Semboyan 35

photo_2018-04-28_20-01-32.jpg

SEIRING berjalannya kala, saya menemukan fakta bahwa tiap manusia memiliki kecepatan menua yang berbeda-beda. Ada yang menua dengan kecepatan luar biasa. Terlalu dini. Mereka ini adalah orang-orang yang sudah memiliki jiwa tua sejak dari kecil. Seperti seorang teman SD saya yang sudah sejak dulu sering melerai dan mengalah. “Sudah sudah, tidak ada untungnya berkelahi. Ayo maaf-maafan,” katanya pada kami kalau ribut sedikit di kelas. Meskipun memang itu ideal sebagaimana dinyatakan dalam pelajaran PMP dan penataran P4 [kepanjangan singkatan-singkatan ini hanya bisa dipahami generasi saya dan yang lebih tua], saya harus katakan aneh bagi anak SD untuk bisa sedewasa itu. Mengerikan dan tidak natural. Saya sudah tidak lagi bertemu dengannya tetapi saya berani bertaruh ia akan jauh lebih dewasa daripada yang sudah.

Ada juga manusia yang memiliki kecepatan menua lumayan wajar dan sepatutnya. Untuk menentukan ‘wajar’ dan ‘sepatutnya’, masyarakatlah yang menentukan. Mereka ini menjalani kehidupan dengan linimasa yang sudah ditentukan para tetua. Masuk sekolah usia ini, lulus kuliah usia itu, menikah umur X, punya anak umur Y, pensiun umur Z. Dan mungkin mati umur….? Tampilan dan rupa mereka pun mengikuti selayaknya peran-peran baru dalam tiap fase kehidupan itu.

Lalu ada juga yang menua lebih lambat dan dengan demikian dianggap sebuah karunia [untung saja kita hidup di sebuah masyarakat yang sangat terobsesi dengan penampilan muda selama-lamanya]. Karunia yang tak diupayakan secara sengaja apalagi sampai menghalalkan segala cara.

Malam itu saya mendapati tetamu yang lagi-lagi ingin tahu soal rahasia awet muda saya. Bermula dari pertanyaan soal pekerjaan, saya berkata soal apa yang saya lakukan akhir-akhir ini. Menulis; bertemu para petinggi bisnis asing; menerbitkan buku. Seperti itu.

Tiba-tiba Morpheus yang duduk di depan saya mulai mengendus sesuatu yang mencurigakan. Benar saja, ia langsung mengklairifikasinya:”Berapa usiamu?”

Saya tahu jika saya standup comedian, inilah saatnya saya bisa mulai mempersiapkan sebuah suspense yang nantinya bisa saya akhiri dengan punchline yang jitu. BOOM!

Karena ia ingin tahu dan benar-benar tidak terbendung lagi, saya katakan bahwa ia punya 3 kesempatan untuk menebak usia saya yang sebenarnya. Dan Morpheus serta Harly di sampingnya sangat antusias memenangkan sayembara ini, seolah-olah ada hadiah besar nan menggiurkan menanti mereka.

Mereka dengan cepat menebak beberapa kali tapi menyerah kalah.

Saya berikan jawabannya pada Bram, interpreter mereka selama di Indonesia, yang ada tepat di sebelah saya. Lalu ia juga tersentak mendengar jawaban saya.

Saya tahu mereka selama beberapa hari terakhir ini mengira saya seorang anak muda usia 20-an. Taksiran mereka pun dinaikkan begitu saya menjelaskan pekerjaan saya serta gaya dan isi omongan saya yang terlalu dewasa untuk level usia itu.

Ya, saya memang sudah meninggalkan usia 20-an lebih dari hampir 5 tahun lalu, kata saya pada Morpheus.

“What??!! You’re ….!!??” tanyanya masih tidak percaya.

“What do you eat???!!”  teriaknya sambil masih memandangi wajah saya penuh rasa tidak percaya.

Tidak cuma Harly dan Morpheus yang terkejut. Tapi juga teman-teman serombongannya yang lain yang mengira bahwa saya masih berusia 20-an padahal saya sudah pertengahan 30-an tahun ini.

Saya katakan saya sudah sangat terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Tidak kaget lagi, tersinggung atau merasa melambung karena dipuji awet muda.

Orang-orang tergila-gila untuk tampil awet muda. Meskipun itu bagus dan tidak ada salahnya, memiliki penampilan fisik yang tidak sesuai umur membuat saya kesulitan dalam beberapa hal.

Misalnya dalam menampilkan diri saya di depan publik atau orang lain. Karena saya tidak memiliki wajah dan penampilan yang sepantasnya untuk umur saya, saya harus berjuang lebih keras untuk membuktikan pada mereka bahwa saya punya pengalaman dan keahlian yang memang sudah sepatutnya dimiliki oleh orang-orang seusia saya. Dan ini tidak bisa dilakukan hanya dengan menyodorkan portfolio. Seperti dalam kehidupan nyata, dalam situasi percakapan Morpheus dan Harly baru saja, saya harus menjelaskan bahwa saya bekerja sebagai penulis dan saya memiliki juga pengalaman sebagai wartawan dan mengajar yoga.

Ada rasa lelah untuk menjelaskan setiap bertemu dengan orang baru bahwa saya bukanlah anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa.

Dari video di atas, saya bisa merasakan langsung rasanya saat dianggap terlalu muda di tempat kerja. Saat itu saya masih mengajar, dan karena tampilan saya yang lebih cocok sebagai mahasiswa daripada dosen, saat saya bertemu mahasiswa dan dosen baru pertama kalinya saya lebih sering dikira sebagai mahasiswa. Petugas administrasi mengira saya anak baru yang tentunya tidak pantas diperlakukan secara hormat. Dianggap sambil lalu dan tanpa respek yang semestinya saya dapatkan.

Saat saya masuk ke sebuah tempat kerja yang baru, saya juga tidak bisa tidak menjelaskan usia saya. Dan ini sangat mengganggu karena saya tentu tidak bisa menjelaskan kenapa saya harus dihormati dengan mengatakan usia saya sebenarnya tanpa diminta. Tentu orang akan menganggap saya aneh dan gila hormat tapi jika hal itu terlambat diketahui orang-orang di sekitar saya, kejadian-kejadian menyakitkan hati pasti akan menimpa saya. Beberapa orang yang tahu usia saya akan memberikan perlakuan yang lebih halus tapi mereka yang tidak, akan cenderung semena-mena dan seenaknya.

Soal hal-hal yang hanya diketahui oleh generasi tertentu, saya juga kadang terjebak dalam percakapan yang tidak saya pahami karena mereka yang ada di dalamnya adalah generasi di bawah saya, sementara mereka mengira saya paham dan tahu betul. Entah itu acara TV atau lagu atau produk kebudayaan pop yang khas di generasi masing-masing. Akan sangat aneh jika saya mengatakan saya tidak tahu atau tidak suka dengan sesuatu yang digandrungi oleh banyak generasi di masa itu. Mereka tak tahu bahwa saya bukan bagian dari generasi yang lebih muda itu. Saya bagian dari generasi kakak-kakak dan paman-paman mereka semua!

Lalu tentang pilihan pakaian. Ini juga sumber kekesalan saya karena seringkali saya mesti ke acara-acara yang mengharuskan saya tampil sebagaimana orang dewasa seusia saya. Hanya saja susah sekali untuk menemukan pakaian yang bisa mengeluarkan aura dewasa saya tanpa tampil gombrong. Alhasil, jas-jas dan kemeja dan celana panjang yang saya kenakan selama ini kebesaran dan bergaya baggy. Sangat tidak nyaman memakainya. Saya kadang ingin sesekali memakai baju dengan ukuran pas. Tapi jika beli di toko pakaian mana bisa? Ukuran saya tidak akan pernah ada. Solusinya ada tiga: mengecilkan pakaian jadi dari toko-toko atau membuat sendiri pakaian idaman itu atau terpaksa memilih di rak remaja dengan ukuran terbesar yang tersedia. Di Uniqlo, saya sangat merasa dimanja karena di bagian anak-anak saya menemukan busana yang pas dengan tubuh saya. Masalah berikutnya adalah pakaian-pakaian anak-anak ini meredupkan aura dewasa saya. Saya malah kelihatan makin muda karena kebanyakan model-model pakaian anak sangat khas, berbeda dari model pakaian pria dewasa yang lain. Ini memang agak nyeleneh, atau kurang sesuai dengan aturan dalam masyarakat tapi bagaimana lagi? Saya juga bingung harus memaksakan diri memakai pakaian orang dewasa yang tidak pas dan kurang nyaman. Tubuh yang tidak banyak berubah sejak SMA ini juga sepertinya mendukung saya untuk tampil terlalu muda. Terus terang ukuran pakaian memang belum berubah banyak sejak  20 tahun lalu.

