Adam Dietlein: I Don’t Mind the Boos

Known on stage as the narcissistic villain Gaston, Adam Dietlein (pronounced /di:tlain/) is no stranger to theaters. Dietlein debuted on “Shelter” (Joshua) and the latest roles he was on were Les Miserables (Javert) and Brigadoon (Tommy). Compared to Jordan Aragon (Lefou) who is petite, Dietlein stands really tall. Probably more than 6 feet. He is even noticably taller than Darick Pead (Beast).

I (AP) happened to have an interview with Dietlein (AD) days ago. And this is pretty much the uncut version of the interview. Enjoy the rawness.

AP: What’s the most exciting part of playing the character of Gaston? AD: Being Gaston, you have to be self-centered. It’s all about you. You’ve gotta be superficial. That aspect to me is fun to do. I’ve got to be semi outrageous on stage. And just being a part of this show is incredible. It’s truly Broadway Disney’s Musical and I’m working with all the other actors. It’s been absolutely all treasure, being able to travel and doing it here in Indonesia.

AP: Have you encountered a hater of Gaston?
AD: Haha. This is a good question. In one of our stops, there were some boos at the end of the show for Gaston and those boos just make me smile but then I get messages from people saying:”I know you’re the bad guy in the show but I can’t help loving you”.

AP: Is there any challenge to play a bad guy like Gaston?
AD: I think I play bad guys better. I think I am a happy-go-lucky guy off the stage but I’ve played other characters, which are more gruelling. I think it’s more fun to play the bad guys. Gaston is not the typical Disney villain. He is not mean but his devil is his being superficial and it’s all about him and you start to see the inside of his character, it’s not pretty. I think it’s that what the show is showing. Looking more into the heart of people whether it’s good or bad. And with Gaston, unfortunately he needs to change a bit.

AP: Is it your childhood dream to be Gaston or to be involved in this musical? AD: Yes, I think as an actor, you have certain roles that you want to play. About a year and a half ago, there was in mind like,”I need to play a selfish, egotistical character.” I need to play Gaston. And then this opportunity came up.

AP: Is it really itchy to wear the wig?
AD: No. We work with David Lawrence. He designs all the wigs. And it’s for my head but it feels wonderful. It breathes nicely and it really adds to the character of Gaston.

AP: Any challenge to adapt the character from the motion picture to its real life version?
AD: I think the original director of the Disny musical wants to have it be realistic, more realistic than it is in Disney movie. And for me it’s very tough to hold back and try to make it real but I think we have found moments when we find that real part but I think that’s what this show is fin not only for kids but adults.

AP: What do you expect for kids to learn from the character of Gaston? AD: Well, responses I’ve got… Some girls are afraid to see me after the show. However, we look so different from how we are on stage to off stage but some girls are scared in another evening and come up to me. I think it depends on the kids but yeah, most of the time they feel dry for Gaston.

Bukumu Kepribadianmu?

‎Seorang teman tempo hari mengklaim dirinya bisa membaca kepribadian seseorang melalui selera musiknya. “Kamu suka lagu apa? Band favoritmu apa?” selidiknya pada saya. Lalu saya jawab satu band favorit saya. Dan ia mulai menghakimi saya, “Kalau gue ga suka cuma satu penyanyi atau band aja sih. ‎Gue nggak mau terjebak dengan satu musik yg g suka,dan mematenkan seumur hidup akan selalu suka. Hidup itu harus ada dinamikanya”.

Saya cuma menguap, tak mau berdebat kusir. Ini soal selera. Suatu bentuk hak asasi manusia. Tak bisa dipaksa. Bukannya fanatik tetapi karena menurut saya musik band itu timeless.

‎Hal yang sama berlaku juga untuk buku. Tetapi tunggu dulu. Ini bukan buku yang diwajibkan oleh guru atau dosen Anda. Tentu buku-buku seperti itu tidak mencerminkan kepribadian sama sekali karena kebanyakan dibaca karena paksaan.

Yang saya maksud adalah buku-buku apapun yang Anda dapatkan karena selera, keinginan, minat.

