Pria-pria ‘Kering’ dan Bigorexia

22a_new_sandow_pose_28vii29222c_eugen_sandow_wellcome_l0035269
Bigorexia mirip anorexia tetapi dengan obsesi untuk membesarkan tubuh. [Sumber foto: Wikimedia Commons]
“UNTUNG kerjaannya bukan mijit,” ujarnya sambil memijat pinggang saya. Sebagai seorang pria, tangannya tergolong lembut tapi tetap kuat.

Ia tak punya resep khusus. Hanya mengurangi olahraga angkat beban dengan barbel. Karena jika ia masih sering angkat beban seperti itu, ia akan dikomplain penerima jasa pijatnya.

“Pernah pakai sarung tangan. Busa juga pernah. Tapi tetap saja kasar jadinya dan kapalan,” tukasnya pada saya begitu saya melontarkan keluhan yang sama pada kedua telapak tangan saya.

Sekarang tukang pijat saya ini hanya menyempatkan diri berolahraga angkat beban yang sesungguhnya ia gemari cuma seminggu sekali. Apalagi alasannya mengurangi selain agar kelembutan tangannya tak rusak.

Kalau tidak olahraga, ia bisa kerepotan mengendalikan kolesterolnya. Bisa 259! Harusnya 100. “Makan bakso saja sudah pusing,” keluhnya. Padahal usia baru 39 tahun. Kupikir ada yang salah dengan pola makannya. Tapi masih untung ia bisa mengimbangi dengan olahraga dan mau rutin melakukannya. Ada yang sudah tahu punya keluhan kolesterol tinggi tapi tidak berbuat apapun dan hanya mengharapkan keajaiban dari Tuhan agar dirinya sehat. Seolah jika ia tidak berbuat apapun, masalah kesehatan itu bisa sirna dengan sendirinya. Meski ia tahu di dalam benaknya sendiri itu mustahil bisa terjadi.

Saya menyuruhnya agar tidak lupa memijat lengan saya yang pegal setelah melakukan dips sore tadi. “Nanti jadi gede nih,” komentarnya.

Saya menampik dengan tertawa kecil,”Ah, susah kalau saya. Memang habis latihan kayak gede dikit tapi habis itu kempes lagi kok.”

Ia mencoba menghibur saya dengan berkata bahwa itu bisa terjadi. “Kalau badan ini kan tipe kering jadi lama jadinya. Tapi nanti gedenya gede otot bukan karena lemak, pak.”

“Iya ya,” saya meratapi.

Tukang pijat saya ini menimpali,”Seperti saya nih. Mau fitness kayak apa juga nggak bakal gede. Segini gini aja.”
Dulu ia juga memiliki ambisi yang sama: membesarkan badan agar tampak gagah, kekar dan macho. Ia pun ke gym dan teratur angkat beban di sana. Dari selintas melihat perawakannya, meski tak besar saya juga tahu ia memiliki ketegapan yang tidak bakal bisa dimiliki jika seseorang tidak berolahraga secara teratur.

Untuk itu ia menganggarkan dana untuk membeli tiga kaleng susu penggenjot berat badan. Habis mengkonsumsi, tak ada perubahan sama sekali. Ia beli di toko offline Rp700.000-an tapi di toko online Rp500.000-an.

“Kalau badan tipe ‘basah’ gitu cepet gede badannya,” ucapnya lagi, menyanjung rekan-rekannya yang sudah memiliki bodi binaragawan.

Untuk menghibur dirinya dan saya sendiri yang ‘kering’, saya katakan:”Tapi mereka kalau sudah tidak olahraga dan makan sembarangan juga langsung naik berat badan dan gendut juga.”

Begitu bersemangatnya membesarkan fisik, ia sampai pernah menghabiskan putih telur dua kilo saban hari. “Saya buat cemilan itu putih telur. Dua kilo sehari. Tetep aja badan segini…” Ia dengan sengaja membeli putih telur yang ia rebus dan makan setiap hari. Ia makan dengan nasi juga. Sampai bosan dan muak. “Sudah dihajar susu dan putih telur, tetep aja segini.” Ia menyebut angka timbangan berat badannya antara 48 (sebelum fitness) dan 52 (setelah fitness).

Kalau disuruh pull up, ia mengaku bisa 3 set, masing-masing set 12 kali. Lumayanlah. Mengingat usianya mendekati kepala empat.

“Sekarang saya tujuannya sehat saja,” katanya sambil memijat kepala saya, menandakan sesi pijat ini segera usai.
Saat saya berkata kalau sudah tak olahraga beberapa hari saja rasanya sudah tidak enak, ia mengiyakan. “Otot yang sudah terbiasa olahraga itu nagih begitu nggak dibuat olahraga. Meski itu artinya ‘nagih’ dalam koridor yang positif juga. “Daripada nagih yang nggak nggak kayak narkoba.”

Mulanya ia rajin ke gym dan di sana saban pagi ia olahraga sampai energinya terkuras. “Jadi begitu habis nge-gym, malah capek, nggak sanggup buat kerja. Mending olahraga pagi-pagi di rumah pakai barbel sendiri dan bar di pintu buat pull up.” Berolahraga di gym memang asyik dan bersemangat tetapi kadang lupa daratan karena ada banyak orang lain sehingga muncul atmosfer kompetisi.
Sebagai sesama pria ‘kering’, saya merasakan apa yang ia rasakan. Kejengkelan kami melihat teman-teman kami yang berbadan lebih besar dengan porsi latihan yang sama atau bahkan lebih sedikit dari kami. Sementara itu, kami yang berjuang lebih banyak tidak kunjung ada hasil nyata. Pahit. Sepahit empedu.

Kami ini bosan dengan perawakan kurus dan tipis. Kami ingin bisa lebih ‘mengembang’. Dan seperti dirinya yang kini berolahraga bukan lagi untuk memfokuskan diri pada segi estetik tapi lebih pada kesehatan, kami beruntung tidak terjerumus pada BIGOREXIA, sebuah obsesi yang menggejala di kalangan pria muda akibat merebaknya video tutorial body building, calisthenics, dan sejenisnya di YouTube atau foto atlet yang pamer bisep, perut dan dada yang ototnya terdefinisi ideal di Instagram.

Bigorexia ini mirip anorexia. Ia sebuah kelainan psikologis yang ingin badannya lebih besar daripada yang terlihat sekarang di cermin. Dan bayangan di cermin itu seolah tak pernah cukup besar untuk memenuhi ekspektasinya. Obsesi itu pun melampaui akal sehat. Dari makan makanan sehat yang berkandungan protein tinggi setiap saat, sampai ke gym setiap hari dua sesi. Tanpa sakit, rasanya tak ada kemajuan. Harus sampai capek dan menembus batas kesanggupan fisik. Lalu agar bisa menjadi lebih besar, segala cara ditempuh. Dari minum susu whey, sampai makan dada ayam rebus tanpa bumbu. Begitu terus sampai jadi rutinitas.

Adakah yang salah dengan olahraganya? Tentu tidak. Sepanjang tidak melewati batas kemampuan dan kewajaran, olahraga sangat bagus. Tapi jika obsesi sudah masuk dan membuat olahraga itu menjadi penuh target dan ambisi tanpa kita bisa menikmatinya, lalu buat apa? (*/)

Efisiensi Cuma Basa Basi yang Bikin Frustrasi

transjakarta_ankai
Bus TJ [Sumber foto: Wikimedia Commons]

MENGUSIK

Begitulah yang saya rasakan tiap kali naik bus Trans Jakarta (TJ) yang rutenya membuat pusing. Begitu rumitnya sampai saya bingung apakah ini karena kota ini berkembang begitu organik sampai hal-hal seperti ini tak terpikirkan sama sekali. Hal-hal yang semestinya bisa sebentar, lurus dan hemat jadi lama, berkelok-kelok, dan boros.

Misalnya tiap kali saya ingin pergi dari Kuningan ke Duren Sawit. Naik sepeda motor atau mobil akan terasa lebih cepat sebenarnya. Cuma 30 menit kurang lebih. Mengebut di Sabtu pagi bisa sampai di tujuan tanpa harus banyak berhenti kecuali di satu perempatan. Itu pun karena hanya melambat, tidak benar-benar stop. Tapi karena tidak merasa harus terburu-buru, saya bergumam,”Baiklah, mari kita turuti ajakan pemerintah untuk menggunakan moda transportasi umum yang mereka gadang-gadang itu.”

Saya pun naik bus TJ. Karena naik bus feeder ke stasiun Tebet tidak sampai ke stasiun bus TJ Kampung Melayu dan meskipun bisa saya harus bayar lagi (di sini saya tidak habis pikir kenapa harus bayar lagi karena saya dijanjikan bisa keliling Jakarta cuma berbekal 3500 sekali jalan, mana tahu saya ada syarat dan ketentuan yang ‘menjebak’ seperti ini) kalau naik bus feeder ke arah Kampung Melayu. Jadi saya pun naik bus TJ besar yang ke melayani rute Tanah Abang dan Kampung Melayu.

Yang membuat saya yang asalnya sabar dan tawakal menjadi berang dan garang ialah selisih waktu yang tidak tanggung-tanggung antara menggunakan kendaraan pribadi dan kendaraan umum ini.

Bagaimana tidak meledak?

Saya naik bus TJ itu dari Kuningan dan turun di stasiun TJ Kampung Melayu. Bus itu cuma melewati stasiun Kampung Melayu dan memutar kembali ke stasiun Tebet. Jadi saya termenung, kenapa tidak langsung ke sana saja? Dan saya mesti transit ke bus feeder yang berhenti di lapangan Ros (depan jl. Asem Baris) lalu naik lag bus feeder jurusan Kampung Melayu yang melewati sisi stasiun bus TJ itu saja namun berputar jauh ke Bukit Duri, Jatinegara, memutar lagi di Bidara Cina dan baru mendarat lagi ke Kampung Melayu.

Di sini saya merasa kepala saya ingin meledak sambil berteriak kencang sampai kaca-kaca bus yang saya tumpangi pecah:”Saya yang bodoh karena salah ambil rute sampai memutar-mutar tidak jelas seperti ini atau kota ini yang membuat saya bebal atau mereka yang mengatur ini yang…?!!!” [Semoga saya yang bodoh saja karena salah ambil rute]

Akhirnya saya sampai tujuan saya dalam waktu 90 menit lebih. Alias tiga kali lipat yang saya butuhkan jika naik kendaraan pribadi atau ojek daring.

