Studi: Mudah Hapalkan Kata-kata Tanda Pandai Berbohong

Pandai menghapal kata-kata ternyata bukan hanya bisa menandakan kecerdasan tetapi juga kelicikan dalam membuat kebohongan yang meyakinkan. Sebuah pernyataan yang masuk akal, apalagi hal itu sudah dibuktikan ilmuwan.

Sebuah studi yang meneliti anak-anak yang berbuat curang dalam sebuah ujian (melihat kunci jawaban) menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kemampuan menghapal kata-kata lebih banyak dalam sekali waktu juga cenderung lebih lihai dalam berbohong, jelas Elena Hoicka dari jurusan psikologi University of Sheffield.

Menurut peneliti, kaitan antara berbohong dan ingatan verbal yang hebat itu berasal dari kenyataan bahwa menutupi kebohongan melibatkan kemampuan mengingat banyak informasi verbal. Tidak heran, orang yang pandai mengingat informasi verbal dan bisa mengingat banyak informasi dapat dengan lebih mudah menyusun dan mempertahankan kebohongan dengan lebih meyakinkan.

Namun, tentu saja ini hanya sebuah kecenderungan. Penelitian ini tidak memperhitungkan aspek-aspek lainnya yang turut berkontribusi menjadikan seorang manusia menjadi pembohong seperti tingkat moralitas yang dimiliki setiap individu.

Ini membuat saya berpikir: Apakah ini saatnya menghentikan pendidikan yang mengutamakan memori dan menghapal? Karena ternyata pandai menghapal tidak serta merta membuat seseorang menjadi individu yang lebih baik. Sekolah-sekolah yang mengutamakan kemampuan mengingat sudah saatnya mempetimbangkan apakah pola pendidikan berorientasi menghapal itu masih relevan dengan kondisi saat ini.

Menuju Ekapada Koundinyasana II Tanpa Cedera

Pose ini terlihat mustahil bagi mereka yang belum pernah mencoba tetapi dengan persiapan yang memadai, hamstring Anda tidak akan terlukai.

Asana di atas bernama Ekapada Koundinyasana II, yang termasuk dalam jenis arm balance (pose yang menggunakan kedua lengan sebagai tumpuan). Kuncinya seperti yang Anda bisa saksikan di ilustrasi ialah kelenturan otot hamstring (yang ada di sekitar belakang paha) terutama kaki yang berada di depan dan tentu fondasi utama: lengan dan bahu (core bagian atas).

Bagi Anda yang tertarik mencoba pose satu ini tetapi merasa gentar, santai saja. Lakukan persiapannya secara bertahap dengan sabar agar cedera bisa terhindar. Kelak jika Anda sudah terbiasa, melakukan tanpa pemanasan yang selama sebelumnya mungkin tidak lagi diperlukan. Tetapi ingat, hanya bagi yang sudah terbiasa.

Apa saja yang harus dilakukan untuk menuju ekapada koundinyasana 2?

Ada yang mengeluh,”Sudah sun salutation berkali-kali sebagai pemanasan, tapi belum bisa juga!” sun salutation bagi saya adalah pemanasan secara umum tetapi kurang spesifik untuk bagian-bagian tertentu. Sun salutation kurang fokus mempersiapkan bagian-bagian yang akan dikerahkan saat melakukan ekapada koundinyasana 2 nanti.

Sebetulnya inti pemanasan menuju ekapada koundinyasana adalah menyiapkan hamstring dan pinggul kita agar lebih terbuka serta memperkuat tumpuan tangan. Pertama-tama, lakukan beberapa set sun salutation sesuai selera. Saat berada dalam posisi anjaneyasana (mirip lunge di posisi rendah – kaki dibentangkan ke depan dan belakang hampir split tetapi kaki depan masih ditekuk 90 derajat), bertahanlah agak lama. Nikmati peregangan di sepanjang kaki dan fleksor pinggul. Anjaneyasana akan membuat kaki belakang Anda di ekapada koundinyasana 2 akan lebih lurus. Lakukan anjaneyasana untuk kedua kaki agar seimbang.

Kemudian pemanasan selanjutnya ialah ardha hanumanasana (versi separuh/ mudah dari split). Dari anjaneyasana, sekarang ganti tekuk kaki belakang dan luruskan kaki depan. Kurang menantang? Silakan luruskan kedua kaki perlahan sambil jaga pinggul agar tetap mengarah ke depan, tidak miring ke samping. Cari titik maksimal rentangan kaki Anda. Masih kaku? Gunakan blok atau alat bantu lain sebagai pegangan di tangan dan membantu naik dan turun saat menuju dan keluar dari hanumanasana atau full split. Jangan buru-buru berhenti, tahan split itu dalam beberapa kali napas dalam dan tenang serta teratur. Boleh menundukkan badan atas ke kaki depan. ‎Jangan lupa ulangi untuk sisi satunya.