Kalau SAYA harus menerka kepribadian dari jenis/ genre buku yang paling disukai seseorang, saya akan katakan demikian:

1. Penyuka buku-buku motivasi
Orang-orang seperti ini biasanya ‎memiliki tekad memperbaiki kualitas diri yang relatif lebih tinggi dari rekan-rekannya. Mereka memiliki suatu dorongan untuk menjadi sukses, menjadi jawara, menjadi bintang atau pemenang. Judul-judul buku motivasi yang bombastis kadang bisa membius kelompok ini.

2. Maniak buku-buku novel detektif
Novel-novel Agatha Christie, misalnya, membuat dahi kita ber‎kerut untuk mencari jawaban. Penyuka bacaan semacam ini biasanya menyukai tantangan, memiliki kecerdasan yang ingin selalu mereka asah. Pembaca semacam ini tak mau menganggurkan otaknya bahkan di saat santai. Mereka cenderung suka mengisi waktu kosong dengan aktivitas menghibur yang tetap menggunakan ketajaman pikiran.

3. ‎Penggemar buku best-seller
Semua buku di rak best-seller menjadi sorotan mereka yang suka menjadi bagian dari arus utama (mainstream). Orang-orang tersebut akan membaca apa saja yang sedang digemari pembaca dan banyak diulas serta diperbincangkan. Karena dengan begitu, pembicaraan mereka dengan klien atau rekan kerja atau pihak yang ingin mereka berikan kesan positif akan menjadi lebih kaya dan tampak berisi, cerdas, memikat dan mengasyikkan dari awal sampai akhir. Mereka mau terlihat ‘keren’, intelektual, dan menunjukkan semangat ‘kekinian’ (satu lagi kata yang entah dari mana ditemukan kaum muda urban ibukota).

4. Penikmat buku-buku traveling
Jiwa petualang relatif lebih menonjol dalam diri para pembaca buku-buku bertema pelancongan, wisata, backpacker, dan sejenisnya. Mereka lebih pemberani, spontan, dan impulsif dalam bertindak.

5. Pembaca buku-buku nonfiksi bisnis
Seorang pebisnis pernah menyuruh anaknya untuk meninggalkan bacaan fiksi dengan alasan “membuang waktu cuma untuk membaca khayalan orang lain”. Dan memang ada sebagian orang yang lebih suka buku-buku bisnis dan entrepreneurship yang umumnya memiliki pragmatisme yang lebih tinggi. Mereka memandang aktivitas membaca pun harus menghasilkan sesuatu yang nyata di kehidupan sebenarnya. Lain dari kelompok satu, mereka lebih menyukai kiat dan langkah yang konkret, bukan cuma ‎saran atau nasihat yang indah dibaca tetapi kurang bernas saat dipraktikkan. Mereka tak mau begitu saja percaya karena skeptisme yang lebih mendominasi pikiran.

6. Pengoleksi buku-buku canon
Buku-buku canon itu adalah karya-karya sastra yang biasanya dianggap sebagai mahakarya atau puncak kreasi susastra ‎para pujangga serta dikukuhkan oleh sekumpulan elit sebagai saran bagi masyarakat yang ingin membaca. Biasanya penggemar bacaan jenis ini berpegang teguh pada nilai dan prinsip lama. Ada pakem-pakem yang akan mengerem laju mereka di jalur yang ditempuh jika melenceng. Kedisiplinan mereka lumayan teruji.

7. ‎Penggemar buku-buku kisah nyata
Pembaca buku bertema kisah nyata seperti Chicken Soup cenderung realistis. Menurut mereka ada banyak sekali hikmah yang terkandung dalam kehidupan orang lain, yang pada gilirannya bisa diaplikasikan dalam kehidupannya sendiri.

8. Penyuka buku autobiografi/ biografi
Mereka mirip dengan penggemar buku motivasi karena amat suka memacu diri ke arah yang menurut mereka lebih baik. Namun, karena mereka punya tokoh panutan, mereka pun merasa wajib membaca ‎karya yang ditulis sendiri oleh sang idola atau karya lain yang membahas tuntas sosok itu.