Saya tahu mustahil mendapatkan layanan yang cepat, murah dan memuaskan di dunia ini tetapi sudah menjadi kewajiban penyelenggara layanan dan pihak-pihak berwenang untuk bisa mendapatkan solusi yang terbaik agar efisiensi bisa tercapai.

BAGAIMANA WARGA MAU MENINGGALKAN KENDARAAN PRIBADI MEREKA DAN MEMILIH NAIK LAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK YANG KURANG EFISIEN?

Kalau kurang efisiennya cuma selisih 10-20 menit bisa dimaklumi. Tapi kalau sampai 3 kali lipat seperti ini, saya pikir masuk akal mayoritas warga akan terus menerus menggunakan kendaraan pribadi mereka. Dan itu artinya apa?

MACET ABADI!!!

Kemacetan yang laten itu bukti nyata kegagalan bersama pemerintah dan para pengambil kebijakan dari dulu sampai sekarang. Dan buah pahitnya baru kita rasakan sekarang. (*/)

Hanya untuk Hiburan dan Silaturahmi

BEGITU pernyataan resmi Disdukbud Banten tentang pemberian hadiah yang berupa dua lembar serbet untuk seorang pemenang lomba baca puisi di sebuah acara yang mereka selenggarakan beberapa waktu lalu.

Alasan lainnya ialah bahwa lomba itu untuk kalangan internal saja.

Lalu kenapa ada orang lain di luar instansi yang bisa masuk dan ikut serta? Tidak masuk akal. Kalau begitu diumumkan secara terbuka sebelum lomba dan ada pemberitahuan hadiahnya berupa apa.

Ditambahkan bahwa hadiah yang ada bersifat spontan karena tak ada anggarannya.

TIDAK ADA ANGGARAN???!

Banten nasibmu.

Jika ada hal yang bisa dilakukan oleh mereka untuk memperbaiki situasi ini adalah memberikan hadiah yang lebih layak bagi pemenang yang mahasiswa itu.

Kenapa?

Agar ia tak patah arang jika di masa datang memang ingin merintis ‘karier’ sebagai sastrawan. Dan agar tak ada orang-orang muda yang menyaksikan ini dan bergumam:”Sastra memang tidak ada harganya dan tidak bisa menghidupi manusia. Cuma bisa sebagai pembersih kotoran layaknya selembar serbet.”

Padahal manusia-manusia dengan pemikiran dan nurani yang tak bisa diperbaiki lagi semacam birokrat-birokrat itulah yang lebih tidak berguna daripada serbet yang setidaknya bisa memberikan faedah.

Dan jangan tersinggung juga kalau ada yang membaca ini. Kan cuma untuk hiburan dan silaturahmi? (*/)

 

Susahnya Jadi Mayoritas yang Adil dan Mengayomi

PERNAH satu kali saya membaca unggahan seorang teman yang menyoroti soal pembangunan masjid yang dipermasalahkan di Papua sana. Kalimat yang ia gunakan saya lupa tapi intinya ia mengatakan bahwa arogansi mayoritas tidak cuma oleh muslim garis keras di Jawa. Di mana saja kaum mayoritas berpotensi menjadi pihak yang bukannya mengayomi dan menenteramkan tetapi membuat kekeruhan suasana karena tidak bisa menahan diri (baca: ego).

Saya membaca itu sambil mengamini. Begitulah kenyataannya di muka bumi ini. Kaum minoritas manapun yang merana dan menyedihkan bisa menjelma sebagai raksasa yang menakutkan begitu ia berubah menjadi mayoritas di sebuah daerah. Ini bisa dikatakan sebagai sebuah dalil yang tidak terbantahkan lagi. Bukti-buktinya ada di sekitar kita bila kita berkeinginan untuk mencermati lebih dekat perilaku mayoritas.

Mentalitas mayoritas yang cenderung penindas mesti segera diberantas. Jika dibiarkan saja, akibatnya menjadi seperti sekarang di Indonesia. Saya sebagai bagian dari mayoritas sangat malu kalau boleh jujur. (*/)

Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan Blora yang Mendunia (Bag 3- Tamat)

pramudya_ananta_tur_kesusastraan_modern_indonesia_p226
[Sumber foto: Wikimedia Commons]
SEBELUMNYA di bagian 1 dan di bagian 2, kita sudah tahu bahwa masuk keluar penjara sudah menjadi bagian hidupnya. Bahkan setelah ia masuk Lekra, Pram masih saja tak kapok menulis sesuatu yang riskan alias isu-isu yang rawan. Misalnya di tahun 1960, ia menerbitkan buku “Haokiau di Indonesia” . Tapi kemudian ia dijebloskan ke penjara karenanya. Isi buku ini sesuai judulnya, yakni menggambarkan isu Hoakiau di tanah air melalui sembilan pucuk surat Pram kepada para sahabat penanya di mancanegara perihal masalah Hoakiau di Indonesia dalam pengamatan dan opininya. Padahal saat itu kondisi sosial sedang bergejolak karena ada pembatasan etnis Tionghoa.

Buku ini dibagi dalam sembilan surat yang dituliskan Pram kepada sahabat penanya di luar negeri yang berisikan pendapat dan pandangannya terhadap masalah hoakiau di Indonesia.

Setahun berselang ia menghirup udara bebas lalu mengurus perhelatan akbar Asian African Writers Conference. Tahun 1962, Pram menjajal dunia akademik dengan menerima tawaran untuk mengajar sebagai dosen sastra di Universitas Res Republica. Ia juga mendirikan Akademi Sastra Multatuli.

Mendekati masa yang penuh guncangan politik, Pram bekerja giat sebagai penyunting di majalah Lentera di tahun 1963. Ia menganggap masa kerjanya di sana sebagai kesempatan untuk eksplorasi maksimal terhadap minatnya di dunia menulis dan jurnalisme. Bisa dikatakan masa itu ialah titik kulminasi aktivitas intelektual sang sastrawan. Di tahun 1964, ia menerbitkan buku “Sejarah Bahasa Indonesia: Suatu Percobaan” yang setahun kemudian dibakar oleh Angkatan Darat pada tanggal 13 Oktober 1965, selang sepekan lebih dari kejadian tragis 31 September 1965.

NESTAPA

Tahun 1965 merupakan awal dari penderitaannya sebagai pengarang. Orde Baru mulai menindasnya tanpa ampun. Pram dijemput paksa dari rumahnya. Ia dianiaya sampai telinga kirinya hampir saja tuli total.  Tak cukup, naskah-naskahnya di rumah disita dan dihancurkan. Pemerintah Orba mengurung Pram di Alcatraz-nya Indonesia, pulau Nusakambangan.

Selang 4 tahun kemudian, Pram dipindahkan ke Pulau Buru, Maluku. Ia dilarang menulis sama sekali. Namun, karena menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya selama ini, Pram tak kurang akal. Ia menemukan kertas pembungkus semen dan pena dan menulislah ia di atasnya kemudian menyembunyikan naskah kertas semen itu dengan cermat agar tak disita. Kegiatan menulisnya ini tak terhalang meskipun ia lelah luar biasa. Maklumlah, sebagai tapol, ia diharuskan bekerja paksa di pulau terpencil itu bersama banyak tapol lain. Tahun 1973 Pram patut sedikit berlega hati karena dunia internasional mendesak rezim Orba untuk mengizinkannya menulis kembali. Ia pun diberikan mesin ketik dan dipakainyalah alat itu untuk merampungkan Tetralogi Pulau Buru. Romo Werner Ruffing yang mengunjunginya saat itu berhasil menyelundupkan naskah Pram keluar dari Buru. Di pulau itu, Pram menjalani pengasingan selama 1 dekade.

Peran romo-romo begitu besar dalam membantu menerbitkan karya Pram di dunia luar.  Romo berikutnya yang turut andil ialah Romo Alexander Dirdjasoesanta yang memberi bantuan berupa kertas dan karbon untuk menuliskan karangan Pram. Sebagian karyanya diselundupkan keluar juga oleh Romo Sutapanitra.

Karya-karyanya yang berhasil diterbitkan di luar negeri membuat Pram makin tersohor meski masih mendekam di pengasingan. Tahun 1978, ia diangkat sebagai anggota kehormatan PEN Belanda dan Jepang. Empat karyanya terbit di Eropa dan Australia. Sementara 9 lainnya ditemukan dibajak di Malaysia. Tentu ini bisa dianggap menggembirakan, dengan catatan kita meyakini bahwa imitasi merupakan wujud apresiasi dari para penggemar sejati.

Di penghujung tahun 1979, sang pengarang tak bisa menahan haru karena akhirnya dilepaskan dari pengasingan di Buru dan berkumpul kembali dengan keluarganya di jawa. Tanpa peradilan ia kembali ke rumahnya di Utan Kayu, Jaktim.

Tetapi jangan terlalu bergembira dulu karena pembungkaman belum usai. Rezim Soeharto masih menindas Pram. Karyanya “Mata Pusaran” dirampas dan ditemukan dalam kondisi tak lengkap di pasar loak Senen. Lalu di tahun 1980 saat ia mendirikan Hasta Mitra dan menerbitkan buku larisnya “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa”, Kejaksaan Agung sebagai perpanjangan Rezim Orba saat itu mencekal dengan melarang secara terang-terangan peredaran buku tersebut.

Makin ditindas, makin getas. Begitulah Pram. Ditekan di negeri sendiri, justru ia makin mendapat ruang di luar negeri. Novel “Bumi Manusia” diterjemahkan oleh Max Lane dan diterbitkan oleh Penguin Book Australia.

Tahun 1984 Pram menyusun kamus geografi Indonesia dan memutuskan rehat dari menulis dan lebih banyak menggeluti pertanian. Ternyata bisa juga penulis sekaliber Pram merasakan kebosanan terhadap bidang yang ia sangat cintai.

Pram bertekad untuk terus menerbitkan karya-karyanya yang dibuat di Pulau Buru. Ia menerbitkan buku ketiga Tetralogi Pulau Buru “Jejak Langkah” di tahun 1985 dan serta merta disambut larangan Kejakgung lagi. Bukunya yang lain “Sang Pemula” juga turut mendapat larangan beredar dengan alasan yang sama. Bukunya yang terbit setahun kemudian (“Gadis Pantai”) juga akhirnya dicekal.

