Merintis Wadah Resmi Para Pelaku Yoga Nusantara

‎USAI BERYOGA PETANG itu, pertemuan pertama digelar. Sabtu yang sungguh ramai di tempat-tempat makan. Tepat tanggal empat. Pemandangan penuh kerumunan orang menunggu azan maghrib, yang khas saat bulan Ramadhan. Tampak tujuh orang berkumpul di tengah hingar bingar orang berbuka puasa. Saya termasuk di antaranya. Agenda kami bukan hanya bersantap bersama di penghujung ibadah puasa hari itu tetapi juga membicarakan sesuatu yang bersejarah bagi perkembangan yoga di Indonesia.

Untuk pertama kalinya, kami — para praktisi‎, pegiat, peminat dan pencicip yoga di tanah air — akan segera memiliki sebuah organisasi resmi yang akan diakui pemerintah Republik Indonesia. Namanya AYSI, demikian usul Slamet Riyanto yang sudah dikenal dengan reputasinya sebagai guru yoga kenamaan. Kami berenam lainnya yang hadir di meja itu mengamini, setuju untuk menamai ‘jabang bayi’ ini dengan Asosiasi Yoga Seluruh Indonesia.

AYSI akan segera didirikan dan disahkan secara hukum sehingga akan benar-benar legal dan memiliki kekuatan dan posisi yang solid sebagai tempat bernaung para pelaku yoga di Indonesia. Master, panggilan akrab Slamet, menyampaikan pada kami betapa ini sudah begitu mendesak. Kapan lagi kalau bukan sekarang? Apalagi yoga di Indonesia sudah begitu lama dirintis, bahkan sekarang menyebar ke mana-mana tetapi masi‎h juga belum memiliki organisasi resmi yang diakui pemerintah, terang Master.

Yudhi Widdyantoro yang menggagas Komunitas Yoga Gembira menimpali urgensi pendirian AYSI ini. Ia juga sudah memikirkan bagaimana menyejahterakan kehidupan para “pengecer jasa yoga”, istilah yang ia gunakan untuk menyebut para guru dan instruktur yoga yang bekerja secara lepas seperti dirinya. Dorongan itu makin menjadi-jadi begitu Yudhi merasa trenyuh menyaksikan seorang rekan yang sempat kehilangan sumber pencaharian karena sakit berbulan-bulan. Ia ingin ada semacam jaring pengaman sosial bagi para guru dan instruktur yoga itu.

AYSI akan berhubungan langsung dengan Kemenpora sebagai kepanjangan tangan pemerintah RI dalam bidang olahraga.

Dengan panjang lebar, Yudhi juga menjelaskan pandangan dan landasan pemikirannya dalam pendirian AYSI dalam sebuah pesan WhatsApp yang saya salin rekat (copy paste) apa adanya:

‎”Utk asosiasi AYSI ini…

Gagasan Yoga Indonesia atau Yoga Nusantara bukanlah baru, seperti yg saya ikuti teman2 aktivis yg mempromosikan dialog antariman, seperti kemarin ada isu Islam Nusantara yg mencuat krn adanya kelompok Islam radikal medel ISIS atau ormas model FPI yg tindakannya destruktif, bahkan membunuh walau membawa nama agama.. Mereka menafsirkan kebenaran secara absolut, menurut interpretasi mereka sendiri. ISIS tidak segan membunuh atau mengkafirkan orang lain walau beragsma sama hanya saja berbeda dan bukan bagian dari mereka. Saya juga ingat senior saya Nurcholish Madjid atau Gus Dur yg pernah memperkenalkan ustilah “pribumiisasi Islam”… Selain itu memang sudah lama ada ungkapan bahasa Perancis “Rien de nuveau sous le Soleil”, tidak ada yg baru di bawah matahari.. Seiring dgn seperti yg mas Setyo Jojo bilang dari tinjauan historis ttg evolusi dan perkembangan yoga yg dinamis, yoga yang kita praktekkan di hari-hari ini tentu berbeda dgn ketika Svatmarama di abad ke-13 yg kuantitas asananya hanya tidak tidak lebih dari 20 poses, dan juga beda dgn waktu Krhrsnamacharya mengajar anaknya srndiri TKV Desikachar berbarengan dgn Pathabhi Jois dan BKS Iyengar… Kemudian saya melihat kenyataan perkembangan yoga kontemporer di tanah air Indonesia ini… Adalah timbulnya kecintaan berlebih pada tradisi/style juga pada guru2-nya yang dipraktekkan oleh masing2 praktisi yang mendekati pada kultus individi dan pemberhalaan, seperti pemberhalaan pada sertifikasi. Berhala ternya bukan hanya berbentuk patung. Sampai disini bagi saya oke saja, itu urusan batin tiap orang, tapi ketika adanya claim dan sepertinya mau mengatakan bahwa yg paling benar, paling oke adalah yang seperti mereka praktekkan, yang dari tradisi si yogi berasal sambil mengatajan “salah” pada yang lain saya jadi khawatir taman yoga Nusantara dimasuki paham seperti ISIS atau FPI itu dan ini membuat saya perlu jeda sejenak sambil perlu memikirkan tanggung jawab masyarakat yoga menghasilkan publik yang kritis. Bahwa yoga sekarang sudah menjadi industri dan bahwa industri ukurannya adalah investasi dan akuntansi, tak boleh diajukan sebagai keterangan konvensional untuk mengurangi fungsi historis, kesejarahan perkembangan yoga tadi. Di masyarakat Yoga Indonesia, atau Yoga Nusantara ini perlu terus diupayakan menjadi wilayah dinamis yang tidak boleh dihuni oleh satu pandangan absolutis. Wilayah yang bebas doktrin yang keberadaannya menjamin berlangsungnya yoga, apa pun style atau tradisi, seberapa pun cemennya, walaupun abal-abal-nya, dimana pun di seluruh wilayah Indonesia tercinta ini…

Untuk tahap awal saya mengidekan AYSI ini menjadi wadah paguyuban, forum komunikasi antarpraktisi untuk meningkatkan persaudaraan dan kesejahteraan yogi dan yogini yg bergabung, bukan badan untuk penentu segregasi atau eliminasi, penegak kedisiplinan seperti MUI..
‎Yup.setuju.buat diIndonesia kita .beryoga dg Pengantar Bahasa Indonesia. Dg kearifan lokal , tapi paling tidak seorang pengajar yoga di Indonesia harus melalui tahap – tahap dan jenjang serta proses juga , nda musti RYT juga.”

Yudhi juga menekankan untuk lebih berpikiran terbuka, tidak melulu terkungkung pakem yoga dari negeri asalnya India. Soal alignment yang diutamakan dalam sejumlah aliran yoga modern misalnya, ia berkomentar‎ santai:”…(J)angan juga ‘alignment’ jadi berhala selain ‘RYT 200 jam IYA’…yg kalo gak align, yg kalo gak RYT itu yoganya gak oke… hehe.”

Master Slamet menandaskan,”Yup.setuju.buat di Indonesia kita. beryoga dg Pengantar Bahasa Indonesia. Dg kearifan lokal , tapi paling tidak seorang pengajar yoga di Indonesia harus melalui tahap – tahap dan jenjang serta proses juga , nda musti RYT juga.”

Lalu, meski absen dalam pertemuan perdana tadi, Setyo Jojo yang dikenal sebagai admin laman Facebook Yoga Indonesia itu ‎tidak ketinggalan dengan sumbangannya berupa usulan logo AYSI. Manakah yang menurut Anda paling cocok?

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s