9. Pembaca ensiklopedia
Orang-orang semacam ini tergila-gila pada‎ fakta. Apapun yang mereka lakukan sebisa mungkin berpijak pada data valid di lapangan. Mereka juga ingin terlihat lebih cerdas dari yang lain dengan mengetahui dan mengingat banyak detil ‘remeh’ yang akan memukau lawan bicara jikalau dilontarkan dalam sebuah percakapan.

Sebelum Anda melancarkan serangan di kotak komentar, marilah pahami bahwa saya hanya menerka-nerka. Jadi jangan ditanya dasarnya apa. Silakan jika mau menambahkan tipe lain yang terlewat dari pantauan saya.

Wartawan Bodrexin

“Oh.. hmmm, hai pak. Namanya siapa? Tadi saya belum tahu pas bapak bicara di depan.”

“‎Oh, nama saya Somat.”

“Begini pak, saya mau buat tulisan tentang presentasi bapak tadi.”

“Oh gitu, bagus bagus.‎ Tapi kamu dari mana?”

“Saya dari [masukkan nama media apapun sesuai selera Anda].”

“Oh kampusnya?”

“Bukan, pak. Saya wartawan. Situs saya itu jadi media partner event ini, jadi saya akan tulis tentang paparan bapak tadi.”

“Oh hebat muda muda dah jadi wartawan. Saya kira tadi mahasiswa.”

“….” (senyum getir)

(sumber foto: tokokios1.blogspot.com)

Yoga Gembira di @5thiccefe (5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo)

‎Yoga Gembira hadir menyemarakkan 5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo yang digelar hingga esok hari di Balai Sidang Jakarta Convention Center. Agenda besar acara tersebut sendiri sangat sesuai dengan salah satu misi komunitas Yoga Gembira untuk mendekatkan warga urban dengan alam (baca : bumi) dan menjaga kelestariannya, sebagaimana dinyatakan Yudhi Widdyantoro sebagai inisiatornya.

ICCEFE kelima ini memberikan manfaat edukasi yang tinggi mengenai peningkatan kesadaran dan partisipasi semua orang mengenai isu perubahan iklim. Seperti dikatakan Utusan Khusus Presiden tentang Perubahan Iklim Rachmat Witoelar Jumat (15/5/2015) lalu saat meresmikan acara, ini semua akan percuma jika masyarakat di akar rumput tidak melaksanakan. Perubahan iklim dan antisipasinya bukan tugas kelompok elit, pemerintah, atau pembuat keputusan semata tetapi juga kita semua sebagai pelaksana di lapangan.

Bagi Anda yang kebingungan harus ke mana akhir pekan ini, kunjungi saja JCC di Senayan, Jakarta. Besok hari terakhir dan jangan khawatir akan bosan di dalamnya, karena ada banyak booth peserta pameran yang memberikan game menarik dan hadiah, seperti booth pemerintah DKI Jakarta yang membagikan ‎power bank untuk para peserta kuis yang menjawab pertanyaan dengan tepat.

Diet Kantong Plastik Menggelitik Kepedulian Agar Bumi Tetap Resik

‎”Kamu Nadya Hutagalung ya?” candanya dengan nada menyentil. Ia berpikir saya sok centil bagaikan duta WWF atau organisasi global semacam itu karena saya membawa sebuah gelas kaca untuk menikmati jus alpukat murni pagi tadi. Saya katakan saya memang sengaja membawa gelas sendiri karena itu bisa menekan jumlah sampah gelas plastik yang dipakai penjual jus langganan di kantin yang bersuhu hangat bak musim panas itu.

Saya mafhum dengan sikap seorang teman tadi. ‎Namun selain maklum, saya juga miris dan mengecam ketidakpedulian dalam diri kita masing-masing mengenai masalah global ini: kelestarian bumi dan isinya.

Kecemasan itu bukannya tanpa alasan. Banyak orang ‘biasa’ seperti saya dan Anda yang tidak sadar dengan potensi kemampuannya berbuat ‘luar biasa’. Maksud saya, tindakan ‘sok centil’ dan ‘biasa’ saya untuk membawa gelas sendiri saat saya bisa mendapat gelas plastik cuma-cuma itu akan membawa efek luar biasa luas bagi bumi dan semua makhluk di permukaannya jika dan hanya jika kita semua bersama-sama melakukannya.