Tahun 1988, buku keempat Tetralogi Pulau Buru “Rumah Kaca” terbit dan mendapatkan PEN/ Barbara Goldsmith Freedom to Write Award. Hal itu seolah menegaskan bahwa kekuatan pena dan mesin ketiknya memang tak terhentikan oleh penindasan sekeras apapun. Setahun kemudian ia mendapat The Fund for Free Expression Award dari AS.

Meski sudah dibebaskan dari pengasingan sejak 1979, Pram hingga tahun 1992 masih dikenai status tahanan rumah. Artinya ia tak pernah diizinkan pihak berwenang untuk meninggalkan rumah. Di tahun 1992, ia dilepaskan dari kungkungan di rumah dan mendapati dirinya berubah lebih pendiam dan penyendiri. Ia juga sangat menikmati aktivitas membakar sampah.

Tiga tahun berselang, Pram masih menelurkan karya lagi. Bukunya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (jilid 1) diterbitkan pada ultahnya ke 70 (6 Februari 1995) namun lagi-lagi dilarang beredar di masyarakat Indonesia. Untuk kegigihannya itu ia diganjar lagi dengan sebuah penghargaan Ramon Magsaysay.

Pram melepaskan status tahanan negara dan bebas berkunjung ke luar negeri pada tahun 1999. Ia pun melawat hingga ke Belanda, Jerman dan Prancis, negeri tempat ia menceritakan karakter Nyai Ontosoroh akhirnya menghabiskan sisa hidupnya dengan keluarga barunya.

Tahun 2002, Pram kembali diundang ke acara mancanegara. Kali ini di Jerman untuk membahas isu HAM dan pelurusan sejarah. Di tahun yang sama ia mengalihkan hak cipta karya-karyanya kepada penerbit Lentera Dipantara yang dikelola Astuti Ananta Toer.

Dua tahun menjelang kepergiannya, ia memutuskan berkumpul bersama keluarganya lebih sering dan menampik berbagai kesempatan untuk berkunjung ke negara-negara lain. Di usia 80 Pram masih menulis dan menerbitkan karya nonfiksi “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” (2005) yang sarat data konkret tentang proses pembuatan jalan 1000 km dari Anyer sampai Panarukan dalam waktu setahun saja oleh Herman Willem Daendels.

Sebagai pribadi yang menarik, Pram juga memiliki akhir yang menarik. Seolah-olah mendapat firasat, ia berjalan kaki dengan uang di dalam sebuah kantong dan tiap kali ketemu orang ia bersedekah. Ia juga menyuruh cucu-cucunya menguras empang dan membagikan semua ikan di dalam empang itu kepada para tetangga. Jiwanya memang sudah lekat dengan semangat berbagi, tidak cuma berbagi kata-kata tapi juga harta dan apa saja yang ia punya. (*/)

Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan Blora yang Mendunia (Bag 2)

pramudya_ananta_toer2c_indonesia_literary_pioneers2c_00-34

“Menulis adalah sebuah keberanian.” – Pramoedya Ananta Toer

Di tulisan sebelumnya, kita tahu bagaimana Pram menjalani masa kecilnya dan kedekatannya dengan Oemi Saidah sang ibunda. Pada perkembangan kehidupannya berikutnya, didikan ayah Pram makin keras saja. Jauh lebih keras daripada seorang guru yang tidak memiliki pertalian darah dengannya sendiri.

Kisahnya begini: usai lulus SD dan ingin melanjutkan ke MULO, Pram menemui ayahnya untuk menyatakan keinginannya itu. Apa daya. Mastoer malah menitahkan sang anak untuk kembali ke bangku kelas 7 dan belajar lagi. Insiden ini melemahkan semangat Pram untuk melanjutkan pendidikannya karena guru kelas 7 saja sudah membolehkannya naik kelas. Justru ayahnya sendiri yang seolah tidak mempercayai kemampuan Pram.

Terpukul dan stres, Pram muda akhirnya mulai beralih ke rokok sebagai pelampiasan. Rokok di Jawa sendiri sudah dikenal sebagai sarana pelampiasan stres yang meski tidak ampuh tapi bisa diperoleh dengan mudah dan bisa secara instan mengobati secara sementara kecemasan. Masalahnya tentu kondisi kesehatan yang menjadi menurun dari waktu ke waktu. Namun, saat itu rokok yang beredar bukanlah rokok putih masa kini yang sudah diberi campuran zat-zat kimiawi buatan manusia tapi rokok klobot, yang terbuat dari kulit jagung yang sudah dikeringkan dan cengkeh. Rokok jenis ini unik karena dikatakan tidak mudah padam tertiup angin atau percikan air, isapannya lebih mantap, dan menghangatkan badan dengan lebih baik bagi mereka yang ada di daerah dingin.

Kembali kepada Pram yang sedang dilanda stres karena kegagalan akademiknya, ia mulai merokok secara aktif di masa remaja awal setelah ditawari seorang temannya sebatang rokok klobot saat termenung di sebuah pemakaman. Sejak itu, tatkala menjalani proses kreatif sebagai seniman kata-kata, Pram selalu tidak bisa menjauhkan bibirnya dari isapan tembakau.

Pram pun melanjutkan pendidikan di Surabaya pada tahun 1939. Sekolah pilihannya ialah Sekolah Kejuruan Radio (Radio Vakschool). Selama 1,5 tahun ia menuntut ilmu di sana dengan tekun demi memperkaya wawasan dan pengetahuan yang terbukti akan berguna bagi dirinya yang bekerja sebagai jurnalis.

Selama di sekolah tersebut, ia tak lupa membaca banyak buku dan menonton film. Karya sastra yang paling mempengaruhinya saat itu yakni buku Honore de Balzac serta Emile Zola yang mempengaruhi gaya bertuturnya. Buku berjudul “Ngelmu” tulisan Pak Poeh juga sangat mempengaruhi pandangannya.

TANPA TANGGUNG JAWAB

Tahun 1941 ayah Pram tidak diketahui keberadaannya. Di saat yang bersamaan, Oemi Saidah didera penderitaan berkepanjangan karena kuman TBC.

Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya Pram memilih pulang ke rumahnya untuk merawat Oemi. Untuk menyambung hidup diri dan keluarga, Pram harus berjualan tembakau dan rokok. Di tahun tersebut, kita ketahui terjadi peristiwa penyerbuan Pearl Harbor yang kolosal dan historis. Jepang di atas angin dan ijazah sekolah Pram yang diterbitkan selama era kolonialisme Belanda pun tidak dianggap sah lagi. Buntung sekali memang.

RUNTUH

Pram menelurkan karyanya yang berupa cerita anak “Kemudian Runtuhlah Majapahit” pada tahun 1942, bertepatan dengan tahun kedukaan yang hebat baginya. Dunianya sendiri runtuh setelah Oemi meninggal dunia karena infeksi TBC, disusul oleh adik bungsunya yang baru berumur beberapa bulan.

Ia kemudian pindah ke Jakarta setelah berpamitan di makam sang ibu dan berjanji untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Seolah belum cukup nestapanya, tentara Jepang yang mulai menginvasi Indonesia menemukan jurnal Pram dan memutuskan merampas hak miliknya itu karena isinya yang mengenai kisah-kisah zaman kolonial Belanda.

MENULIS

Dalam perjalanan hidupnya kemudian, Pram yang sudah tak beribu terus belajar menulis. Kemampuan menulisnya terasah terus-menerus berkat jasa pak Moedigdo, pamannya, yang memasukkannya ke sekolah Taman Siswa. Pram belajar bahasa Indonesia dengan tekun di sekolah itu.

Selain ketrampilan berbahasa Indonesia yang ia mulai tekuni tahun 1943, Pram juga mulai tertarik dengan ketrampilan lainnya sebagai pendukung kariernya sebagai penulis di masa depan. Ia belajar ketrampilan mengetik secara mandiri, tanpa guru atau ke tempat kursus selama dua pekan lamanya. Begitu sudah merasa menguasai ketrampilan mengetik cepat, Pram yakin untuk melamar pekerjaan di Kantor Berita Domei milik Jepang. Ia kemudian memang diterima sebagai juru ketik yang termasuk pegawai resmi. Tak lama ia diberi kesempatan untuk belajar ilmu stenografi di Tuo Sangi-In (dewan pertimbangan pusat pemerintah Jepang?) selama 12 bulan.

Tepat di tahun merdekanya RI, Pram masuk ke Sekolah Tinggi Islam di Gondangdia. Namun karena merasa bosan dengan pekerjaan yang itu-itu saja, ia meninggalkan Domei begitu saja tanpa pamit. Ia menjelajahi berbagai daerah seperti Blora, Kediri, hingga Ngadiluwih hingga kependudukan berakhir dengan angkat kakinya mereka dari sini. Kemudian ia ikut serta dalam pelatihan militer TKR [Tentara Keamanan Rakyat] dan ditugaskan di Cikampek.

Tahun 1946, Pram ditugaskan sebagai perwira pers dan tidak lelah menulis di surat kabar Merdeka. Saat itu ia berlega hati setelah merampungkan penulisan novel pertamanya “Sepuluh Kepala Nica”. Sayangnya, naskah novel tersebut raib entah ke mana.

Mengundurkan diri dari TKR tahun 1947, Pram ke Jakarta dan memutuskan bekerja untuk majalah Sadar (edisi Indonesia the Voice of Free Indonesia). Saat hendak mencetak pamflet untuk majalah tersebut, tak disangka ia ketiban pulung. Marinir Belanda menangkapnya dan memenjarakannya tanpa proses pengadilan yang resmi di Penjara Bukit Duri. Ia dipindahkan ke pulau Edam setelah itu.

Penjara menjadi masa produktif bagi seorang Pram karena sepanjang ditahan, ia masih bisa menyibukkan pikiran dengan membaca dan menulis agar tidak larut pada keputusasaan. Ia terus saja menulis dan tahun 1947 itu juga ia membuahkan karya baru berjudul “Perburuan dan Keluarga Gerilya” dan sejumlah cerpen dengan nama pena Pram. Profesor G. J. Resink membantunya mempublikasikan karya-karya tadi sehingga terbaca oleh pembaca di luar jeruji penjara.