Obrolan berlanjut dengan pemaparan yang saya berikan untuk Morpheus dan Harly. Keluarlah dari mulut saya soal kebiasan tidur awal dan bangun pagi, soal minyak zaitun yang saya minum dan oleskan, kebiasaan yoga dan olahraga saban hari, kebiasaan berhenti makan sebelum pukul 8 malam. Dan makin saya paparkan, makin mereka bertanya banyak. Kenapa harus sampai seperti itu? Kenapa olive oil?

“Siapa yang mengajarimu soal minum olive oil?” tanya Morpheus lagi.

“Guru yogaku…,” jawabku jujur.

“Usia berapa dia sekarang?” ia menyelidik. “Jangan bilang dia 200 tahun usianya. Karena kalau benar, aku akan mencari dan berguru kepadanya…”

Belum usai ia melontarkan lelucon itu, ia potret wajah saya dan mengatakan:”Saya akan kirimkan fotomu ke istri saya di Taipei.Kita lihat apakah ia bisa menebak dengan benar atau tidak…”

Dan istrinya gagal.

 

P.S.:

Semboyan 35 adalah semboyan suara yang dilakukan dengan cara masinis membunyikan suling (trompet/klakson) lokomotif secara panjang untuk menjawab kepada kondektur kereta api dan PPKA bahwa kereta api sudah siap untuk diberangkatkan. Kadang juga dibunyikan pada waktu melintas di perlintasan jalan raya atau pada tempat-tempat tertentu untuk mendapatkan perhatian dari orang atau hewan agar menyingkir dari rel kereta api. [sumber: Wikipedia]

Gini Rasanya Punya Temen 4L4Y

images

(((((OM. OM. OM)))))))))

[pake efek echo yang maksimal…]

Gitu deh si anak alay ini demen manggil gue. Buat lo semua yang sering baca blog ini [biarin kalo dikatain GR], dah tau lah kalo gaya nulis kayak gini emang bukan gaya gue yang alami. Serius gue kagok alias kaku kalo disuruh nulis pake dialek Jakarta-Betawi yang kental. Takutnya ada yang bilang,”Halah wong Jawa wae ngomong ‘elo gueh’!!! Rak macem. Rak pantes!

Sebenernya ini temen baru gue yang umurnya jauh. Ga tau kenapa banyak temen baru yang umurnya bahkan sampe separuh umur gue akhir-akhir ini. Agak risih tapi mau nolak gimana, udah kenyataan dan fakta.

Enaknya kalo punya temen alay yang umurnya setengah umur gue atau beda umurnya sampe lebih dari 10 taun itu, lo bisa ngecengin semau-mau elo. Mau siang, malem, sore pagi ngecengin, silakan.

Kayak pas temen gue yang alay ini kepedesan makan di meja di pojokan space. Bibirnya dhower. Ampir nyentuh tanah. Pokoknya Angelina Jolie kalah lah ya.

Dia ini anak alay tapi gue salutnya agak sopan sih ama gue [KADANG AJA, SERINGNYA BEGAJULAN JUGA].  Tapi kalo lagi ga inget umur, dia suka ngecengin gue juga kayak temen sepantarannya. Makanya dia nggak nyumpah serapah pas kepedesan sampe parah gitu. Dia masih sok cool. Mungkin juga karena kebawa kerjaan dia sebelumnya yang di sekolah robotik apalah gitu. Gue juga nggak jelas amat. Mau nanya gengsi, kayak wartawan aja. Pake nanya-nanya.

Tapi serius gue nulis ini juga karena ditantangin ama die.

“Om, tulis dong tentang gue di blog elo,” gitu kata anak ingusan ini.

Oke oke, gue jawab santai.

Anak alay ini masih haha hihi sambil minum banyak, soalnya masih pedes lidahnya abis makan ayam penyet lombok ijo yang level pedesnya menurut gue sih standar lah. Tapi dasar dia emang lidah sensi, peka dan terlalu halus [minumnya aja Milo melulu tiap pagi], dikasih cabe dikit, cuping idung dah megar ke samping mpe maksimal. RAPUHHH!Jepretan Layar 2018-04-26 pada 17.55.34.png

Apakah itu termasuk membuka aib teman seperti yang diingatkan vokalis grup kasidahan di atas?

Gue nggak peduli. Jawab sendiri…

Pas malem malem gue juga pernah diajak ama dia ini nonton video nggak jelas. Video di YouTube yang bahasnya alien, konspirasi apalah. Ceritanya ada makhluk nggak jelas ketangkep bayangannya sekilas di kamera lalu dikasih caption,”Itu makhluk apahhhh???!!” Bisa jadi kan itu monyet atau simpanse, soalnya kayak item dan jalan ama dua kaki aja. Lain ama hewan kaki empat yang biasa ada di hutan.

Itu semua dia dapet dari grup WhatsApp [catatan: gue gak demen nyingkat istilah ini jadi WAG. Kebiasaan buruk orang Indonesia manusia, semuanya disingkat-singkat].

Sebagai orang tua [gue emang dah kayak omnya aja], gue ngerasa ‘Ya Allah, ini ya kerjaannya anak-anak muda jaman now? Gosipin desas-desus alien, konspirasi kalo alien itu emang dah ada tapi disembunyikan dari pengetahuan masyarakat.

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.13.03.png

Tapi lagi-lagi nurutin nasihat mbak vokalis kasidahan di atas, gue dengerin aja cerocosan anak alay sobat gue ini dengan SABAR dengan niat memelihara pertemanan. Sebenernya gue dah ngantuk padahal pas itu. Mau jerit,”Kembalikan …[isi dengan durasi video alien apalah apalah itu] menit hidupku yang terbuanggggg!!!!”

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.13.24.png

Omong omong soal sarjana, dia ini lagi ngerjain skripsi. Kadang dia bawa laptop itemnya yang tebel itu ke space buat ngetik di ruang meeting sendirian. Dia ngomong,”Tadi abis ketemu dosen pembimbing. Nih dah bab 4!” Padahal gue ga nanya juga sih ya. Dia yang kelewat informatip.

Gue ga tau dia beneran ngerjain atau nonton manga [yang gue pernah pergokin] atau belanja onlen [meski cowok juga keranjingan belanja ni anak alay temen gue].

Di sela waktu ngerjain skripsi ama kerja [yang gue ga tau di perusahaan apa tapi katanya dia mau resign supaya bisa fokus ke skripsi], ternyata dia masih nyempeti  baca buku. Bukunya itu soal Soe Hok Gie, semacem analisis surat-surat aktivis itu. Tebelnya minta ampun. Gue aja nggak tau bisa ngabisin sekali duduk. Apalagi temen gue ini yang lebih betah nonton feed Instagram daripada negliat kertas yang udah dicetakin huruf.

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.13.36.png

Seminggu kemudian gue tanya udah sampe mana bacanya. Dia jawab sambil salah tingkah,”Ummm, ni nih yang ditandain ama stiker!”

Dan itu di halaman 2-3. Padahal dah seminggu yah.

Konyolnya itu buku dia bawa ke mana-mana. Tiap di space, dia bawa.

Dibaca?