Beberapa waktu lalu saat Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful mengatakan:”Jakarta masuk darurat kantong plastik”, saya sama sekali tak terkejut. Bukan hanya Jakarta, tetapi seluruh dunia bahkan. Bumi makin plastik saja dari tahun ke tahun.

Masalahnya, lalu kita harus berbuat apa untuk mencegah semua ini makin memburuk dengan laju yang tak terkendali?

Lain dari teman saya yang mencibir itu, sekumpulan orang di Diet Kantong Plastik (dietkantongplastik.info) memiliki misi untuk mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik, terutama kantong plastik. Mereka menjadi pemberi edukasi dan advokasi untuk mengajak semua elemen masyarakat — masyarakat, pemerintah, peritel, akademisi, komunitas, media dan lain-lain — ‎untuk mulai menyebarkan informasi kesadaran mengurangi penggunaan kantong plastik.

Mengapa mereka fokus pada kantong plastik? Karena benda ini sangat sering dipakai sekali saja lalu dibuang padahal fungsinya masih ada dan bisa dipakai beberapa kali hingga benar-benar sobek atau berlubang. ‎Tak cuma ibu-ibu yang menjadi ‘tersangka’, semua orang yang menjadi konsumen juga bisa menjadi pemicu makin tersebarnya sampah plastik di sekeliling kita.

Siang tadi saya (AP) berkesempatan ‎ berbincang dengan Rahyang Nusantara (RN) selaku koordinator harian perkumpulan tersebut. Berikut petikan wawancara saya.

‎AP: Sejak kapan mulainya kampanye Diet Kantong Plastik?
RN: Sejak 2010 sudah dimulai sebagai satu program dari Greeneration Indonesia tetapi sebagai organisasi independen ‎tahun 2014, diketuai Sano, saya sebagai koordinator eksekutif saya.

A‎P: Apa saja bahaya kantong plastik?
RN: Selain lamanya terurai (bisa ratusan atau ribuan tahun), kantong plastik dari bahan asalnya sendiri berbahaya karena menggunakan bahan baku minyak bumi dan proses produksinya memakai banyak sekali minyak bumi sebagai bahan bakar dan kantong plastik cenderung dipakai sekali saja sehingga sampahnya menumpuk. Di tempat pembuangan air ia tak bisa terurai, di perairan pun kantong plastik membahayakan satwa laut. Kualitas air pun menurun. Jika dibuang di saluran air dan sungai bisa menimbulkan banjir.

AP: Seberapa besar peran dan kepedulian pemerintah ‎kita soal sampah plastik?
RN: Kota Bandung ialah kota pertama yang memiliki peraturan daerah tentang pengurangan penggunaan kantong plastik sejak 2012. Kami bersama pemerintah Bandung memang sedang ‎bekerjasama untuk menegakkan perda tadi di lapangan. Di Jakarta sejak 2013, kami sudah mengadvokasi pak Ahok untuk mulai menerapkan kebijakan pengurangan kantong plastik. Dan mereka mengeluarkan surat seruan no. 6 th. 2013 tentang gerakan diet kantong plastik. Saat ultah DKI 22 Juni juga sudah ada peritel yang mengampanyekan hari bebas kantong plastik. Tahun 2014 pemprov DKI menunjukkan komitmen yang sama hingga sekarang kami masih menggodok pelaksanaannya. Karena melibatkan banyak SKPD (dinas-dinas) gerak kami tidak bisa terlalu cepat. Harus dilakukan sinkronisasi dan sinergi di sisi internal dulu sebelum memperkenalkan aturan itu ke masyarakat nanti.

