Sai Blackbyrn: Entrepreneur Pemberontak

DARI meninggalkan bangku sekolah, kebangkrutan orang tuanya hingga merasakan ‘terdampar’ di pulau dewata Bali karena kesalahpahaman tentang perizinan imigrasi yang membuatnya harus bertahan hidup dengan dana terbatas membuat Sai Blackbyrn (25) menjadi pribadi yang makin tangguh. Dinamika hidupnya sungguh dramatis seperti sebuah film. Pada saya, ia membagikan kisahnya sebagai seorang entrepreneur penyuka tantangan dan penakluk risiko.

Sai memiliki dua orang ayah: ayah angkat (software engineer) dan ayah biologis (mantan eksekutif utama di instansi pemerintah). Akan tetapi yang justru paling memberikan pengaruh besar terhadap Sai adalah sang bunda yang bercita-cita menjadi dokter bedah syaraf. Ibu Sai kemudian mendirikan sebuah perusahaan di Arab Saudi. Ia kemudian pindah ke Inggris dan mendirikan perusahaan lain dan menjadi produser film Bollywood, bekerja sebagai pengembang real estate. Semuanya sirna begitu sang ibu pailit. “Kami kehilangan semuanya,” kenang Sai. Namun bagi Sai, itulah yang membuat kisah sang ibu menarik. 

“Kini ibu saya bekerja mengumpulkan dana 300 juta dollar untuk proyek real estate,” tukas Sai. 

Alih-alih menyebut, semangat entrepreneurship sebagai bakat yang dapat diturunkan, Sai lebih suka menyebutnya sebagai “kebodohan”. “Karena (entrepreneurship) itu berat… sangat berat,” ujar warga Inggris yang juga penyuka olahraga lari pagi itu. “Tetapi orang tidak menyadari itu.”

Sai kagum dengan karakter ibunya yang pantang menyerah, meskipun kondisi yang ia hadapi sangatlah sulit sekalipun. “Ia panutan saya dalam berbisnis,” kata Sai yang menguasai sedikit bahasa Indonesia itu.

Tidak sadar menderita kelainan disleksia, Sai mengalami kesulitan belajar saat masih kecil. Di masa remaja, ia pun memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah menengah dan tidak masuk ke universitas. 

Bukan berarti Sai ingin bermanja-manja. Ia kemudian terbang ke negeri leluhurnya, India. Sai bekerja tanpa dibayar sebagai broker saham. “Saya gagal dengan sangat menyedihkan.”

Namun, berkat kegagalan dalam bidang saham itulah, Sai terdorong untuk mendirikan bisnisnya sendiri. Ia pernah bekerja sebagai karyawan tetapi merasa bahwa bekerja seperti itu bukan jenis kehidupan yang ia inginkan.

Jadikan Ibu sebagai Panutan

Sai mengakui entrepreneur itu mirip penganggur. Dan ia bangga satu-satunya pekerjaan yang ia miliki hingga saat ini adalah saat ia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Itupun ia sanggup lakukan hanya selama dua hari. Ia sungguh tidak paham konsep sebuah pekerjaan.

Saat gagal, kegagalan yang dialami ibu Sai juga tidak ringan karena diketahui publik dan pers. Namun, ibu tidak menyerah. Inilah pelajaran yang Sai yakini sebagai nilai sungguh krusial bagi dirinya dalam menjalani kehidupan, termasuk bisnis.

Ibunya juga mengajarkan Sai untuk menghindari menjalani hidup berdasarkan dogma. “Anda tahu apa itu dogma? Sebuah kehidupan yang dipilih berdasarkan preferensi orang lain,” terangnya. Ibu Sai dibesarkan di keluarga India tipikal yang mengajarkan padanya untuk menikah dan memiliki anak dan menjadi ibu rumah tangga. Kakek Sai memiliki pekerjaan mapan di sebuah bank dan menghendaki semua anak perempuannya untuk berumahtangga dan memiliki pekerjaan yang mapan, tetapi sayang kenyataan tidak berjalan sebagaimana harapannya. Menariknya, semua anak perempuan dalam keluarga itu malah menjadi entrepreneur, mengalami perceraian dan pernah bangkrut. 

