Apakah Beryoga Membuat Seseorang Menjadi Hindu?

Selang beberapa hari dari gegap gempita perayaan hari yoga sedunia beberapa waktu lalu, pertanyaan tersebut tiba-tiba terlontar dalam benak saya setelah sebuah akun Twitter mengklaim bahwa seseorang yang melakukan yoga secara sadar atau tidak berubah keyakinan menjadi Hindu. Dengan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang belum sepenuhnya dipahami dengan baik bahkan oleh sebagian kaum muslim sendiri, munculnya klaim semacam ini terasa makin ‘memperkeruh’ pandangan banyak orang terhadap yoga. Akibatnya, antipati terhadap yoga juga tidak hanya muncul dalam diri kaum muslim, mereka yang beragama Kristen atau Katholik juga ada sebagian yang menolak melakukan yoga karena alasan berisiko mencemari keyakinan mereka. Dalam suatu berita mancanegara yang pernah saya baca, sebuah gereja melarang jemaatnya melakukan yoga. Dan jangan keliru; reaksi penolakan itu tidak hanya terjadi Indonesia tetapi juga terjadi di Amerika Serikat — tempat yang menjadi berkembangnya yoga secara komersial untuk pertama kalinya di dunia — dan di India sendiri sebagai tempat riwayat yoga bermula.

Penasaran dengan pendapat teman-teman saya yang sudah sekian lama menekuni yoga dan beragama Hindu (saya menghindari bertanya pada mereka yang baru saja berlatih yoga asana agar tidak terjadi spekulasi dan ‘kacau pikir’), saya meneruskan pertanyaan tadi pada mereka.

Seseorang dari mereka menerangkan bahwa klaim seperti itu tidak beralasan. “Mereka (admin di balik akun Twitter tersebut – pen) tidak memahami sama sekali Hindu. Dalam ajaran Hindu sendiri, yoga sebenarnya tidak ada. Hanya saja disebutkan adanya banyak jalan praktik spiritual di sepanjang sungai Hindus dan Gangga. Salah satu sekolah spiritual itu bernama yoga,” terang seorang teman beragama Hindu dengan panjang lebar. Ia mencontohkan lagi, dalam keyakinan Hindu aliran Vedanta yang ia sendiri yakini dan pelajari, yoga memang disarankan sebagai praktiknya. Dalam pemahamannya, esensi yoga ialah semua aktivitas yang mengolah tubuh, pikiran dan jiwa. “Jadi, membatasi yoga sebagai Hindu atau bukan Hindu malah membatasi keluasan dari ajaran yoga itu sendiri. Tidak ada batas untuk yoga karena tidak ada batas itulah sehingga tidak ada pintu masuk dan pintu keluar dari yoga,” ungkapnya. Intinya, yoga bertebaran di mana-mana. Ia memang ada dalam salah satu jalan praktik spiritual Hindu tetapi bukan berarti ia milik umat Hindu semata. Sifatnya yang universal melintasi batas-batas keyakinan dan budaya. Contoh analogis yang sama mungkin ialah sistem ekonomi syariah, yang di dalamnya semua orang — tak peduli
keyakinannya — bisa masuk dan ikut serta dan menuai manfaatnya tappa mesti mengucapkan kalimat syahadat dan masuk Islam. “Biarlah semua orang menemukan manfaat yoga sendiri tanpa harus membawa embel-embel keyakinan apapun,” tegas teman saya itu.

Sahabat lainnya yang menganut Hindu juga menampik anggapan akun Twitter tersebut. “Tidaklah. Tidak segampang itu (berlatih yoga asana lalu otomatis menjadi Hindu – pen),” jawabnya. Ia mengambil taichi sebagai contoh. “Apakah dengan begitu saya menjadi (penganut) Buddha atau Shinto?” Di semua agama, lanjutnya, pasti ada golongan yang garis keras. Mungkin ini salah satu pemikiran mereka, cetusnya.

Seorang teman lain yang muslim dan berlatih yoga asana juga
mengamininya. “Yah itu mah orang yang pemikirannya sempit,” tegas teman yang berhijab itu pada saya. Mungkin banyak pengajar yoga yang sebelum beryoga (asana) mereka mengucapkan mantra (chanting), tetapi ia mengaku “tidak merasa berubah menjadi Hindu.”

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s