AP: Apakah memang benar ada kantong plastik yang ramah lingkungan dan terurai lebih cepat?
RN: Yang kami tahu ada kantong konvensional lalu ada oxydegradable dan biodegradable. Oxydegradable sejatinya kantong plastik biasa tetapi ditambahi senyawa oksidatif yang akan mempercepat penguraian saat terpapar oksigen ‎dan cahaya tapi itu menurut pengamatan kami belum terlalu efektif karena masyarakat masih menggunakannya sekali saja kemudian dibuang sembarangan, masih tercampur dengan jenis sampah lain (sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan lain-lain) di tempat pembuangan akhir sehingga tak terkena cahaya matahari dan oksigen. Ternyata kantong plastik jenis oxydegradable ini juga butuh waktu untuk terurai.
Kantong plastik biodegradable ‎terbuat dari singkong. Di luar negeri, ada yang terbuat dari jagung. Kantong plastik biodegradable ini juga bermacam-macam karena ada yang sepenuhnya singkong, atau ada juga yang masih dicampur dengan resin plastik. Yang 100 persen singkong, saat dibuang dan terkena air, ia sudah mulai larut dan hancur sendiri.

AP: Kendalanya apa saat sosialisasi diet kantong plastik di masyarakat?
RN: Kebanyakan sudah tahu bahayanya tapi tantangannya masih sedikit yang langsung bertindak nyata, dan sisanya lebih banyak yang menunda. ‎Tidak semua orang memiliki tingkat kesadaran tinggi untuk mengubah perilaku penggunaan kantong plastiknya sendiri. Karenanya kami pakai strategi yang berbeda untuk kelompok yang berbeda.

AP: Kelompok apa yang paling mudah diedukasi?
RN: Anak muda (18-30 tahun), karena lebih cepat paham dan langsung beraksi. Kalau anak-anak masih harus didampingi guru atau orang tua. Dan kita baru bisa lihat‎ hasilnya bertahun-tahun kemudian saat ia beranjak remaja atau dewasa. Orang tua justru lebih susah diajak diet kantong plastik karena sudah terbiasa memakai.

AP: ‎Adakah kiat yang paling mudah dilakukan untuk berdiet kantong plastik?
RN: Bawa saja tas belanja sebelum belanja‎. Kalau hanya belanja satu atau dua barang saja, masukkan ke tas yang sudah kita bawa. Kalau terpaksa memakai kantong plastik, pakai lagi kantong itu untuk berbelanja selanjutnya.

AP: Sudah adakah imbauan untuk peritel dan terutama para pedagang di pasar-pasar tradisional untuk tidak begitu saja memberi kantong plastik bagi para konsumen?
RN: Kami sudah mulai dengan peritel dan supermarket di Jakarta‎. Aturannya masih digodok karena kondisi di pasar tradisional dan supermarket berbeda. Di pasar tradisional, kondisinya amat heterogen.

(sumber foto: wikimedia)

Buah-buahan Penyebab Sariawan

‎Oksimoron? Entahlah. Saya juga tidak percaya awal mulanya. Mana ada buah-buahan bisa menyebabkan sariawan?

Tetapi menurut pengalaman ‎orang satu ini, memang hal itu nyata.

Teman saya — sebut saja ‎Didin — dikenal sebagai orang yang suka melakukan eksperimen spontan dengan produk-produk baru di pasaran. Apapun yang dijual di etelase dan rak toko dan belum pernah ia cicipi, ia hampir pasti akan beli. “Masalah buat elo?” begitu komentarnya dengan nada memancing kegusaran saat saya bertanya modusnya. Kalaupun tak jadi beli, ia memastikan habis-habisan mengerjai si petugas dengan bertanya harga produk itu. Selisih 2000-3000 perak akan tetap dipersoalkan, seakan jumlah uang itu bisa menentukan status kesejahteraan. Pertanyaan-pertanyaan Didin juga menjadi uji pengetahuan produk yang luar biasa bagi para petugas yang berjaga. Begitulah ia.

Berakting kaya raya, di suatu siang dalam pusat perfoya-foyaan ibukota ia menghampiri sebuah gerai penjual ‎jus buah premium yang sepi pengunjung. Bagaimana tidak sepi jika harga yang dipatok untuk sebotol adalah Rp50.000 lebih? Sementara dalam jarak satu lantai di bawahnya, uang itu setara dengan 5 gelas jus buah yang sama.

Ingin tahu rasanya menjadi peneguk jus buah mahal itu, ia pun mampir dan membawa pulang 3 botol. Uang 150 ribu ia hamburkan. “Jusnya bagus loh, tanpa ampas. Bener-bener sarinya aja,” celotehnya bangga.

