6 Kiat Menulis Lebih Baik Menurut Perspektif Neurosains

Boy_seated_at_a_table_writing,_China,_ca._1918-1938_(MFB-LS0248B)-2

Karena menulis itu aktivitas otak, ia juga bisa dikaji sesuai kaidah neurosains. (sumber foto: Wikimedia Commons)

Rasa lelah dan penat setelah menulis yang dialami sebagian orang cukup beralasan karena menulis merupakan aktivitas intelektual yang cukup intens. Apalagi jika si penulis mesti melakukan penelitian atau menggabungkan berbagai gagasan dengan cermat dan logis agar enak dibaca orang. Bak sebuah kaca cembung yang mengerucutkan berkas-berkas sinar yang melewatinya, pikiran/ otak juga berupaya memfokuskan kinerjanya pada satu atau beberapa hal saja dalam aktivitas menulisnya. Dan ini bukan perkara mudah.

Buku The Reader’s Brain: How Neuroscience Can Make You a Better Writer (Cambridge University Press, 2015) yang ditulis oleh Yellowlees Douglas, pengajar komunikasi manajemen di Unversity of Florida, memberikan perspektif baru pada para penulis mengenai bagaimana cara menulis dengan lebih baik. Dan ini tidak hanya berlaku bagi para penulis profesional (mereka yang mencari nafkah dari menulis) tetapi juga semua orang yang ingin kemampuan menulis dasar mereka dalam kegiatan sehari-hari lebih baik lagi. Karena seperti kita ketahui, sejatinya menulis adalah salah satu kegiatan dasar sebagai manusia yang berakal sehat dan berbudaya.

Douglas menegaskan bahwa menulis yang baik memang tidak mudah. Seseorang tidak hanya mampu meniru kalimat-kalimat indah gubahan para sastrawan terkemuka dunia, tetapi lebih dari itu.

Dalam bukunya, Douglas menyarankan 6 kiat menulis dengan lebih baik untuk semua orang.

Kiat pertama dari Douglas ialah siapkan pembaca. Bagaimana caranya menyiapkan pembaca Anda? Sampaikan apa yang akan Anda sampaikan di bagian isinya, sampaikan gagasan intinya lalu sampaikan lagi mengenai gagasan yang Anda baru sampaikan, begitu ujar Douglas. Mungkin terdengar seperti repetisi/ pengulangan, tetapi inilah tantangannya bagi penulis agar kesan berulang itu tidak terlalu kentara. Pentingnya menyiapkan pembaca ialah agar di kemudian hari mereka bisa mengingat informasi penting yang Anda sampaikan. Karena seberapapun indahnya kalimat Anda, jika informasi intinya tidak tersimpan dengan baik di otak pembaca, sia-sia saja. Kiat ini didapatkan Douglas dari ilmu psikologi dan neurosains. Jadi, ingat untuk selalu menjelaskan tujuan Anda pada pembaca di kalimat-kalimat pertama dalam memo, surel, atau esai Anda. Dengan begitu, peluang mengingat informasi akan lebih besar.

Kiat kedua yakni menggunakan resensi. Menyampaikan gagasan pokok di akhir tulisan akan menguatkan ingatan pembaca karena biasanya manusia lebih mengingat informasi yang baru saja mereka baca daripada yang sudah lebih lama dibaca. Efek resensi ini ampuh untuk memperpanjang ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Para pembaca mengingat kalimat-kalimat terakhir dalam rangkaian paragraf, item di daftar dan paragraf dalam dokumen dengan lebih jelas, tandas Douglas lagi. Terutama bagi seorang copywriter, kiat ini penting karena di akhir tulisan biasanya mereka menambahkan kalimat-kalimat imbauan untuk bertindak (call-to-action) dan kapan tindakan itu mesti dilakukan.

Untuk mereka yang harus menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan dalam tulisan (misalnya kabar duka cita atau kemalangan lainnya), kiat ketiga akan sangat berharga. Persiapan di awal dan resensi di akhir tadi akan membantu menyiapkan pembaca mengenai hal-hal yang tidak terduga karena bisa membuatnya sedih, gundah atau frustrasi. Menurut Douglas, efek persiapan dan resensi akan membantu penyampaian pesan yang kurang positif itu agar diterima lebih baik oleh pembaca. Karena kadang hal yang kurang baik akan terasa lebih baik jika cara menyampaikannya tepat. Dalam pengalaman saya, kiat ini mirip dengan konsep “roti isi” (sandwich), yang artinya seseorang perlu meletakkan berita buruk/ kritik/ kecaman di tengah dua pujian, mirip dua lapis roti yang enak mengapit sayur mayur yang pahit dan kurang mengundang selera makan tetapi tetap harus dimakan karena nutrisinya dibutuhkan tubuh.

Saran Douglas, Anda juga bisa mengubur berita buruk dengan menyiapkan paragraf pembuka yang netral. Isinya tidak menipu (karena terlalu positif dan mengada-ada) atau memberikan berita buruk secara gamblang dan “telanjang”. Pembaca bisa syok karenanya. Untuk menghindari itu, neurosains memiliki saran untuk tidak menyampaikan berita buruk di awal tulisan. Itu karena ternyata studi klinis membuktikan bahwa dampak berita buruk dalam paragraf pertama bisa berupa resistensi atau keengganan pembaca untuk melanjutkan membaca tulisan sampai akhir. Kalau sudah begitu, tulisan Anda bisa diabaikan padahal mungkin Anda memiliki pesan yang lebih penting di bagian tengah atau akhir tulisan.

Lalu Douglas menyarankan membuka paragraf kedua dengan fokus pada berita buruk dan penjelasannya agar bisa diterima dengan lapang dada oleh pembacanya. Jangan lupa jelaskan penyebab dan konsekuensi dari berita buruk itu dengan lebih rinci. Akhirnya, masukkan isi berita buruk itu dalam sebuah anak kalimat di bagian paragraf kedua ini. Tutup pragraf itu dengan kalimat netral, dengan menyebutkan manfaat apapun yang masuk akal yang masih bisa dinikmati pembaca dari situasi yang kurang mengenakkan itu.

Kemudian susun sebuah paragraf yang pendek dan positif sebagai penutup tulisan. Bagian akhir ini bersifat berorientasi pada masa datang, mempertahankan itikad baik pembaca Anda dengan menggunakan posisi resensi dari dokumen Anda. Pembaca akan mendapatkan informasi pentingnya tanpa harus memusuhi Anda.

Kelima, manfaatkan sebab dan akibat. Dari sudut pandang evolusi, manusia cenderung untuk melihat sebab dan akibat dalam berbagai kesempatan yang penting bagi keberlangsungan hidupnya. Saat Anda menempatkan alasan logis atas diambilnya keputusan yang kurang menguntungkan si pembaca sebelum Anda menyampaikan padanya keputusan tersebut, Anda memaksimalkan kekuatan sebab. Dalam studi-studi ilmiah di tahun 1940-an, para subjek penelitian selalu menggambarkan bayangan persegi dan segitiga sederhana yang terus bergerak sebagai sebab dan akibat. Pembaca Anda juga rawan menyaksikan penyebab. Saat Anda mengubah kalimat menjadi narasi mikro sebab dan akibat, Anda membuat tulisan lebih mudah dibaca dan diingat.

Terakhir, Douglas menyarankan untuk menghindari kalimat pasif. Alasannya sederhana: karena kalimat pasif memperlambat kecepatan membaca, tak peduli sesimpel apapun isinya. (Sumber: Futurity.org)

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s