Tahun 1949 menandai kebebasan baginya. Ia dilepaskan dari tahanan seiring dengan pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda. Setahun kemudian Pram bekerja sebagai editor di Balai Pustaka dan majalah Indonesia. Di usia 25 tahun, Pram menikahi Arvah Iljas.

Kiprah Pram sebagai pegiat sastra makin diakui dalam lingkup nasional. Buktinya ia menerima penghargaan sastra Balai Pustaka untuk karyanya yang berjudul “Perburuan”. Ia juga bekerja sebagai editor di Balai Pustaka tetapi dalam dirinya ia sebenarnya merasa resah karena pekerjaan tersebut belum mampu memapankan kondisi finansialnya.

Pram diundang oleh yayasan kerjasam kebudayaan Indonesia dan Belanda, Sticusa, sebagai tamu kehormatan di tahun 1953. Di tahun yang sama ia menulis novel “Midah Si Manis Bergigi Emas”.

Setahun berselang, kehidupan rumah tangga Pram remuk. Ia bercerai dan harus terlunta-lunta setelah disur dari rumah di Tanah Abang. Resmi sudah ia menyandang status duda dengan 3 anak perempuan. Di tengah kekacauan kehidupan pribadi, Pram masih berupaya terus produktif dengan menulis naskah film “Rindu Damai”.

HIDUP BARU

Kehidupan baru Pram dimulai begitu ia menikahi Maemunah Thamrin, anak tokoh Betawi M. H. Thamrin. Alasan ia menikahi perempuan itu di tahun 1955 ialah karena kepribadian Maemunah mirip dengan sosok Oemi Saidah yang ulet, pengertian, suportif dan memberikannya kebebasan dalam bekerja sebagai pengarang.

Di dunia sastra internasional, Pram makin diakui. Ia beranjangsana ke Beijing setelah diundang oleh Kumpulan Sastrawan Beijing dalam rangka peringatan 20 tahun wafatnya sastrawan tenar Tiongkok Lu Xun.

Sebagai sastrawan nasionalis, Pram menyatakan dukungannya pada Demokrasi Terpimpin Soekarno, suatu langkah yang nantinya menyulitkan dirinya setelah Orla tumbang. Ia terlibat dalam pembentukan 67 delegasi seniman yang pro Demokrasi Terpimpin ini dan diangkat sebagai anggota penasihat Kemenpetera (Kementerian Tenaga Rakyat).

Keterlibatan Pram dalam negara-negara Blok Timur yang identik dengan Poros Komunis juga makin intens saat periode ini. Tahun 1958 menjadi saksi kepemimpinannya dalam delegasi Indonesia (bersama Sitor Situmorang) dalam Konferensi Pengarang Asia Afrika di Tashkent, Uni Soviet.

‘Kesalahan’ terbesar Pram selanjutnya ialah membiarkan dirinya diangkat sebagai anggota kehormatan Lekra tanpa memahami organisasi tersebut. Keputusan pengangkatan itu diumumkan di Kongres Nasional lekra Pertama di Solo. Kelak Pram harus membayar mahal atas masuknya ia ke dalam Lekra. (bersambung)

Riliv Rilis Beban Hidup Kamu Tanpa Ribet

Di abad digital ini, kita kerap mengaitkan teknologi dengan berbagai keluhan kesehatan baik raga maupun jiwa. Ada yang menghubungkan penggunaan ponsel dan media sosial dengan gangguan tidur (insomnia). Tidak bisa tidur karena banyak main game online, sampai ada ulama mengharamkannya. Tapi toh tidak digubris juga. Bagaimana lagi, wong sudah kecanduan. Pasti ada saja alasan menghalalkannya atau setidaknya memubahkannya. 

Ada juga yang menghubungkannya dengan gejala narsisisme yang meluas di kalangan generasi muda (dan tua), yang dicerminkan dengan animo yang membuncah kalau diajak swafoto ( baik ‘wefie’ dan ‘selfie’). Dan gelaja ini malah makin dipermudah dengan dirilisnya ponsel-ponsel dengan kamera depan plus flash dan filter-filter pemercantik wajah yang memberikan ‘bensin’ di api yang baru kecil ini. Maka makin menggila sajalah tren selfie ini. Dan hingga sekarang tampaknya gejala itu akan terus meluas dan tiada berhenti.

Padahal kalau kita mau renungkan kembali, teknologi hanyalah suatu alat ciptaan kita. Jadi bila kita menyalahkan teknologi, artinya kita menyalahkan diri sendiri atas kekacauan atau masalah yang menimpa kita karena kita kurang bisa mengendalikan diri dalam menggunakan teknologi.

Nah, berbalik seratus delapan puluh derajat dari anggapan bahwa teknologi menjadi pemicu utama gangguan kesehatan manusia, ternyata teknologi juga bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk memperbaiki kesehatan.

Di tanah air sendiri kita mulai temukan banyak layanan dan aplikasi penyedia jasa kesehatan. Mereka yang mengeluhkan gejala kesehatan seperti pusing, demam, rasa kembung berkepanjangan yang sudah mengganggu produktivitas sehari-hari bisa berkonsultasi dengan dokter profesional via teknologi digital.

Tapi itu kan kesehatan fisik. Lalu bagaimana dengan kesehatan jiwa kita?

Bagaimana jika kita merasa sedih berkepanjangan tanpa suatu sebab jelas, atau kehilangan semangat hidup, atau merasa ingin mengakhiri hidup setelah suatu peristiwa yang traumatis dan menyedihkan?

Tentu dokter-dokter di layanan kesehatan fisik ini tidak bisa dijadikan sandaran. Kita butuh tenaga profesional dalam bidang psikologi dan sejenisnya.

Masalahnya, mungkin kita memang ingin berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater, tetapi kita merasa cemas dan takut diketahui orang lain di sekitar kita karena ada stigma di masyarakat bahwa mereka yang menjadi pasien psikolog atau psikiater pasti orang yang memiliki gangguan mental atau sakit jiwa. 

Dan di masyarakat Indonesia yang masih memandang pasung atau rukyah sebagai solusi sakit mental dan jiwa yang menjadi aib bagi keluarga dan wajib ditutup-tutupi sebisa mungkin dari orang lain, sangat sulit untuk mendapatkan layanan psikolog terutama jika kita tinggal di kota kecil.

Akhirnya kita berkeluh kesah pada teman atau tetangga atau kenalan dan bukannya masalah itu selesai malah ‘bocor’ dan menyebar ke lebih banyak orang yang seharusnya tidak perlu tahu menahu soal problem pribadi dan keluarga kita.

Memang tidak ada salahnya melepaskan beban pikiran tadi pada orang-orang di sekitar kita, hanya saja mereka sering menanggapi dengan meninggalkan prinsip netral. Sering malah lebih emosional dari kita. Orang-orang ini – karena mereka juga termasuk dalam lingkaran kehidupan kita – juga merasa ada keterkaitan dengan Anda sehingga solusi yang mereka berikan sering kurang objektif. Dan kalau kurang beruntung, malah kita yang tersudut. Dan itu menambah hancur perasaan kita sendiri pada akhirnya. Padahal kita menceritakan problem dengan harapan bisa dipahami.

Berangkat dari kenyataan tersebut itulah, ada baiknya kita menemukan layanan konsultasi psikolog profesional yang dipastikan bisa menutup mulut mereka setelah kita menceritakan semua keluh kesah kita. Psikolog akan mendengarkan masalah hidup kita tanpa menghakimi dan tidak akan membocorkannya karena itu bagian dari profesionalisme mereka. Rahasia pasien harus dipegang erat sampai mati karena jika sampai bocor, itu pelanggaran etika profesi mereka.

Untuk memecahkan masalah ini dan agar masyarakat Indonesia yang ingin memelihara kesehatan mental mereka bisa terlayani dengan baik tanpa harus berhadapan dengan stigma masyarakat tadi, satu layanan baru bernama RILIV muncul di Indonesia.

Saya sendiri sudah mengunduh dan menggunakannya. Pertama mengunduh, saya akan ditawari sejumlah pertanyaan untuk mengarahkan ke konten yang tepat dengan tujuan saya. Misalnya, jika saya ingin menggunakan layanan ini untuk mengurangi kecemasan (anxiety) atau panic attack, saya akan diberikan konten dengan tema khusus tersebut. 

Aplikasi RILIV ini menawarkan banyak paket meditasi. Di antaranya ialah “Tidur Lelap” yang kemudian tersusun dari 3 kategori lagi yakni “Nuansa Lelap”, “Cerita Lelap”, dan “Musik Lelap”. 

Selain untuk memperbaiki pola tidur, kita bisa menggunakan paket meditasi lain yang ditujukan untuk memperbaiki produktivitas kerja, perbaikan pribadi, kesehatan fisik, meditasi darurat (yang bisa dipakai saat kita merasa panik dan tegang sekali), dan meditasi spesial (meditasi sebelum ibadah, dsb.).

Saya sendiri menggunakan konten meditasi ini tatkala merasa susah tidur di malam hari. Dengan mematikan lampu, memasang ponsel di modus silent dan memutar rekaman meditasi, saya bisa lebih pulas.

Di pagi hari, saya juga mencoba meditasi sebelum beribadah. Karena saya muslim, saya lakukan setelah salat subuh di pagi buta saat kondisi masih tenang dan belum ada aktivitas manusia yang intens di sekitar saya. Aktivitas hening sejenak yang dipandu dengan arahan dari meditator di konten RILIV sangat menyejukkan dan memotivasi sehingga kita bisa memulai hari dengan semangat positif.

Jika ingin menikmati konten yang lebih banyak, Anda bisa meng-upgrade akun menjadi premium. Ada dua paket meditasi premium yang ditawarkan yakni setahun dan 2 bulan. Untuk harga yang lebih murah, tentu saya sarankan yang setahun langsung. 

Tidak cuma meditasi, kita juga bisa mengikuti konseling secara virtual dengan psikolog profesional. Dan RILIV menawarkan sejumlah topik konseling, dari masalah umum, hubungan, karier, keluarga, pendidikan. 

Jenis paket konseling juga bervariasi, dari paket Perkenalan, paket Lega, paket Nyaman, dan paket Bahagia. Anda bisa memilih sesuai selera dan kebutuhan.