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.13.47.png

Nah, itu udah dijawab mbak-mbaknyaaa!!!

Satu lagi yang dia suka jadiin senjata kalo gue mau makan sehat adalah tulisan seorang idola dia yang kerjaannya semacem penulis [dia ga tau gue juga penulis apa?] atau pengusaha. Ceritanya idolanya itu olahraga dan makan disiplin banget. Eh tetiba divonis dokter kena penyakit autoimun apa gituh gegara [kutipan versi si idola tentang dokternya] cara hidup dia yang “terlalu sehat” . Eh terus si anak alay ini nyemprot gue,”Makanya nggak usah terlalu sehat, om!!”

Gue mbatin,”Helawww!”

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.32.06.png

Sekali lagi gue iye iyein aja. Gue ga mau debat kusir ama dia. Kesian. Maksudnya, kesian gue jadi tambah setresh.

Sebenernya gue mau bilang kalo gue ama si idola itu:

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.36.18.png

Iya betul. NGGAK SAMA.

So, jangan langsung divonis pasti yang sok bergaya hidup sehat nantinya kena autoimun itu.

Sekali lagi kalo gue sih mikirnya gini yak: “Kalo gue udah berikhtiar sehat aja masih dikasih Allah penyakit gituan, apalagi gue hidup berantakan ga sehat?”

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.40.14.png

Buat nutup postingan ini, gue cuman mau bilang sebagai orang yang lebih tua, gue emang kudu SABAR EKSTRAAAA!!!

Jepretan Layar 2018-04-26 pada 18.45.27.png

Tapi gue juga terima kasih ama anak alay ini soalnya suka nemenin gue di space kalo lagi abis kerja sendirian. Ga bengong bengong amatlah jadinya. Makaci anak alay! [TAMAT]

 

P.S.:

Menulis ini ternyata tidak mudah lho. Saya stres menemukan gaya menulis yang selepas ini. Mungkin karena saya terlalu sering menulis dalam ragam formal dan resmi.

Kiat Membeli Properti Pertama untuk Anak Milenial

wae_rebo_di_pagi_hari
Kalau saja memiliki rumah semudah di Wae Rebo. Tidak perlu memikirkan bagaimana mencicilnya, bagaimana mengurus hak guna bangunan dan iuran pengelolaan sampah. [Sumber foto: Wikimedia Commons]
KARENA penjualan properti melemah atau memang karena tren gaya hidup hedonisme yang diadopsi kaum milenial yang sudah berlebihan sampai mereka tak peduli dengan masa depan [yang penting bisa nongkrong di kafe, melancong sambil cari spot-spot wisata yang instagrammable dan pokoknya bisa hidup senang terus], isu milenial akan jadi gelandangan di masa datang dihembuskan [baca di sini].

Entah apakah artikel tersebut memang advertorial yang didesain sehalus mungkin untuk menggenjot angka penjualan properti yang lesu darah atau memang anak-anak muda yang sudah berdaya beli ini perlu didorong untuk lebih peduli pada kebutuhan pokok daripada kebutuhan tersier semacam traveling, memang ada benarnya juga bahwa kaum milenial [mereka yang lahir setelah 1980] yang sudah masuk angkatan kerja memiliki kepedulian yang kurang pada kepemilikan papan. Sandang yang notabene lebih mahal [karena langsung bisa dinikmati dan dipakai dan dipamerkan] seolah menjadi lebih terjangkau dan menjadi suatu alat penderek gengsi di lingkaran pergaulan dan pekerjaan.

Apakah melancong mencari pengalaman hidup dan berpakaian bagus itu salah? 

Tentu jawabannya tidak semudah iya atau tidak. Kita tahu semuanya memiliki manfaat dalam hidup. Melancong membuat perspektif kita terbuka dan pola pikir lebih bijak. Mengunjungi kafe dan bersosialisasi juga bisa memberikan kita peluang-peluang emas dalam peningkatan karier dan lainnya. Berbusana bagus juga membuat kita lebih mudah bergaul dan diterima dalam masyarakat dan tempat kerja. Masalahnya, sebagian kaum milenial sudah memberikan porsi yang berlebihan pada semua ini dan menyingkirkan prioritas untuk membeli properti dan kebutuhan hidup lain yang justru sangat fundamental seperti membeli rumah, asuransi kesehatan, atau makanan sehat. Mereka tidak segan mengirit biaya makan atau makan gorengan sembarangan di pinggir jalan asal perut kenyang tetapi masih bisa memakai New Balance, Nike atau Adidas keluaran terkini.

Trenyuh kan?

Baru-baru ini saya membeli properti pertama dan pengalaman ini cukup mendebarkan juga karena saya tidak tahu apa-apa soal trik dan tips melakukan pembelian barang yang nilai nominalnya sampai ratusan juta. Apalagi ini menyangkut masa depan dan mempengaruhi keuangan dan kehidupan saya selama beberapa tahun mendatang atau bahkan sampai saya meninggal dunia nanti.

Bila Anda juga bagian dari kaum milenial yang masih ragu untuk membeli properti pertama, mungkin pengalaman saya bisa berharga untuk Anda.

Tahu kebutuhan dan anggaran Anda

Pertama-tama sebelum memutuskan mengincar produk properti yang mana, bersikaplah realistis dengan menyelaraskan antara kebutuhan dan daya beli Anda. Kalau Anda baru lajang, mungkin membeli rumah atau apartemen ukuran terkecil yang tersedia sudah menjadi awal yang baik.

Lain lagi bila Anda sudah berniat membangun rumah tangga, membeli properti yang lebih besar dan lapang perlu dipikirkan. Tetapi kembali lagi, sesuaikan dengan anggaran yang ada. Jangan sampai Anda terlalu optimis dan memaksakan diri untuk membeli properti yang besar dan lebih mahal sampai keuangan kritis dan terpaksa berutang hanya untuk kehidupan sehari-hari.

Saran saya, bila Anda sudah memiliki sedikit tabungan dan masih perlu dana untuk menambahi sisanya, coba meminjam dana dari keluarga terdekat [tentunya dengan itikad baik untuk mengembalikan begitu sudah ada uang, karena tak jarang hubungan keluarga merenggang gara-gara utang!]. Jika ini tidak memungkinkan, barulah pikirkan alternatif lain seperti meminjam ke lembaga keuangan resmi seperti bank. Tetapi ingat, jalan yang kedua membawa konsekuensi signifikan bagi keuangan Anda.

Bangun sendiri atau percayakan pada pengembang?

Semua ada plus minusnya. Kalau Anda pilih membangun sendiri, artinya sudah siap dengan pembelian tanah, lalu mencari pekerja bangunan yang bisa dipercaya. Soal pekerja dan mengelola kerja mereka sampai bangunan rampung itu sangat menyedot tenaga. Anda harus pintar mengelola keuangan dan disiplin mereka agar anggaran tidak menggembung dan melampaui perkiraan awal. Keterbukaan dan rasa saling percaya juga amat dibutuhkan jika Anda ingin rumah Anda selesai dengan memuaskan. Hati-hati  kalau mengerjakan pembangunan properti sendiri karena biasanya biaya-biayanya bisa terlewatkan dari perkiraan sehingga benar-benar perlu kecermatan. Kelebihannya kalau membangun sendiri, Anda bisa membangun sesuai selera dan kebutuhan. Tidak ada pihak ketiga yang menentukan jenis material, harga, desain atau bentuk dan sebagainya.

Lain halnya jika kita pilih mempercayakan pada pengembang properti. Kita cukup membayar/ mengangsur dan properti sudah dirancang dan dibuatkan mereka. Kita sebagai konsumen tinggal terima bangunan sesuai spesifikasi yang mereka tawarkan. Jika tidak terpenuhi, kita bisa menuntut karena sudah ada surat perjanjian di atas kertas yang tentunya lebih kuat dalam aspek legalitas.

Rumah atau apartemen?

