Orang Optimis Umumnya Sering Terlambat. Tunggu Dulu, Bung!

‎”Nah, apa kubilang? Bosku yang gila ketepatan waktu itu tidak percaya sih!” Mungkin begitu gumam Anda yang kerap tergopoh-gopoh dengan rambut semrawut dan muka berminyak, masuk kantor setiap hari di menit-menit terakhir saat membaca temuan studi ilmiah yang memvonis orang yang sering terlambat umumnya berkepribadian optimis (baca: http://elitedaily.com/life/culture/optimistic-people-have-one-thing-common-always-late/1097735/). Mereka — orang-orang yang sering terlambat itu — mirip seorang pemain baseball yang lari kesetanan ke base tujuan. Lalu lega setengah hidup begitu kartu sakti itu membuat alat pemindai presensi berbunyi. “Yesss! Uang makan utuh” atau “Alhamdulillah ya Allah, jatah cuti — yang sejak tahun lalu sudah minus itu — tidak dipotong!”

Trenyuh…

Jangan tersinggung. Karena sejatinya saya juga kadang demikian. Tetapi untungnya, saya tinggal di dekat kantor, jadi kelincahan saya bergerak yang dipadu dengan jarak yang dekat cukup membantu memangkas waktu tempuh saban pagi.

Satu waktu saya pernah membaca hasil survei lain juga. Survei itu tentang kaitan kepribadian optimis-pesimis dan lama hidup seseorang. Saya lupa sumbernya tetapi saya masih ingat hasilnya begini: orang optimis justru berumur lebih pendek dari yang pesimis. Apa pasal? Betul, memang sifat ceria dan periang (easy going) membuat kita lebih bisa menikmati hidup tetapi pembawaan itu juga bisa membuat kita abai terhadap aturan, kaidah serta konvensi tak tertulis yang membuat kita terhindar dari hal-hal buruk yang mempercepat kematian. Ingat saat Anda menganggap kebiasaan makan hidangan Padang secara liberal itu sebagai permakluman dan salah satu cara menikmati hidup yang tidak bisa ditinggalkan bagaimanapun juga? Nah! Itu hanya satu contoh. Kadang sifat optimis yang mendorong kita lebih berani dan riang itu bisa juga menyeret kita ke kondisi yang tidak pernah kita inginkan. Kalau Anda terlambat untuk masalah pribadi atau keluarga, silakan saja. Namun, saat Anda terlambat untuk urusan yang lebih luas dari sekadar menjemput pacar atau keluarga, seperti dalam pertemuan bisnis atau wawancara kerja, bukan Anda saja tetapi perusahaan tempat Anda bekerja juga yang akan dirugikan. Logis bukan? Intinya, dampak keterlambatan itu lebih luas dan serius di tempat kerja.

Sementara itu, studi yang membela mereka yang kerap terlambat itu menyimpulkan begini:
“Mereka yang terus menerus terlambat sebenarnya hanya lebih optimis. Mereka yakin bisa mengerjakan lebih banyak tugas dalam waktu yang terbatas daripada mereka orang lain (yang tepat waktu?) dan lebih baik saat mengerjakan lebih dari satu tugas secara bersamaan (multitasking). Sederhananya, mereka yang terlambat pada dasarnya penuh optimisme.”

OMONG KOSONG...

Kenyataannya, orang yang terlambat kurang bisa mempertanggungjawabkan hasil kerjanya. Mereka tahu waktu mereka lebih sedikit, dan secara psikologis dan mental, mereka lebih lelah dengan reli yang menegangkan di perjalanan menuju kantor atau di lift yang tak kunjung membuka sampai rasanya ingin memaki-maki tanpa kendali. Alhasil, kualitas kerja orang-orang yang terlambat dipertanyakan. Kalaupun target kualitas tercapai, patut dicermati kualitasnya.

Dan yang lebih parah, orang-orang yang terlambat lebih cenderung lihai menemukan trik licik untuk mengakali sistem dan aturan yang ada. Semua daya upaya mereka kerahkan untuk menutupi ketimpangan produktivitas akibat berkurangnya jatah waktu kerja. Berbagai dalih pun disiapkan. “Ya tidak apa-apa kan terlambat sedikit, toh sama-sama selesainya segitu. Yang penting tetap produktif.” Alasan klasik. Susunan kata bisa berubah-ubah tetapi esensinya konstan. Waspadalah. Dan lebih waspada lagi bila pemikiran permisif seperti itu terbersit dalam benak kita. Itu artinya musuh kita lebih berat: diri kita sendiri.

Lalu argumen pembelaan orang-orang terlambat dalam studi itu berlanjut:
“Mereka yang sering terlambat ialah para pemikir besar, […] tidak mencemaskan hal remeh, lebih berkonsentrasi pada gambaran besar dan memandang masa depan sebagai suatu kumpulan kemungkinan yang tak terbatas.”

‎Nah, tidak semua orang harus berpikir begitu besar dalam merampungkan pekerjaannya. Orang-orang semacam ini — yang suka melihat gambaran besar di permukaan daripada detil di dasar — lebih cocok berada di jajaran eksekutif top. Kalau cuma di level manajer, staf apalagi magang sudah mengabaikan ketepatan waktu, hancurlah perusahaan. Bukan berarti mereka ini tak harus berpikir dalam bekerja. Tentu harus, tetapi jenis pemikiran itu berbeda. Tidak seluas dan sebesar yang dibutuhkan dalam tugas seorang CEO, katakanlah.

Dan terakhir, temuan studi itu menyatakan “orang dengan kecenderungan terlambat sering menikmati keindahan-keindahan kecil yang diremehkan orang lain. Hidup tidak cuma dimaksudkan sebagai susunan rencana detil. Terlalu terikat pada jadwal membuat kita tak bisa menikmati masa kini.”

Tentu saya juga ingin menikmati setiap saat dalam hidup bahkan saat di kantor. Tetapi toh itu bukan berarti saya harus bersantai terlalu lama apalagi saat banyak pekerjaan saya masih belum selesai! Bagaimanapun juga saat di kantor, prioritaskan pekerjaan dulu agar cepat selesai. Menundanya berarti menumpuk dan menumpuk beban kerja artinya inefisiensi kerja. Jika ingin menikmati momen-momen ‘kekinian’, ada begitu banyak tempat selain kantor yang lebih menyenangkan.

Dan satu lagi, saat kita terlambat, kita cenderung tergesa-gesa. Dan saat tergesa-gesa, banyak hal yang bisa membuat celaka. Itulah mengapa dalam ajaran Islam‎, melakukan apapun dengan tergesa-gesa tidak disarankan. Karena setan bersama orang yang tergesa-gesa. Anda berlarian, ke sana kemari, lalu sadar di tengah jalan, lupa barang ini atau itu.

Percayalah, terlambat itu tidak seindah dan seoptimis bayangan Anda.

Dan tak lupa, ucapkan terima kasih pada bos Anda yang terobsesi ketepatan waktu itu. Anda beruntung memilikinya. Karena tak semua atasan peduli pada ketepatan waktu. ‎Meski itu membuat bisnisnya kocar-kacir bak kaca dilempar batu.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s