Menolak Teperdaya Lagi

“Halo kak, boleh kita ganggu sebentar?”

“Iya silakan.” (Kita? Harusnya “kami”, kan ya? Ngapain ngajak-ngajak gue.)

“Begini kak…”

“Ya…” (Mimik muka malas.)

“Kami…” (Antusias)

“…” (Bertele-tele nih, anak.)

“Dari Yayasan X…”

“…” (Yayasan apa sih ini? Mungkin gue yang belum pernah denger kali ya. Namanya masih asing.)

“Kita dapat tugas dari kampus. Mau bakti sosial. Tapi kita tidak boleh ngumpulin uang. Boleh ya kak ngomong sebentar?”

“Ya…” (Mau gimana lagi. Boleh deh. Ini anak kok pipinya masih muda sudah bintik-bintik. Pakai pil KB atau IUD ya?)

“Jadi sebagai gantinya kita jual booklet ini.” (Mengeluarkan sebuah buku kecil.)

“Oh…” (Sepertinya familiar dengan booklet-booklet ini. Ah, iya anak muda yang berpura-pura mahasiswa itu beberapa bulan lalu juga pernah menyodorkan benda semacam ini. Tatkala aku juga sedang duduk di depan Seven Eleven dengan benda-benda ini. Mereka membidik orang-orang sepertiku. Sial!)

“Booklet ini kita jual sebagai ganti donasi seratus ribu, kak.”

“Hmm…” (Modus lama.)

“Kakak, kuliah atau kerja?” (Pandangan menyelidik.)

“Kuliah.” (Aku berbohong. Kau semua tahu itu. Dan aku berbohong untuk sesuatu yang tidak penting begini. Sial!)

“Oh, di Universitas B yah?”

“Iya.” (Ya ampun, dia percaya!)

“Di fakultas mana?” (Pandangan makin menyelidik.)

“Hmm…” (Pura-pura sibuk membaca booklet di tangan, berupaya meyakinkan diri bahwa ini benar-benar penipuan berkedok pembagian booklet berisi voucher dari gerai-gerai kafe dan bisnis kuliner yang fiktif belaka. Atau mungkin mereka mengemban misi tulus nan mulia. Gagal juga menemukannya.)

“Fakultas mana, kak?” (Menunduk, masih menunggu jawaban.)

“Hmmm…” (Ini sungguh membuang-buang waktu. Aku akan gelengkan kepala dan semua ini akan berakhir. Semudah itu.)

“Gimana, kak? Seratus ribu aja buat donasi.” (Dengan nada merajuk tetapi tetap santai dan datar.)

“Hmm…” (Menunggu untuk memberi kejutan.)

“Tinggal di mana?”

“Di sekitar sini.” (Ah, aku temukan kejanggalan.)

“Oh, begitu…”

“Ini alamat yayasannya di mana?”

“Bulungan.”

“Tapi di bukunya kok nggak? Jalan Y.” (Ganti aku menyelidik. Asyik.)

“Oh itu alamat EO-nya.” (Nada bicara tenang.)

“Oh gitu.” (Nah, kan janggal.)

“Jadi kak? Seratus ribu ajah.”

“Nggak, maaf ya.” (Mau bilang lebih lengkap:”Nggak, maaf ya, saya sebelumnya juga sudah kena tipu kayak gini. Pakai nama Yayasan Lupus apalah gitu. Sh*t!)

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s