Tergantung selera untuk bisa menjawabnya. Ada mereka yang suka rumah tapak karena bisa dapat hak milik atas tanahnya juga. Lokasinya juga di luar kota atau pinggiran kota sehingga lingkungannya masih asri atau lapang. Kalau apartemen, tidak bisa. Tapi kelebihan apartemen, lokasinya biasanya strategis, di tengah kota dan pilihan. Infrastrukturnya sudah bagus dan lengkap. Rumah tapak apalagi di Jakarta rasanya sudah sulit dimiliki oleh kaum milenial walaupun mereka bersumpah mau mencicil sampai akhir hayat pun, kecuali yang sudah terlahir sebagai ahli waris dari orang tua yang kaya raya.

Saya sendiri lebih suka rumah tapak di luar Jakarta karena pastinya kualitas lingkungan hidupnya lebih baik dari Jakarta yang sudah acak-acakan dan parah. Dengan memilih rumah di luar ibukota, harga juga jauh lebih murah dan penataan lingkungannya lebih baik karena dirancang dari nol, tidak harus menanggung ‘dosa’ sebelumnya.

Pilih pengembang yang sudah tepercaya

Lakukan sedikit riset di internet jika Anda ingin membeli rumah via pengembang. Cari pengembang yang kredibilitasnya terbukti baik dan memiliki rekam jejak [track record] yang sudah terbukti baik dan positif. Cari informasi penting soal pengembang yang bersangkutan, misalnya siapa yang memilikinya, direktur-direkturnya, sudah berapa lama beroperasi, berita apa saja yang beredar mengenai pengembang ini di masa lalu [setiap pengembang biasanya terlibat dengan setidaknya kasus sengketa tanah atau konflik dengan konsumen yang merasa tidak puas atau warga sekitar yang memiliki keluhan. Makin banyak masalah tentu makin dipertanyakan kredibilitasnya].  Ingat juga bahwa pengembang properti yang baik bisa dilihat dari proyek-proyeknya sebelum ini. Apakah proyek-proyek itu terkelola dengan baik? Nah, itu tugas kita untuk mencari tahu.

Lazimnya pengembang baru yang masih minim rekam jejaknya harus bekerja keras membangun kepercayaan publik dengan menekan harga jual properti mereka sehingga bisa membuktikan keandalan mereka yang tak kalah dengan nama-nama besar. Tapi pastikan Anda benar-benar tahu lokasi kantor pusatnya dan siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban jika skenario terburuk terjadi [misalnya proyek mangkrak, proses refund yang susah,  spesifikasi tak sesuai janji, dan sebagainya]. Percuma saja Anda mengejar-ngejar agen-agen yang tak lebih kaya dari kita sendiri untuk mengganti rugi bila properti kita ternyata tak kunjung selesai dan diserahterimakan, atau diberikan dengan spesifikasi lebih rendah dari perjanjian.

Beli tunai lebih murah

Jika ada dana tunai [istilahnya cash keras], belilah properti pertama yang murah dulu. Baru nanti jika sudah ada dana ekstra di masa datang, Anda bisa menjualnya dan melakukan upgrade. Entah mau rumah yang lebih besar, ada kolam renang, atau berlantai dua, tak masalah sebab rumah bisa dijual lagi dan lazimnya harga properti seiring dengan inflasi dan tidak akan turun [dengan syarat lokasinya strategis atau setidaknya tidak parah aksesnya]. Yang penting Anda sudah punya dulu, satu dan kecil bukan masalah besar.

Kalau terpaksa mencicil, pilihlah tenor atau masa angsuran yang paling pendek bila memungkinkan. Jangan terpaku dengan jumlah cicilan per bulan yang sangat rendah karena itu ‘menipu’. Makin panjang masa tenor, makin mahal sebetulnya harga sebuah properti.

Pilih agen properti yang pas

Maksud saya dengan kata “pas” di sini ialah karakter agen properti yang mau membantu Anda, kaum milenial, yang sedang sibuk mengejar karier. Mereka ini idealnya orang-orang yang tidak keberatan untuk menjelaskan dengan ramah apapun yang Anda belum ketahui. Bahkan jika Anda meminta bantuan mereka untuk menjadi kuasa dalam aktivitas-aktivitas dalam proses pembelian properti, mereka akan dengan senang hati membantu dengan menjadi wakil Anda [misalnya karena Anda tidak bisa cuti, sedang banyak pekerjaan, atau sedang ke luar kota].

Saya sendiri sangat beruntung bertemu dengan seorang agen properti yang memiliki karakter yang jujur, beritikad baik dan tidak pushy alias suka mengejar-ngejar [baik via WhatsApp, telepon dan sebagainya]. Kebetulan saja saya bertemu dengannya – bukan di pameran properti – tapi di kereta komuter dan ia sedang menawarkan pada orang lain. Saat saya menyatakan minat, ia juga tidak berlebihan dalam memberikan respon, seperti dengan membujuk saya mati-matian untuk datang dan membeli. Saya tidak merasa ditakut-takuti, atau diseret. Saya juga tidak capek mendengar ia mempromosikan setiap bertemu saya. Dengan kata lain, semuanya berjalan mengalir apa adanya. Saat saya memilih rumah [di blok apa dan letaknya], saya juga meminta nasihat dan saran darinya agar terhindar dari kekecewaan di kemudian hari karena tidak tahu dari awal.

Saat saya katakan sedang sibuk karena tidak bisa menandatangani surat perjanjian jual beli, misalnya, ia akan dengan fleksibel mengubah jadwal. Atau saat saya sudah capek kerja, ia menawarkan untuk menjadi kuasa saya untuk mengambil bonus cash back yang dijanjikan pengembang. Saya merasa nyaman dan aman dengannya, dan ini saya yakini sebagai kunci memilih agen properti yang pas setidaknya bagi diri saya sendiri yang sangat benci hard selling. Kalau Anda mau kontak agen properti kenalan saya ini, saya bisa beritahukan via email/ surel akhlis(at)merahputih(dot)id. Dan saya tegaskan lagi bahwa saya TIDAK memiliki hubungan atau perjanjian apapun dengan agen tersebut dan tidak akan mendapatkan imbalan dalam bentuk apapun jika ia mendapatkan konsumen melalui rekomendasi saya ini. Saya merekomendasikannya HANYA karena saya merasa puas dengan pekerjaannya saat membantu saya dalam proses panjang membeli properti. (*/)

Blogger Idealis VS Blogger Komersil: Pilih Mana?

img 20150122 123724
(Dok pribadi)

“My blogging life is basically goalless. I like the zen nature of that, and paradoxically, it improves results.”- Seth Godin

SEBAGAI blogger, saya bukan termasuk blogger yang gemar mengunjungi acara-acara kolosal yang dihadiri blogger-blogger atau citizen journalists. Mungkin karena saya memulai menulis blog bukan hanya sekadar keinginan mengikuti tren. Saya pantang menyerah dan masih juga memperbarui konten tanpa ada insentif apapun meski saat itu [tahun 2009] saya hanya bisa mengakses internet berbekal koneksi nirkabel yang kecepatannya membuat saya harus berkali-kali mengelus dada dan begadang sampai pukul dua pagi [entah kenapa koneksi internet makin lancar saat langit makin gelap. Saya ingin bertanya pada Smart sebagai penyedia layanan saat itu tapi belum sampai pada mereka].

Saya tidak bermaksud arogan saat mengatakan saya tak lagi memiliki hasrat untuk menghadiri acara-acara blogging tetapi karena saya merasa saya sudah menemukan tujuan saya dalam menulis blog.

Tidak munafik, dulu sebetulnya saya sering berusaha menyempatkan diri untuk menghadiri acara-acara seperti itu tetapi seiring berjalannya waktu, saya merasa makin lelah dan merasakan adanya desakan untuk meningkatkan ilmu dan pengalaman dengan tidak melulu mempelajari hal yang sama berulang kali.

