Diet Kantong Plastik Menggelitik Kepedulian Agar Bumi Tetap Resik

‎”Kamu Nadya Hutagalung ya?” candanya dengan nada menyentil. Ia berpikir saya sok centil bagaikan duta WWF atau organisasi global semacam itu karena saya membawa sebuah gelas kaca untuk menikmati jus alpukat murni pagi tadi. Saya katakan saya memang sengaja membawa gelas sendiri karena itu bisa menekan jumlah sampah gelas plastik yang dipakai penjual jus langganan di kantin yang bersuhu hangat bak musim panas itu.

Saya mafhum dengan sikap seorang teman tadi. ‎Namun selain maklum, saya juga miris dan mengecam ketidakpedulian dalam diri kita masing-masing mengenai masalah global ini: kelestarian bumi dan isinya.

Kecemasan itu bukannya tanpa alasan. Banyak orang ‘biasa’ seperti saya dan Anda yang tidak sadar dengan potensi kemampuannya berbuat ‘luar biasa’. Maksud saya, tindakan ‘sok centil’ dan ‘biasa’ saya untuk membawa gelas sendiri saat saya bisa mendapat gelas plastik cuma-cuma itu akan membawa efek luar biasa luas bagi bumi dan semua makhluk di permukaannya jika dan hanya jika kita semua bersama-sama melakukannya.

Beberapa waktu lalu saat Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful mengatakan:”Jakarta masuk darurat kantong plastik”, saya sama sekali tak terkejut. Bukan hanya Jakarta, tetapi seluruh dunia bahkan. Bumi makin plastik saja dari tahun ke tahun.

Masalahnya, lalu kita harus berbuat apa untuk mencegah semua ini makin memburuk dengan laju yang tak terkendali?

Lain dari teman saya yang mencibir itu, sekumpulan orang di Diet Kantong Plastik (dietkantongplastik.info) memiliki misi untuk mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik, terutama kantong plastik. Mereka menjadi pemberi edukasi dan advokasi untuk mengajak semua elemen masyarakat — masyarakat, pemerintah, peritel, akademisi, komunitas, media dan lain-lain — ‎untuk mulai menyebarkan informasi kesadaran mengurangi penggunaan kantong plastik.

Mengapa mereka fokus pada kantong plastik? Karena benda ini sangat sering dipakai sekali saja lalu dibuang padahal fungsinya masih ada dan bisa dipakai beberapa kali hingga benar-benar sobek atau berlubang. ‎Tak cuma ibu-ibu yang menjadi ‘tersangka’, semua orang yang menjadi konsumen juga bisa menjadi pemicu makin tersebarnya sampah plastik di sekeliling kita.

Siang tadi saya (AP) berkesempatan ‎ berbincang dengan Rahyang Nusantara (RN) selaku koordinator harian perkumpulan tersebut. Berikut petikan wawancara saya.

‎AP: Sejak kapan mulainya kampanye Diet Kantong Plastik?
RN: Sejak 2010 sudah dimulai sebagai satu program dari Greeneration Indonesia tetapi sebagai organisasi independen ‎tahun 2014, diketuai Sano, saya sebagai koordinator eksekutif saya.

A‎P: Apa saja bahaya kantong plastik?
RN: Selain lamanya terurai (bisa ratusan atau ribuan tahun), kantong plastik dari bahan asalnya sendiri berbahaya karena menggunakan bahan baku minyak bumi dan proses produksinya memakai banyak sekali minyak bumi sebagai bahan bakar dan kantong plastik cenderung dipakai sekali saja sehingga sampahnya menumpuk. Di tempat pembuangan air ia tak bisa terurai, di perairan pun kantong plastik membahayakan satwa laut. Kualitas air pun menurun. Jika dibuang di saluran air dan sungai bisa menimbulkan banjir.

