Pelesir Vietnam: Ho Chi Minh, Sang Ikon Bangsa Pemberontak

NEGERI PAMAN HO memiliki sejarah panjang. Namun, satu benang merah yang menjadi penyatunya: pemberontakan. Vietnam telah beribu-ribu tahun lalu bergejolak menolak dominasi Tiongkok, peradaban raksasa di utara. Bangsa Vietnam yang menjadi bagian dari wilayah kekaisaran Tiongkok di bagian paling selatan itu memang menyerap banyak kebudayaan Tiongkok dalam kehidupan mereka. Hanya saja mereka segan tunduk dalam aturan Tiongkok.

Konon, pemberontakan melawan Tiongkok yang dilakukan 2000-an tahun lalu itu (kira-kira abad pertama setelah Masehi) dianggap sebagai tonggak bersejarah bagi bangsa Vietnam. Mereka dengan setia
mengingatnya dalam peringatan Trung, karena yang memicu pemerontakan itu adalah Trung bersaudara (yang dikenang sebagai pahlawan perempuan Vietnam). Pemberontakan itu memang gagal tetapi semangatnya masih terus menyala dalam dada orang Vietnam sejati.

Peperangan melawan Tiongkok berlangsung selama 1000 tahun setelah kegagalan pemberontakan Trung bersaudara. Vietnam juga terus memperluas wilayah mereka hingga ke selatan, tempat perbatasan yang ditetapkan saat ini.

Vietnam, seperti bangsa Indonesia di masa lalu, juga mengalami fragmentasi. Meskipun mengaku sebagai satu bangsa, rakyat Vietnam juga kerap terlibat dalam perang saudara. Hanya ada 54 suku bangsa di Vietnam dan dengan wilayah mereka yang lebih kecil dari nusantara, jumlah friksi dan konflik memang tak sekolosal di tanah air kita.

Abad ke-19 menjadi saksi bahwa persatuan Vietnam masih terlalu rapuh untuk mempertahankan diri melawan invasi asing. Kali ini dari benua Eropa. Prancis menjejakkan kaki mereka di sana sekitar tahun 1860 di sekitar kota Saigon yang kini berjuluk Ho Chi Minh City. Dalam waktu 20 tahun, Vietnam utara dan tengah mereka taklukkan. Tahun 1885, Vietnam kembali menjadi bangsa tertindas.

Jejak-jejak pemberontakan di masa lalu itu masih dapat ditemui di kawasan kota tua Hanoi yang bangunan dan pagar-pagarnya banyak yang berwarna kuning cerah. Mirip emas. Arsitektur dan tata kota khas Prancis sangat kentara di Hanoi lama. Dan ruang untuk pejalan kakinya lebih lapang dari yang kita temui di Jakarta.

Kala saya di sana di sebuah pagi di bulan Juni ini, udaranya menyiksa. Kegerahan tingkat dewa. Cuaca tanpa angin, langit penuh mega. Jadi meskipun sinar mentari tak menyengat, kelembaban tinggi membuat siapa saja di Hanoi bak terperangkap dalam tanur raksasa.

Semua itu terobati dengan lansekap perkotaan yang molek. Kata Toni yang memandu kami, kota Hanoi lama ini didesain dalam gaya Prancis selatan. Cuaca di Vietnam mirip dengan cuaca Prancis selatan, imbuhnya. “Maksudnya segerah ini?” tanya saya dalam hati sambil mengipasi tubuh dengan topi.

Saya berada di sebuah lapangan luas mirip Tianamen di Beijing. Di sebuah gedung berpilar kokoh dengan cat gelap, konon jenazah sang pemimpin besar Vietnam itu diawetkan bak mumi Mesir. Apakah demikian? Saya tak bisa memastikan, karena pengunjung tak diperkenankan masuk dan benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri raga Ho Chi Minh yang legendaris itu.

Kebangkitan Vietnam memiliki cerita yang hampir sama dengan bangsa kita, Indonesia. Kaum bangsawan pribumi yang cukup beruntung memiliki kesempatan mengenyam pendidikan ala kaum penjajah dan kelompok elit ini kemudian tersulut semangatnya untuk mengangkat dan membebaskan rakyat mereka yang dijadikan sapi perahan.

Di antara anak-anak bangasawan Vietnam yang menyerap pendidikan Barat itu adalah Ho Chi Minh (19 May 1890 – 2 September 1969). Pria yang bernama alias Nguyễn Tất Thành dibesarkan dengan semangat patriotisme tinggi dari sang ayah, seorang pejabat lokal yang memilih untuk mundur tatkala diharuskan mengabdi untuk penjajah Prancis. Saat masih muda, Ho sudah berkelana ke Barat. Ia pernah bekerja sebagai tukang masak di Inggris, AS, dan Prancis. Tahun 1917, ia tiba di Paris dengan nama samaran Nguyễn Ái Quốc, yang artinya sang Patriot. Ia mulai
mengampanyekan kemerdekaan Vietnam dan karena itu ia dikenal luas oleh kalangan warga Vietnam yang tinggal di Prancis kala itu. Tiga tahun kemudian ia menjadi salah satu pendiri Partai Komunis Prancis dan dapat dikatakan sebagai orang Vietnam pertama yang mendeklarasikan sebagai komunis. Dari sana, ia dikirim ke Moskow di tahun 1923 lalu banyak terlibat dalam banyak perjalanan yang tujuannya merangkul lebih banyak orang Vietnam untuk memperkokoh partai revolusionernya. Sang pejuang melalangbuana dari Jerman, Tiongkok, Thailand, Prancis, hingga Rusia. Pengalamannya bereksplorasi itu membuatnya luwes bergaul dan berdiplomasi dengan orang-orang berbagai bangsa. Sebuah keahlian yang sungguh berfaedah kelak baginya saat mengemban tugas negara.