Dari hanumanasana, perlahan turunkan kedua telapak tangan ke lantai, angkat kedua kaki dari lantai dan mengalir ke downward-facing dog. Kali ini, coba lakukan three-legged dog, yaitu gerakan downward-facing dog dengan mengangkat salah satu kaki ke atas lalu ke arah samping yang berlawanan (jika kaki kanan yang diangkat artinya kaki dibuka ke samping kiri) dan membuka pinggul ke samping‎ sebisanya. Ingat tujuannya ialah membuka pinggul agar siap nanti.

Untuk kekuatan fondasi, kuatkan kedua lengan dan bahu.‎ Fokuskan pandangan ke satu titik di depan. Agar fondasi terlatih, lakukan banyak-banyak chatturanga dandasana (push-up) dengan posisi yang benar. Kenapa? Karena dalam ekapada koundinyasana 2, posisi lengan mirip dengan chatturanga. Otot core tubuh yang kuat dengan chatturanga akan membuat ekapada koundinyasana 2 Anda akan lebih solid.

Setelah itu, lakukan downward-facing dog dengan menggunakan dua blok sebagai penahan untuk kaki belakang Anda. Lalu lipat satu kaki dan tempatkan lutut tepat di lengan atas bagian belakang (makin dekat ketiak, makin bagus, meski agak sulit bagi yang berperut tidak kecil). Dalam posisi ini, bertahanlah atau jika sudah siap, doronglah tubuh agak ke depan sedikit dan kuatkan tumpuan tangan. Jika sudah merasa kokoh, lepaskan kaki belakang yang masih berada di blok penahan. Dan selanjutnya, cobalah merentangkan kaki depan yang dilipat itu sampai selurus mungkin. Merasakan sakit atau kurang lurus? Tetaplah berlatih dan ulangi lagi pemanasan sebelumnya.

Jangan lupa agar kedua kaki dan badan lebih lurus, bernapas lebih dalam dan aktifkan telapak kaki (tidak hanya lemas begitu saja). Anda bisa mengaktifkan telapak kaki dengan pointing seperti di gambar, atau flointing (telapak kaki seperti memakai sepatu hak tinggi), atau flexing (telapak kaki rata bak menjejak tanah).

Selamat mencoba!

Can Eating More Plants and Less Meat Make Us More Flexible?  

 Absolutely YES!

At least if you ask me.

But I don’t kid you, fellows. Eating more plant-based foods lets your body, mind and soul work harmoniously in such a way I cannot explain. And that is more precious than only gaining more body flexibility. Seriously to be perfectly frank, flexibility is just the side bonus. Not the end goal itself.

I still remember when a guru told me his own different experience while he was eating like a horse and eating like a lion. Being a herbivore or having daily diets dominated by plants simply lighten your body somehow. Suddenly you can endure more pain and stress better, controlling our agressivity and anger more readily. It thus brings more peace of mind at last.

That being said, practising asanas in yoga would entail less struggle, as for me. That particularly holds true when I have to twist, bend backward and forward body during yoga asana practices. Aside from my slender figure, consuming more plants relatively helps me to do yoga asanas better. Here is what I feel: I neither feel excruciatingly hungry nor extremely stuffed. I feel satiated, my appetite is satisfied but still I don’t think I’m fully loaded. I call it “a balanced sensation between hungry and stuffed.” Somewhere in between. And most importantly, I feel good about myself. I don’t starve myself but I don’t overfeed myself either. Pretty much a win-win solution.

Eating more plants and less meat certainly makes me get hungry more often and faster but what’s the problem with that? Just eat more healthy stuff. Things are going to be fine as long as you listen to your body. That itself is a consciousness exercise, mindful eating, which can be actually our yoga practice at the dining table. Because doing yoga is not only on but also off the mat!

On top of that, consuming less meat also shows your true love of our Mother Earth. So why hesitate? Start going vegan NOW.

Mengurangi Konsumsi Daging Baik untuk Tubuh… dan Bumi

‎Terlalu banyak makan daging dan produk hewani lain tidak cuma membuat kesehatan menurun, tetapi juga membuat bumi ini makin menderita. Ternyata makin banyak mengkonsumsi makanan hewani, makin tinggi juga jejak karbon pola makan seseorang. Dan sebaliknya, makin sering makan sayur mayur dan buah-buahan, jejak karbon yang dihasilkan seseorang dari asupannya juga menurun.

Data ilmiah mendukung hipotesis ini. Menurut data penelitian epidemiolog Peter Scarborough dari Oxford University, kuantitas rata-rata emisi gas rumah kaca (pemicu perubahan iklim) per 2000 kilokalori makanan dalam asupan tinggi kandungan daging (lebih dari 100 gr daging per hari) mencapai 7,2 kg karbon dioksida ekuivalen (jumlah emisi karbondioksida, metan dan nitrat oksida). Asupan daging dalam kuantitas moderat (50-100 gr) 5,6 kg CO2, asupan daging kuantitas rendah (kurang dari 50 gr) hanya 4,7 kg CO2, pescatarian (makan daging ikan dan sarilaut) 3,9 kg, vegetarian 3,8 kg CO2 dan vegan (100 persen menghindari pangan hewani) 2,9 kg CO2.

