Riset: Konsumsi Daging Merah dan Unggas Tingkatkan Risiko Diabetes

Kita baru saja dikejutkan dengan kabar duka dari band Kerispatih. Sang basis Dika meninggal dunia mendadak di usia yang terbilang masih muda, 36 tahun. Dikatakan almarhum memiliki riwayat diabetes [kencing manis] dan berujung pada komplikasi sampai mengalami serangan stroke [sumber].

Tentu kita bertanya-tanya, bagaimana bisa orang-orang muda sekarang bisa menderita diabetes juga padahal seperti banyak kita tahu, diabetes dulu kita kenal sebagai penyakitnya orang usia lanjut.

Salah satu faktor penyebab makin banyaknya orang-orang usia produktif yang sudah terjangkit diabetes ialah naiknya konsumsi daging merah dan unggas mereka dari tahun ke tahun seiring dengan tren kuliner, perubahan gaya hidup yang makin sejahtera dan makmur sehingga membeli daging yang semula ritual yang jarang dan dirayakan secara istimewa, menjadi sebuah kegiatan makan harian.

Hipotesis saya ini didukung oleh hasil penelitian tim riset dari National University of Singapore. Ditemukan adanya kaitan antara risiko kencing manis dengan konsumsi daging merah dan unggas. Diduga ada kaitan juga dengan kandungan zat besi yang ada di dalam bahan makanan hewani itu.

Temuan ini berdasarkan pada penelitian pada 63.257 orang dewasa usia 45 sampai 74 tahun sepanjang 5 tahun. Dilakukan juga tindak lanjut sampai 11 tahun berikutnya untuk mengetahui secara lebih akurat dampak konsumsi daging merah dan unggas pada kesehatan.

Bagi Anda yang cemas dan bertanya,”Lalu bagaimana saya bisa mendapat asupan protein?” Jawabannya ada pada IKAN. Masih menurut tim riset tersebut, ditemukan bahwa konsumsi daging ikan tidak berkaitan dengan risiko diabetes yang meningkat. Dengan kata lain, banyaknya ikan yang dimakan tidak memicu risiko kencing manis dalam diri seseorang. Bisa dikatakan mengganti daging merah dan unggas dengan ikan membuat kita lebih jauh dari risiko penyakit degeneratif tersebut. [sumber]

pexels-photo-680302.jpeg

Temuan ini juga mengejutkan karena selama ini kita pikir daging ialah sumber protein yang tidak berkaitan dengan diabetes yang identik dengan makanan manis dan legit.

Apa penyebabnya? Ternyata ditemukan ada kandungan zat besi-heme di daging unggas (ayam, bebek, dan sebagainya) yang dianggap ilmuwan sebagai biang keladinya.

Anda yang tidak bisa berhenti makan ayam dan produk turunannya mungkin akan protes:”Lalu bagaimana jika saya tidak bisa makan tanpa ayam?”

Tenang, masih ada solusi sehatnya jika memang terdesak tak bisa makan tanpa ayam. Disarankan untuk memilih bagian yang paling rendah kandungan zat besi-heme-nya, yakni bagian dada ayam.

Peneliti menyarankan agar kita memilih diet yang seimbang, yakni memangkas konsumsi daging merah dan unggas sembari memperbanyak ikan atau produk makanan laut. Dan bila alergi pada makanan laut, sumber protein nabati juga patut dilirik sebagai pemerkaya menu. (*/)

 

 

 

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in health and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.