Setelah sembilan (9) tahun menggeluti dunia blogging ini, saya sangat bersyukur karena saya sudah bisa menggapai banyak hal dengan berbekal blog-blog amatir yang sudah saya tulis. Maksud saya ‘amatir’, blog-blog saya hanya bercokol di domain-domain platform blogging gratis semacam wordpress.com seperti ini atau blogger.com.

Saya menggunakan blog-blog itu sebagai batu loncatan dan latihan untuk meyakinkan diri saya bahwa saya memang bisa dan piawai menulis. Dan saat saya sudah meyakinkan diri saya bahwa saya bisa, giliran saya meyakinkan orang lain mengenai hal yang sama. Dan saat itulah, saya tunjukkan karya saya dalam bentuk blog-blog ini. Sebelum mendapatkan pekerjaan sebagai jurnalis, saya memakai blog-blog ini sebagai portofolio yang saya bisa sodorkan pada pemberi kerja dan syukurlah, pemberi kerja yakin dengan apa yang saya sudah lakukan itu.

Jadi, sekali lagi saya tidak berkata saya menulis blog hanya untuk idealisme. Saya juga tentunya ingin mendulang keuntungan dari sini. Tetapi masalahnya keuntungan itu, apapun bentuknya, tidaklah bisa didapatkan secara instan dan bentuknya tidaklah mesti keuntungan finansial yang jumlahnya menggiurkan dan konstan datangnya.

Lalu muncullah keluhan-keluhan mengenai munculnya blogger-blogger yang passion utamanya ialah memfasilitasi brand-brand tertentu [entah mau mereka benar-benar pakai atau tidak, mereka sukai atau tidak] dalam upaya marketing dan sales.

Saya akui saya juga tidak kebal dari iming-iming semacam itu. Di blog ini, beberapa unggahan artikel saya adalah tulisan yang saya buat dalam rangka mempromosikan produk dan layanan brand tertentu [Anda bisa cari sendiri].

Namun, dari semangat yang menggebu-gebu untuk meraup hadiah, lama-kelamaan saya berpikir ada yang salah rasanya jika saya mengobral ruang di blog saya ini dengan memuat konten apa saja yang bersifat komersial, tanpa mempedulikan pandangan dan opini saya sendiri.

Ini bisa jadi karena saya sudah mulai menemukan ceruk saya sendiri untuk menulis secara profesional. Saya tidak menganggap blogging sebagai suatu sumur minyak satu-satunya yang saya harus eksploitasi secara maksimal. Saya menggantungkan sumber nafkah pada pekerjaan saya yang utama sehingga saya bisa lebih berdaulat di blog saya sendiri. Kedaulatan itu berupa kebebasan saya untuk menentukan konten atau tulisan seperti apa yang bisa saya masukkan atau tidak di blog saya. Mau ada yang membaca atau tidak, saya tetap memperbarui blog saya karena saya masih yakin bahwa konten yang bagus dan bermanfaat akan didatangi pengunjung bagaimanapun caranya. Organik, begitu satu istilah untuk menggambarkannya.

Seorang blogger yang sudah menulis lebih lama dari saya menyinggung soal suasana blogger saat ini terutama di Jakarta yang dipenuhi persaingan dan komersialisme. Interaksi sesama blogger, katanya, bukan lagi soal-soal substansial mengenai isu yang berkaitan dengan ketertarikan/ passion mereka tetapi melenceng ke monetisasi. Pokoknya bagaimana menambang uang dari blog. Atau jika bukan soal monetisasi, malah mereka membahas soal prestise semu semacam pagerank, Alexa rank, dan sebagainya. Lupakan soal influence, dampak yang diharapkan agar perubahan menuju ke arah yang lebih baik itu ada di masyarakat.

Menulis di blog pribadi memang tidak bisa 100% dianggap sebagai sumber penghasilan dan memang jangan sampai dianggap seperti itu.

“Blogging ONLY for money is a total bullshit.”

Itu menurut saya. Kecuali bagi orang-orang yang sudah memiliki komoditas yang jelas dan dibutuhkan untuk dijual ke masyarakat, seperti kepakaran, reputasi, ketenaran, ketrampilan, produk fisik, atau jasa.

Blogger-blogger yang ‘gagal’ memiliki atau membangun komoditas berharga untuk dijual via blog mereka biasanya berpikir pendek dengan ‘membangun kerjasama’ bersama brand-brand dan perusahaan-perusahaan untuk tetap bisa menghasilkan sesuatu dari aktivitas blogging mereka supaya tidak dikatakan pekerjaan yang sia-sia atau mubazir oleh orang-orang di sekitar mereka. Tak heran sekarang banyak blogger yang merasa sudah dikenal dan mulai berani untuk mengajukan diri sebagai pengulas produk dan jasa dengan imbalan yang biasanya berupa produk, voucher, tiket, kesempatan berwisata atau menginap yang semuanya gratis. Kalau tidak ada freebies sejenis itu, setidaknya ada goodie bags [yang biasanya berisi flash disk, notes, kaos, pulpen, wadah kartu nama, dan sebagainya] yang bisa dibawa pulang. Fenomena semacam ini nyata adanya di  antara para blogger gaya hidup (lifestyle) dan pelesir (traveling) yang memang sedang jaya-jayanya sekarang.

Sekarang ini saya telah menemukan dan akan terus berupaya memelihara keseimbangan dengan sesekali ikut lomba blogging yang temanya sesuai dengan minat, passion serta opini pribadi saya juga. Jadi kecil sekali kemungkinan saya mau menulis soal produk yang saya bahkan tidak pernah pakai, atau bahkan saya kurang sukai.

Ada tanggung jawab moral untuk mencoba dan membuktikannya dahulu agar orang lain tidak mengalami kerugian yang sama [bila memang ada kerugiannya] dan bisa mendapatkan faedah yang serupa [jika kita temukan manfaat positifnya].

Dan tentu saya masih akan terus menulis opini, pengalaman dan pemikiran saya yang tidak akan didapatkan dari blog-blog orang lain betapapun mereka lebih segala-galanya dari saya. (*/)

To Be a Good Entrepreneurship Reporter, Don’t Be an Entrepreneur

So here’s the rule of thumb for entrepreneurship and business reporters out there: Don’t be the person you want to interview and write about. In other words, don’t be an entrepreneur or business person. This piece of advice sounds a little bit counter-intuitive as I thought it’d be much easier to understand the subject matters by being in their shoes, seeing things the way these people do so I can write better about them and their companies.

It turns out I’m wrong…

Reporters need to stay away from being an entrepreneur themselves. They can’t be a top-notch reporter and a great entrepreneur at the very same time. They have to relinquish one of the two.

That’s probably the gist of Sarah Lacy’s statements. The founder of media company Pando.com was asked whether being an entrepreneur herself changed her way of writing as a tech reporter. As we all know, Lacy has worked for almost 15 years writing about the tech industry, the people and the whole dynamics in it. She answered it bluntly,”I’m a way worse reporter now…”

Asking hard questions to other entrepreneurs as an entrepreneur cum reporter is relatively easy, claimed Lacy. Yet, she stated that what bothered her to do her best job she always wanted is the OVEREMPATHY on the answers. “So particularly when it comes to things I’ve gone through…like having the ousted board member (she might be reminded of Mike Arrington ousted from TechCrunch or?) or even like a cash crunch or hiring a sales guy that didn’t work out[…]”

She further said she didn’t write as much as she used to and she felt for these pitiful entrepreneurs. “Because I see every side to it and I feel for them,”explained the mother of two.

Thank God, I’m not an entrepreneur because if I have to be one, I would certainly lose my best job ever. And I would never trade being a writer to any job on earth. This is very much the best. At least for now.

Menyoal Nasionalisme Digital Kita yang Kurang Kental

Mungkin bagi sebagian orang meninggalkan dua jejaring sosial paling populer di jagad maya terlalu musykil. Jujur, saya baru saja beberapa hari lalu menutup akun Facebook dan Twitter saya. Tentu ini semua ada hubungannya dengan skandal penyalahgunaan data oleh Facebook yang membuat geger dunia.

