Di Balik “Muka Yoga” Itu

‎”Mas, ini hp-nya di‎singkirin dulu ya,” kata pria yang tiba-tiba dari belakang menghampiri mat saya. Di tangannya ada kamera. Tanpa memperkenalkan diri, saya tahu ia orang media.

Ponsel saya yang berwarna merah menyala itu pun saya pindahkan ke sebelah kiri. Di bawahnya selembar kertas yang berisi urutan gerakan (sekuen). Saya tak hapal. Tak seorang pun dari kami yang di depan menjadi peraga itu hapal, saya pikir. Karena sekuen itu terus berubah, menyesuaikan waktu. Apalagi dengan mundurnya waktu dari jadwal yang ditetapkan, durasi yoga yang semula 1 jam 20 menit harus dipangkas menjadi cuma 50 menit, begitu kata Decky di malam sebelum kami beryoga akbar.

Karena tak hapal, dan banyak sekali perubahan, lembar contekan itu pun jadi tak bermanfaat sama sekali. Awalnya saya mencoba sesekali menengok tetapi begitu Decky yang di panggung utama berimprovisasi, ketaatan pada rencana menjadi sirna seketika. Kemudian saya andalkan mata dan telinga untuk mendengar dan menyaksikan gerak Andrie teman saya yang juga memeragakan di panggung kecil yang lebih‎ tinggi.

Di tengah-tengahnya, tubuh saya tiba-tiba bergerak sendiri, dan begitu saya tengadahkan muka ke depan, Andrie telah berpose lain. Saya sadar saya kehilangan muka begitu beberapa orang tertawa melihat saya. Saya mencoba rileks dan melebur saja dengan ikut tertawa. Karena tegang tak membantu apa-apa.

Ternyata bukan kelenturan dalam fisik saja, kelenturan dalam menjalani hidup juga bisa didapat dari yoga. Kelenturan untuk menikmati apa yang ada dan terjadi, yang buruk atau yang bajik. Kelenturan untuk menyesuaikan diri saat kondisi tak seperti yang tertuang dalam rencana. Kelenturan untuk merangkul ‘bencana’, sesuatu yang tak manusia idamkan. Meski banyak yang menganggap tubuh ini perlu dilatih agar lebih lentur dengan beryoga, saya sadar pikiran dan jiwa sering lebih membutuhkan latihan kelenturan itu daripada jasmani. Dan sungguh latihan melenturkan pikiran dan jiwa lebih menantang dari sekadar berlatih split, mencium lutut, kayang atau gerakan backbend yang musykil dilakukan mayoritas manusia.

Seorang teman berkata muka saya “muka yoga”. Saya semula berpikir muka yoga itu muka yang serius, khidmat, penuh pendalaman dan penghayatan. Tetapi ternyata “muka yoga‎” itu bukan begitu maknanya. “Muka yoga” mengacu pada wajah dengan jejak-jejak genetis manusia yang tinggal di anak benua Asia.

1 Comment

Filed under yoga

One response to “Di Balik “Muka Yoga” Itu

  1. uci duck himura

    pakde lagi yoga muka nya serius pisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s