Pola makan yang menghindari daging hewan terutama sapi dan kambing juga disebut baik bagi kelestarian lingkungan. ‎
Tak sanggup jadi vegan tetapi ingin menunjukkan kepedulian bagi lingkungan? Bukan masalah, karena hanya dengan mengurangi jumlah konsumsi daging 50 persen dari sebelumnya, siapapun termasuk Anda bisa menekan jumlah emisi gas rumah kaca setara dengan jumlah emisi yang dihasilkan penerbangan pesawat jet dari London ke New York. (natgeo)‎

Mengapa Sebagian Teman Reuni Kita Tampak Tetap Muda dan Sama

SELAIN MUSIMNYA HEDONISME, LEBARAN juga menjadi musimnya reuni. Satu hal yang niscaya ditemui ialah menyaksikan penuaan yang terjadi pada orang-orang yang kita temui. Frekuensi pertemuan yang lebih jarang membuat kita lebih dapat menemukan perubahan yang terjadi pada mereka. Demikian juga sebaliknya, orang lain yang lebih jarang bertemu kita lebih bisa menemukan perubahan itu daripada kita sendiri.

Reuni SMA, misalnya, di 5 tahun pertama tak memberikan banyak kejutan. Begitu pula tahun ke-10. Namun, penuaan itu makin kentara begitu reuni SMA memasuki tahun ke-20. Semuanya memang menua tetapi Anda bisa temui orang yang menua lebih lambat dan lebih cepat dibandingkan usia kronologis mereka sebenarnya.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar kisah yang lebih ekstrim lagi. Reuni SD yang diadakan oleh orang-orang usia pensiun, yang kebetulan dihadiri seorang paman. Anda bisa hitung waktu antara kelulusan mereka dengan usia saat ini yang rata-rata 60-an tahun. “Ada yang dulu tampak tinggi menjulang, tetapi sekarang pendek (Pengapuran tulang? Bungkuk?) Ada yang sudah tampak seperti kakek-kakek benar, ada yang masih enerjik. Bahkan ada yang sebagian sudah meninggal,”cerita paman saya sepulang dari sana sambil terkekeh sesekali. Ia tampak menikmati hidup. Kualitas hidupnya itu menurut pengamatan saya bisa lebih baik karena dua faktor: pendidikan yang lebih memadai dan kesadaran tentang pemeliharaan kesehatan yang lebih tinggi. Semua itu berkontribusi pada tampilan fisiknya yang lebih muda dan segar untuk orang seusianya.

Apakah benar demikian?

Temuan sebuah studi di Selandia Baru menyatakan bahwa faktor lingkungan berpengaruh signifikan pada kecepatan menua kita. Dan faktor genetis memiliki kontribusi yang rendah (sekitar 20 persen) pada kecepatan menua seseorang.

Dan awet muda secara biologis ini bukan hanya diukur dalam tataran kulit semata tetapi juga kebugaran fisik luar dan kesehatan organ dalam secara detil. Jadi operasi plastik secanggih apapun tak akan bisa mengubah usia biologis seseorang yang kecepatan menuanya tinggi akibat, misalnya, stres berlebihan atau pola diet yang buruk. Kriteria awet muda yang digunakan di sini lebih utuh, komprehensif, dan holistik.

Studi ilmiah yang dimuat di makalah dalam Proceedings of the National Academy of Sciences itu melibatkan pengukuran 18 indikator biologis — seperti tekanan darah, imunitas tubuh, kondisi ginjal, gigi, paru-paru, tingkat metabolisme dan kesehatan liver hingga panjang telomeres (tutup pelindung di ujung kromosom yang memendek seiring usia) — sebagai tolok ukur kecepatan menua manusia pada lebih dari 1000 subjek yang lahir tahun 1972-1973 di kota yang sama hingga saat ini.

Proses penuaan itu memang tampak di mata, sendi, dan rambut yang lebih mudah dilihat tetapi penuaan itu juga lebih cepat di dalam organ dalam manusia sebetulnya.

Ditemukan bahwa sebagian orang memiliki laju penuaan lebih cepat dari usia kronologisnya. Sementara yang lain memiliki laju penuaan nol persen per tahun, sehingga dianggap awet muda. Seseorang berusia 38 tahun (usia kronologis) bisa memiliki usia biologis 40 tahun, yang artinya ia menua lebih cepat dari seharusnya.

Dan pencegahan penuaan dan mortalitas dini ini mesti dilakukan sejak dini dan terpadu, tidak hanya saat dirasa mendesak atau dilakukan secara setengah-setengah.

