Agar Telur-telur Tak Hancur Lebur Jadi Bubur

Tidak tiap hari sekelompok orang ini memusingkan telur. Hanya sore ini. Dan mungkin tidak akan terulang lagi hingga akhir masa nanti.

Seluruhnya — dari direktur, manajer, sampai pion-pion lama dan baru mereka — ‎ribut memikirkan bagaimana mendaratkan telur ayam dari ketinggian yang lumayan.

Sekonyong-konyong protes dilancarkan seseorang dari kerumunan karyawan. Serunya,”Itu curanggg!!! Tidak bisa menang!!!”

Seorang pria dari kelompok penyelenggara mencoba berkelit,”Ini tidak ada aturannya, ibu. Tidak ada yang melarang”.

“Tapi kenapa itu harus mendarat di luar bidang plastik hitam yang sudah ditetapkan??!!” seorang ibu paruh baya bersikeras menggagalkan keberhasilan eksekusi ide temannya.

Seorang perempuan lain menimpali,”Tetapi caranya sama, jadi bagaimana bisa dibolehkan?”

Pria‎ itu kehabisan tameng kata. Ia luluh dari pertahanan lapis baja,”Nah, kalau itu logis alasannya”.

Kemudian seseorang lainnya yang lebih pragmatis nan realistis berbisik gemas di barisan belakang,”‎Hhh itu pada ribut begitu emang dapet apa sih?? Berlian??! Kalau berlian, gue jabanin deh!!”

Riuh rendah perdebatan membuat direktur itu mengulum senyum ‎dengan muka mafhum. Kalian mengatur orang-orang ini sehari saja sudah pusing, bayangkan jadi kami, mungkin begitu pikirnya.

‎”INI ORANG-ORANG DEVELOPER ATAU PENGACARA SIHHH???!!! Ahli banget cari-cari kesalalahan orang,”si pria penyelenggara berteriak, aku yakin ia mengejan karena frustrasi betulan. Lalu ia menyuruh kami merelakan teman kami sukses dengan kerelaan hati.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s