Semua jus di 3 gelas itu ia tenggak dalam waktu sehari. Ia ingin menjadi lebih ramping dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tuturnya dengan nada canda dan putus asa. Dan memang tak baik menyimpan jus buah segar terlalu lama meski di kulkas pendingin. ‎Nutrisinya akan rusak segera jika dibiarkan terbuka.

‎Didin habiskan semua jus buah tadi. Jus yang berbeda-beda itu membuatnya agak senang, seolah meneruskan pesan ke otaknya:”Kau akan turun bobot esok pagi. Percayalah padaku.” Lalu ia mengistirahatkan diri dan berharap itu terwujud.

Begitu ‎membuka mata, Didin bukannya mendapati tubuhnya menyusut atau menipis. Malah ia harus menerima kenyataan pahit‎ bahwa sariawan bersarang di rongga mulutnya.

Saya tertawa hingga hampir gila mendengar ceritanya. Namun kini saya meringis, karena sariawan itu menular juga ke saya.

What Jokowi Needs to Learn from Soeharto (Hint: Book Lovers will Agree)

‎As the honeymoon phase is slipping away, Jokowi has been getting bombarded with criticism (out of varying levels of disappointment) from some people around him.

And now it’s my time to do so.

It’s been almost 7 months since Jokowi started to reign. Overall, I approve of almost all his steps (with the KPK-Police tug war as an exception).

As a book lover (and a hopeful writer wanting so much to get published), however, I feel deeply concerned with Jokowi and his regime’s ignorance of the importance of publishing and book industry (one significant part of Indonesian creative industry which the president once promised to help flourish) . Not to mention authors’ welfare. Knowing Indonesian author N. H. Dini (and the majority of Indonesian authors) living in such a way makes me think a zillion times before plunging into the ocean of publishing industry full time. ‎

A fellow writer and publisher Bambang Trim today fretted on his blog about his concern, which we also have in common, saying that Jokowi and the related ministry seem to pass National Book Day on May 17th with nonchalant abandon.

For your information, the special day was set by President Soeharto, reasoning that Indonesian Republic National Library was founded on May 17, 1980. The day, Bambang wrote, is also commemorated as Indonesian Publishers Association (IKAPI), born 65 years ago.

Bambang compared Jokowi to Soeharto, commenting the current president ( and leaders after Soeharto, too) have done very little — if any — for the progress and betterment of the domestic book and publishing industry.

On May 2, 1973, Soeharto even invited IKAPI staffers to Bogor Presidential Palace after having declared 1972 as International Book Year. At the time, Ajip Rosidi chaired the organization. “I do hope all of you can come up with well-planned and neatly-conceptualized suggestions needed for the development of our nation,” the smiling general told them at the banquet in response to the meager number of books published in the country.

Soeharto walked his talk. He poured some funding which later was used up to found Yayasan Buku Utama. The foundation selected the best teenagers book on an annual basis, told Mr. Rosidi.

Of course, we may not overlook Soeharto’s censorship and book bans and most importantly, freedom of expression and press markedly lower than freedom of it during the subsequent regimes.

Another milestone was Kongres Perbukuan Nasional in 1995 but sadly soon after the monetary crisis hit Indonesia, the future of book and publishing industry turned hazy.

Aside from that, we should see whether Anis Baswedan can be as daring and innovative as Fuad Hasan when it comes to this issue.

And this explains very well why there is much disappointment arising after Indonesia came out as the guest of Frankfurt Book Fair recently. Some said it was quite pathetic because it wasn’t well prepared.

(image source: ayojokowiaja.blogspot.com)


No Guilt, Only Pleasure

‎I hate ice cream for some reason. The cold sensation it gives on my throat isn’t quite exciting to me. As unpleasant as it may feel, I hate the sugar generously added to it. I feel like eating ice cream dragged me closer to diabetes, a degenerative disorder my father is struggling against and living with.

But one day, back then, a buddy treated me. He — who is known for his thrift — ‎let me try a cone of ice cream. What a chance!

He knew I hated ice cream. Still, he bought me and made me eat it. I couldn’t get him through. I could have just thrown it away or left it melting on the table. But I wasn’t that rude or impolite so I just licked it all. ‎I respected his generosity and if I hadn’t, I must have felt bad and sorry for myself for misbehaving.