Saat Perang Dunia II berkecamuk, Jepang masuk ke Vietnam yang lepas dari penindasan Prancis. Jepang mendukung sebagian kaum nasionalis lokal namun ada juga yang tak suka dengan kehadiran Jepang. Salah satunya ialah Viet Minh, sebuah gerakan yang digagas Nguyễn Ái Quốc yang mengubah nama menjadi Ho Chi Minh, yang maknanya “Dia yang Mencerahkan”. Inilah titik historis kiprah Ho di tanah airnya setelah menjelajah mancanegara selama 30 tahun. Ia memutuskan pulang, bukan untuk tetirah.

Saat Jepang berkuasa, Ho harus menyaksikan 2 juta rakyat Vietnam melayang akibat wabah kelaparan. Itu karena tentara Jepang merampas semua persediaan pangan rakyat negeri itu untuk diri mereka dan sebagian diekspor ke Jepang. Begitu buruknya wabah itu hingga rakyat harus makan daging tikus untuk menyambung nyawa.

Jika kita mengenal sengitnya perang Vietnam melawan AS, sulit untuk percaya bahwa sebelumnya Ho Chi Minh pernah berteman dengan Sekutu (baca : AS). Ho dan orang-orangnya memang pernah berkawan dengan Sekutu untuk menyingkirkan Jepang dari negerinya.

Archimedes Patti, OSS Officer dari AS, memiliki kesan mendalam tentang Ho. Bertemu dengan Ho di perbatasan IndoChina- Tiongkok April tahun 1945, Patti menggambarkan Ho sebagai sosok yang “menarik, peka, lembut serta rapuh dan suka berbicara panjang lebar tentang kondisi umum tidak hanya di indo China tetapi juga seluruh dunia.”

Pejabat AS lainnya, Abbot Low Moffat dari State Department berkomentar tentang pribadi Ho yang ia katakan sebagai “pertama-tama nasionalis, kemudian baru komunis.” Ia lebih mengutamakan pembebasan bangsa Vietnam dari apapun, baru ia mendirikan sebuah pemerintahan yang beraliran komunis.

Bagi kebanyakan rakyat Vietnam masa kini, seperti Toni yang memandu kami pagi itu, presiden pertama mereka adalah orang yang rendah hati, tak memikirkan kemewahan meski sebenarnya ia bisa saja mendapatkannya. Saat telunjuknya mengarah ke istana presiden yang pernah digunakan Ho Chi Minh itu, Toni menjelaskan pada kami,”Ini istana presiden yang butuh waktu 6 tahun untuk dibangun dari pajak rakyat Indochina (Vietnam, Laos, Kamboja), tetapi presiden Ho Chi Minh tidak tinggal di sini. Beliau hanya menggunakan istana ini untuk bekerja, bertemu dan menjamu tamu-tamu negara.”

Tidak menikah membuat kehidupan Ho menjadi jauh lebih simpel. Ia jadi tak ada alasan untuk mempertahankan dan mewariskan kekuasaan secara eksklusif untuk keturunan dan keluarganya.

Dedikasi total Ho pada Vietnam memang paripurna. Sang pemimpin memilih untuk tinggal di sebuah rumah paviliun yang mulanya dihuni tukang listrik Prancis selama 4 tahun. Tetapi ia tetap tak merasa cocok dan menolak tinggal di sana hingga kemudian pindah ke sebuah rumah panggung yang didirikan di samping istana kepresidenan yang megah. “Presiden Ho ingin hidup dalam suasana asli Vietnam, maka ia memutuskan tinggal di rumah panggung mungil bergaya tradisional khas orang pegunungan yang dekat kolam ikan.” Kata Toni, ikan-ikan mas di dalamnya bisa berkerumun hanya dengan bertepuk tangan. Kami pun mencoba bertepuk tangan dan ikan-ikan itu bergeming. Ah, mungkin ikan-ikan yang dimaksudkan sudah mati!

Gaya hidup sederhana Ho sekali lagi tecermin begitu kami memasuki sebuah bangunan yang menyimpan 3 unit mobil antik. Dari kiri ke kanan, kami menyaksikan mobil dari yang termewah yang diberikan Moskow padanya hingga mobil Peugeot yang paling sederhana yang banyak dipakai orang sipil. Ia menolak memakai mobil hadiah Rusia yang tahan peluru itu karena ia merasa, lagi-lagi, terlalu mewah.

Ruang perpustakaan milik Ho di paviliun mungil itu masih tertata rapi. Di dindingnya, dua foto dalam bingkai menunjukkan wajah dua tokoh yang paling berpengaruh dalam pemikiran-pemikiran Ho sebagai seorang negarawan: Karl Marx dan Lenin.

Berjalan di sekitar rumah panggung Ho, sulit dipercaya itu tempat tinggal presiden sebuah negara. Suasananya suram, entah karena warna kayunya yang kelam atau karena pepohonan besar di sekitarnya yang membuat sinar matahari tak dapat menembus ruangan di dalamnya. Turun dari rumah panggung, sebuah gundukan tanah terlihat jelas. Ternyata di dalamnya adalah bunker, perlindungan dari serangan bom udara musuh.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s