangnya pertama kali dahulu kala, baru kita bisa menciptakannya kembali dan melestarikannya untuk masa depan”. (Zero to One, hal 195)

‎Setelah membaca buku ini, perspektif kita mengenai entrepreneurship tak akan pernah sama lagi. Tiba-tiba kita menjadi lebih kritis untuk bertanya,”Benarkah mereka yang dilabeli atau mengklaim diri sebagai entrepreneur itu betul-betul entrepreneur? Atau cuma hebat dalam menjual dan mengemas lalu mengeruk untung untuk ditimbun? Apakah inovasi yang selama ini dibangga-banggakan itu sungguh suatu inovasi sejati yang mengarah ke atas (vertikal)? Atau jangan jangan cuma ilusi yang Thiel sebut sebagai kemajuan horisontal?”

Leave a comment

Filed under entrepreneurship

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s