Menanti Monster Naga Muncul di Teluk Ha Long

‎JUMAT MALAM BUS yang saya tumpangi menderu tanpa henti di sebuah ruas jalan yang kalaupun saya tahu namanya saya akan kesulitan melafalkannya. Jalan lurus itu membelah sebuah kawasan. Di kanan kiri hanya rumah penduduk. Sesekali mata ini menemukan alfabet hangeul dari Korea meskipun cahaya yang ada cuma remang-remang.

Para pengusaha Korsel merasukkan pengaruh ekonomi mereka di tanah Vietnam. Sehingga tak ayal rumah-rumah makan bertema Korea bermunculan. Sebuah restoran mahal dengan penerangan lebih melimpah terlihat di sisi kanan. Sekilas saya tangkap nuansa negeri ginseng. Mungkin itu juga dibuat oleh pengusaha atau investor dari Seoul. Kentara sekali kemajuan yang terjadi begitu pemerintah komunis Vietnam membuka diri pada pasar internasional. Mereka tahu hidup terisolasi hanya akan membuat rakyat melarat. ‎

Perjalanan darat yang menghabiskan waktu 4 jam dari Hanoi ke tujuan kami yang eksotis ini membuat saya mengantuk. Saya raih sebuah majalah. Di sebuah halaman, sebuah advertorial UNESCO menarik mata. Tercetak dalam huruf kapital:”WE’RE NOT ASKING YOU TO SAVE THE WORLD. JUST ITS GREATEST PLACES.” Dua belas foto pemandangan menakjubkan dari 12 tempat terindah di dunia mengelilingi 2 kalimat persuasif tadi. Dan salah satunya adalah foto tempat yang akan segera kami tuju esok hari: Teluk Ha Long (Ha Long Bay).

‎—+++—

TIDUR MALAM ITU sunggu‎h nikmat. Tak bisa saya jelaskan apa yang membuat saya pulas. Padahal sebelumnya saat menginap di Hanoi, baru lewat tengah malam saya baru bisa memejamkan mata sepenuhnya. ‎
Menurut penuturan Toni, kawasan sekitar Ha Long Bay tak cuma dikenal karena keindahannya tetapi juga karena potensi pertambangan batubaranya. “Ada perusahaan Indonesia yang berinvestasi di sini juga lho.”

Teluk itu ditetapkan sebagai World Heritage Site (tempat warisan‎ dunia) oleh UNESCO di tahun 1994. Sejak itu pulalah, kota Hong Gai (yang kata Toni bermakna “pulau wanita”) di dekatnya makin ramai dan menjadi kota provinsi Ha Long.

“Di sini juga ada pelabuhan internasional yang dibuat orang Prancis untuk mengekspor barang ke pelabuhan Hai Fong yang letaknya 70 km dari sini atau ke luar negeri‎,” kata Toni.

Di dekade 1980-an, terjadi diaspora Vietnam. Jutaan warga Vietnam lari meninggalkan tanah air mereka. Ada yang merantau dengan kapal-kapal perahu menuju Tiongkok, Hong Kong, Batam, Malaysia, Thailand, dan sebagainya untuk kemudian tinggal beberapa tahun hingga bisa pergi ke Eropa atau AS. ‎

Ha Long yang kini dikunjungi 8 juta turis per tahunnya itu juga tak bersih dari terjangan peperangan. Tahun 1964 pesawat-pesawat AS mendarat di sana. Tujuannya menghancurkan pelabuhan Ha Long dengan bom-bom raksasa agar warga Vietnam Utara tak bisa membantu saudara mereka di selatan yang berada di bawah penindasan AS.‎

—+++—

SEMBARI MENIKMATI SANTAPAN pagi berupa salad, pisang dan jus buah semangka dan jeruk untuk mencegah sembelit selama melancong (beberapa teman dengan jujur mengaku tak membuang apapun dari saluran cerna mereka selama berhari-hari dalam tur, yang membuat mereka cemas bukan kepalang), saya melempar pandangan ke arah depan melewati kaca jendela hotel kami yang apik itu. Lansekap berbukit tertampil di depan hotel. Lalu lintas sepi layaknya Jakarta di Minggu pagi.

Sekonyong-konyong mata saya terpaku pada seekor burung yang membentangkan sayapnya di pagi bergerimis itu. Perawakannya mirip bentuk garuda. Saya yakin itu burung pemangsa langka. Tetapi mengingat ini di tengah kota yang ramai, apakah itu mungkin?

Langit yang suram memayungi kami dari hotel hingga Ha Long Bay, teluk yang digandrungi itu. Mendung ternyata tak cuma menggantung tanggung, karena akhirnya jatuh jua ke bumi pesisir Ha Long. ‎Tetap hawa tak makin sejuk.