Saya sendiri memang sudah mulai tidak meminati Facebook dan Twitter. Entah itu kebosanan atau sekadar ingin berbeda dari selera arus utama (mainstream).

Namun, saya memiliki alasan utama sendiri untuk meninggalkan jejaring sosial tadi. Karena saya ingin pengambilan keputusan saya dalam berdemokrasi nanti lebih murni karena apa yang saya yakini. Tidak goyah oleh hoax yang bertebaran di media sosial.

Dan yang terpenting, saya bisa menghemat waktu dan tenaga saya untuk mengerjakan sesuatu yang jauh lebih positif, seperti berjejaring soal profesi via LinkedIn atau berbagi informasi soal yoga dan kesehatan yang saya minati via Instagram. Di kedua jejaring sosial ini saya lebih pilih karena relatif lebih netral dalam hal berita palsu dan politik.

Memang masih ada yang mencibir,”Lha kan kamu masih pakai Instagram dan WhatsApp. Itu juga punya Facebook kan?” Tetapi alasan yang bisa saya berikan kemudian ialah saya setidaknya sudah berusaha memulai ketergantungan saya pada produk digital bangsa lain. Saya memiliki alternatif lain yang bisa lebih saya percayai karena dihasilkan oleh bangsa saya sendiri.

Ini juga menjadi awal untuk menegakkan kedaulatan kita sendiri. Selama ini Indonesia dan rakyatnya banyak dianggap sebagai pasar yang empuk. Dalam banyak kesempatan, orang-orang menyebutkan dengan bangga bahwa penetrasi internet di Indonesia terus naik dan pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter makin banyak.

Setelah skandal penyalahgunaan data oleh Facebook beberapa waktu lalu, harusnya kita makin sadar bahwa fakta itu bukan sebuah kebanggaan. Kita sebagai bangsa mesti segera sadar bahwa kita sudah ditelanjangi habis-habisan dengan menggunakan ‘pelet’ bernama media sosial. Kita ungkapkan data pribadi kita begitu saja di media sosial, menyebarkannya dan ini membuat kita makin mudah dikendalikan oleh sebagian pihak yang tidak bertanggung jawab.

Bayangkan bangsa sebesar dan semaju AS dan Inggris saja bisa digiring ke plot tertentu demi keuntungan pihak-pihak yang haus kekuasaan, apalagi kita yang masih banyak belajar dalam banyak hal seperti ini.

Namun, itu semua bisa kita ubah.

Kita mesti memiliki niat yang kuat untuk menjadi lebih mandiri di tengah perkembangan teknologi digital sekarang. Misalnya, untuk menggantikan Facebook dan Twitter, sebenarnya kita juga punya jejaring sosial produk anak bangsa.

Satu yang saya sudah pernah pakai empat tahun lalu saat diperkenalkan secara luas ke publik ialah Sebangsa.com. Menurut pengetahuan saya, aplikasi jejaring sosial Sebangsa ini lumayan bagus dan sudah bisa diunduh di dua platform ponsel cerdas masa kini, yakni Android dan iOS. Sementara itu, aplikasi jejarig sosial lainnya baru menyediakan versi Androidnya.

Lalu saya terpikir untuk mulai beralih menggunakan layanan email/ surel saya dengan produk dalam negeri seperti MerahPutih.id. Dulu saat zaman kuliah saya malah pakai Plaza.com, yang entah sekarang masih ada atau tidak. Baru dalam kurun 9 tahun terakhir saya sangat aktif memakai Gmail dan Outlook, yang notabene produk buatan Google dan Microsoft (baca: AS).

Saya memang masih mustahil meninggalkan GMail tetapi saya sudah mulai memakai email MerahPutih.id sebagai alat korespondensi saya sehari-hari. Seorang teman ‘bule’ saya bahkan terkagum dengan nama domain email saya yang menurutnya unik itu. “Wow, merahputih!” serunya saat saya katakan ia bisa menulis email ke alamat email baru ini daripada ke Gmail saya yang lama.

Tiba-tiba saya kembali teringat dengan kebijakan pemerintah Tiongkok untuk mencekal Facebook dan Twitter di negerinya. Mereka pasti sudah memikirkan efek buruknya masak-masak. Mereka sadar bangsa mereka bisa dieksploitasi bangsa lain, dan mereka tidak mau itu terjadi. Ini juga didukung dengan pemerintahnya yang secara tegas melarang demi kepentingan bersama.

Saya juga teringat dengan tetangga kos saya yang warga asli Korsel. Saban ponselnya rusak, ia pasti membeli Samsung atau LG. Seberapapun murah dan bagusnya merek ponsel lain, dua merek itu menjadi pilihannya karena itu merek-merek kepunyaan bangsanya sendiri. Ia tahu perkembangan ekonomi Korsel banyak bergantung pada performa bisnis kedua chaebol pemilik perusahaan raksasa tadi.

Jadi, walaupun kecil dan hampir terkesan tidak berarti, ia sudah merasa berkontribusi.

Saya tentu tidak menyarankan kita harus sampai seekstrem itu dalam menyikapi perkembangan dunia digital saat ini. Tetapi sudah saatnya kita sebagai bangsa bertanya pada diri sendiri:”Apakah kita akan selalu menjadi bangsa yang memakai produk bangsa lain?

Atau kita mulai mempercayai bangsa kita sendiri dengan menggunakan produk-produk yang saudara-saudara sebangsa kita buat dengan susah payah?” (*/juga ditayangkan di Kompasiana.com)

The Success Catalyst of Journalism Businesses

At Galeri Nasional

Mark Briggs of Poynter Institute claims his course would tell you – aspiring entrepreneurial journalists – what to do before plunging to the business world. After the huge success of BuzzFeed and The Huffington Post, every journalist seems enchanted to give this a try. Who knows it’ll be a fruitful business undertaking that’ll lead you to a life full of fortune?

But if you’re like me, you know it takes more than writing and reporting skills to do great in journalism industry. There’re so many factors we need to take into account to be successful. And yet, the meaning of success itself is blurred. What I mean by success may be entirely different from what you mean, and what any other journalists mean.

Briggs couldn’t be as popular and wealthy as Kara Swisher, Sarah Lacy, Jakoeb Oetama or Jonah Peretti but he is for sure quite experienced in his own way. He stated his course “aims to give participants the knowledge and tools needed to launch content-driven news/information websites. We’ll take you from idea to implementation and, when necessary, help you retool or replace ideas with better versions.” In complete, he writes:

If you’re considering starting a news or information-oriented website, this course will help you decide whether an entrepreneurial path is the right one for you. And if you’re looking for a crash course on starting a business, it will show you the ropes, point you to the right resources and help you formulate the questions you most need answers to.

WHAT YOU WILL LEARN:

After completing this course, you’ll have newfound knowledge about creating a business and bringing your specific idea to fruition.

You’ll be able to:

  • Explain the difference between an idea and a product.
  • List the basic elements of a business plan.
  • Define basic business and marketing terms, including ROI and CPC.
  • List and summarize the legal structures available when establishing a business, and identify their strengths and weaknesses.
  • List popular technological platforms and cite strengths and weaknesses of each.
  • List available analytics tools and identify what to track and how to analyze the numbers.
  • Summarize the primary options when forming a business as a legal entity, getting legal and accounting help and finding software to help run the business.
  • List and describe major ad networks (e.g., BlogHer, Federated Media)

For your specific business, you’ll be able to:

  • Define your market, approximate its size and identify your audience
  • Write an executive summary.
  • Define the current work that needs to be done and identify the people who can do it.
  • Determine whether funding is needed and, if so, how much.
  • Decide whether the business can be bootstrapped and, if not, identify options for securing funding.
  • Estimate how many users/customers/viewers/readers will be “enough” to make the business work.
  • Identify qualities that distinguish your business from your competitors.
  • Perform a basic assessment of potential adjacent markets.
  • List questions that need to be answered about your product, market and/or business.
WHO SHOULD TAKE THIS COURSE:
  • Journalists working at legacy operations interested in founding a start-up venture
  • Recent journalism graduates interested in working in journalism, but not for a “traditional” journalistic business
  • Anyone passionate about a community, topic or cause who has a desire to start a publication-based business with journalistic values

For a moment, I let the words seep into my mind. Is it going to work? Can all these topics cover what it takes to be a successful entrepreneur in journalism industry?