Dan ternyata bonus dari pemeliharaan kesehatan dari dalam itu adalah penampilan awet muda di luar. Buktinya, foto-foto wajah subjek studi yang mengalami penuaan organ dalam lebih cepat akan terlihat lebih tua juga di mata banyak orang. Jadi, ubahlah pendekatan kita selama ini yang mengutamakan penampilan muda di luar dan mengabaikan yang di dalam dengan berbagai campur tangan bedah medis yang sebenarnya tidak diperlukan jika cara hidup tertata dengan baik.

(sumber: Duke University‎/ sumber foto: wikimedia commons)



Mengapa Pria Hindu Ini Ikut Berpuasa Ramadhan Selama 24 Tahun Terakhir

‎MUNGKIN INI TAMPARAN TERBESAR bagi pemeluk Islam yang benci ibadah puasa, malas-malasan saat puasa atau orang yang mengaku Islam di KTP-nya tetapi tidak berpuasa dengan alasan kerja fisik yang berat di pagi hingga sore hari. Seorang pria bernama Purnendu Nath yang notabene bukan pemeluk Islam itu mengaku menjalankan ibadah puasa layaknya umat muslim selama Ramadhan. Dan selama puasa, ia bukannya tidur seharian atau bermalas-malasan. Ia menjalankan aktivitas hariannya termasuk olahraga sebagaimana biasa saat berpuasa seharian.

Semua berawal dari eksperimennya untuk mencoba berpuasa saat kuliah setelah menyaksikan sang teman kuliah di University of Cambridge. Ibadah puasa yang dilaksanakannya dengan teman yang Melayu Islam itu ia katakan sebagai “pengalaman yang ia anggap mengubah caranya menghadapi banyak aspek kehidupan.”

Sebagai penggemar olahraga, Nath tidak merasa harus mengurangi takarannya berlatih selama puasa. Buktinya ia masih berlari marathon, berolahraga di pusat kebugaran dan lari lintas alam selama berpantang makan dan minum.

“Saya lari tanpa ada yang menyadari saya berpuasa,”kata pria 46 tahun itu lagi.

Nath menjelaskan ia terbiasa berlari jarak jauh atau ke pusat kebugaran setelah berbuka puasa dan bahkan langsung menyelesaikan 30 km dalam sekali lari. Dalam beberapa tahun terakhir, Nath sudah berlari hampir 12 km atau angkat beban selama puasa.

Saat ditanya mengapa ia melakukan semua itu, Nath menjawab:”Karena saya menikmati pengalaman ini – sebuah kesadaran akan Tuhan.”

Orang-orang di sekitar Nath memberikan beragam tanggapan atas apa yang ia lakukan. Ada yang mengaguminya, sebagaimana anak-anaknya yang merasa mendapat teladan dalam menjaga kesehatan jiwa dan raga. Yang lain menganggap Nath hanya tergila-gila sesaat tetapi terbungkam begitu Nath berpuasa sebulan penuh secara konsisten selama 24 tahun. Nath juga tidak memaksakan orang lain menirunya. Uniknya, ia mengaku sebagian besar orang di sekitarnya tidak tahu bahwa ia berpuasa hingga baru-baru ini. Tentu saja, berpuasa adalah bentuk ibadah yang amat personal. Cuma Tuhan dan kita yang tahu. Kecuali kita sengaja memberitahukan pada orang lain bahwa kita berpuasa.

Lalu pertanyaan saya: Apakah Nath menjadi Islam karena ia menjalankan ritual puasa seperti kita yang muslim? Pertanyaan ini saya pikir sejajar dengan pertanyaan: Apakah beryoga membuat seseorang menjadi Hindu? (yang saya pernah bahas di blog ini juga). Dan sebagaimana jawaban teman saya yang Hindu (bahwa beryoga tak serta merta membuat manusia menjadi pemeluk Hindu), saya juga bisa jawab bahwa Nath tetap bukan muslim meski ia sudah menjalankan ritual yang tercantum dalam rukun Islam itu. Niat Nath berpuasa lain dengan niat umat muslim berpuasa. Dan meski Nath membahas tentang segi spiritual dalam puasa, spiritualisme itu masih universal, tidak menyempit dalam satu ajaran atau dogma agama tertentu. Hal serupa saya pikir juga berlaku untuk meditasi.

‎Dan secara historis, kita ketahui puasa adalah tradisi banyak masyarakat dan umat dunia. Puasa bukan monopoli umat muslim semata. Manfaatnya yang begitu banyak membuat semua orang justru harus mencobanya. Semua orang, tanpa peduli keyakinan, status ekonomi, asal, gender dan lain-lain. Mereka yang nonmuslim boleh saja berpuasa dengan mempreteli aspek relijiusnya dan hanya fokus pada kesehatan dan spiritualisme universalnya. Tak ada yang bisa melarang untuk itu. Sepakat?