‎Sometime later, he texted me saying,”I just gained several kilograms.” I screamed and then begged for the secret. He knew my body weight ‘issue’.

‎He confined in me. Thanks to ice cream!

When The Imperfect Desires Perfection

There are times when you are sitting in a yoga class and the guru says repeatedly,”It’s OK not to be perfect.”

I roll my eyes whenever I hear it.

I almost always believe it’s a sheer joke or a remark filled with pretention and hypocricy at its most subtle and ambiguous. Confusion is what such words lead us to.

To err is humane, but to forgive is divine. And most evidently, to err and not to forgive imperfection is very humane. That holds true in this case, when someone with flaws — both major and minor — still sets a very high standard for others.

What is the problem with being imperfect?

That I can’t understand.

So I try to say this to myself and my students,”It’s ok to be imperfect. It is no big deal when you can’t do challenging poses just like Iyengar did. Embrace the flaws. Comprehend them‎. Because who knows your flaws can turn into your forte in some inconceivable way? It may take a simple yet fundamental shift of paradigm or perspective to accept your flaws. As you shall believe who you are includes your flaws.”

Agar Telur-telur Tak Hancur Lebur Jadi Bubur

Tidak tiap hari sekelompok orang ini memusingkan telur. Hanya sore ini. Dan mungkin tidak akan terulang lagi hingga akhir masa nanti.

Seluruhnya — dari direktur, manajer, sampai pion-pion lama dan baru mereka — ‎ribut memikirkan bagaimana mendaratkan telur ayam dari ketinggian yang lumayan.

Sekonyong-konyong protes dilancarkan seseorang dari kerumunan karyawan. Serunya,”Itu curanggg!!! Tidak bisa menang!!!”

Seorang pria dari kelompok penyelenggara mencoba berkelit,”Ini tidak ada aturannya, ibu. Tidak ada yang melarang”.

“Tapi kenapa itu harus mendarat di luar bidang plastik hitam yang sudah ditetapkan??!!” seorang ibu paruh baya bersikeras menggagalkan keberhasilan eksekusi ide temannya.

Seorang perempuan lain menimpali,”Tetapi caranya sama, jadi bagaimana bisa dibolehkan?”

Pria‎ itu kehabisan tameng kata. Ia luluh dari pertahanan lapis baja,”Nah, kalau itu logis alasannya”.

Kemudian seseorang lainnya yang lebih pragmatis nan realistis berbisik gemas di barisan belakang,”‎Hhh itu pada ribut begitu emang dapet apa sih?? Berlian??! Kalau berlian, gue jabanin deh!!”

Riuh rendah perdebatan membuat direktur itu mengulum senyum ‎dengan muka mafhum. Kalian mengatur orang-orang ini sehari saja sudah pusing, bayangkan jadi kami, mungkin begitu pikirnya.

‎”INI ORANG-ORANG DEVELOPER ATAU PENGACARA SIHHH???!!! Ahli banget cari-cari kesalalahan orang,”si pria penyelenggara berteriak, aku yakin ia mengejan karena frustrasi betulan. Lalu ia menyuruh kami merelakan teman kami sukses dengan kerelaan hati.

Jurnalis Masuk Daftar Pekerjaan Terburuk 2015 versi CareerCast.com

Entah jika di Indonesia, tetapi yang pasti di negeri Paman Sam pekerjaan sebagai reporter surat kabar bukanlah jenis pekerjaan idaman. Berdasarkan survei yang dilakukan situs pencarian lowongan kerja CareerCast.com, pekerjaan yang dianggap paling buruk di AS ialah reporter surat kabar. Dua pekerjaan lain yang berhubungan dengan media, yaitu broadcaster (penyiar) dan jurnalis foto, juga disebut dalam deretan 10 pekerjaan terburuk. Ketiganya disebut bersama pekerjaan-pekerjaan lain yang rata-rata menyedot banyak tenaga.

Pekerjaan-pekerjaan ini diurutkan berdasarkan aspek-aspek penting seperti pendapatan, peluang di masa datang, faktor lingkungan kerja, tekanan mental dan tuntutan fisik. Aspek-aspek ini dianggap penting dalam data kerja di Biro Statistik Ketenagakerjaan AS (Bureau of Labor Statistics).