Kehidupan yang dinamis dan jauh dari kesan stabil dan mapan itu dipilih secara sadar oleh ibu Sai berkat dukungan dari sang ibu yang berasal dari keluarga revolusioner di masa kemerdekaan. Ia tumbuh di sebuah lingkungan yang berbudaya, penuh atmosfer seni dan sastra, serta tidak menyukai kekerasan. Nenek Sai menyandang gelar Ph. D., piawai bermain biola, suka tampil berpuisi di muka umum. “Tetapi karena tekanan budaya, nenek terpaksa menjadi ibu rumah tangga. Dan ia mengajarkan anak-anaknya untuk tidak seperti itu. Mereka diajarkan untuk hidup dengan keyakinan mereka sendiri, tanpa perlu mengindahkan pendapat orang lain.”

Mengkritisi Pendidikan Formal

Penyuka olahraga crossfit itu memiliki pemikiran berbeda mengenai manfaat pendidikan. Sai bukan anak yang bodoh di kelasnya saat sekolah. Ia bahkan mengaku nilainya bagus. Namun, mengapa ia tidak melanjutkan pendidikan formalnya? Sai berbicara pada guru-gurunya di sekolah menengah setelah ia mendapatkan nilai terburuk (U di Inggris adalah nilai yang lebih buruk dari F). Guru-gurunya pun mengajarinya bagaimana mendapatkan nilai bagus, yaitu dengan menghapal dan menyerap yang disampaikan. Dari nilai U, Sai mendapatkan nilai A di semester berikutnya. Menemukan cara untuk mengakali sistem pendidikan formal, Sai merasa kecewa. “Hal ini membuat saya mempertanyakan manfaat pendidikan (formal) karena jika seseorang seperti saya bisa mendapatkan nilai bagus hanya dengan menghapal. Lalu apa manfaatnya kuliah sebetulnya?”

Sebelum sampai ke keputusan mengabaikan bangku kuliah, Sai berbicara secara terbuka dengan orang tua dan neneknya yang tentu saja menyarankan untuk mengenyam pendidikan tinggi karena mereka menyandang gelar akademik. Namun, Sai tidak menyerah. Untuk meyakinkan mereka dan dirinya sendiri, Sai berbicara dengan banyak orang yang telah mendirikan bisnis. “Saya bertanya,’Apakah manfaat pendidikan tinggi bagimu?’,” terang Sai. Mereka menjawab pendidikan formal ‘hanya’ membantu mereka mengantongi selembar ijazah untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka. “Bagaimana dengan bisnis?” tanya Sai pada para entrepreneur itu, dan mereka mengatakan semua ketrampilan berbisnis itu harus dipelajari dari nol. Dari 12 orang yang ia tanya, hanya 1 orang yang mengatakan pendidikan formal begitu bermanfaat. “Saya sangat yakin dengan manfaat pendidikan, tetapi untuk pendidikan formal hingga saat ini saya masih mempertanyakannya. Lagipula pendidikan formal lebih banyak berdasarkan pada teori-teori yang disusun di masa lalu, yang kurang berguna saat kita harus mendirikan sebuah bisnis.”

Dari sana, Sai meneguhkan tekadnya untuk berhenti sekolah alias drop out dan memutuskan untuk mengedukasi dirinya sendiri di kehidupan nyata, bukan di bangku kelas , untuk menjadi entrepreneur. 

“Kau bisa menjadi orang yang terpandai di kelas atau orang yang tersukses di kelompok Anda,” tukas Sai. Dan ia memilih yang kedua.

Dari Dini

Sai telah menampakkan bakat bisnisnya sejak kecil. Di usia 10 tahun, ia mengaku sudah menggunakan ketrampilannya bermain trik sulap, dan hebatnya ia dibayar oleh teman-temannya untuk itu.

Saat masih bersekolah, Sai mencoba mengunduh banyak film dan menjualnya pada teman-teman sekolahnya. “Tetapi kemudian saya sadar, mereka tidak mau film – mereka mau pornografi!” kenangnya. Ia pun melayani permintaan pasar itu.

Bisnisnya itu tak bertahan lama karena Sai kemudian tertarik ke dunia games. Ia tahu dari televisi ada sebagian orang yang menghasilkan uang dari game online Roomscape yang dapat dimainkan beberapa orang secara real time. Ia pun mencari tahu caranya. “Ternyata mereka menjual uang (virtual) dalam video game untuk ditukarkan dengan uang sebenarnya melalui eBay. Keren sekali!”

Sai pun menghabiskan belasan jam setiap harinya untuk bermain video game itu demi mendapatkan peluang menghasilkan keuntungan tadi. Kenyataannya tidak semudah yang ia bayangkan. 

