Cinta pada Pandangan Kedua

TIDAK banyak yang tahu bahwa Direktur Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Michael Rauner, memiliki bakat musik sejak belia. Memiliki ayah seorang pebisnis dan ibu penyanyi opera, Rauner muda mulai bergelut dengan seni musik. Ibunya ialah pendukung utama baginya untuk belajar bermain sejumlah alat musik, seperti gitar, terompet, dan trombone. Dari sanalah, kecintaannya pada kesenian dak kebudayaan rupanya berkembang hingga mengantarnya menjadi seperti sekarang. 

Rauner yang sekarang turut menjabat sebagai Kepala Pers dan Budaya Kedutaan Besar Belanda telah tinggal di Jakarta selama 1,5 tahun lebih ini memandang Jakarta sebagai suatu fenomena unik. Pertama kali orang datang, hampir pasti mereka mengeluh soal Jakarta yang kacau, terutama lalu lintasnya. Seolah-olah tidak ada struktur yang baik. Di Jakarta – lain dari kota-kota di Eropa – tidak memiliki pusat kota yang jelas. “Sehingga jika Anda ingin berkunjung Anda tidak tahu mesti ke mana. Tetapi begitu Anda mencermati peta, Anda akan menemukan strukturnya,” terangnya pada Art Republik baru-baru ini.

Ia juga mengatakan bahwa tidak semua bagian Jakarta hutan beton. Kota metropolitan tersebut menyimpan kejutan lebih banyak dari dugaan kita. “Dan ada banyak hal menarik untuk dieksplorasi,” ujar pria yang murah senyum ini. Misalnya, Jakarta memiliki 70 museum untuk dijelajahi –- yang jauh lebih banyak dari Amsterdam — dan area-area hijau yang masih terpelihara baik. Inilah rupanya yang membuat Rauner jatuh cinta dengan Jakarta. “Bukan pada pandangan pertama tetapi kedua”, tegasnya.

Dalam pengamatannya, para seniman kontemporer Indonesia mempunyai karakter yang tiada duanya. “Mereka lebih ‘seniman’ daripada yang Anda kira. Mereka sangat ekspresif saat menyampaikan pesan dalam karya,” jelas Rauner. Daya ekspresi ini disertai keberanian dalam memakai media, bahkan hewan hidup sekalipun sebagai elemennya. “Ada seniman Indonesia yang memakai kambing hidup dalam instalasi seninya, suatu hal yang sangat langka bagi kami di Eropa,” imbuhnya. Di sana, para seniman lokal berkreasi lebih banyak karena seni dan keindahannya, bukan pada pesan. Namun, tidak ada yang lebih buruk atau baik. “Itu karena perbedaan justru menjadi peluang untuk saling belajar”, tukas Rauner.

Sebagai diplomat asing, Rauner menunjukkan apresiasinya pada budaya Indonesia. Selain mengenakan kemeja batik, ia juga mengaku memiliki koleksi wastra pribadi. 

Selama ini kita berpikir bahwa seni Belanda banyak mempengaruhi seni Indonesia. Namun, di sisi lain seni Indonesia juga berpengaruh terhadap seni kontemporer Belanda. Dalam sejumlah program pertukaran seniman, pendekatan seniman Indonesia yang lebih spontan memberikan nuansa baru pada seniman Belanda. 

Rauner menghendaki agar terjadi keseimbangan lebih baik dalam berkesenian. Ia menyoroti fenomena banyaknya dana yang dicurahkan untuk membantu seniman di Eropa termasuk Belanda yang dalam berkesenian lebih berkiblat ke Jerman, Inggris Raya, Prancis, Italia, Amerika Serikat dan Tiongkok. “Dan itu semua lebih komersial karena dibuat untuk dijual.” Tantangan memperkenalkan seni Indonesia masih ditambah dengan sedikitnya kelas menengah yang mengoleksi karya seniman Indonesia. 

Untuk memberikan publik Belanda pengetahuan lebih mendalam tentang seni kontemporer Indonesia, Rauner kini menggiatkan event “Indonesia Now” di Amsterdam. Pihaknya telah menggelar acara tersebut tahun 2015 dan tahun ini akan kembali dihelat. 

Hubungan seni budaya antara Indonesia dan Belanda baru-baru ini dipengaruhi oleh perubahan kebijakan. Atase Indonesia untuk Belanda akan diserahi tanggung jawab untuk mendatangkan dan mendanai seniman Indonesia yang hendak ke Belanda, sementara Rauner mengurusi para seniman Belanda yang akan ke Indonesia. Ini menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia sebab lebih banyak seniman kita yang memerlukan bantuan dana untuk bisa ke Belanda, sementara mayoritas seniman Belanda sudah lebih independen. Mereka bisa ke Indonesia dengan biaya pribadi, tanpa bantuan pemerintahnya. Pemerintah Belanda yakin bahwa Indonesia sudah cukup maju untuk mendukung keseniannya sendiri.

Erasmus Huis dalam pimpinan Rauner kini hadir pula di Kota Tua Jakarta.  Sejak akhir 2016, Erasmus Huis memiliki ruang pameran di sana terutama karena kaitan historis Belanda dan Kota Tua. “Jika Anda ke sana, Anda seolah berada di Belanda,” selorohnya. Kesenian digunakan sebagai daya tarik untuk mengundang publik berkunjung ke Kota Tua yang selama ini seolah ditinggalkan.  Beberapa pameran seni telah digelar Erasmus Huis di sana dan yang akan datang ialah sebuah pameran tentang lalu lintas.

Hubungan seni kedua negara juga terus difasilitasi Erasmus Huis dalam bentuk lain meskipun terjadi perubahan kebijakan dalam pendanaan. Rauner mencontohkan pihaknya akan membantu seniman Belanda yang ingin menggandeng seniman Indonesia dalam berkolaborasi seni, terutama yang bertema erat dengan Belanda.  “Erasmus Huis juga akan menyediakan ruang,” tuturnya.

Erasmus Huis – yang menjadi satu-satunya pusat kebudayaan Belanda di luar teritori mereka – juga akan mengalami perombakan fisik besar hingga setahun ke depan. “Kami akan merombak perpustakaan menjadi ruang multifungsi tempat pengunjung bisa berdiskusi, makan dan minum. Ruang pameran juga akan diperluas dua kali lipat,” terang Rauner. Rencana tersebut selaras dengan visi Erasmus Huis satu dekade mendatang untuk menjadi titik pertemuan budaya yang lebih representatif. (*/ Akhlis)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.