AP: Seberapa besar peran dan kepedulian pemerintah ‎kita soal sampah plastik?
RN: Kota Bandung ialah kota pertama yang memiliki peraturan daerah tentang pengurangan penggunaan kantong plastik sejak 2012. Kami bersama pemerintah Bandung memang sedang ‎bekerjasama untuk menegakkan perda tadi di lapangan. Di Jakarta sejak 2013, kami sudah mengadvokasi pak Ahok untuk mulai menerapkan kebijakan pengurangan kantong plastik. Dan mereka mengeluarkan surat seruan no. 6 th. 2013 tentang gerakan diet kantong plastik. Saat ultah DKI 22 Juni juga sudah ada peritel yang mengampanyekan hari bebas kantong plastik. Tahun 2014 pemprov DKI menunjukkan komitmen yang sama hingga sekarang kami masih menggodok pelaksanaannya. Karena melibatkan banyak SKPD (dinas-dinas) gerak kami tidak bisa terlalu cepat. Harus dilakukan sinkronisasi dan sinergi di sisi internal dulu sebelum memperkenalkan aturan itu ke masyarakat nanti.

AP: Apakah memang benar ada kantong plastik yang ramah lingkungan dan terurai lebih cepat?
RN: Yang kami tahu ada kantong konvensional lalu ada oxydegradable dan biodegradable. Oxydegradable sejatinya kantong plastik biasa tetapi ditambahi senyawa oksidatif yang akan mempercepat penguraian saat terpapar oksigen ‎dan cahaya tapi itu menurut pengamatan kami belum terlalu efektif karena masyarakat masih menggunakannya sekali saja kemudian dibuang sembarangan, masih tercampur dengan jenis sampah lain (sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan lain-lain) di tempat pembuangan akhir sehingga tak terkena cahaya matahari dan oksigen. Ternyata kantong plastik jenis oxydegradable ini juga butuh waktu untuk terurai.
Kantong plastik biodegradable ‎terbuat dari singkong. Di luar negeri, ada yang terbuat dari jagung. Kantong plastik biodegradable ini juga bermacam-macam karena ada yang sepenuhnya singkong, atau ada juga yang masih dicampur dengan resin plastik. Yang 100 persen singkong, saat dibuang dan terkena air, ia sudah mulai larut dan hancur sendiri.

AP: Kendalanya apa saat sosialisasi diet kantong plastik di masyarakat?
RN: Kebanyakan sudah tahu bahayanya tapi tantangannya masih sedikit yang langsung bertindak nyata, dan sisanya lebih banyak yang menunda. ‎Tidak semua orang memiliki tingkat kesadaran tinggi untuk mengubah perilaku penggunaan kantong plastiknya sendiri. Karenanya kami pakai strategi yang berbeda untuk kelompok yang berbeda.

AP: Kelompok apa yang paling mudah diedukasi?
RN: Anak muda (18-30 tahun), karena lebih cepat paham dan langsung beraksi. Kalau anak-anak masih harus didampingi guru atau orang tua. Dan kita baru bisa lihat‎ hasilnya bertahun-tahun kemudian saat ia beranjak remaja atau dewasa. Orang tua justru lebih susah diajak diet kantong plastik karena sudah terbiasa memakai.

AP: ‎Adakah kiat yang paling mudah dilakukan untuk berdiet kantong plastik?
RN: Bawa saja tas belanja sebelum belanja‎. Kalau hanya belanja satu atau dua barang saja, masukkan ke tas yang sudah kita bawa. Kalau terpaksa memakai kantong plastik, pakai lagi kantong itu untuk berbelanja selanjutnya.

AP: Sudah adakah imbauan untuk peritel dan terutama para pedagang di pasar-pasar tradisional untuk tidak begitu saja memberi kantong plastik bagi para konsumen?
RN: Kami sudah mulai dengan peritel dan supermarket di Jakarta‎. Aturannya masih digodok karena kondisi di pasar tradisional dan supermarket berbeda. Di pasar tradisional, kondisinya amat heterogen.

(sumber foto: wikimedia)

1 Comment

Filed under writing

One response to “Diet Kantong Plastik Menggelitik Kepedulian Agar Bumi Tetap Resik

  1. Jadi penasaran. Berapa banyak pabrik pengolahan sampah di Indonesia? Jangan2 masih sangat sedikit. Klo sampah kita ngga terolah secara max, sudah seharusnya kita perduli untuk tidak memproduksi sampah secara berlebih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s