Begitu tiket perahu pesiar seharga 150 ribu dong (mata uang Vietnam) itu di tangan, kami pun berangkat dari pelabuhan yang dari pagi sudah disesaki turis-turis dari berbagai negara. Perahu yang cukup mantap ukuran dan bobotnya itu akan mengantar kami mengitari teluk yang sedang disiram air dari langit.

Dari mitos lokal, seekor naga yang diasosiasikan dengan penguasa air itu dikatakan bersemayam dan membentuk teluk megah tersebut dengan gua-gua kapur raksasa di dalam perut buminya. ‎Lalu saya pikir naga itu mungkin sedang kencing atau menangis saat kami bertandang. Makanya hujan begini.

Beberapa nelayan dalam suatu film dokumenter pernah mengklaim menyaksikan bayangan suatu makhluk nan panjang mirip naga di bawah permukaan air. Entah apakah kesaksian mereka itu hanya demi sensasi semata tetapi itu semua membuat Teluk Ha Long pada satu titik mirip dengan Danau Loch Ness nun jauh di Eropa Barat sana. Keduanya menyimpan daya tarik misterius yang dieksploitasi manusia agar bisa dipakai sebagai magnet turis.

—+++—

BRAK!!! KAMI TERSENTAK. Perahu-perahu pesiar tersebut mengarung liar meski ruang lewat di pelabuhan tak banyak. Mereka seakan mengadopsi tata laku pengemudi sepeda motor yang terlihat tidak terkendali. Mereka tak segan saling menabrakkan perahu masing-masing. Ini gila, bagaimana kalau tiba-tiba kayu-kayu ini terbelah dan air mengisi bagian dalam perahu? Beberapa saat kemudian, kami para pelancong asing berupaya singkirkan pikiran itu. Mereka lebih tahu apa yang mereka lakukan — bahwa benturan-benturan itu tidak akan menenggelamkan.

Begitu di tengah jalan, hujan makin lebat. Kami turun dengan berjas hujan warna-warni. Turis-turis lain juga berhamburan keluar dari perahu-perahu tadi. Rupanya tiap satu rombongan dibawa satu perahu pesiar. Jadi barang-barang tak akan tertukar. Keamanan terjaga baik. ‎
Sesudah naik beberapa ratus anak tangga, di depan saya terbentang sebuah gua kapur. Mirip dengan gua-gua kapur di Gunung Kidul, Yogyakarta. Bedanya, Vietnam sudah menghiasnya. Dari kejauhan, terpancar cahaya lampu cerah berwarna kuning, merah dan hijau untuk mempermolek suasana dalam gua. Cukup menarik untuk membuat tempat ini lebih semarak. Pemandu kami Toni mempersilakan semuanya mencoba menikmati bentuk-bentuk unik di stalagmit dan stalagtit gua. Ia menyebut “orang tua”, “anak kecil”, “naga besar”, “dua sejoli” dan sebagainya. Saya mencoba keras menggunakan level imajinasi tertinggi saya dalam memandangi bebatuan kapur ini. Tetap saja gagal. ‎

Keluar dari sana saya masih harus berlomba dengan banyak turis lokal yang juga membanjiri tempat itu. Ditambah harus meniti anak tangga yang begitu banyak dan basah karena gerimis, rasanya sudah tidak sabar saja menikmati santap siang.

Betul, santap siang kami hari itu terasa istimewa. Bukan karena bahan makanannya tetapi karena suasana dan tempatnya. Lagi-lagi beraneka ragam makanan laut dihidangkan begitu kami para penumpang kembali berada di atas perahu pesiar. Kepiting laut, ikan, udang, tiram membuat perut sesak dalam sekejap. Lalu semilir angin teluk pun membuai sampai hampir menidurkan semua yang kekenyangan.

Untung cuaca buruk tersibak begitu kami selesai makan siang. Gerimis sirna dan perahu pesiar kami pun mengarungi Teluk Ha Long dengan lancar.

Semua naik ke dek atas tempat nahkoda, seorang pria Vietnam dengan singlet putih kusam, sedang mengemudi santai. Kami berebut hampir seperti kesetanan. Apalagi kalau bukan untuk menemukan angle sempurna mengambil foto, baik bersama teman atau sendiri.

Saya sendiri menyempatkan berfoto di ujung buritan. Iseng saja saya kaitkan kaki ke belakang leher dan kepala dan seorang teman mengabadikan nya. Bergaya yoga dengan Teluk Ha Long sebagai latarnya. Di layar gawai, pemandangan Ha Long yang berkabut tipis siang itu mirip latar belakang di sebuah studio foto. Amat sempurna dan surreal.


Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s