Pelesir Vietnam: Saat Kapitalis dan Komunis Berpadu Manis ( Bag 2)

Temple of Literature alias Kuil Sastra di Hanoi

Temple of Literature alias Kuil Sastra di Hanoi

Bendera di depan bangunan kuno itu diam, malas bergerak. Cuaca musim panas begitu lembabnya hingga kami juga ingin berdiam diri saja di dalam ruangan dengan pendingin udara karena rasanya sedang berada di sauna raksasa di pagi yang tanpa matahari itu. Kelembaban khas sebelum hujan turun yang amat menyiksa. Peluh pun di mana-mana.

Pepohonan menuju Kuil Sastra di Hanoi itu begitu besar dan kokoh hingga saya rasa sudah berusia ratusan tahun. Namun, tampaknya tidak ada upaya memangkasnya agar tidak terlalu menjulang demi menjaga keselamatan warga kota apalagi Hanoi kerap dihantam badai seperti kata Toni yang memandu kami. Risiko robohnya pepohonan itu saya pikir tak cukup beralasan karena pohon-pohon ini saya yakin bukan pohon-pohon yang ditancapkan dari tempat penjualan tanaman hias dan sejenisnya. Pohon-pohon ini sangat mungkin ditanam dari sejak masih berbentuk biji atau bibit yang mungil sehingga akar tunggangnya benar-benar menghunjam kokoh di dalam tanah. Ini berbeda dari pohon-pohon di perkotaan yang biasanya ditanam instan dari penjual.
Masuk ke situs bersejarah yang berdiri sejak tahun 1076 Masehi itu, saya disambut dengan gaya arsitektur khas Tiongkok. Tidak heran karena dulunya Vietnam menjadi bagian dari dan terpengaruh sekali oleh kebudayaan besar yang berpusat di sungai Yang Tze itu. Aksara Mandarin digunakan oleh masyarakat Vietnam selama hampir 2000 tahun hingga kemudian mereka menggunakan aksara Nom. Kata “nom” sendiri artinya adalah “renovasi”.
Filosofi Kong Hu Cu banyak ditemukan jejaknya di sini. Kuil ini menjadi salah satu tempat para pemuja dan pengikutnya bersembahyang.
Meski namanya Kuil Sastra, sebenarnya tempat ini didirikan tidak untuk menyembah dewa atau dewi tertentu yang dianggap menguasai atau piawai dalam bidang susastra.
Setelah masuk dari gerbang pertama, ditemukan bunga-bunga dengan bentuk tulisan Mandarin yang tak saya pahami kemudian di sisi kiri pengunjung ada kolam besar dengan banyak sekali bunga teratai memenuhi hingga permukaan air tak terlihat lagi.
Berjalan masuk lagi, saya menemukan kolam yang jauh lebih besar dengan pagar di sekelilingnya.
Kuil Sastra di masa lampau menjadi pusat berkumpulnya para calon pegawai negeri di Vietnam. Para sarjana itu berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam wawancara langsung yang diadakan oleh pihak kerajaan. Sang pewawancara sendiri adalah sang raja yang berkuasa.
Untuk menandai keberhasilan bagi mereka yang lolos, nama mereka ditorehkan dalam sebuah prasasti berbentuk kura-kura dan burung flamingo. Kura-kura menjadi lambang yin, umur panjang dan flamingo menjadi simbol yang.
Setiap 3-5 tahun ujian masuk pegawai negeri itu digelar kerajaan. Kalau di zaman sekarang, mungkin mirip dengan ujian nasional.
Tak cuma mengandalkan keluasan dan kedalaman pengetahuan sastra, para sarjana yang ingin lolos dan menjadi pegawai negeri kerajaan harus juga memiliki keberuntungan.
Supaya beruntung dan lolos ujian kerajaan, para calon pegawai negeri itu berkumpul di Kuil Sastra lalu membasuh muka mereka dengan air kolam besar. Cara lain yang juga cukup mistis agar lebih beruntung ialah menyentuh kepala patung kura-kura yang dianggap membawa hoki.
“Karena kolam ini menyerap cahaya matahari dan menyimpan energi sinar bulan yang berkaitan dengan sastra,” celoteh Toni sang pemandu.
Burung flamingo dan kura-kura, lambang yang dan yin, di altar pemujaan di Kuil Sastra

Burung flamingo dan kura-kura, lambang yang dan yin, di altar pemujaan di Kuil Sastra

Karena Vietnam Kuno masih belum mengakui kesetaraan gender dalam penerimaan pegawai negeri, para perempuan yang berbakat dalam bidang sastra tidak diperkenankan ikut serta. Namun, itu bukan berarti mereka tidak melawan sistem patriarki yang berlaku. Sejumlah perempuan menyamar menjadi pria, berhasil mengikuti dan lolos dari ujian negara itu bahkan sampai diangkat dan sukses sebagai pegawai negeri. Saat terkuak kenyataan bahwa mereka bukan pria, perempuan-perempuan itu tidak diperkenankan menjadi pegawai negeri tetapi masih diperbolehkan untuk mengajar, kata Toni. Kaum wanita yang cerdas dan melek huruf dan susastra ini tetap dihormati oleh masyarakat.

Mereka yang lolos ujian di kuil ini hanya mempelajari susastra, filosofi dan sejarah Vietnam dan Tiongkok, undang-undang dan seni. “Tidak fokus pada ilmu alam,” kata Toni lagi.
Sekarang ini Kuil Sastra menjadi warisan dunia. Kuil tersebut menjadi tempat generasi muda belajar tentang pentingnya belajar, kebaikan hati, budi pekerti, dan kerja keras dari leluhur mereka.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s