Pelesir Vietnam: Saat Kapitalis dan Komunis Berpadu Manis (Bag 1)

Baru saja menginjakkan kaki di ibukota pemerintahan negeri ini, penjelasan pertama yang menyambut telinga adalah tentang mengapa ada begitu banyak sepeda motor di sini. “Di Vietnam ini, merek motorbike yang paling dikenal adalah Honda dan Vespa,” kata Toni, sang pemandu, yang terus saja melanjutkan pemaparannya dengan menyebut beberapa jenis sepeda motor Honda yang ia ketahui tanpa peduli kami sudah agak mengantuk setelah perjalanan dengan pesawat terbang dari Jakarta selama sekitar 3 jam hingga Saigon (Ho Chi Minh City), dan dilanjutkan dengan penerbangan ke Hanoi yang lamanya dua kali penerbangan Jakarta-Bali.

Kami baru saja kekenyangan dengan santapan ramen khas Vietnam, pho (baca /feu/) dan termangu menyimak Toni yang memberikan pengertian mengenai sepeda motor di Vietnam. “Setiap dua orang Vietnam punya 1 motor. Dengan penduduk yang mencapai kurang lebih 92 juta jiwa, ada sekitar 46 juta unit sepeda motor di Vietnam.” Tak begitu beda dengan Jakarta, atau kota-kota besar lain di tanah air yang jalan-jalannya dibanjiri kendaraan roda dua ini, batin saya. Namun, di Hanoi yang berpenduduk ‘cuma’ 9 juta jiwa ini ada 5 juta kendaraan roda dua. Jadi jangan heran juga kemacetan bisa terjadi di kota dengan aroma arsitektur Prancis ini.

“Alasan mengapa banyak sepeda motor di sini adalah karena rumah-rumah kebanyakan orang Hanoi sempit sehingga untuk menyimpan mobil tidak mungkin. Hanya orang kaya yang rumahnya lebar dan luas yang biasanya memiliki mobil. Selain itu, harga mobil di Vietnam tak semurah di Indonesia, jadi sampai sekarang kami masih mengimpor,” terang Toni kalem. Meski begitu, sepeda motor yang dibeli juga bisa mencapai 10 ribu dollar karena tingkat kesejahteraan warga Hanoi termasuk tinggi.

Hanoi, ibukota pemerintahan Vietnam yang dulunya menjadi basis Vietnam Utara yang prokomunis, ibarat seorang perempuan uzur yang teguh, kaku dan keras dalam memegang adat masa lampau. Di sini, tetamu tak akan disuguhi hiburan kehidupan malam yang marak. Amat lain dari Saigon di selatan yang lebih permisif dan terbuka. “Toko-toko tutup pada pukul 10. Warung makan tutup pukul 11. Kalau masih buka setelah pukul 11 malam, berisiko didenda oleh polisi,” kata Toni yang nama asli Vietnamnya tak saya ketahui.

Kesan kaku dan disiplin makin kuat saja begitu kami sampai di sebuah belokan. Di keremangan, kami saksikan sekelompok muda-mudi dicokok polisi. “Mereka ditangkap karena tidak pakai helm.” Beberapa saat kemudian dari jendela bus, saya menemukan pengendara muda lainnya yang abai pada aturan. Rata-rata mereka pasangan kekasih kasmaran yang berboncengan.

Toni mungkin tidak ingin merahasiakannya tetapi mungkin karena alasan pelafalan bahasa Vietnam yang terbilang sukar dan rumit bagi penutur asli Indonesia. Dan tidak ada cukup waktu bagi siapapun untuk mempelajari bahasa yang peka intonasi ini dalam waktu kurang dari sepekan. Bahkan bagi mereka yang paling berbakat sekalipun. Ada banyak perbedaan makna yang bisa ditemukan dalam satu kata yang dilekati dengan vokal yang berintonasi/ bercengkok berbeda. Salah sedikit intonasinya, berbeda makna yang ditangkap.

Meski restoran dan toko harus tutup begitu malam meraja, pasar bunga di Hanoi masih buka. Di pinggir sebuah jalan besar yang kami lalui, sekelompok warga masih terlihat beraktivitas padahal jarum jam merambat ke angka sepuluh. Rupanya pasar bunga ini boleh beroperasi dari pukul 10 malam sampai pukul 6 pagi.

“Kadang mereka masih berjualan meskipun badai melanda. Di Vietnam bagian utara, badai bisa datang melanda 10 kali dalam setahun,” ucap Toni yang berdomisili di Hanoi. Badai Haiyan yang pernah melumatkan Filipina beberapa tahun lalu juga kerap mampir. “Haiyan…Nama wanita yang cantik tetapi berbahaya.”

Perubahan iklim membuat suhu ekstra panas menerpa Vietnam di musim panas. Suhunya di siang hari saat musim panas bisa mencapai 40 derajat celcius.

Bus terus membelah pekatnya malam saat Toni memperkenalkan pada kami mosaik terpanjang di dunia yang ada di kotanya itu. Panjangnya, klaim Toni, mencapai 6 kilometer.

Vietnam memiliki dua bendera nasional. Satu bendera menunjukkan bintang berwarna kuning dan berlatar belakang merah, sementara bendera lain milik partai Komunis di sana yang berlatar sama tetapi ada palu dan sabit di tengahnya. Warna kuning melambangkan kulit dan warna merah artinya darah. Gambar palu dan sabit menjadi simbol dua kelompok utama: buruh dan petani.

Ternyata tak cuma Jakarta dan Semarang yang memiliki Kota Tua. Hanoi juga. Bedanya, Kota Tua di Hanoi lebih terawat. Tidak terbengkalai karena masih terus dipakai walaupun cuma seluas 5 kilometer persegi.

Jalan-jalan protokol di sini lebar. Trotoarnya pun demikian. Sungguh surga bagi para penyuka jalan kaki. Penggemar taman bisa menikmati hijaunya pepohonan di bagian klasik kota Hanoi. Melihat Kota Tua Hanoi seperti memandang pertapa sepuh yang bijak. Semuanya menjadi terkesan teduh meski suhu musim panas membuat orang akhirnya juga berpeluh.

Tak suka berjalan kaki atau cepat lelah? Jangan khawatir. Hanoi memiliki armada taksi yang tepercaya. Group Taxi namanya.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s