It doesn’t seem that easy. Mastering all these things might be leading us closer to the goal but definitely not instantly.

We need a CATALYST.

What could that be? The mysterious catalyst that we’re searching for…

I remember several juniors asking me if they could just stay in the comfort of their hometowns while doing their journalism gigs. I told them, if they can be in Jakarta, it’d be much better.

The reason is because they need NETWORKS, people. They must see and talk to people, not only sitting and typing at home. Journalism businesses do NOT work that way. You have to go out, see more and more people, talk to them, dig tons of information from these folks you may not find at the smaller social circle in hometown.

When It Comes to Gadgets, How Old is REALLY Obsolete?

Growing Smartphone Collection
You know your gadget is obsolete enough when even a robber gives it back to you. (Photo credit: Michael Kwan (Freelancer))

This story shows you how much people nowadays care about the latest trend in technology market. By people, I mean all of us – especially the millenials- who earn a living either by securing a proper, socially and morally acceptable job or robbing others while there’s no job available.

A man robbed by two men in New York‘s Central Park said they returned his cellphone when the outdated gadget apparently failed to meet their standards.

Kevin Cook, one of two men robbed by the duo shortly after midnight Saturday, said one mugger displayed a gun and said he would shoot the victims if they made any noise, WINS-AM, New York, reported Monday.

The robbers took a cellphone, a briefcase and a wallet containing about $114 cash. But Cook said one of the robbers gave him back his phone.

“He just took a look at it and he didn’t recognize it at all. I just assumed that he couldn’t make any money off of it. So he handed it back to me and a minute later I was able to call 911 and get the whole thing started,” Cook said.

Cook said there turned out to be an upside to his outdated 2010 LG Quantum. It’s shocking how care a criminal cared about the gadget newness.

“It’s like, finally a pro for having something out of date,” he said.

But look at the bright side. Now we know that it’s much safer for us to go out anywhere with antique phones in the pocket than having sleek cutting-edge smartphones.

And now on my question in the title, how old is outdated when it comes to gadgets in fact? If a three-year-old phone is seen worth a spot at the nearby museum, or a recycle bin, how about a 7-year-old Motorola Razr or a decade-old Nokia 3315?

Yet if I’m asked, I’d say that could be 2 years and because the increasingly faster pace of tech giants encourages more new gadgets to get released, the time span of a gadget’s coolness keeps shrinking.

As for me, I’ve got a Samsung Galaxy Nexus for more than a year but now that more new gadgets are coming like the inundating flood of Danube riber in the middle of summer, I feel like this handset is llike a relic.

Riset: Konsumsi Daging Merah dan Unggas Tingkatkan Risiko Diabetes

Kita baru saja dikejutkan dengan kabar duka dari band Kerispatih. Sang basis Dika meninggal dunia mendadak di usia yang terbilang masih muda, 36 tahun. Dikatakan almarhum memiliki riwayat diabetes [kencing manis] dan berujung pada komplikasi sampai mengalami serangan stroke [sumber].

Tentu kita bertanya-tanya, bagaimana bisa orang-orang muda sekarang bisa menderita diabetes juga padahal seperti banyak kita tahu, diabetes dulu kita kenal sebagai penyakitnya orang usia lanjut.

Salah satu faktor penyebab makin banyaknya orang-orang usia produktif yang sudah terjangkit diabetes ialah naiknya konsumsi daging merah dan unggas mereka dari tahun ke tahun seiring dengan tren kuliner, perubahan gaya hidup yang makin sejahtera dan makmur sehingga membeli daging yang semula ritual yang jarang dan dirayakan secara istimewa, menjadi sebuah kegiatan makan harian.

Hipotesis saya ini didukung oleh hasil penelitian tim riset dari National University of Singapore. Ditemukan adanya kaitan antara risiko kencing manis dengan konsumsi daging merah dan unggas. Diduga ada kaitan juga dengan kandungan zat besi yang ada di dalam bahan makanan hewani itu.

Temuan ini berdasarkan pada penelitian pada 63.257 orang dewasa usia 45 sampai 74 tahun sepanjang 5 tahun. Dilakukan juga tindak lanjut sampai 11 tahun berikutnya untuk mengetahui secara lebih akurat dampak konsumsi daging merah dan unggas pada kesehatan.

Bagi Anda yang cemas dan bertanya,”Lalu bagaimana saya bisa mendapat asupan protein?” Jawabannya ada pada IKAN. Masih menurut tim riset tersebut, ditemukan bahwa konsumsi daging ikan tidak berkaitan dengan risiko diabetes yang meningkat. Dengan kata lain, banyaknya ikan yang dimakan tidak memicu risiko kencing manis dalam diri seseorang. Bisa dikatakan mengganti daging merah dan unggas dengan ikan membuat kita lebih jauh dari risiko penyakit degeneratif tersebut. [sumber]

pexels-photo-680302.jpeg

Temuan ini juga mengejutkan karena selama ini kita pikir daging ialah sumber protein yang tidak berkaitan dengan diabetes yang identik dengan makanan manis dan legit.

Apa penyebabnya? Ternyata ditemukan ada kandungan zat besi-heme di daging unggas (ayam, bebek, dan sebagainya) yang dianggap ilmuwan sebagai biang keladinya.

Anda yang tidak bisa berhenti makan ayam dan produk turunannya mungkin akan protes:”Lalu bagaimana jika saya tidak bisa makan tanpa ayam?”

Tenang, masih ada solusi sehatnya jika memang terdesak tak bisa makan tanpa ayam. Disarankan untuk memilih bagian yang paling rendah kandungan zat besi-heme-nya, yakni bagian dada ayam.

Peneliti menyarankan agar kita memilih diet yang seimbang, yakni memangkas konsumsi daging merah dan unggas sembari memperbanyak ikan atau produk makanan laut. Dan bila alergi pada makanan laut, sumber protein nabati juga patut dilirik sebagai pemerkaya menu. (*/)

 

 

 

11 Drama Korea Bertema Penulis yang Harus Anda Tonton

MENONTON sebuah tayangan tentang pekerjaan orang lain terasa sungguh mengasyikkan. Tetapi menonton tayangan soal profesi kita sendiri membuat kita merasa lebih terlibat dan merasa istimewa karena itu berarti ada pengakuan dari orang lain terhadap profesi kita dan masyarakat menunjukkan minat atas itu.

Saya tidak akan membandingkan sinetron Indonesia dengan drama Korea yang meski sama-sama picisan ternyata berbeda juga. Maksud saya berbeda dalam hal pemilihan profesi karakternya. Anda tahu sendiri orang-orang berprofesi apa yang ditampilkan di dalam sinetron Indonesia. Kalau bukan direktur, eksekutif muda, boss, dan lawan mainnya berprofesi kebalikannya yang notabene menyedihkan dari segi finansial. Terdapat jurang perbedaan yang menganga lebar antara kenyataan dan ilusi yang ditampilkan di layar televisi.

Di drama korea, entah karena mungkin mereka lebih workaholic dari orang Indonesia, keragaman pekerjaan karakter yang ditampilkan di drama terasa lebih kaya. Dan itu menjadi terasa lebih realistis [walaupun belum sepenuhnya mencerminkan kenyataan juga].

Ah, sudahlah. Tidak akan habis jika saya harus membandingkan.

Sudah lama sebenarnya saya ingin menuliskan ini tetapi baru sempat sekarang dan ternyata di khasanah drama korea ada cukup banyak juga drama yang menaruh titik sentral pada karakter yang berprofesi sebagai penulis, sebuah pekerjaan yang saya geluti juga selama delapan tahun terakhir ini sekaligus sebuah minat yang saya sudah tekuni lebih lama dari itu.