(sumber foto: Purnendu Nath/sumber: buzzfeed)

“Let the Beauty of What You Love Be What You Do”

‎Kata Rumi…

‎Cinta kita pada sesuatu sudah sepatutnya direalisasikan dalam tindakan nyata. Bagi yang bekerja dalam bidang yang disukai, kalimat mutiara ini terasa pas. Tetapi bukan berarti tanpa konsekuensi. Keseimbangan hidup acap kali menjadi tumbal.

Bekerja sebagai seorang reporter membuat saya lebih sadar dengan kesehatan. Bukan sekadar gaya hidup sehat yang hanya berlangsung sesaat dan terlupakan begitu saja saat saya merasa sehat, tetapi menjadi sebuah bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari.

Karena banyak padatnya pekerjaan, menyisihkan waktu untuk berolahraga selama 1-2 jam sungguh menyulitkan bagi saya. Saya pun memilih yoga
dengan alasan mudahnya melakukan yoga di mana saja, kapan saja, jika saya ingin dan membutuhkannya. Tanpa alat khusus dan memakan banyak waktu, yoga memudahkan saya mengendalikan stres dan meningkatkan produktivitas dalam bekerja.

Meski bergelut dengan pekerjaan yang akrab dengan tenggat waktu, saya menghindari kebiasaan bekerja dalam waktu yang terlalu panjang. Hal itu saya mulai dengan berdisiplin dengan jam tidur. Saya merasa lebih segar dengan bangun pagi pukul 5-6 dan tidur sekitar pukul 10-11 malam sesuai dengan irama sirkadian tubuh.

Untuk memulai hari, saya memilih untuk bermeditasi singkat dan melakukan latihan asana sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan
waktu. Saya tidak pernah mewajibkan diri untuk latihan secara militan yang memaksakan diri tetapi lebih memberikan kesempatan bagi pikiran
dan tubuh untuk ‘memilih’. Saat agak lelah, saya tentu akan menyesuaikan dengan mengubah latihan yoga saya menjadi lebih singkat,
lebih lembut dan pelan serta menenangkan tubuh dan pikiran. Dan sebaliknya jika sedang ingin membangkitkan semangat dalam menghadapi
hari yang menantang, saya akan lebih memilih berlatih yoga dengan banyak unsur Yang.

Agar bekerja dengan pikiran yang lebih fokus dan tidak terkantuk-kantuk, buah menjadi pilihan makan pagi saya. Dengan mengkonsumsi buah yang manis dan matang tanpa campuran dan tambahan apapun, tubuh menjadi lebih mudah menyerap nutrisi dan membersihkan diri dari toksin-toksin yang dihasilkan dari metabolisme hari sebelumnya.

Saya merasa beruntung mengenal yoga karena yoga bisa diintegrasikan tanpa mengganggu rutinitas. Yoga dapat melebur dengan mudahnya bahkan saat saya harus menyelesaikan tugas yang mendesak. Untuk mengurangi stres dan menggenjot pruktivitas kerja, alih-alih menyalakan rokok atau minum minuman berenergi, minuman ringan, soda atau kopi secara berlebihan, saya bisa mengandalkan yoga. Hanya dengan duduk tegak dan melakukan latihan pranayama (pernapasan) ringan, saya dapat mengajak pikiran dan tubuh fokus pada napas dan diri untuk meningkatkan
konsentrasi bekerja dan setelah pekerjaan tuntas, meditasi dan berlatihan asana yang menenangkan dapat membuat tidur menjadi lebih nyenyak.

Di sela kesibukan, saya pun lebih memilih memperbanyak konsumsi air putih daripada jenis minuman lain. Saat banyak teman kerja yang
menggunakan wadah minuman yang besar agar tidak perlu banyak berjalan hilir mudik mengambil air minum, saya memilih memakai gelas yang lebih
kecil agar bisa berjalan kaki lebih sering. Minum lebih banyak air putih juga membuat saya bangkit dari kursi kerja lebih sering. Inilah yang membuat tubuh tidak kaku. Di saat yang sama, kita terhindar dari dehidrasi yang kerap tidak terasa karena tubuh tidak merasa haus. Ini banyak terjadi pada mereka yang bekerja di ruangan yang memiliki mesin penyejuk (AC).

Untuk membuat saya selalu ingat bangkit dari kursi dan meregangkan tubuh sejenak, saya sering memakai aplikasi timer Pomodoro yang slot
waktu kerja dan istirahatnya bisa disesuaikan dengan selera dan kebutuhan. Saya mengatur agar satu set-nya sepanjang 30 menit, yang terdiri dari waktu kerja sebanyak 25 menit lalu istirahat 5 menit.

Pun di saat makan, meditasi bisa diterapkan. Saya membiasakan untuk menerapkan konsep “mindful eating” dalam menyantap apapun yang terhidang. Caranya dengan berdoa lalu mengunyah makanan hingga lebih lembut, tidak dalam kondisi pikiran yang tergesa-gesa, tidak banyak bicara, dan tidak menggunakan gawai (gadget) saat makan. Walaupun makan menjadi lebih lambat, cara ini memudahkan saluran cerna untuk memroses makanan dan menyerap nutrisi di dalamnya. Dengan “mindful eating”, makan berlebihan (overeating) dan makan secara emosional
(emotional eating) juga bisa dihindari karena kita akan lebih dapat menyadari jumlah dan jenis makanan yang kita masukkan dalam tubuh.


Bahaya Berolahraga Sampai OD

Berolahraga memang sehat. Jika dilakukan sesuai porsinya, tentu olahraga akan membantu kita mempertahankan kesehatan bagi yang sudah sehat dan meningkatkan kesehatan bagi yang sakit-sakitan.

Bahkan olahraga berlebihan bisa membuat bakteri dalam usus kita ‘bocor’ hingga masuk ke aliran darah. Akibatnya serius: keracunan darah, tulis peneliti sebuah studi. Akan tetapi, berolahraga dengan benar dan sesuai porsi masing-masing orang bisa membantu tuuh kita untuk mencegah hal mengerikan ini terjadi.

“Berolahraga dengan berlebihan biasa kita temui terutama di kalangan penggemar marathon, event ironman triathlon dan ultra marathon. Trennya makin meluas,” terang Dr. Ricardo Costa dari Department of Nutrition and Dietetics di Monash University.
Siapa saja disarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dulu sebelum mengikuti event pertandingan semacam itu dan melakukan latihan dengan bertahap daripada melakukan latihan berlebihan dan tidak terukur dalam waktu yang terlalu singkat.”
Dua penelitian yang dilakukan para peneliti di Monash University menunjukkan bahwa berlatih dalam jangka panjang dan progresif atau bertahap bisa mencegah tubuh mengalami sepsis (kebocoran bakteri di usus ke aliran darah) karena berolahraga terlalu intens.

Costa mengatakan hampir semua partisipan studinya menunjukkan bukti sepsis saat uji darah dilakukan sebelum event perlombaan dibandingkan dengan setelah perlombaan. Akan tetapi, tubuh mereka yang melakukan diet seimbang dan latihan bertahap menunjukkan mekanisme kekebalan yang memadai dalam mencegah efek samping apapun yang mungkin muncul dalam berlatih berat.

Inilah mengapa perlu ada waktu jeda untuk rehat. Berolahraga gila-gilaan setiap hari mungkin adalah kegilaan tersendiri yang mengundang sakit yang justru ingin dijauhi. Jadi, dengar badan sendiri agar tidak overdosis. Ingat, yang baik kalaupun berlebihan akan menjadi tidak baik juga.

Only Churnalists — Not Journalists — will Get Replaced by Robots

Of all jobs, there are 8 that digital media futurist Amy Webb predicted would eventually vanish at some point in the future: toll booth operators and cashiers, marketers, customers, factory workers, financial middle men, journalists, lawyers, and phone workers.

I frowned and continued reading on. This might be a joke. Utter disbelief.

Webb argued journalists will be wiped out as the new technology could replace their functions as news gatherers. Webb, who used to work as a journalist at Newsweek and The Wall Street Journal, stated:”[…] the next culprit will be algorithms that allow news outlets to
automatically create stories and place them on websites without human interaction. Robot journalists (fedora optional) are already writing thousands of articles a quarter at The Associated Press.”

That, if it really happens, will be a calamity for us journalists.

But what we can do to prevent this from happening to us?

No worries. For versatile, professional and competent journalists, being fired and getting replaced by algorithms certainly never happens. Obviously algorithms have no creativity a human journalist has.

So be as indispensable as you can be, journos! Or else, you’ll perish.

Orang Optimis Umumnya Sering Terlambat. Tunggu Dulu, Bung!

‎”Nah, apa kubilang? Bosku yang gila ketepatan waktu itu tidak percaya sih!” Mungkin begitu gumam Anda yang kerap tergopoh-gopoh dengan rambut semrawut dan muka berminyak, masuk kantor setiap hari di menit-menit terakhir saat membaca temuan studi ilmiah yang memvonis orang yang sering terlambat umumnya berkepribadian optimis (baca: http://elitedaily.com/life/culture/optimistic-people-have-one-thing-common-always-late/1097735/). Mereka — orang-orang yang sering terlambat itu — mirip seorang pemain baseball yang lari kesetanan ke base tujuan. Lalu lega setengah hidup begitu kartu sakti itu membuat alat pemindai presensi berbunyi. “Yesss! Uang makan utuh” atau “Alhamdulillah ya Allah, jatah cuti — yang sejak tahun lalu sudah minus itu — tidak dipotong!”

Trenyuh…

Jangan tersinggung. Karena sejatinya saya juga kadang demikian. Tetapi untungnya, saya tinggal di dekat kantor, jadi kelincahan saya bergerak yang dipadu dengan jarak yang dekat cukup membantu memangkas waktu tempuh saban pagi.