Untuk menggunakan layanan ini, Anda bisa mengikuti alur konseling sebagai berikut:

Anda pilih salah satu paket konseling yang ditawarkan dan membayar melalui transfer ATM atau GoPay. Setelahnya Anda akan menerima sapaan dari psikolog dan bisa langsung menjalani sesi konseling secara privat hanya melalui aplikasi RILIV di ponsel. Sangat praktis dan tentunya terjaga kerahasiaannya. jika Anda lebih suka menelepon, juga bisa menggunakan layanan “call”, alih-alih “text”. 

Untuk bisa menggunakan layanan premium di aplikasi Riliv yang memuat lebih dari 100 konten meditasi, kamu bisa menggunakan kode voucher “AKHLISRILIV” yang memberikan diskon 20%. (*/)

Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan Blora yang Mendunia (Bag 1)

800px-house_of_glass_by_pramoedya_ananta_toer

“Sebagai pengarang saya masih percaya pada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit”- Pramoedya Ananta Toer

ANANTA adalah sebuah kata dalam bahasa Sansekerta yang maknanya “tanpa batas”, “tanpa akhir”. Dalam ajaran yoga, Ananta merupakan makhluk berwujud ular keabadian yang menguping rahasia ajaran yang diberikan oleh Dewi Parwati pada Dewa Syiwa. Karena tertangkap basah menguping, Ananta oleh Syiwa kemudian dititahkan untuk mengajarkan yoga pada para manusia di bumi. Dikatakan ia kemudian menjelma sebagai manusia dan manusia itu kemudian dikenal sebagai Patanjali yang kita kenal dengan sutranya yang legendaris itu.

Nama sastrawan terkemuka Indonesia juga ada yang mengandung kata “ananta”. Dan benar saja, karya-karyanya dikenal tanpa batas waktu dan ruang. Ia adalah Pramoedya Ananta Toer. 

Berkenalan dengan karya-karya Pram akhir tahun 2016 [satu dekade setelah ia wafat], saya merasa agak terlambat untuk menjadi salah satu penggemarnya. Tapi ini bukan tanpa alasan. Ketidaktahuan saya dengan karya-karya Pram selama masa sekolah ternyata karena adanya pelarangan beredarnya buku-buku terbitannya selama beberapa dekade di negeri ini karena ia pernah diasingkan sebagai tahanan politik di masa Orde Baru. 

Di akhir tahun 2016, saya tak sengaja menemukan buku-buku Pram di perpustakaan Kedubes Belanda dan Perpumda DKI Jakarta. Kemudian saya menghabiskan banyak waktu untuk membaca novel romannya, dari “Anak Semua Bangsa”, “Bumi Manusia”, “Rumah Kaca” dan “Jejak Langkah”. Kesan pertama saya adalah sangat terpukau dengan gaya berceritanya yang sangat luwes dan mengalir. Akibatnya saya larut dan tidak bisa memisahkan diri dari buku-buku tadi siang dan malam. Pokoknya sangat adiktif. Kisah-kisah Minke, sang tokoh utama, sanat mengena bagi saya, terutama karena saya seorang Jawa dan suka menulis juga. Ini tentu ada hubungannya dengan bakat dan kemampuan stroytelling Pram yang sudah terasah sejak kecil. Ditambah dengan keterbatasan untuk menuangkan dalam bentuk tulisan, karya-karya tetralogi sebelum dituangkan dalam tulisan telah disampaikan secara lisan pada kawan-kawan sepenanggungannya di Pulau Buru, Maluku. 

Karena hari ini hari terakhir pameran “Namaku Pram: Catatan dan Arsip” di Dialogue, Kemang, saya pun membulatkan tekad ke sana. Dan meskipun mendengar bahwa ternyata pameran itu diperpanjang, saya tidak kecewa karena kapan lagi bisa menikmati pameran langka ini?

MASA KECIL DI BLORA

Terlahir pada 6 Februari 1925, Pram memiliki orang tua Mastoer Imam Badjoeri dan Oemi Saidah. Ia anak sulung laki-laki. Sejak dini ia sudah kenal sastra karena bapaknya penulis buku, puisi, prosa dan tembang Jawa. Mastoer seorang Javanis tulen yang ambivalen menurut saya. Kenapa ambivalen? Karena ia menentang sekaligus menerimanya tanpa ia sadari.

Ada yang menarik dari hubungan Pram dengan sang ayah ini. Pram kecil dididik begitu keras bahkan terkesan terlampau keras untuk ukuran zaman itu sekalipun [apalagi zaman sekarang!]. Ada alasan saya menyimpulkan demikian. Pertama karena ayah Pram ini mungkin tidak bangga atau bahkan kecewa memiliki anak seperti Pram. Ekspektasi sangat ayah sangatlah tinggi sementara faktanya Pram tidak bisa memenuhi. Sebagai anak laki-laki sulung seorang guru besar di SD Institut Boedi Oetomo, Pram mempermalukan ayahnya karena gagal naik kelas sampai 3 kali. Untuk urusan ini, saya juga pernah berada dalam situasi yang sama. Hanya saja ayah saya kepala sekolah dan saya siswa kelas 1 tapi saya berhasil menduduki peringkat atas di kelas sehingga tidak membuat martabat ayah saya sebagai kepala sekolah terinjak-injak. Karena sampai 3 kali gagal naik kelas, akhirnya ayah Pram turun tangan juga dan mengajar sekaligus ‘menghajar’ Pram. Ia mungkin bukan anak yang cerdas dalam standar sekolah saat itu sehingga saat kelas 4 ia baru bisa naik kelas dengan diajar ayahnya sendiri. Tentu saja Pram kecil merasakan tekanan hebat. Bayangkan orang tua Anda seorang akademisi ulung yang profesor sementara Anda saja kuliah mungkin terlunta-lunta dan ketinggalan. Tak pelak, menangis sudah menjadi makanan sehari-hari Pram sehabis diajar sang ayah. Akan tetapi, ayahandanya yang penutur cerita sejati itu juga selalu menghiburnya setelah kelas dengan mendongengkan kisah-kisah pewayangan yang asyik dan menghanyutkan imajinasi anak-anaknya.

Karena hubungannya yang agak sulit dengan ayahnya itulah, patut dipahami hubungan Pram dengan ibunya lebih dekat dan hangat. Ibunya ini perempuan Jawa yang ulet, cekatan dan serba bisa. Lihat saja jenis-jenis pekerjaan yang ia biasa lakukan: dari menjahit, membatik, memasak, sampai mencangkul dan membuat sabun. Sebagai panutan, Oemi Saidah mencontohkan kedekatan dengan buku dan bacaan sejak Pram kecil. Untuk menegaskan kekaguman dan kedekatannya dengan ibunya, Pram sampai mengatakan bahwa ibunya adalah “wanita satu-satunya di dunia ini yang kucintai dengan tulus.” Di kemudian hari, bibit Oedipus Complex ini berkecambah dan memberikannya sebuah pernikahan yang langgeng dengan anak seorang tokoh Betawi.

Bakat bercerita menurun pada Pram secara alamiah. Di kelas 3 SD, ia menulis jurnal hariannya sendiri. Begitu masuk ke kelas 5 SD, ia mulai mengarang. Menulis menjadi alatnya untuk berinteraksi karena ia termasuk anak yang pemalu, yang mungkin disebabkan karena keinginannya untuk mendapatkan pengakuan dari dunia sekelilingnya sebagaimana yang ia inginkan dari ayahnya sendiri. Meski pemalu, Pram tidak malu saat membacakan cerita untuk adik-adiknya. 

Dari kebiasan menulis jurnal itu, ia mulai terus menulis. Tulisan pertamanya untuk publik bertema resep dan khasita obat-obatan dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, penerbit Tan Koen Swie yang ia kirimi tak mengabari lebih lanjut. Kemudian ia menulis dan mengirimkan “Ke Mana” ke majalah Pandji Poestaka [terbit antara 1925 sampai 1945] milik Balai Pustaka. Sebagaimana para penulis pemula lainnya, mengetahui karya dimuat merupakan sebuah kebanggaan. Ia pun mulai mendapatkan kenikmatan menulis. Dan sejak itu ia tak bisa berhenti.

ANAK MAMA

Jadi anak mama, bukan berarti manja. Pram mengenang ibunya sebagai sosok penyemangat. Seperti saat Pram kecil berkecil hati dikomentari anak-anak sebayanya karena ia menggembala kambing. Ia yang merasa minder karena merasa itu pekerjaan hina, dinasihati sang ibunda soal kerja keras dan martabat seorang manusia. “Yang harus malu itu mereka, karena mereka takut pada kerja. Kau kan kerja. Semua orang yang bekerja itu mulia. Yang tidak bekerja itu tidak punya kemuliaan,” ibunya berwejangan. 

Nilai kerja keras itu begitu tertanam dalam benak Pram hingga ia sendiri pernah dikutip mengatakan:”Jangan makan keringat orang lain. Makanlah keringatmu sendiri. Dan itu dibuktikan dengan kerja.”

