Blogger Idealis VS Blogger Komersil: Pilih Mana?

img 20150122 123724
(Dok pribadi)

“My blogging life is basically goalless. I like the zen nature of that, and paradoxically, it improves results.”- Seth Godin

SEBAGAI blogger, saya bukan termasuk blogger yang gemar mengunjungi acara-acara kolosal yang dihadiri blogger-blogger atau citizen journalists. Mungkin karena saya memulai menulis blog bukan hanya sekadar keinginan mengikuti tren. Saya pantang menyerah dan masih juga memperbarui konten tanpa ada insentif apapun meski saat itu [tahun 2009] saya hanya bisa mengakses internet berbekal koneksi nirkabel yang kecepatannya membuat saya harus berkali-kali mengelus dada dan begadang sampai pukul dua pagi [entah kenapa koneksi internet makin lancar saat langit makin gelap. Saya ingin bertanya pada Smart sebagai penyedia layanan saat itu tapi belum sampai pada mereka].

Saya tidak bermaksud arogan saat mengatakan saya tak lagi memiliki hasrat untuk menghadiri acara-acara blogging tetapi karena saya merasa saya sudah menemukan tujuan saya dalam menulis blog.

Tidak munafik, dulu sebetulnya saya sering berusaha menyempatkan diri untuk menghadiri acara-acara seperti itu tetapi seiring berjalannya waktu, saya merasa makin lelah dan merasakan adanya desakan untuk meningkatkan ilmu dan pengalaman dengan tidak melulu mempelajari hal yang sama berulang kali.

Setelah sembilan (9) tahun menggeluti dunia blogging ini, saya sangat bersyukur karena saya sudah bisa menggapai banyak hal dengan berbekal blog-blog amatir yang sudah saya tulis. Maksud saya ‘amatir’, blog-blog saya hanya bercokol di domain-domain platform blogging gratis semacam wordpress.com seperti ini atau blogger.com.

Saya menggunakan blog-blog itu sebagai batu loncatan dan latihan untuk meyakinkan diri saya bahwa saya memang bisa dan piawai menulis. Dan saat saya sudah meyakinkan diri saya bahwa saya bisa, giliran saya meyakinkan orang lain mengenai hal yang sama. Dan saat itulah, saya tunjukkan karya saya dalam bentuk blog-blog ini. Sebelum mendapatkan pekerjaan sebagai jurnalis, saya memakai blog-blog ini sebagai portofolio yang saya bisa sodorkan pada pemberi kerja dan syukurlah, pemberi kerja yakin dengan apa yang saya sudah lakukan itu.

Jadi, sekali lagi saya tidak berkata saya menulis blog hanya untuk idealisme. Saya juga tentunya ingin mendulang keuntungan dari sini. Tetapi masalahnya keuntungan itu, apapun bentuknya, tidaklah bisa didapatkan secara instan dan bentuknya tidaklah mesti keuntungan finansial yang jumlahnya menggiurkan dan konstan datangnya.

Lalu muncullah keluhan-keluhan mengenai munculnya blogger-blogger yang passion utamanya ialah memfasilitasi brand-brand tertentu [entah mau mereka benar-benar pakai atau tidak, mereka sukai atau tidak] dalam upaya marketing dan sales.

Saya akui saya juga tidak kebal dari iming-iming semacam itu. Di blog ini, beberapa unggahan artikel saya adalah tulisan yang saya buat dalam rangka mempromosikan produk dan layanan brand tertentu [Anda bisa cari sendiri].

Namun, dari semangat yang menggebu-gebu untuk meraup hadiah, lama-kelamaan saya berpikir ada yang salah rasanya jika saya mengobral ruang di blog saya ini dengan memuat konten apa saja yang bersifat komersial, tanpa mempedulikan pandangan dan opini saya sendiri.

Ini bisa jadi karena saya sudah mulai menemukan ceruk saya sendiri untuk menulis secara profesional. Saya tidak menganggap blogging sebagai suatu sumur minyak satu-satunya yang saya harus eksploitasi secara maksimal. Saya menggantungkan sumber nafkah pada pekerjaan saya yang utama sehingga saya bisa lebih berdaulat di blog saya sendiri. Kedaulatan itu berupa kebebasan saya untuk menentukan konten atau tulisan seperti apa yang bisa saya masukkan atau tidak di blog saya. Mau ada yang membaca atau tidak, saya tetap memperbarui blog saya karena saya masih yakin bahwa konten yang bagus dan bermanfaat akan didatangi pengunjung bagaimanapun caranya. Organik, begitu satu istilah untuk menggambarkannya.

Seorang blogger yang sudah menulis lebih lama dari saya menyinggung soal suasana blogger saat ini terutama di Jakarta yang dipenuhi persaingan dan komersialisme. Interaksi sesama blogger, katanya, bukan lagi soal-soal substansial mengenai isu yang berkaitan dengan ketertarikan/ passion mereka tetapi melenceng ke monetisasi. Pokoknya bagaimana menambang uang dari blog. Atau jika bukan soal monetisasi, malah mereka membahas soal prestise semu semacam pagerank, Alexa rank, dan sebagainya. Lupakan soal influence, dampak yang diharapkan agar perubahan menuju ke arah yang lebih baik itu ada di masyarakat.

Menulis di blog pribadi memang tidak bisa 100% dianggap sebagai sumber penghasilan dan memang jangan sampai dianggap seperti itu.

“Blogging ONLY for money is a total bullshit.”

Itu menurut saya. Kecuali bagi orang-orang yang sudah memiliki komoditas yang jelas dan dibutuhkan untuk dijual ke masyarakat, seperti kepakaran, reputasi, ketenaran, ketrampilan, produk fisik, atau jasa.

Blogger-blogger yang ‘gagal’ memiliki atau membangun komoditas berharga untuk dijual via blog mereka biasanya berpikir pendek dengan ‘membangun kerjasama’ bersama brand-brand dan perusahaan-perusahaan untuk tetap bisa menghasilkan sesuatu dari aktivitas blogging mereka supaya tidak dikatakan pekerjaan yang sia-sia atau mubazir oleh orang-orang di sekitar mereka. Tak heran sekarang banyak blogger yang merasa sudah dikenal dan mulai berani untuk mengajukan diri sebagai pengulas produk dan jasa dengan imbalan yang biasanya berupa produk, voucher, tiket, kesempatan berwisata atau menginap yang semuanya gratis. Kalau tidak ada freebies sejenis itu, setidaknya ada goodie bags [yang biasanya berisi flash disk, notes, kaos, pulpen, wadah kartu nama, dan sebagainya] yang bisa dibawa pulang. Fenomena semacam ini nyata adanya di  antara para blogger gaya hidup (lifestyle) dan pelesir (traveling) yang memang sedang jaya-jayanya sekarang.

Sekarang ini saya telah menemukan dan akan terus berupaya memelihara keseimbangan dengan sesekali ikut lomba blogging yang temanya sesuai dengan minat, passion serta opini pribadi saya juga. Jadi kecil sekali kemungkinan saya mau menulis soal produk yang saya bahkan tidak pernah pakai, atau bahkan saya kurang sukai.

Ada tanggung jawab moral untuk mencoba dan membuktikannya dahulu agar orang lain tidak mengalami kerugian yang sama [bila memang ada kerugiannya] dan bisa mendapatkan faedah yang serupa [jika kita temukan manfaat positifnya].

Dan tentu saya masih akan terus menulis opini, pengalaman dan pemikiran saya yang tidak akan didapatkan dari blog-blog orang lain betapapun mereka lebih segala-galanya dari saya. (*/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.