Tak Berarti, Jika Pengetahuan Tak Dibagi

Suatu siang yang terik, di sebuah agen pengiriman barang di Satrio saya pertama bercakap-cakap dengannya. Usianya tak lagi muda. Mungkin setara ayah saya, atau lebih tua. Saya tidak tahu persis. Namun, ada kesamaan yang saya tahu benar: ayah saya dan pria ini sama-sama diabetesi (sebutan untuk orang yang hidup dengan diabetes).

Saya mengetahui kondisi ‘istimewa’ pak Hans itu saat saya kedapatan mengirim beras hitam dan alas sepatu khusus yang lebih empuk untuk ayah di rumah. Saya ingin ayah beralih ke nasi hitam yang lebih sehat, jadi saya kirimkan saja dengan harapan besar akan menyingkirkan nasi putih sepenuhnya dari menu. “Ah, ayahmu punya diabetes ya? Saya juga,” tanya pria itu sembari mengisi tanda terima pengiriman paket saya dengan mesin ketik manual tua.

Pak Hans lalu beranjak dari kursinya, menjelaskan dirinya aktif di Persadia, Persatuan Diabetes Indonesia. Setelah memastikan paket saya terkemas, ia melepas kacamatanya, menghela napas panjang seolah ingin mengatakan sesuatu yang berat bagi orang yang mendengarnya.

“Hati-hati. Kamu juga bisa kena. Atur gaya hidup dari sekarang,” nasihat beliau perlahan, begitu lirih hingga kata-katanya itu hampir luruh tertelan keriuhan lalu lintas jalan yang cuma beberapa meter dari kiosnya.

Tanpa mendebat, saya terima sarannya. Saya mulai menerima kenyataan bahwa risiko itu ada dan harus dihadapi meskipun tidak bisa sepenuhnya disingkirkan. Saya tahu kadar gula darah saat puasa saya sudah masuk level pradiabetes (di atas 110 tetapi belum melampaui 140). Dan untuk mencegah masuk ke level diabetes yang sebenarnya, saya harus cermat dengan pengaturan asupan dan gaya hidup sehari-hari atau harus menebusnya kelak.

Harus diakui bahwa ada sisi di dalam diri yang membisikkan:”Hidup hanya sekali, Akhlis! Nikmati sajalah! Pikirkan itu saat nanti sudah uzur. Sekarang, makan apa saja dan berperilakulah suka-suka. Ini hidupmu, bukan milik orang tua itu!”

“Dulu juga saya berpikir masa bodoh,” lanjut pak Hans seolah membaca pikiran saya. “Tetapi setelah melihat sebagian teman-teman diabetesi menderita karena komplikasi yang diakibatkan gaya hidup mereka sendiri yang seenak perut, saya jadi sadar. Saya bisa menunda agar kondisi ini tidak makin buruk lebih cepat dari semestinya.” Ia tahu sulitnya menasihati orang berusia senja. Dan ia bisa membayangkan menantangnya memberi saran semacam itu pada mereka yang jauh lebih muda, saat penderitaan akibat diabetes masih jauh dari pelupuk mata. “Lihat diriku masih sehat-sehat saja!”begitu mungkin teriak muda-mudi yang kebanyakan gemar memanjakan diri dengan berbagai sajian kuliner olahan masa kini yang sejatinya mendorong mereka lebih cepat menjadi diabetesi terlalu dini.

Lalu saya becermin pada gaya hidup ayah saya di masa muda. Beliau terlalu sering mengkonsumsi nasi putih dan tidak bisa meninggalkan minuman sirup dingin dan teh manis setiap hari. Pernah menderita sakit kuning, beliau bertekad tidak ingin terkena lagi. Masalahnya, ternyata tubuh tidak memerlukan gula sebanyak itu.

Pak Hans menyelesaikan penjelasannya dengan memberi saran pengobatan alami untuk diabetesi, dari bubuk kayu manis untuk menurunkan gula darah sampai rebusan daun seledri untuk membersihkan ginjal diabetesi yang sudah dibombardir obat-obatan tiap hari. Seperti ginjal ayah saya.

Dari pak Hans, saya belajar untuk tidak hanya menyimpan pengetahuan untuk diri, tetapi juga tanpa pamrih berbagi. Karena jika tak dibagi, pengetahuan tak punya arti.

(foto: wikimedia)

Leave a comment

Filed under health

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s