Kalau Pram masih hidup di zaman sekarang, ia mungkin yang pertama setuju dengan semboyan Presiden Joko Widodo “Kerja, Kerja, Kerja”. Karena memang itulah cara mendapatkan martabat baik bagi diri seorang manusia atau bangsa. [bersambung] 

Inilah Pekerjaan Rumah Penataan Sistem Transportasi Umum Jakarta

transjakarta_bus
Pemandangan dalam bus Trans Jakarta jurusan Tebet- Tanah Abang yang relatif bagus karena masih baru. Untuk mereka yang hendak ke Satrio dan Tanah Abang dari Stasiun Tebet, bisa naik bus ini. [Sumber foto: Pribadi]
Jakarta terus menata diri menjelang Asian Games 2018 yang akan dilaksanakan setelah ulang tahun negara ini Agustus depan. Proyek-proyek mercusuar ala permintaan Roro Jonggrang terhadap Bandung Bondowoso pun bertebaran. Sistem transportasi jadi fokus utama rupanya. Terlihat dari maraknya pembangunan terowongan bawah tanah alias underpass di Matraman dan Kuningan lalu Lebak Bulus. Belum lagi pembangunan LRT dan MRT yang dikebut akhir-akhir ini. Konon semua itu berkhasiat melancarkan lalin manusia yang jumlahnya seperti laron di musim penghujan. Tapi entah sampai kapan. Karena kalau laju pertambahan kendaraan dan manusianya tak terkendali, semua itu tak ada gunanya juga akhirnya.

transjakarta_feeder_bus
Begini yang Anda bisa dilihat dalam bus feeder biru TJ yang berwarna biru. Kapasitasnya lebih kecil dan biasanya melintasi jalur yang tidak dilewati bus-bus yang ukurannya lebih besar. [Sumber foto: Pribadi]
Sebagai salah satu dari pengguna sistem transportasi umum di Jakarta, saya ikut terkena dampaknya. Baik itu yang enak atau tidak enak. Yang enak: sekarang kenyamanan, kebersihan dan jumlah armadanya makin banyak sehingga kami penumpang ini tak perlu meunggu terlalu lama. Paling-paling waktu tunggu [dalam pengalaman saya] berkisar 5-15 menit. Separah-parahnya hanya 20 menit. Belum pernah saya mesti menunggu sampai jengkel dan frustrasi sekali. Dan dengan naiknya jumlah armada, pengalaman naik bus Trans Jakarta juga terus membaik. Tak perlu berdesakan karena toh jika penuh masih ada bus lain yang sgeera datang menjemput.

manggarai_train_station
Pemandangan hilir mudiknya penumpang di Stasiun Manggarai, Jakpus yang sebenarnya bisa diatasi dengan pembangunan jalur lintasan di atas atau bawah tanah sehingga orang tidak melintas rel. Sampai kapan mesti begini? Apalagi kadang ada orang-orang sinting yang nekat melintas saat ada kereta mendekat karena takut terlambat masuk kerja. [Sumber foto: Pribadi]
Untuk sistem transportasi kereta komuter di Jakarta dan sekitarnya, perbaikan sudah banyak saya lihat. Seperti pembangunan lorong bawah tanah untuk menghindarkan penumpang melintasi rel kereta yang bisa membahayakan jiwa. Menurut UU Perkeretapian, mereka yang melintas rel katanya bisa dihukum tapi kalau dilihat di lapangan, hal itu kadang tidak terhindarkan karena larangan itu tidak disertai solusi dari pemerintah sendiri. Jadi pelanggaran masih sering terjadi. Ambil contoh saat saya harus melintasi stasiun Tebet dalam status bukan sebagai penumpang komuter. Saya harus pindah dari bus TJ ke yang lain dengan melintasi rel, dan ini sangat membahayakan. Tapi apa boleh buat? Saya harus memberanikan diri. Lain halnya di lingkungan stasiun Tebet. Sudah ada jalan bawah tanah yang membuat penumpang kereta bisa melintas tanpa peduli ada kereta akan lewat atau tidak. Lalu wewenang untuk mengurus perlintasan yang aman ini dimiliki siapa? Pemkotkah atau siapa? Itulah yang tidak jelas sehingga kami sebagai masyarakat pengguna fasilitas umum tidak bisa memberikan kritikan. Dan yang berwenang juga tampak lamban dalam menanganinya. Jangan sampai menunggu ada korban jiwa baru dibangun.

Sistem transportasi umum kita juga belum terintegrasi secara baik. Ambil contoh, di area Jakarta saja. Tidak perlu jauh-jauh. Saat saya naik bus TJ dari Kampung Melayu dan harus turun di stasiun Tebet saya harus naik bus lain ke tujuan saya di Kuningan dan membayar lagi. Lho, katanya sudah terintegrasi jadi ke manapun cukup bayar Rp3500? Percuma saya menyindir pejabat yang dulu pernah menjanjikan seperti itu karena kenyataannya saya memang harus membayar terus tiap kali turun di sana.

Integrasi ini juga jauh dari kesempurnaan. Buktinya coba Anda salah turun halte bus TJ. Kasus saya, saya yang tidak tahu harus naik bus arah ke Ragunan dan ingin transit di Kuningan Timur setelah naik di halte Jamsostek malah sampai di halte Tegal Parang dan tidak bisa kembali ke halte yang searah dengan tujuan saya. Saya ingin kembali ke Mampang Prapatan tapi ternyata dua halte di Tegal Parang yang terletak di dua arah berbeda itu terpisah. Gate masuknya berbeda. Jika ingin ke arah lain haruslah keluar dari halte satunya. Sial sekali buat saya harus bayar dua kali. Hal yang sama mungkin bisa ditemukan di halte-halte bus TJ yang didirikan di sekitar jalan tol yang tidak bisa dilewati dua arah. Dan soal jalan satu arah ini memang membuat efisiensi turun. Karena Anda pikirkan saja, yang harusnya bisa dicapai dengan waktu yang lebih pendek, akibat ada aturan jalan searah jadi harus memutar lebih jauh. Jalan kaki segan, terjebak macet apalagi. Dilema memang, tapi pilihan harus dijatuhkan.

rawa_buntu_train_station
Suasana Stasiun Rawa Buntu di Tangerang Selatan. Anda bisa lihat sendiri masih ada orang yang melintas meski tahu ada kereta mendekat. [Sumber foto: Pribadi
Kejam sekali untuk membandingkan kenyamanan berpindah tempat dengan transportasi umum di Jakarta dan kota besar dunia lainnya seperti Seoul. Dengan usia Indonesia dan Korsel yang hampir sebaya [Indonesia lebih tua bahkan], Jakarta dan Seoul tampak seperti bumi dan langit. Yang satu sistem transportasinya tertatih-tatih mengimbangi laju pertumbuhan ekonomi dan penduduknya; yang berikutnya sudah direncanakan jauh-jauh hari sehingga bisa lebih tertata dan menyeimbangi perkembangan jutaan manusia yang hidup di dalamnya.

2393554_image_1
Kapasitas bus dalam kota Seoul lebih besar dan sudah lama menggunakan sistem pembayaran elektrik. Tidak ada transaksi tunai. [Sumber foto: Seoul Public Transportation Site]
Subway Seoul dan Komuter Line Jakarta bisa kita bandingkan. Anda lihat subway di sana lebih rapat jalinannya. Ibarat otak, sel-selnya sudah sangat terkoordinasi dengan baik sehingga mobilitas begitu mudah. Setiap area di sana tercakup oleh lintasan kereta api sehingga bagi orang yang tak memiliki kendaraan pribadi, pastinya ini sangat membantu. Dan hanya sedikit orang saja yang ‘terpaksa’ mempunyai kendaraan pribadi.

2539333_image_1
Peta jalur kereta di Seoul, Korsel. [Sumber foto: Seoul Metro]
Jakarta bisa dikatakan sangat primitif dibanding Seoul. Karena komuter beroperasi di permukaan tanah sehingga keamanannya lebih rendah. Di terowongan bawah tanah tentu insiden tertabrak lebih rendah peluangnya untuk terjadi. Sementara itu, rel komuter line di Jakarta banyak yang melewati kantong-kantong permukiman warga sehingga lajunya juga tak bisa maksimal, pemandangannya semrawut, dan kalau cuaca hujan lebat dan berangin, ada risiko sinyal mati dan operasi terhambat. Saya pernah menjadi korban kereta komuter yang terhambat komunikasi akibat sinyal putus setelah hujan angin. Sangat tidak mengenakkan sekali! Berdiri selama berjam-jam tanpa kepastian dan terombang-ambing karena penumpang juga makin beringas dan tidak tertib, berpindah dari gerbong satu ke yang lain karena begitu ingin sampai lebih cepat. Syukurlah sekarang insiden semacam itu tidak dijumpai lagi. Belum lagi risiko longsor jika hujan deras.

Peta Rute KRL A4 09-02-2017 ( Dengan Jarak )
Peta komuter line atau kereta penghubung area-area dalam dan sekitar ibukota. [Sumber foto: KRL Commuter Line]
Dengan ledakan penduduk dan ekonomi yang makin berkembang pesat, tidak ada pilihan lain bagi kita selain memperbaiki semua transportasi umum ini secepatnya. Dan momentum Asian Games 2018 ini rasanya tepat untuk menggenjot perbaikan-perbaikan tersebut dengan lebih cepat karena bangsa ini memang tidak bisa terus bekerja lambat sementara di luar sana dunia sudah melesat jauh meninggalkan kita.

Pijat Nikmat Tanpa Maksiat yang Terlaknat

tractionmassage
Mau pijat nikmat tanpa maksiat? Syaratnya: Jangan pakai cawat saja. [Sumber foto: Wikimedia Commons]
SAYA sebagai konsumen jasa pijat. Tukang pijat ini, sebaliknya, sebagai produsen jasa pijat. Meskipun berada di dua pihak yang terlihat berkebalikan, bersama-sama kami memiliki keluhan pada dunia pijat memijat via aplikasi daring yang makin banyak digunakan sekarang.

Sembari menikmati pijatannya yang mantap di punggung dan bahu saya yang ‘remuk’ setelah sukses mencapai 50 kali pull up, 50 kali dips, 30 kali handstand pushups dan 30 kali chin up dalam latihan gymnastics sorenya, saya luncurkan keluhan saya mengenai kelakuan seorang oknum rekannya yang tanpa saya minta memberikan saya servis ‘pijat vitalitas’, yang seharusnya membuat saya berang tapi ternyata serba salah karena saya pikir itu mungkin jenis pijat yang saya tak ketahui pernah ada. Tapi setelah beberapa saat kemudian saya pikir, di aplikasinya saja tidak tertera jenis servis semacam itu, kenapa saya harus memakluminya? Kali ini saya seolah hendak meminta persetujuan darinya. Sekadar memverifikasi dugaan saya bahwa hal itu memang tidak bisa dibenarkan dalam koridor penyediaan jasa pijat yang sah dan etis.

Benar juga firasat saya.

“Bapak bisa laporkan itu. Dilarang banget sama [isi dengan nama aplikasi penyedia jasa pijat masa kini keluaran lokal],” jawab tukang pijat saya ini secara spontan. “Nanti biar bisa dikasih penalti, pak.” Bahkan bisa langsung diputus kemitraan karena bisa dianggap mencemarkan reputasi pihak penyedia layanan pijat panggilan itu.

Ah, saya terkesiap. Berarti saya harus laporkan si tukang pijat laknat ke customer service layanan itu segera, batin saya.

“Takutnya seperti saya, pak. Dapet yang ‘aneh-aneh’,” cerocosnya tanpa saya minta.

ANEH-ANEH???

Ia langsung merinci lagi:”Saya… maaf ini ya pak. Saya menghindari banget area Setiabudi sini.”

Saya terkejut. Saya sudah tinggal di sini selama delapan tahun dan kenapa ia bergidik saban dapat panggilan konsumen pijat dari kecamatan yang konon namanya didapat dari nama pahlawan nasional Indo Belanda, Douwes Dekker, itu?

Saya tanyakan bagaimana etika memijat bagi seorang masseuse, dan ia jawab,”Itu [baca: memijat sampai ke area selakangan dan pribadi] terlarang banget. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.”

Masalah muncul begitu ada satu pihak yang tidak menginginkan hal itu. Baik di sisi pemijat dan yang dipijat. Kami sama-sama korban juga.

Dari sisi yang dipijat, saya merasa sudah diisengi gara-gara oknum tukang pijat itu memberikan jenis ‘pijatan’ yang bahkan tidak terlintas di pikiran saya dan memang tidak saya minta baik secara implisit maupun eksplisit.

Dari sisi yang memijat, tukang pijat ini mengaku kerepotan menolak permintaan yang aneh-aneh dari konsumen pria yang ‘mencurigakan’. Kebanyakan konsumen nakal semacam ini, akunya, tinggal di Setiabudi. Makanya, saat ia tahu alamat saya ternyata bukan di Kampung Melayu [saya kebetulan salah memasukkan alamat] dan baru tahu bahwa saya tinggal di Setiabudi, saya duga ia mengalami syok yang sama. “Ah, sialan. Jangan jangan pelanggan nakal lagi,” batinnya.

Pihak penyelenggara jasa juga sebenarnya susah untuk menyaring orang-orang dengan kelakuan cabul seperti oknum itu. “Paling ketahuannya pas sudah ada customer yang lapor,” kata tukang pijat saya sambil terus menggilasi punggung saya yang tipis mirip papan cucian.

Tukang pijat saya mengadu begini soal kelakuan oknum-oknum pelanggan yang nakal:”Kalau sudah di paha itu ada yang rese. Minta dikocokin lah, segala macem…”

Suatu kali ia pernah dipanggil konsumen di area Setiabudi. Tempatnya bagus. Apartemen mewah pokoknya. Bersih dan rapi. Tapi pikiran si penghuni tak seresik itu juga.

“Saya kan pas pijat pakai baju berkancing seperti yang di foto aplikasi. Nah, pas itu saya sampai hampir bertengkar dengan dia karena baju saya ditarik dan kancing-kancing lepas semua,” ungkapnya jujur. Saya lihat dia memang tak lagi bekerja dengan pakaian model itu, Kaos jadi pilihan yang lebih aman dari tarikan.

Karena panik, tukang pijat aplikasi ini sampai mengancam untuk memanggil “satgas”. Mungkin yang ia maksud adalah petugas sekuriti di apartemen yang bersangkutan itu. Pasti ia akan malu karena ketahuan berbuat tak senonoh. Dengan sesama pria lagi! Duh!

“Bukan saya memvonis ya, pak. Maaf-maaf kata nih. Orderan yang saya ambil di daerah Setiabudi itu rata-rata hampir semuanya minta [baca: jasa pijat maksiat],” ucapnya lemah, seakan menandaskan bahwa dirinya juga sama-sama korban seperti saya.

Modus operandi si konsumen pijat nakal ini biasanya adalah mengamati dulu foto-foto tukang pijat. “Biasanya kalau fotonya kurang cakep, langsung dia cancel.”

Saya sendiri sebelum mendapatkan tukang pijat satu ini saja malah di-cancel oleh tukang pijat lainnya. “Terlalu jauh pak. Saya di Cempaka Putih,” alasan si tukang pijat itu. Apakah ia juga meneliti foto saya di aplikasi? Tunggu, saya tak pernah merasa memasukkan foto di aplikasi itu. Jadi musykil ia membatalkan sebab rupa atau kesan pertama.

Akun-akun konsumen nakal yang sering batalkan pesanan tanpa sebab yang ‘jelas’ itu bisa dicekal oleh pihak penyelenggara jasa aplikasi pijat panggilan ini.

“Masih bujang atau homo kali dia, pak. Kalau seperti saya yang pijat buat cari nafkah untuk anak istri sudah beda pasti cara kerjanya.”

Ia sendiri pernah memiliki langganan seorang pria yang begitu dermawan. “Kalau dia ngasih duit cuma untuk pijat dua jam itu nggak dihitung lagi duitnya. Pertama dia kasih Rp600.000. Kemudian dua kalinya dia panggil lewat nomor pribadi saya. Nah, baru ketiga kalinya baru ketahuan dia punya ‘niat yang gituan’. Bukannya disuruh mijit badan, saya malah disuruh meganging ‘itunya’,” ia mengingat.

Ia mencoba menampik secara halus permintaan konsumen yang haus layanan seks ini. Kalau tangannya memijat di sekitar paha dan ditarik ke arah selakangan, ia buru-buru minta maaf dan turun ke lutut. Saya paham, ia juga tidak bisa melewatkan imbalan sebesar ratusan ribu rupiah yang bisa menghidupi diri dan keluarganya dengan begitu saja. Jadi, ia harus menahan diri sebisa mungkin. “Paling akhirnya dia ngocok sendiri,” ujarnya. Tapi ia tetap bertahan karena bayarannya untuk pijat dua jam bisa berpuluh-puluh kali lipat dari konsumen kelas teri macam saya yang hanya bisa memberi imbalan kurang dari Rp100.000 per jam. “Terakhir dia kasih Rp1,3 juta untuk dua jam,” katanya sedikit bangga. Untuk imbalan sebesar itu, ia rela menahan risih saat si pelanggan pria itu merancap dengan tangannya sendiri. “Takut nular juga kan, pak? Virus gituan.”

Kalau sudah tidak memikirkan uang, mungkin ia akan sudah meninggalkan pelanggan itu dan bekerja yang lebih aman dari pelecehan semacam itu. Tapi ia masih memikirkan keluarga yang harus diberi makan, dan ia juga enggan terlibat hubungan seksual apapun dengan pelanggannya. Ia dipanggil hampir tiap minggu oleh pelanggan satu ini, yang bisa dikatakan dapat mencukupi nafkahnya dengan mudah. “Kalau tidak Sabtu ya Minggu. Pastinya sih malem malem. Jam 11 atau 12 malem baru nelpon.”

Kata tukang pijat saya ini, memang pelanggannya itu bukan sengaja memanggil jam segitu tapi karena kesibukan yang tak terkira. “Dari segi pembicaraan saya tahu dia orang penting. Misalnya ngobrol sama temennya habis dari ketemuan dengan kementerian apa gitu.”

Seolah saya tak percaya, saya masih tanyakan,”Ini bapak bapak?”

“Bapak bapak. Iya. Orang Indonesia. Di apartemennya itu banyak juga temannya. Cowok cowok.

Begitulah dilema kami berdua, para korban yang juga mendapatkan kenikmatan dari pijatan. Sebagai konsumen, saya merasa diuntungkan karena saya tak perlu keluar rumah dan biayanya juga lebih murah. Terakhir kali saya pijat di mall, saya masih merasa kurang puas dan lama ditambah dengan keharusan pulang ke rumah setelah pijat, yang membuat otot-otot dan pikiran yang sudah di kondisi rileks maksimal menjadi menegang lagi. Biayanya juga lebih terjangkau dengan jasa pijat panggilan.

Sebagai produsen, ia juga tak kuasa menolak rezeki dari jalur ini. Meskipun itu artinya ia harus menghadapi pelanggan yang haus seks, tak masalah asal ia masih bisa menolak dan pelanggan tidak berang karena penolakan itu.

Benar-benar sebuah dilema.

Lalu mungkinkah bisa menikmati layanan pijat yang nikmat tanpa harus bersinggungan dengan kemaksiatan yang terlaknat itu? Saya dan tukang pijat saya ini tak bisa memberikan jawabannya yang pasti karena masih menemukan sisi yang bisa dinikmati . (*/)

L0058581 Ivory figure of man massaging the back of another man. Japan
Tapi pijat dalam pakaian lengkap juga bukan solusi tepat karena efek pijatannya jadi kurang maksimal. [Sumber foto: Wikimedia Commons]
 

 

 

 

 

Mari Saling Rangkul, Bukan Pukul

Jepretan Layar 2018-05-14 pada 15.59.05.png

”Sahabat-sahabat yang keras dan ganas itu jangan dijauhi. Harus ada yang mendekati, menyayangi, mencintai mereka. Terutama agar mereka keluar dari lingkaran gelap kekerasan”.- Gede Prama dalam “Bunga Cinta untuk Teroris

SAYA dan sahabat-sahabat saya baru saja menikmati kelas yoga pagi yang nikmat pagi hari kemarin. Seperti biasa, kami gulung matras lalu mencari tempat untuk duduk dan memesan santapan pagi.

Mbak Mei, teman yang kebetulan duduk di samping saya, tertegun beberapa detik menekuni sebuah teks di newsfeed Facebooknya yang baru saja disegarkan. Saya sendiri sudah melepaskan diri dari jejaring sosial berwarna dominan biru itu dan memilih untuk lebih banyak menulis di sini daripada di dinding Facebook karena saya ingin gairah menulis panjang di blog saya kembali tinggi seperti dahulu sebelum media sosial ‘sang pemuas instan’ merebak. Saya tak sengaja juga jadi tertarik membaca teks yang rupanya pemberitahuan dari temannya bahwa nun jauh di ujung timur pulau ini, saudara-saudara kami sedang dilanda aksi teror. Lagi.

Dan baru saja saya makan pagi tadi, berita terbaru menyatakan adanya satu bom meledak lagi di gerbang depan markas Kepolisian Surabaya. Jumlah korban total mencapai 18 orang kata pembawa acara berita. Mungkin bisa bertambah lagi jika kondisi tak terkendali dan korban luka ada yang kritis dan tak sanggup bertahan hidup.

Dalam hati saya berdoa, hentikan semua ini.

Kutipan Gede Prama di atas seperti sebuah pengingat yang ampuh untuk mengingatkan bahwa ‘jembatan-jembatan’ antarkelompok dan manusia yang berpotensi saling salah paham ini bisa dibangun kembali setelah bom-bom itu meluluhlantakkannya. Sejatinya saya yakin bom-bom ini hanyalah akumulasi dari ambruknya ‘jembatan-jembatan’ lainnya yang lebih kecil.