Sai yang saat itu berusia 16 tahun secara bertahap menguasai sistem bisnis itu dengan mantap. Seorang pembeli setia membeli koin-koin virtualnya setiap 2 pekan sekali dan Sai berhasil meraup untung 6000 sampai 7000 dollar dari video game itu. Akan tetapi, ia harus berhati-hati karena jika mencurigakan, akunnya akan diblokir. “Itulah pengalaman saya pertama kali berbisnis yang sukses. Karena keuntungan 6-7000 dollar tadi dihasilkan hanya dari total 9 jam bermain.’

Seperti banyak anak muda seumurnya, Sai juga tergiur dengan skema cepat kaya yang ditawarkan banyak pihak. Ia pun mencoba berbisnis properti dan saham, tetapi gagal.

Tanpa memiliki gelar, Sai kesulitan mendapatkan pekerjaan broker saham di Inggris. Namun, di Bombay Sai berhasil mendapatkan tawaran itu. Di sini ia tidak dibayar saat bekerja sebagai broker saham. Ia menganggapnya sebagai salah satu pendidikan yang berharga. Dalam waktu 4 bulan bekerja sebagai broker saham, Sai merasakan tingkat kesulitan yang demikian tinggi. “Saya tidak bisa mengendalikan emosi, padahal sebagai trader Anda mesti bisa mengendalikan saat bekerja.”

Sai malah lebih menikmati dunia kencan. Ia menyukai saat-saat ia dapat bertemu wanita, menjemput mereka dan berbincang. Selama 8 bulan pertama ia mengerjakannya kemudian ada sejumlah orang yang ingin Sai mengajarinya cara-cara berkencan yang baik. Dan ia pun mulai mengenakan tarif atas layanannya sebagai konsultan perkencanan dan asmara.

Karena bisnis itu tidak banyak menghasilkan uang, akhirnya Sai mulai kehabisan uang. 

“Saya tak paham tentang struktur bisnis, penjualan, pemasaran, dan hal-hal semacam itu, bisnis saya pun surut. Lalu saya kembali ke Inggris, dan saat itulah orang tua saya menyatakan diri bangkrut,” kenang Sai.

Di saat sulit itulah, ia harus pindah ke satu rumah bersama kakek neneknya, bibi-bibinya, sepupunya. Ada 8 orang dalam satu rumah mungil dan Sai ingat toiletnya kerap tersumbat. 

Keluarganya pun meminta jaminan sosial dari pemerintah karena pailit, suatu kondisi yang begitu kontras dari kehidupan sebelumnya saat orang tuanya begitu kaya raya.

Sai kemudian bekerja untuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sales dan marketing. Salah satu orang di dalam perusahaan itu tertarik dengan apa yang Sai lakukan dan berinvestasi 100 ribu dollar pada bisnisnya. 

Indonesia, Wild West bagi Entrepreneur

Indonesia adalah salah satu negara yang pernah disinggahi Sai. Dibandingkan dengan Inggris, Australia dan India, Sai menggambarkan Indonesia sebagai sebuah rimba tak bertuan yang menawarkan sejuta peluang dan tantangan. 

Sai bukan entrepreneur yang turut serta dalam arus besar tren bisnis terkini. Meskipun ia tahu banyak bisnis digital yang bermunculan di seluruh pelosok dunia terutama karena terdorong keberhasilan banyak startup di Silicon Valley, ia mengatakan – selain Uber dan Clash of Clans (game) – tidak ada satu pun bisnis online itu yang memiliki model bisnis yang masuk akal. “Bagaimana bisa sebuah aplikasi chat divaluasi sedemikian tinggi padahal tidak pernah menghasilkan uang sepeserpun?” Bagi Sai, berbisnis harus menghasilkan uang dari hari pertama beroperasi. Atau tidak sama sekali.

Karena itu, Sai yakin jika sebuah bisnis sudah solid dari dalam (dari model bisnisnya yang teruji), ia tidak akan memerlukan suntikan dana dari para investor. Ia bisa mendanai dirinya sendiri, alias bootstrapping, dengan menghasilkan pemasukan dari hari pertama. Ketergantungan pada investor membuat Sai membayangkan tech bubble. “Bagaimana jika terjadi bubble burst, dan para investor tidak ada yang mau mendanai bisnis Anda lagi? Itulah yang saya cemaskan,” kritiknya. 

Selain itu, Sai mencemaskan tingkat intervensi yang meninggi dalam menjalankan bisnis jika terlalu mengandalkan investor. “Setiap keputusan bisnis bisa disetir oleh investor berdasarkan nilai investasi mereka.” (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.