Yoga Mau Tak Mau Masuk ke Dalam Kapitalisme

Penyair, pengajar sastra dan pembimbing tesis saya Sapardi Djoko Damono pernah mengeluarkan pernyataan yang terdengar bijak dan apatis dalam waktu yang bersamaan: “Sastra mau tak mau masuk ke dalam kapitalisme” (sumber: merdeka.com). ‎Terasa menyesakkan tetapi sungguh beliau tidak mengada-ada.

Situasi yang sama juga dialami yoga, dan ekskalasinya makin terasa akhir-akhir ini. Seperti pernah saya tuliskan beberapa waktu lalu di blog ini, salah satu guru yoga paling senior di Indonesia Yogamurti menunjukkan pandangan ala kaum puritan saat menyikapi perkembangan yoga saat ini. Beliau menghendaki yoga agar tetap murni, tak terjamah elemen-elemen komersialisme dan kapitalisme. Sebuah idealisme awang-awang yang memang semestinya dipelihara dalam dada masing-masing praktisi yoga agar selalu ingat untuk mengendalikan diri dalam setiap langkah mencari nafkah di dunia yoga. Memang tidak ada yang bisa merealisasikannya secara sempurna tetapi nilai-nilai bijaknya bisa dijadikan panduan sebelum kita bertindak terutama saat membawa nama yoga.

Di satu sisi, kapitalisme membantu ajaran dan manfaat yoga tersebar hingga ke mana-mana. Seperti serbuk sari bebungaan di musim semi, yang jika sekali ditiup angin langsung menyebar ke mana-mana membuat bersin dan membuahi putik-putik , yoga juga sedikit banyak dibantu kapitalisme hingga bisa sampai ke kita. Kapitalisme membuat penyebaran pengetahuan yoga menjadi begitu mudah dan cepat melalui buku-buku yang diproduksi industri buku, video-video yoga yang dijual secara komersial, pelatihan guru yoga yang diselenggarakan sebagaimana sebuah brand dan perusahaan dan sebagainya. Bagaimana kita bisa membenci kapitalisme begitu saja?

Semua silang sengkarut, ketidaksetujuan, perbedaan pemikiran dan pandangan yang berujung pada perdebatan dan polemik itu memang tidak bisa dihindari begitu saja. Sesekali friksi seperti itu acap terjadi dan itulah bagian dari dinamika. Dan kalau kita bisa berpikir dan bersikap lebih bijak, semua itu mengajari kita untuk lebih berlapang dada menerima keragaman. Di yoga, dan sastra, tak ada yang absolut benar. Boleh berdebat, berpolemik, asal tetap berkepala dingin, sah-sah saja.

Justru kedewasaan kita tengah diuji dengan begini. Sisi kekanak-kanakan kita — sang ego — ingin orang lain berpendapat sama dengan kita. Sementara itu sang superego yang lebih luas pemikiran dan wawasannya menyadarkan diri kita bahwa sejatinya perbedaan pemikiran tidak haram dan keragaman itu bagian kehidupan. Kemudian sang id mencoba menengahi, menemukan titik keseimbangan, tempat kompromi bisa diciptakan tanpa melukai Anda dan saya, kami dan mereka, di alam nyata.

Dari analogi psikoanalisis Freud itu, rasanya musykil untuk tidak merasakan tarik ulur yang kuat dalam diri kita sendiri. ‎Hingga kadang muncul pertanyaan: “Apakah idealisme ini bisa membuat saya kurang tercukupi secara materi?” atau sebaliknya “Apakah semua pencapaian materi ini memang sepatutnya menjadi tujuan utama saya terjun ke sini?”

Ambivalensi isu ini mungkin sudah menjadi sumber frustrasi para yogi dan yogini zaman dulu. Jadi sebelum Anda mengambil aspirin untuk meredakan sakit kepala karena masalah ini, yakinkan diri bahwa Anda tidak sendirian. Ada banyak orang yang juga mencari keseimbangan.

Karena sebagian masalah ternyata tidak untuk dipecahkan, tetapi hanya untuk membangun pemahaman bahwa kita hanya secuil bagian, bukan pusat dari pusaran.

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s