Full House [2004]

Drama pertama yang menjadi tonggak masuknya Korean Wave ke Indonesia ini ditayangkan pada tahun 2004-2005. Sampai begitu populernya, sampai stasiun televisi di sini menayangkan ulang beberapa kali. Bahkan sekarang di aplikasi penayang konten digital semacam Iflix dan Viu, drama ini kalau tidak salah juga masih bisa dinikmati secara gratis.

Tokohnya yang menjadi penulis ialah Han Ji-eun (diperankan Song Hye-kyo), seorang penulis naskah film (scriptwriter) yang terpaksa harus tinggal dengan aktor bertemperamen buruk Lee Young-jae (diperankan Rain). Meski saat itu terdengar masuk akal, saat ini kalau saya baca-baca lagi plotnya dan menonton, terasa absurd juga. Apalagi saya masih ingat karier kepenulisan Han Ji-eun yang mulanya sama sekali mengecewakan kemudian bisa berakhir manis. Naskahnya diterima oleh rumah produksi. Apakah karena itu hanya karena ia bersuamikan Young-jae, seorang aktor terkenal? Tapi setidaknya serial ini membuat saya ingin menulis di sebuah rumah besar, lapang, asri di tepian danau. Alangkah idealnya studio menulis seperti itu.

Coffee House [2010]

ch6_poster

Ini drama tentang seorang penulis thriller terkenal (lagi-lagi terkenal dan muda dan tampan plus kaya raya dan modis) yang terjebak cinta masa lalu, dan dua orang wanita yang bekerja sebagai penerbitnya dan sekretaris pribadinya. Ia tipe orang yang suka berbuat sekehendak hati. Tidak mempertimbangkan perasaan atau kepentingan orang lain. Tidak mau hadir dalam sesi penandatanganan novel barunya? Kenapa tidak pergi saja dari taksi yang dijaga ketat staf penerbitan? Gila mungkin kalau ada novelis seperti ini. Tapi soal kepribadian yang aneh dan eksentrik, saya setuju bahwa setiap penulis memiliki sisi itu. Hanya saja, tidak semua penulis memiliki wajah setampan itu.

Style [2009]

Style_Poster.png

Adalah Park Gi-ja (diperankan Kim Hye-soo), seorang editor majalah fashion yang suka berperilaku seenaknya pada asistennya yang bernama Lee Seo-jung (diperankan Lee Ji-ah). Karena tuntutan finansial ia harus bertahan di majalah Style yang dikelola Gi-ja dan seorang atasan wanita lain yang tak kalah menekan padahal Lee Seo-jung ini ingin sekali menjadi penulis, tidak cuma pesuruh si editor arogan.

Ghost [2012]

Phantom-poster.jpg

Sebetulnya ini drama soal dunia maya alias internet dan hacking. Tapi jangan salah ada juga tokoh Park Gi-young (diperankan Daniel Choi) yan dikisahkan sebagai peretas yang menyamar sebagai reporter investigatif andal.  Bawahannya Choi Seung-yeon adalah seorang reporter pemula yang diremehkan Park Gi-young karena dianggap kurang berani menguak kasus di lapangan. Dalam perkembangannya, Choi bekerjasama dengan polisi untuk mengungkap kasus pembunuhan seorang model terkenal melalui tulisannya di media daring. Di sini kentara sekali bahwa kekuatan penulis itu sangat besar dalam membentuk opini masyarakat di era digital. Apalagi jika konten itu viral dan dibaca banyak orang.

Chicago Typewriter [2017]

Chicago_Typewriter_Poster

Drama yang mirip seperti kisah poliandri abadi lintas waktu ini mengisahkan tentang 2 orang pemuda yang terpikat oleh satu gadis cantik yang jago menembak. Dan karena dua pemuda itu berteman baik, mereka terlalu segan untuk membenci satu sama lain dan tidak sampai saling bunuh demi mendapatkan gadis pujaan bernama Ryu Soo-hyon yang diperankan Im Soo-jung di era kependudukan Jepang di Korea. Dua pria ini bernama Shin Yul (diperankan Go Kyung-pyo) dan Seo Hui-young (Yoo Ah-in). Delapan puluh tahun berlalu dan mereka bertiga dipertemukan kembali lewat mesin ketik kuno. Intinya, mereka bereinkarnasi. Absurd. Tapi menarik dan asyik. Setidaknya dua pria ini diceritakan memiliki bakat menulis yang membuat mereka menjadi terkemuka. Lagi-lagi, penulis digambarkan sebagai pekerjaan yang prestisius, bisa membuat orang kaya raya (lihat saja megahnya rumah penulis Han Se-joo yang memiliki ingatan masa lalu sebagai Seo Hui-young). Lalu penulis juga dideskripsikan sebagai pekerjaan kaum borjuis dan perlente (lihat saja karakter Yoo Jin-oh yang diperankan Go Kyung-pyo) yang mengingatkan saya pada pelopor New Journalism, Gay Talese. Menulis adalah ritual yang membuat pelakunya mesti berbusana bagus. Tidak bisa serampangan berpakaian. Bisa jadi ada benarnya karena selama ini penulis dianggap profesi santai dan bisa dikerjakan di mana saja tanpa harus berpakaian rapi dan pergi ke kantor seperti eksekutif muda atau pekerja korporat.

Because This Is My First Life [2017]

250px-Because_This_is_My_First_Life

Di sini penulis digambarkan secara lebih realistis. Tidak ada rumah mewah atau ketenaran atau harta berlimpah. Lihat saja Yoon Ji-ho (diperankan Jung So-min) yang hidupnya menyedihkan sebagai asisten penulis naskah drama. Deritanya lengkap: melajang di usia 30, ditendang dari rumah karena adiknya yang laki-laki sudah menikah dan akan punya bayi, ditolak permohonan kreditnya oleh bank karena berstatus pekerja lepas (yang meskipun drama-drama yang ditulisnya begitu terkenal sampai ia menyodorkan judul-judul dan foto-fotonya bersama aktor-aktor kepada teller bank, tak berhasil juga membuat permohonan kreditnya dikabulkan).

My Love Eun Dong

Beloved_Eun-dong_(사랑하는_은동아)

Jujur saya belum menonton film ini dan baru saja membaca ulasannya di Wikipedia. Inti ceritanya soal seorang aktor yang jatuh cinta dengan penulis bayangan (ghostwriter) yang ia sewa. Dan tentu saja si pria ini bertemperamen sulit lalu meleleh begitu ghostwriternya masih bersemangat dan terlihat tulus. Klise tapi oke juga.

Kill Me, Heal Me [2015]

4da0f63b1bc877a6e51425614824984622e07c2e_00

Novelis Park Seo Joon tidak suka terlalu dikerubuti penggemar tapi malah mengumbar kehidupan pribadi saudaranya untuk dipakai di novelnya. Drama ini belum saya tonton dan tampak menarik juga dinikmati.

It’s Okay, That’s Love

Its_Okay_poster_1.pngDi sini Jo In Sung memainkan peran novelis terkenal dalam genre misteri. Seperti biasa, ia memiliki sifat eksentrik berupa OCD dan delusi.  Lalu ia jatuh cinta pada psikiater yang menanganinya.

The King of Dramas

250px-The-King-of-Dramas-Poster1.jpg

Drama ini menampilkan  Jung Ryeo Won sebagai penulis naskah drama pemula. Untuk itu ia harus bekerjasama dengan CEO dan aktor bintang yang arogan.

Ex Girlfriends Club [2015]

exgf_6.jpg

Byun Yo Han di sini memerankan karakter protagonis yang berprofesi sebagai penulis webtoon. Ini unik karena selama ini yang diangkat cuma penulis novel. Konflik muncul begitu karyanya difilmkan dan semua mantan pacarnya pun menjadi berang.

Yang mana drama tentang penulis yang Anda favoritkan? (*/foto: Wikipedia)

%d bloggers like this: