Alasan Ilmiah Kenapa Beryoga di Taman Lebih Baik bagi Kesehatan Mental

Beryoga di ruangan tertutup berpendingin udara dan tenang atau di taman yang rindang yang agak gerah dan lebih riuh? Jika Anda bertanya pada saya, saya akan lebih memilih di taman. Mengapa? Alasan saya mudah saja, karena saya sudah berada di ruangan berpendingin udara 8 jam sehari, 5 hari seminggu. Mungkin lebih! Dan apa bedanya beryoga di tempat yang terasa mirip tempat kerja? Secara psikologis, udara dingin buatan itu membuat pikiran, tubuh dan jiwa saya agak tertekan. Saya ingin beryoga dengan suasana yang jauh berbeda dengan ruangan kantor. Saya ingin berkeringat, bermandikan peluh di bawah timpaan cahaya matahari pagi (bukan menggigil kedinginan karena terpaan AC), menghirup udara dengan pasokan zat asam dari pepohonan di sekitar saya (bukan menarik napas dengan udara dari saringan mesin), mendengar orang berbicara tentang hal sehari-hari (bukan urusan pekerjaan).

Argumentasi saya itu memang tampah rapuh secara ilmiah karena saya cuma mengajukan pembenaran naluriah nan subjektif belaka.

Namun, sebuah penelitian ilmiah bisa saya katakan menjadi pendukung pilihan saya beryoga di taman seperti yang selama ini saya lakukan di Taman Suropati.

Temuan studi yang saya maksud itu menyatakan bahwa bukti yang dapat diukur telah ditemukan, yang mendukung manfaat bercengkerama di alam terbuka dalam menjaga kesehatan mental kita. Dikatakan bahwa berjalan-jalan di alam bebas membuat kita memiliki risiko lebih rendah menderita depresi. Mungkin inilah yang harus Anda lakukan mulai saat ini begitu stres melanda. Alih-alih bergelut dengan gawai (gadget) lagi setelah kerja, atau berjalan-jalan di mall, mengapa tidak mengobrol dan berjalan santai atau beryoga di taman?!

Lebih rinci, dijelaskan bahwa mereka yang berjalan selama 90 menit di area terbuka nan alami (bukan area perkotaan penuh dinding beton dan bersuasana hiruk pikuk) menunjukkan penurunan aktivitas di area otak yang berkaitan dengan faktor utama dalam depresi.

Jelas peneliti sekaligus profesor ilmu lingkungan Gretchen Daily dari Stanford Woods Institute for the Environment,”Hasil ini menyiratkan bahwa berada di area alami penting bagi kesehatan mental dalam dunia yang makin modern ini.”

Daily ingin agar penelitian itu bisa mendorong masyarakat dunia untuk membuat kota-kota menjadi lebih layak huni (livable) dan membuat alam lebih mudah diakses bagi siapa saja yang tinggal terutama di kawasan perkotaan yang sumpek.

Inilah kenapa Jakarta dan kota-kota kita harus punya bukan cuma ruang terbuka hijau tetapi juga hutan kota! Hutan kota yang sejati, bukan ‘pulau-pulau’ berupa taman mungil yang tak terakses dan tak boleh diinjak rumputnya di tengah dua lajur jalan raya!

Sementara pemerintah berupaya memperluas taman-taman kita, mari kita sendiri meningkatkan kepedulian pada taman yang sudah ada. ‎Isilah taman dengan aktivitas-aktivitas positif, seperti beryoga dengan komunitas Yoga Gembira di Taman Suropati tiap Minggu pagi!

Leave a comment

Filed under health, yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s