Dan pekerjaan terbaik di tahun 2015 adalah ‘actuary’, orang yang bertugas mengumpulkan dan menganalisis data statistik dan menggunakan data untuk menghitung risiko dan premi asuransi. Mereka ini membuat asumsi-asumsi yang akan menentukan surplus dalam dana pensiun, misalnya.

Inilah daftar pekerjaan terbaik tahun ini versi CareerCast.com:

1. Actuary
2. Ahli audio
3. Matematikawan
4. Pakar statistik
5. Insinyur biomedis
6. Ilmuwan data
7. Dental hygienist
8. Software engineer
9. Terapis terlatih
10. Analis sistem komputer

Sementara itu yang terburuk adalah:

1. Reporter surat kabar
2. Juru tebang pohon
3. Personel militer
4. Juru masak
5. Penyiar
6. Jurnalis foto
7. Petugas Lembaga Pemasyarakatan
8. Pengemudi taksi
9. Pemadam kebakaran
10. Petugas pos

Prostat Sehat Diawali dari Kesehatan Gusi yang Terjaga

Tubuh manusia memang mesin yang luar biasa. Satu sama lain saling berkaitan dengan cara yang sangat tidak terduga. Seperti yang kita temukan dalam hubungan kelenjar prostat dan gusi. Ternyata kesehatan keduanya memiliki kaitan.

Meski jarak kelenjar prostat dan gusi cukup berjauhan, sebuah studi menemukan bahwa keduanya saling terkait. Studi sebelumnya menunjukkan kaitan antara penyakit gusi dan prostatitis (peradangan kelenjar prostat). Kelenjar ini bertanggung jawab atas produksi air mani atau semen. Kini, studi terbaru menemukan bahwa perawatan gusi meringankan gejala prostatitis.

Dalam sebuah pernyataan resmi, ilmuwan Nabil Bissada yang terlibat dalam studi ilmiah itu berkomentar bahwa jika penyakit gusi ditangani dengan baik, gejala prostatitis akan menjadi lebih ringan dan kualitas hidup pria akan lebih baik. Bissada juga menjabat sebagai pimpinan dalam departemen periodontis lembaga pendidikan kesehatan gigi Case Western Reserve.

Temuan studi yang diterbitkan di jurnal Dentistry tersebut selaras dengan bukti bahwa penyakit gusi sering menjadi pertanda terjadinya peradangan yang mempengaruhi banyak sistem dan organ tubuh lainnya. Riset sebelumnya di sekolah kesehatan gigi tersebut menghubungkan peradangan dengan kematian janin, arthritis rematik dan penyakit jantung.

Sebagai bagian dari studi terbaru, peneliti meneliti 27 pasien pria, berusia 21 tahun ke atas yang memiliki sampel darah yang menunjukkan tingkat antigen spesifik prostat yang meninggi. Hal itu menjadi penanda adanya peradangan dan kanker.

Mayoritas pria ditemukan menderita peradangan ringan atau tidak sama sekali namun 15 di antaranya dinyatakan menderita tumor jinak setelah biopsi dilakukan. Dua pasien menderita peradangan dan kanker. Semua menunjukkan adanya tanda penyakit gusi.

Peneliti menemukan bahwa setelah para pria ini diberikan perawatan gusi (tanpa memberikan perawatan pada gejala peradangan prostat), mayoritas mengalami penurunan tingkat PSA. Sebagian besar pria dengan peradangan atau masalah buang air kecil menunjukkan makin ringannya keluhan prostatitis. Enam pria tidak mengalami perubahan apapun dalam tingkat PSA dan gejala prostratitis tak juga menghilang atau mereda.

Bissada dan rekan-rekannya saat ini melaksanakan riset tindak lanjut untuk mengetahui dengan akurat apakah perawatan gigi bisa dijadikan bagian tidak terpisahkan dari perawatan penyakit prostat.

Nah, Anda para pria, sudahkah memeriksakan kesehatan gusi untuk meningkatkan kesehatan prostat Anda?

%d bloggers like this: