Bea Cukai Indonesia Bertekad Terus Perbaiki Diri

Kata “bea cukai” lekat dengan rokok dan ‎formulir di benak saya. Rokok, karena saya akrab dengan istilah “cukai rokok” di kota kelahiran saya, Kudus. Formulir? Karena saya biasanya disodori formulir pernyataan kepemilikan barang sebelum mendarat kembali di teritori RI. Digabung dengan suasana bandara dan pintu imigrasi yang kerap membuat frustrasi, bea cukai cukup berhasil memberikan kesan menyeramkan dan kaku.

Namun, siang tadi saya bisa katakan kesan itu tidak sepenuhnya benar juga.‎ Buktinya saya bisa bercakap-cakap dengan nyaman di barisan belakang bersama seorang pria berkumis tipis yang didaulat membuka dan memimpin jalannya acara kami hari ini di gedung Pos ibukota, dekat Lapangan Banteng.

Namanya Muhamad Akhadi Jatmiko. Ia melihat catatan saya dan berseloroh,”Tulis saja Jatmiko.” Tentu saja saya tidak bisa menuruti permintaannya. Saya ingin orang-orang tahu nama asli sang pemangku jabatan Kepala Bidang Analisis dan Tindak Lanjut Kepatuhan Internal PUSKI Kepabeanan dan Cukai.‎ Sementara saya mengobrol dengan pak Jatmiko, Nurtanti Widyasari yang bekerja sebagai Kepala KPPBC Tipe Pratama Kantor Pos Pasar Baru juga tengah asyik menjelaskan prosedur dan alur penerimaan barang, lalu berbagai informasi mengenai bea cukai.

‎Pada saya, Jatmiko mengatakan betapa kurangnya 12 ribu pegawai yang ada saat ini. “Kayaknya banyak tapi kurang.”

Saya kejar lagi,”Lalu idealnya rasionya berapa, pak?” Indonesia negeri yang luar biasa besar sehingga pastinya kekurangan ialah suatu keniscayaan. Itulah masalah utama negeri ini: kurang orang yang berketrampilan.

Jatmiko menyebutkan kondisi ideal itu tercapai bila “setiap perbatasan bisa dijaga petugas bea cukai”. Namun, masalahnya belum komprehensif saat ini. Perkataannya membuat saya seperti hidup di sebuah rumah megah dengan pagar lidi-lidi kecil ala kadarnya dengan sekeliling kami bertumbuh hutan belantara dan margasatwa. Besar tetapi rapuh, hampir tanpa pertahanan. “(Idealnya – pen) ada level pimpinan, staf tapi kenyataannya tidak bisa seperti itu. Bahkan di beberapa tempat cuma diawasi dari satu titik saja,” keluhnya. Ia contohkan perbatasan darat di Kalimantan yang belum jua terjaga dengan rapat oleh jajaran Bea Cukai.

Soal infrastruktur, Bea Cukai kita bisa dibilang merana. Mayoritas kapal patroli mereka sudah berusia 50-40 tahun alias keluaran dekade 60an dan 70an. Bagaimana bisa berkejaran dengan kapal-kapal penyelundup yang lebih anyar itu? “Yang paling modern saja tahun 80an.” Ah, trenyuh. Jatmiko tidak lupa menceritakan kebanggaan baru lembaganya:kapal baru berukuran panjang 60 meter. Itu yang terbesar, ucapnya.

Keterbatasan menjadi kendala Bea Cukai untuk maju menjawab tantangan yang semakin besar. Kapal-kapal tua itu mesti dipacu kencang menjaga teritori dari tindak penyelundupan. Alhasil, Bea Cukai harus cukup puas bekerja layaknya “bermain galasin”, kejar-kejaran seperti Tom and Jerry.

Kondisi makin pelik saja, karena sebagian penyelundup menggunakan warga tak bersalah sebagai perisai manusia. Begitu petugas Bea Cukai mendekat, warga yang telah dipersenjatai bom molotov itu menyerang mereka. “Kalau kami tembak, nanti kami yang dituduh melanggar HAM,” tandas Jatmiko mengenai kondisi penjagaan di lautan kita yang ‎sebetulnya.

“Nanti ada ‘busway’ untuk kontainer‎,” kata Jatmiko soal rencana Bea Cukai ke depan. Nanti dari Tanjung Priok akan ditarik ke Cikarang. Sampai saat ini jumlah kontainer yang tertangani di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta cuma 3 persen, akunya. Sisanya dibuka sebentar lalu dilimpahkan ke pelabuhan lain seperti di Surabaya dan Makassar. Tiga persen itu saja sudah mampu memacetkan pelabuhan seperti itu, apalagi nanti di masa depan saat perdagangan makin intens.

Saat saya tanyakan realisasi busway itu, Jatmiko cuma bisa berkata,”Itu proyek Pelindo. Bukan Bea Cukai.” Kau tahu apa itu artinya, bukan? Ya, sabarlah menunggu.

Bea Cukai juga ingin menggeser dominasi cara kerja manual menjadi cara kerja otomatis dengan teknologi terkini agar lebih efisien dan produktif. Apa daya, pemerintah sekarang “uangnya lagi tipis”, ucapnya.

Teringat tema anti korupsi, saya sisipkan pertanyaan yang berkaitan sembari kami menikmati suasana Museum Bea Cukai yang baru dibangun tahun lalu. “Dari sisi normatifnya, kesejahteraan pegawai Bea Cukai lebih tinggi. Ada remunerasi dan sebagainya.”

Jatmiko juga menyinggung soal integritas jajaran staf Bea Cukai. Ia ingin semua staf Bea Cukai bekerja dengan jujur, tak peduli ada atasan atau tidak.

Tak puas, saya coba korek keterangan dari Triyono, pemandu kami siang itu yang bekerja di Kantor Pusat Bea Cukai Rawamangun,‎ tutur bapak satu anak itu:”Sebelumnya ada pelatihan prajabatan yang wajib dijalani CPNS. Ada banyak pelajaran seperti etika. Dari Bea Cukai sendiri, diberikan kedisiplinan.” Urusan satu ini, Kopassus dilibatkan. Di belakang kantor pusat tadi, ucapnya, ada tempat pendidikannya. Sebulan mereka digembleng Kopassus sebelum jadi abdi negara.

‎Bea Cukai ingin lebih bersih dan lebih baik. Namun, itu semua percuma tanpa sokongan rakyat semua. Jadilah kita rakyat yang bersih juga. Caranya? Dengan memberikan saran dan kritik yang membangun pada mereka melalui:

  • Situs resmi Bea Cukai RI http://www.beacukai.go.id
  • Email pengaduan kinerja internal pegawai Bea Cukai ‎:pengaduan.beacukai@gmail.com
  • Layanan Sipuma: 0800-100-3545

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s