Satu waktu saya pernah membaca hasil survei lain juga. Survei itu tentang kaitan kepribadian optimis-pesimis dan lama hidup seseorang. Saya lupa sumbernya tetapi saya masih ingat hasilnya begini: orang optimis justru berumur lebih pendek dari yang pesimis. Apa pasal? Betul, memang sifat ceria dan periang (easy going) membuat kita lebih bisa menikmati hidup tetapi pembawaan itu juga bisa membuat kita abai terhadap aturan, kaidah serta konvensi tak tertulis yang membuat kita terhindar dari hal-hal buruk yang mempercepat kematian. Ingat saat Anda menganggap kebiasaan makan hidangan Padang secara liberal itu sebagai permakluman dan salah satu cara menikmati hidup yang tidak bisa ditinggalkan bagaimanapun juga? Nah! Itu hanya satu contoh. Kadang sifat optimis yang mendorong kita lebih berani dan riang itu bisa juga menyeret kita ke kondisi yang tidak pernah kita inginkan. Kalau Anda terlambat untuk masalah pribadi atau keluarga, silakan saja. Namun, saat Anda terlambat untuk urusan yang lebih luas dari sekadar menjemput pacar atau keluarga, seperti dalam pertemuan bisnis atau wawancara kerja, bukan Anda saja tetapi perusahaan tempat Anda bekerja juga yang akan dirugikan. Logis bukan? Intinya, dampak keterlambatan itu lebih luas dan serius di tempat kerja.

Sementara itu, studi yang membela mereka yang kerap terlambat itu menyimpulkan begini:
“Mereka yang terus menerus terlambat sebenarnya hanya lebih optimis. Mereka yakin bisa mengerjakan lebih banyak tugas dalam waktu yang terbatas daripada mereka orang lain (yang tepat waktu?) dan lebih baik saat mengerjakan lebih dari satu tugas secara bersamaan (multitasking). Sederhananya, mereka yang terlambat pada dasarnya penuh optimisme.”

OMONG KOSONG...

Kenyataannya, orang yang terlambat kurang bisa mempertanggungjawabkan hasil kerjanya. Mereka tahu waktu mereka lebih sedikit, dan secara psikologis dan mental, mereka lebih lelah dengan reli yang menegangkan di perjalanan menuju kantor atau di lift yang tak kunjung membuka sampai rasanya ingin memaki-maki tanpa kendali. Alhasil, kualitas kerja orang-orang yang terlambat dipertanyakan. Kalaupun target kualitas tercapai, patut dicermati kualitasnya.

Dan yang lebih parah, orang-orang yang terlambat lebih cenderung lihai menemukan trik licik untuk mengakali sistem dan aturan yang ada. Semua daya upaya mereka kerahkan untuk menutupi ketimpangan produktivitas akibat berkurangnya jatah waktu kerja. Berbagai dalih pun disiapkan. “Ya tidak apa-apa kan terlambat sedikit, toh sama-sama selesainya segitu. Yang penting tetap produktif.” Alasan klasik. Susunan kata bisa berubah-ubah tetapi esensinya konstan. Waspadalah. Dan lebih waspada lagi bila pemikiran permisif seperti itu terbersit dalam benak kita. Itu artinya musuh kita lebih berat: diri kita sendiri.

Lalu argumen pembelaan orang-orang terlambat dalam studi itu berlanjut:
“Mereka yang sering terlambat ialah para pemikir besar, […] tidak mencemaskan hal remeh, lebih berkonsentrasi pada gambaran besar dan memandang masa depan sebagai suatu kumpulan kemungkinan yang tak terbatas.”

‎Nah, tidak semua orang harus berpikir begitu besar dalam merampungkan pekerjaannya. Orang-orang semacam ini — yang suka melihat gambaran besar di permukaan daripada detil di dasar — lebih cocok berada di jajaran eksekutif top. Kalau cuma di level manajer, staf apalagi magang sudah mengabaikan ketepatan waktu, hancurlah perusahaan. Bukan berarti mereka ini tak harus berpikir dalam bekerja. Tentu harus, tetapi jenis pemikiran itu berbeda. Tidak seluas dan sebesar yang dibutuhkan dalam tugas seorang CEO, katakanlah.

Dan terakhir, temuan studi itu menyatakan “orang dengan kecenderungan terlambat sering menikmati keindahan-keindahan kecil yang diremehkan orang lain. Hidup tidak cuma dimaksudkan sebagai susunan rencana detil. Terlalu terikat pada jadwal membuat kita tak bisa menikmati masa kini.”

Tentu saya juga ingin menikmati setiap saat dalam hidup bahkan saat di kantor. Tetapi toh itu bukan berarti saya harus bersantai terlalu lama apalagi saat banyak pekerjaan saya masih belum selesai! Bagaimanapun juga saat di kantor, prioritaskan pekerjaan dulu agar cepat selesai. Menundanya berarti menumpuk dan menumpuk beban kerja artinya inefisiensi kerja. Jika ingin menikmati momen-momen ‘kekinian’, ada begitu banyak tempat selain kantor yang lebih menyenangkan.

