Ananda Sukarlan: “Seni Adalah Ekonomi Kreatif Suatu Negara”

Pada hari Selasa, 22 September 2015 ini Ananda Sukarlan, komponis & pianis Indonesia yang tinggal di Spanyol, menjadi penerima termuda Anugerah Kebudayaan 2015 kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru. Pemberian anugerah ini dilaksanakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan di Teater Jakarta (Taman Ismail Marzuki).

Berikut wawancara eksklusif dengan ANANDA SUKARLAN dengan saya.

Selamat atas penghargaan Anugerah Kebudayaannya, terutama Anda adalah penerima penghargaan tertinggi kebudayaan dari negara yang termuda. Apa arti penghargaan ini untuk Anda? 

Terima kasih! Buat saya, ini bukan hanya untuk saya sendiri, tapi untuk musik klasik (atau yang saya lebih suka sebut musik sastra) Indonesia. Ini adalah pengakuan pemerintah, bahwa musik jenis ini “eksis” di Indonesia dan bisa juga mewakili negara di dunia internasional. Sekarang tugas kami sebagai pemusik adalah memantapkan identitas dan karakter musik klasik / sastra Indonesia.

Apa yang dapat disumbangkan oleh seni & budaya terhadap negara?

Seni & budaya adalah sebuah aset yang harus dibina, dilestarikan dan dikembangkan, karena budaya bagian integral dalam masyarakat yang menjadi ciri khas dan “image” suatu bangsa yang akhirnya membuat dunia internasional tertarik terhadap bangsa kita. Selain itu seni memegang peranan penting dalam sejarah negara. Akhirnya itu akan menarik turis serta investor asing. Itu sebabnya seni adalah ekonomi kreatif suatu negara. 

Kendala apa saja yang masih menghambat kesenian itu menjadi aset negara yang berpotensi tinggi?

Strategi kebudayaan pemerintah masih “njelimet” menurut saya, birokrasi masih ruwet, dan para birokrat seni kebanyakan teori! Seni itu produk para seniman, seniman itu menjual produk, dan tugas pemerintah itu me”marketing” produk seni tsb. Seniman sendiri tidak perlu banyak omong, yang main piano pencetlah tuts dengan benar, yang pelukis bikinlah kombinasi warna yang bagus, dan lain-lain. Produk tersebut tunjukkanlah ke forum-forum publik atau kompetisi dengan juri-juri yang “qualified“, sehingga akhirnya opini publik serta para expert yang menentukan kualitas seni itu, yang kemudian dapat dipakai negara untuk dijual ke dunia internasional. Siapa yang mau ke kota sekecil Salzburg kalau tidak ada musiknya Mozart, atau Florence kalau tidak ada lukisan-lukisan Donatello, Michelangelo, Botticelli, dan sebagainya. Kota besar seperti Madrid pun salah satu daya tariknya adalah Museum Del Prado yang menyimpan lukisan-lukisan terpenting Eropa. Di kota tempat saya tinggal sendiri bisa dilihat, betapa kota yang tadinya “tidak penting” seperti Bilbao meningkat drastis ekonominya setelah dibangunnya Museum Guggenheim. Tapi lihat deh, sampai sekarang Undang-undang Kebudayaan masih menjadi RUU yang tak kunjung disahkan di DPR. RUU tersebut mencoba mendefinisikan kegiatan kebudayaan, perangkat, aktivitas serta elemen-elemen yang ada dalam kebudayaan. Harus dipahami bersama bahwa pengelolaan kebudayaan bukan hanya soal pelestarian saja, namun juga mengembangkan dan menciptakan budaya baru. Ini yang tampaknya terlewatkan dalam RUU ini. Dan di sini peran musik sastra: bagaimana menciptakan identitas musik sastra Indonesia, karena musik sastra adalah musik yang universal. 

Anda selalu menyebut “musik sastra” untuk istilah yang biasanya adalah “musik klasik”. Jadi selalu ada hubungannya dengan sastra?

AS : Oh, bukan begitu. Itu istilah yg saya ajukan untuk mengganti “musik klasik” yang salah kaprah. Saya pernah diwawancara KITA Anak Negeri di YouTube  berjudul “Musik Klasik itu Keren” https://www.youtube.com/watch?v=vVpbiIk6rCM. Dalam video itu saya bercerita tentang  Musik Klasik dan Musik Sastra. Jadi definisinya mudah: musik yg tertulis, jadi sama seperti karya sastra. Artinya musik itu eksis dalam partitur, dan bentuknya sudah baku. Bisa buat instrumen apa saja. Bedanya kalau karya sastra itu dalam huruf, kalau musik sastra dalam not balok (di Eropa diajarkan di tingkat SD, jadi semua orang juga bisa baca, walaupun tidak fasih). Kalau kita sebut “klasik”, kesannya kuno atau komponisnya sudah lama wafat. Nah John Williams (komponis untuk film Harry Potter, Indiana Jones dll) atau saya itu masa menulis musik “klasik”? Jadi, musik sastra itu akan tetap sama sampai kapanpun (hanya interpretasinya saja yang akan berbeda dan berkembang: musik Beethoven “gaya” interpretasinya pasti beda pada abad 19 dan abad 21). Sedangkan musik lainnya : jazz, rakyat, pop, dan lain-lain itu not-notnya, formasinya bahkan durasinya akan berbeda setiap kali dimainkan, karena tidak ada bentuknya yang baku atau tertulis.

Musik ini masih dianggap “minoritas” dan untuk kalangan menengah ke atas. Bagaimana tanggapan anda terhadap persepsi tersebut?

 Memang persepsi itu masih ada, tapi saya mau mengubah situasi ini. Caranya tentu saja bukan dengan mengadakan konser-konser gratis, karena konser gratis itu sudah terbukti justru tidak mendidik (baca deh tulisan saya di The Jakarta Post, saya telah upload di sini : http://andystarblogger.blogspot.com.es/2015/08/my-original-article-for-jakarta-post.html ) . Kalau saja konser itu sudah ada sponsornya, menurut saya penonton tetap harus berkomitmen untuk membayar, walaupun jumlah yang sangat kecil / simbolik saja. Ini untuk menyadarkan bahwa segala seni itu adalah milik semua penikmat, itu menyangkut biaya produksi dan jika ingin menikmati seni, sama seperti menikmati jasa / pelayanan makanan di restoran atau transportasi, semua harus ikut berkontribusi.

Menurut pandangan anda apakah pianis-pianis Indonesia sudah cukup siap bersaing dalam kancah internasional? 

AS:  Di generasi yang sangat muda (artinya 25 tahun ke bawah) ada, dan cukup banyak, seperti Anthony Hartono (21) yang kuliah di National Univ. of Singapore serta Randy Ryan (20) yang kini kuliah di Juilliard School of Music, New York. Saya banyak melihat bakat besar di antara para finalis dan pemenang kompetisi piano Ananda Sukarlan Award (ASA) tahun lalu, dan saya sangat excited dengan apa yang akan kita lihat dengan prestasi mereka ke depannya. Saya terus terang tidak menyangka bahwa di Indonesia ada bakat2 seperti itu. “Luar biasa” mungkin masih kurang untuk menggambarkan betapa tingginya kualitas dan potensi mereka. Kita bisa sebut beberapa nama, seperti Henoch Kristianto yang telah merekam seluruh 24 Etudes oleh F. Chopin yang setiap nomornya sangat virtuosik, Inge Buniardi yang telah keliling Rusia dan Amerika serta Edith Widayani yang kini sedang mengambil program Doktor di Eastman School of Music dan juga sudah konser di banyak negara. Sayangnya memang mereka tinggal di luar negeri, seperti saya, karena memang kesempatan untuk berkembang masih lebih banyak di Amerika dan Eropa. Dan ya jujurlah, kalau ada tawaran untuk mengembangkan karir di satu tempat/negara, siapa yang menolak, ya kan? Tapi kalau saya lihat, Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan potensial untuk musik klasik di masa depan, bahkan perkembangannya pun sangat pesat. Konser musik klasik di Jakarta kini selalu penuh, dan saya harapkan ini “menular” ke kota-kota lainnya.

Bisa cerita sedikit tentang Kompetisi Piano Ananda Sukarlan Award dan apa rencananya ke depan? 

Kompetisi berikut akan diadakan tanggal 27-31 Juli 2016. Kategori seperti biasa : Senior (di bawah 26 th), Junior (di bawah 18), Elementary (di bawah 12) dan Little Elementary (di bawah 10). Komplitnya, coba saja cek www.anandasukarlancenter.com . Satu hal yang istimewa adalah saya akan memulai membuka 1 kategori yang non-kompetitif, untuk para pianis yang memiliki disabilitas, baik fisik maupun mental. Ini untuk menunjukkan saja bahwa musik itu memang untuk semua orang, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Bahkan musik itu punya efek teuraputik.

Apa saja kiat & tips supaya bisa menjadi seperti Ananda Sukarlan?

Musiknya klasik alasannya klasik. Yaitu kerja keras & harus berani mengambil risiko. Karir itu tergantung pada diri kita sendiri bukan tergantung pada orang lain. Misalnya soal kompetisi piano, masih banyak yang tidak mau ikut karena takut kalah. Tidak ada kemenangan tanpa kekalahan. Untuk menang, keinginan untuk menang harus bisa mengalahkan ketakutan akan kekalahan. Dulu, dan sekarang masih, satu-satunya jalan untuk  memulai karir di dunia musik sastra adalah dengan ikut kompetisi. Habis gimana lagi? Saya juga dulu waktu muda kadang kalah, walaupun kebanyakan menang. Kompetisi itu justru untuk membuktikan bahwa kita bukan yang terbaik. Di atas langit masih ada langit . Mengajarkan untuk rendah hati . Kita tidak perlu lebih baik daripada orang lain, kita hanya perlu lebih baik daripada diri sendiri kemarin. Kompetisi jadi sangat penting untuk mengetahui apa yang harus diperbaiki dan ditingkatkan.

Rahasia kesuksesan musik Indonesia bisa“eksis” di dunia musik sastra internasional?

Kita harus membawa sesuatu yang baru dan berbeda tapi berkualitas tentu saja.  Bagaimana mengindonesiakan musik sastra & mengidentifikasi musik sastra Indonesia itu seperti apa. Tidak hanya bisa memainkan komposisi Mozart, Chopin, atau Beethoven . Karena kalau hanya mengandalkan itu artinya kita juga harus bersaing dengan ribuan bahkan jutaan pianis yang memainkan komposisi tersebut, tidak hanya masa kini, tapi juga ribuan pianis di masa lalu. Sudah turun temurun. Tahukah anda bahwa saat ini ada sekitar 40 juta pianis klasik hanya di Cina saja?  Orang mencari sesuatu yang berbeda. Saya tidak pernah capek mengingatkan, pentingnya identitas Indonesia dalam musik sastra yang kita mainkan. Selain untuk karir kita di dunia internasional juga sebagai aset kita. Ini saya sadari begitu saya mulai berkarir di benua lain. Kebetulan, penyanyi muda Mariska Setiawan yang bukan hanya sangat berbakat dalam teknik vokal sopranonya, tapi juga jeli dalam membaca situasi budaya menulis hal yg sama ini di blognya. Saya bersimpati sih dengan dia karena dia pasti mengalami “shock” yang sama sewaktu saya berusia sama dengannya, sekitar 20-an. Baca deh tulisannya, bagus banget : https://mariskasetiawan.wordpress.com/2015/08/22/halo-dunia/

Bisa ceritakan sedikit mengenai perkembangan karya Anda, Rapsodia Nusantara?

Selain passion saya untuk membuat karya-karya piano yang virtuosik, ini juga ternyata strategi yang jitu untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia ke seluruh dunia. Dengan mengemasnya dalam teknik komposisi “klasik” yang mengakar pada musik Eropa, ini akan mudah dipahami dan dicerna secara universal. Instrumennya pun standar: piano itu mudah didapatkan di semua negara, sedangkan kalau masih murni musik etnik, tidaklah mudah menemukan gamelan atau angklung di semua negara. Sekarang cek saja, sudah berapa pianis asing yang memainkan Rapsodia Nusantara di YouTube. Ini tentu mengedepankan keunikan dan kekuatan identitas musik Indonesia, dan saya harapkan bisa mengokohkan statur Indonesia di mata internasional sekaligus menjadi pembentuk identitas kebangsaan yang beragam. Sampai sekarang saya sudah menulis 18 nomor, dari 18 propinsi, doakan yah semua provinsi akhirnya terlaksana! (*/ Akhlis)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.