Bukumu Kepribadianmu?

‎Seorang teman tempo hari mengklaim dirinya bisa membaca kepribadian seseorang melalui selera musiknya. “Kamu suka lagu apa? Band favoritmu apa?” selidiknya pada saya. Lalu saya jawab satu band favorit saya. Dan ia mulai menghakimi saya, “Kalau gue ga suka cuma satu penyanyi atau band aja sih. ‎Gue nggak mau terjebak dengan satu musik yg g suka,dan mematenkan seumur hidup akan selalu suka. Hidup itu harus ada dinamikanya”.

Saya cuma menguap, tak mau berdebat kusir. Ini soal selera. Suatu bentuk hak asasi manusia. Tak bisa dipaksa. Bukannya fanatik tetapi karena menurut saya musik band itu timeless.

‎Hal yang sama berlaku juga untuk buku. Tetapi tunggu dulu. Ini bukan buku yang diwajibkan oleh guru atau dosen Anda. Tentu buku-buku seperti itu tidak mencerminkan kepribadian sama sekali karena kebanyakan dibaca karena paksaan.

Yang saya maksud adalah buku-buku apapun yang Anda dapatkan karena selera, keinginan, minat.

Kalau SAYA harus menerka kepribadian dari jenis/ genre buku yang paling disukai seseorang, saya akan katakan demikian:

1. Penyuka buku-buku motivasi
Orang-orang seperti ini biasanya ‎memiliki tekad memperbaiki kualitas diri yang relatif lebih tinggi dari rekan-rekannya. Mereka memiliki suatu dorongan untuk menjadi sukses, menjadi jawara, menjadi bintang atau pemenang. Judul-judul buku motivasi yang bombastis kadang bisa membius kelompok ini.

2. Maniak buku-buku novel detektif
Novel-novel Agatha Christie, misalnya, membuat dahi kita ber‎kerut untuk mencari jawaban. Penyuka bacaan semacam ini biasanya menyukai tantangan, memiliki kecerdasan yang ingin selalu mereka asah. Pembaca semacam ini tak mau menganggurkan otaknya bahkan di saat santai. Mereka cenderung suka mengisi waktu kosong dengan aktivitas menghibur yang tetap menggunakan ketajaman pikiran.

3. ‎Penggemar buku best-seller
Semua buku di rak best-seller menjadi sorotan mereka yang suka menjadi bagian dari arus utama (mainstream). Orang-orang tersebut akan membaca apa saja yang sedang digemari pembaca dan banyak diulas serta diperbincangkan. Karena dengan begitu, pembicaraan mereka dengan klien atau rekan kerja atau pihak yang ingin mereka berikan kesan positif akan menjadi lebih kaya dan tampak berisi, cerdas, memikat dan mengasyikkan dari awal sampai akhir. Mereka mau terlihat ‘keren’, intelektual, dan menunjukkan semangat ‘kekinian’ (satu lagi kata yang entah dari mana ditemukan kaum muda urban ibukota).

4. Penikmat buku-buku traveling
Jiwa petualang relatif lebih menonjol dalam diri para pembaca buku-buku bertema pelancongan, wisata, backpacker, dan sejenisnya. Mereka lebih pemberani, spontan, dan impulsif dalam bertindak.

5. Pembaca buku-buku nonfiksi bisnis
Seorang pebisnis pernah menyuruh anaknya untuk meninggalkan bacaan fiksi dengan alasan “membuang waktu cuma untuk membaca khayalan orang lain”. Dan memang ada sebagian orang yang lebih suka buku-buku bisnis dan entrepreneurship yang umumnya memiliki pragmatisme yang lebih tinggi. Mereka memandang aktivitas membaca pun harus menghasilkan sesuatu yang nyata di kehidupan sebenarnya. Lain dari kelompok satu, mereka lebih menyukai kiat dan langkah yang konkret, bukan cuma ‎saran atau nasihat yang indah dibaca tetapi kurang bernas saat dipraktikkan. Mereka tak mau begitu saja percaya karena skeptisme yang lebih mendominasi pikiran.

6. Pengoleksi buku-buku canon
Buku-buku canon itu adalah karya-karya sastra yang biasanya dianggap sebagai mahakarya atau puncak kreasi susastra ‎para pujangga serta dikukuhkan oleh sekumpulan elit sebagai saran bagi masyarakat yang ingin membaca. Biasanya penggemar bacaan jenis ini berpegang teguh pada nilai dan prinsip lama. Ada pakem-pakem yang akan mengerem laju mereka di jalur yang ditempuh jika melenceng. Kedisiplinan mereka lumayan teruji.

7. ‎Penggemar buku-buku kisah nyata
Pembaca buku bertema kisah nyata seperti Chicken Soup cenderung realistis. Menurut mereka ada banyak sekali hikmah yang terkandung dalam kehidupan orang lain, yang pada gilirannya bisa diaplikasikan dalam kehidupannya sendiri.

8. Penyuka buku autobiografi/ biografi
Mereka mirip dengan penggemar buku motivasi karena amat suka memacu diri ke arah yang menurut mereka lebih baik. Namun, karena mereka punya tokoh panutan, mereka pun merasa wajib membaca ‎karya yang ditulis sendiri oleh sang idola atau karya lain yang membahas tuntas sosok itu.

9. Pembaca ensiklopedia
Orang-orang semacam ini tergila-gila pada‎ fakta. Apapun yang mereka lakukan sebisa mungkin berpijak pada data valid di lapangan. Mereka juga ingin terlihat lebih cerdas dari yang lain dengan mengetahui dan mengingat banyak detil ‘remeh’ yang akan memukau lawan bicara jikalau dilontarkan dalam sebuah percakapan.

Sebelum Anda melancarkan serangan di kotak komentar, marilah pahami bahwa saya hanya menerka-nerka. Jadi jangan ditanya dasarnya apa. Silakan jika mau menambahkan tipe lain yang terlewat dari pantauan saya.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s