Dan satu lagi, saat kita terlambat, kita cenderung tergesa-gesa. Dan saat tergesa-gesa, banyak hal yang bisa membuat celaka. Itulah mengapa dalam ajaran Islam‎, melakukan apapun dengan tergesa-gesa tidak disarankan. Karena setan bersama orang yang tergesa-gesa. Anda berlarian, ke sana kemari, lalu sadar di tengah jalan, lupa barang ini atau itu.

Percayalah, terlambat itu tidak seindah dan seoptimis bayangan Anda.

Dan tak lupa, ucapkan terima kasih pada bos Anda yang terobsesi ketepatan waktu itu. Anda beruntung memilikinya. Karena tak semua atasan peduli pada ketepatan waktu. ‎Meski itu membuat bisnisnya kocar-kacir bak kaca dilempar batu.

Rasa Syukur Pelancong Mujur

PEMANDANGAN, ORANG-ORANG, makanan, buah tangan khas. Semua itu biasanya dianggap sebagai hal-hal paling diingat dalam melakukan sebuah perjalanan.

Namun, itu semua sia-sia belaka tanpa pengalaman yang positif dan membekas.

Seringkali orang menganggap enteng kelancaran sebuah perjalanan yang dibangun dari berbagai macam unsur ‘remeh-temeh’ yang jika dipikir kembali sangat menentukan kenyamanan dan kelancaran perjalanan kita berwisata.

Saya kini lebih menghargai hal-hal ‘kecil’ yang kerap terlewatkan untuk disyukuri karena saya pernah melalui kondisi yang penuh kepayahan sebelumnya. Mungkin tidak sepayah yang Anda bayangkan tetapi tetap saja ini sebuah pelajaran.

Di Shenzhen, saya pernah tersesat. Memang tidak sampai berakibat serius seperti tertinggal rombongan sehingga jadwal perjalanan kami porak poranda tetapi dampaknya tetap traumatis juga pada saya. Saya jadi tidak lagi menikmati perjalanan sebagaimana mestinya karena merasa bersalah sudah membuat pemandu tur kami pontang-panting mencari.

Pelajaran ditambah lagi dengan adanya kasus kehilangan paspor di dalam rombongan kami, yang saya curigai juga terjadi karena paspor yang disimpan di bus itu dicuri oleh pihak tidak bertanggung jawab (padahal seharusnya aman karena dijaga sopir bus). Mudah saja untuk
mengatakan,”Untung bukan paspor saya” tetapi kami berada dalam rombongan yang masuk bersama ke negara itu dengan satu surat izin. Bila satu orang kehilangan paspor, ada risiko kami semua tertahan juga di sana bersamanya. Nah, masalah satu orang pun menjadi masalah bersama akhirnya.

Pengalaman naas yang penuh pelajaran itu pada gilirannya membuat saya sebagai pelancong lebih menghargai aspek keamanan suatu tujuan wisata. Sungguh, melancong dengan tercekam kriminalitas dan dampak hukumnya berakibat destruktif pada jiwa. Alih-alih mendapatkan penyegaran setelah rekreasi, malah menjadi trauma dan stres.

Keamanan seolah menjadi fondasi bagi pariwisata. Apalah artinya pemandangan memukau, orang-orang yang ramah, makanan lezat nan murah serta oleh-oleh berlimpah bila intaian kaum kriminal ada di setiap sudut tempat yang dikunjungi?

Saya kembali teringat saat berada di Saigon. Kami mengunjungi sebuah kapal pesiar mungil yang tertambat di pelabuhan lokal. Di atas sana, suasana riuh rendah percakapan orang-orang sambil bersantap malam dan pertunjukan musik bercampur seperti dengungan lebah.

Hidangan diantar satu persatu. Kompor mini dengan satu panci berisi ikan matang dibawa ke meja kami. Dan kami pun berpesta pora. Makan ini itu.

Saya ikut larut hingga lupa. Tepukan tangan di bahu saya membuat saya tercekat,”Is this yours?”

Seorang awak kapal pesiar yang berseragam serba putih itu mengulurkan tangannya yang membawa sebuah dompet. Saya terhenyak sejenak. Saya raba kantong celana belakang. Tak ada!

Saya ucapkan terima kasih — yang mungkin sangat tidak setimpal dengan kesusahpayahan yang ia berhasil singkirkan untuk saya jika kehilangan dompet — dan sang awak berlalu untuk kembali menunaikan tugasnya melayani orang-orang yang terus berdatangan ke atas kapal.

Rupanya dompet saya jatuh saat saya duduk di kursi dan suasana yang ramai tidak membuat saya sadar.

Saya tercenung; perasaan lega karena kejujuran awak kapal tadi membuat saya yakin — inilah puncak pengalaman saya melancong di Vietnam.

%d bloggers like this: