Mengapa Pria Hindu Ini Ikut Berpuasa Ramadhan Selama 24 Tahun Terakhir

‎MUNGKIN INI TAMPARAN TERBESAR bagi pemeluk Islam yang benci ibadah puasa, malas-malasan saat puasa atau orang yang mengaku Islam di KTP-nya tetapi tidak berpuasa dengan alasan kerja fisik yang berat di pagi hingga sore hari. Seorang pria bernama Purnendu Nath yang notabene bukan pemeluk Islam itu mengaku menjalankan ibadah puasa layaknya umat muslim selama Ramadhan. Dan selama puasa, ia bukannya tidur seharian atau bermalas-malasan. Ia menjalankan aktivitas hariannya termasuk olahraga sebagaimana biasa saat berpuasa seharian.

Semua berawal dari eksperimennya untuk mencoba berpuasa saat kuliah setelah menyaksikan sang teman kuliah di University of Cambridge. Ibadah puasa yang dilaksanakannya dengan teman yang Melayu Islam itu ia katakan sebagai “pengalaman yang ia anggap mengubah caranya menghadapi banyak aspek kehidupan.”

Sebagai penggemar olahraga, Nath tidak merasa harus mengurangi takarannya berlatih selama puasa. Buktinya ia masih berlari marathon, berolahraga di pusat kebugaran dan lari lintas alam selama berpantang makan dan minum.

“Saya lari tanpa ada yang menyadari saya berpuasa,”kata pria 46 tahun itu lagi.

Nath menjelaskan ia terbiasa berlari jarak jauh atau ke pusat kebugaran setelah berbuka puasa dan bahkan langsung menyelesaikan 30 km dalam sekali lari. Dalam beberapa tahun terakhir, Nath sudah berlari hampir 12 km atau angkat beban selama puasa.

Saat ditanya mengapa ia melakukan semua itu, Nath menjawab:”Karena saya menikmati pengalaman ini – sebuah kesadaran akan Tuhan.”

Orang-orang di sekitar Nath memberikan beragam tanggapan atas apa yang ia lakukan. Ada yang mengaguminya, sebagaimana anak-anaknya yang merasa mendapat teladan dalam menjaga kesehatan jiwa dan raga. Yang lain menganggap Nath hanya tergila-gila sesaat tetapi terbungkam begitu Nath berpuasa sebulan penuh secara konsisten selama 24 tahun. Nath juga tidak memaksakan orang lain menirunya. Uniknya, ia mengaku sebagian besar orang di sekitarnya tidak tahu bahwa ia berpuasa hingga baru-baru ini. Tentu saja, berpuasa adalah bentuk ibadah yang amat personal. Cuma Tuhan dan kita yang tahu. Kecuali kita sengaja memberitahukan pada orang lain bahwa kita berpuasa.

Lalu pertanyaan saya: Apakah Nath menjadi Islam karena ia menjalankan ritual puasa seperti kita yang muslim? Pertanyaan ini saya pikir sejajar dengan pertanyaan: Apakah beryoga membuat seseorang menjadi Hindu? (yang saya pernah bahas di blog ini juga). Dan sebagaimana jawaban teman saya yang Hindu (bahwa beryoga tak serta merta membuat manusia menjadi pemeluk Hindu), saya juga bisa jawab bahwa Nath tetap bukan muslim meski ia sudah menjalankan ritual yang tercantum dalam rukun Islam itu. Niat Nath berpuasa lain dengan niat umat muslim berpuasa. Dan meski Nath membahas tentang segi spiritual dalam puasa, spiritualisme itu masih universal, tidak menyempit dalam satu ajaran atau dogma agama tertentu. Hal serupa saya pikir juga berlaku untuk meditasi.

‎Dan secara historis, kita ketahui puasa adalah tradisi banyak masyarakat dan umat dunia. Puasa bukan monopoli umat muslim semata. Manfaatnya yang begitu banyak membuat semua orang justru harus mencobanya. Semua orang, tanpa peduli keyakinan, status ekonomi, asal, gender dan lain-lain. Mereka yang nonmuslim boleh saja berpuasa dengan mempreteli aspek relijiusnya dan hanya fokus pada kesehatan dan spiritualisme universalnya. Tak ada yang bisa melarang untuk itu. Sepakat?

(sumber foto: Purnendu Nath/sumber: buzzfeed)

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s