Seorang teman berkomentar,”Apa yang ada dalam pikiran mereka sampai seorang ibu bisa mengajak anaknya mati bunuh diri dengan memantik bom?”

Saya jawab karena mereka pasti memiliki cara pikir yang sungguh berbeda dari kita. Mereka menganggap ini sebagai suatu jalan suci dan kita tidak. Logika mereka berbeda jauh dari kita yang menganggap ini suatu cara nista melakukan perjuangan untuk sesuatu yang suci dan mulia. Apalah artinya berjuang untuk sebuah tujuan yan benar dan baik namun cara yang kita lakukan menyakiti hati sesama atau bahkan sampai menyambil nyawa yang tak tahu duduk perkara?

Bagaimana mereka bisa memiliki cara pikir yang berbeda jauh dari kita? Salah satunya saya yakini ialah karena tidak adanya komunikasi yang baik dengan mereka. Kita bisa jadi memisahkan diri dari mereka, atau secara sengaja atau tidak sudah menepikan mereka dalam berbagai upaya pembangunan kita. Kemungkinan lain tentu karena mereka memisahkan diri dari kita karena kita dianggap tak peduli atau tak seiring sejalan dengan mereka.

Dan kutipan gede Prama di atas sebenarnya kalimat ajakan yang ia temukan di sebuah majelis taklim di ibukota. Jadi, sebenarnya sudah ada kesadaran dari dalam diri umat muslim sendiri untuk membangun ‘jembatan-jembatan’ yang mulai keropos dan rontok tadi agar insiden kemanusiaan yang memilukan ini tak lagi terjadi.

Akhirnya, mari jangan lawan terorisme dengan kekerasan yang sama. Bila berniat menghentikannya, marilah tinggalkan analogi bakteri dan antibiotik, yang membuat kita terus menerus berkompetisi mempertinggi dosis antibiotik agar tetap lebih unggul daripada virus yang makin resisten.

Mulailah merangkul mereka karena pada hakikatnya bibit-bibit terorisme itu ada di dalam diri semua manusia. Subur tidaknya ia bergantung pada banyak faktor. Dan saat Anda mengisolasi mereka yang Anda anggap tidak sepaham dari sekeliling Anda, maka makin subur bibit terorisme itu berkembang. (*/)

 

Begini Rasanya Bersepeda di Jakarta

Jepretan Layar 2018-05-12 pada 07.53.22
Kendaraan mewah bernama sepeda. [Dok pribadi]
DALAM suasana macet seperti di atas, kadang saya ingin sekali melenggang di sela-sela kendaraan bermotor roda empat dan roda dua seraya mengacungkan jari tengah pada sekeliling saya dan berteriak lepas:”F*@#$%^&*()(%$#  YOU, JAKARTAAAA!!!”

Tapi tentu saja tidak akan ada yang mendengar dengan jelas teriakan frustrasi saya sebab mulut saya dibekap masker karbon aktif agar tetap bisa bernapas lega di antara kepulan asap kendaraan bermotor yang membuat paru-paru bisa rontok seketika.

Kalau ditanya bagaimana rasanya bersepeda di Jakarta, saya akan menjawab rasanya campur aduk. Enaknya bersepeda di Jakarta adalah semua jalannya sudah beraspal jadi tidak bakal becek dan berlumpur parah.

Cuma itu enaknya.

Sisanya derita.

Misalnya soal ketersediaan “biker lane” alias jalur pesepeda. Itu cuma sebuah utopia di sini. Di jalur-jalur protokol memang ada jalur semacam itu. Indah terlihat, seolah mengatakan,”Pemerintah sudah memberi apa yang pesepeda butuhkan lho! Jangan bilang tidak peduli sama sekali.”

Baiklah itu benar tapi apakah itu cukup? Sementara di jalur pesepeda yang biasanya di badan jalan paling kiri dipenuhi dengan galian-galian PLN atau PAM Jaya. Ini tidak cuma sekali dua kali. Tapi RUTIN! Saya juga tidak habis pikir kenapa tidak dipikirkan sebuah sistem yang lebih enak dan awet dan efisien daripada gali dan tutup lubang semacam itu. Sekali lagi itu tetap misteri.

Dan karena galian yang tampaknya akan selalu diadakan secara berkala demi tujuan pemeliharaan atau peningkatan itu [seperti sekarang saat pembangunan dan peningkatan kapasitas listrik untuk Asian Games 2018 digalakkan],  permukaan jalur pesepeda juga akhirnya jadi tidak rata dan cenderung membahayakan pesepeda karena jika dilintasi dengan kecepatan tinggi bisa membuat oleng dan kalau sedang sial, bisa disambar kendaraan bermotor lain yang kebetulan melintas dengan kecepatan tinggi. Dengan kata lain, setelah digali, biasanya akan dtimbun dan diaspal lagi dan pengaspalan kembali ini biasanya kurang sempurna. Dan untuk kendaraan roda dua apalagi sepeda yang lebih ringan bobotnya dari sepeda motor, tentu permukaan yang bergelombang ini sangat terasa. Jangan dibandingkan dengan mobil yang sudah ber-shock breaker bagus!

Infrastruktur lain pendukung sepeda yang sangat kurang di Jakarta ini ialah lahan parkir yang ramah pesepeda. Okelah di beberapa gedung perkantoran dan mall di sini sudah memberikan ruang parkir yang aman dan nyaman tapi kesungguhan pengelola untuk menyambut pesepeda di areanya masih saya ragukan? Kenapa? Karena ambil contoh di Pacific Place, di sana ruang parkir sepeda agak susah ditemukan karena tersembunyi di pojok. Yang absurd adalah saat saya bertanya seorang pria yang sedang duduk terpekur memegang ponsel (yang saya duga petugas penjaga), saat saya tanya apakah saya harus ambil nomor untuk menitipkan sepeda saya, ia menganga seolah tidak pahammaksud pertanyaan saya. Rupanya ia bukan petugas jaga dan hanya kebetulan istirahat di antara shift kerjanya di mall itu. Ini saya tanyakan karena di sepeda-sepeda lain di area parkir itu, ada nomor-nomornya.

Pengalaman saya menitipkan sepeda di mall lain, Lotte Shopping Avenue, lain lagi. Tempatnya memang aman sekali dan ada petugas khusus yang disuruh manajemen untuk mengurusi sehingga tidak ada keraguan sedikitpun akan ada pencuri sepeda. Penitipan ini juga dikelilingi jeruji besi, sehingga seolah kami masuk ke sebuah penjara mini. Kami bisa meminta nomor ke petugas dan mengunci ke jeruji lalu ke mall. Masalahnya ialah tempat penitipan sepeda ini di basement yang agak susah ditemukan. Lain dengan parkiran di Pacific Place.

Tempat publik lain yang pernah saya sambangi dengan sepeda ialah FX Sudirman. Di sana parkirannya tidak mesti masuk ke basement sehingga lebih praktis dan hemat waktu. Letaknya di samping mall dan teduh sehingga lumayan nyaman. Sayangnya tidak ada petugas khusus dan areanya terbuka sehingga jika ada maling, kita harus ikhlas. Parkiran ini juga dekat dengan lalu lalang mobil yang keluar masuk mall sehingga agak miris,”Jangan-jangan nanti bisa diseruduk mobil sepeda kesayangan gue…”

Lemahnya infrastruktur ini ditambah dengan ketidakpedulian orang-orang di sekeliling dengan pesepeda. Saya tanya petugas parkir motor dengan harapan mereka tahu parkiran sepeda tapi kadang mereka sendiri tidak tahu apapun. Sungguh mengenaskan! Pada jajaran manajemen geudng yang sudah memiliki area parkir sepeda, tolong dong Anda edukasi mereka yang Anda bawahi itu untuk tahu lokasi parkir sepeda di tempat mereka bekerja! Saya paling jengkel kalau sampai di satu tempat umum, dan saya sudah membaca pengalaman biker lain di weblog bahwa di situ ada parkir sepeda tapi saat saya memastikan ke staf di sana, tidak ada yang tahu persis lokasinya. Jadi ini yang salah siapa? Tapi baiklah daripada mencari kambing hitam, kita cari solusinya saja. Saya berusaha mencari dengan cara saya sendiri dan mereka sebagai pekerja di sana juga paham seluk beluk tempat kerjanya.

Bersepeda di sini juga jangan sampai melupakan masker karbon agar napas tidak sesak dipenuhi emisi kendaraan bermotor yang populasinya melebihi kapasitas jalan.

Saya sering bertanya,”Sampai kapan orang Jakarta akan bertahan hidup dalam pola seperti ini? Hidup di dalam kompartemen mobil selama berjam-jam dalam sehari, menginjak rem dan gas bergantian, menahan berak dan kencing sampai wasir dan infeksi saluran kemih dan dehidrasi ringan sampai berat. Batas sabar dan gila memang tipis…”

Tapi saya pikir ini semua akan terpecahkan jika orang Jakarta dan sekitarnya sudah beralih ke moda transportasi umum sehingga mereka mau meninggalkan kendaraan pribadi.

Nah, masalahnya pemerintah masih ‘memble tapi tidak kece’ dalam mengelola sistem transportasi umum sampai sekarang. Betul sekarang akan ada LRT, MRT dan segala perbaikan di sistem bus Trans Jakarta. Tapi dibandingkan negara-negara lain yang merdekanya sama dengan kita (pertengahan abad lalu), kita itu tertinggal jauh. Dengan kata lain, Jakarta itu masih PURBA. Karena kota-kota di masa depan atau kota-kota di negara maju saat ini tak lagi sesak dengan mobil. Mobil itu justru lebih banyak dipakai penduduk di perdesaan karena di sana kendaraan umum lebih jarang. Jadi kalau di kota besar seperti Jakarta masih disesaki motor dan mobil, itu sebenarnya mencerminkan kenyataan bahwa memang Jakarta belum menjadi kota metropolitan. Ia adalah kota hasil penggabungan yang kacau antara kemajuan kota dan budaya desa. Kemajuan kota adalah mall dan gedung pencakar langit serta toilet-toiletnya yang bersihnya melebihi kamar tidur warga jelata. Budaya desa ialah rumah tapak dan warung  tegal di sekitar perkantoran dan kebiasaan membuang sampah sembarangan karena mereka pikir plastik pembungkus makanan dan minuman bisa membusuk sendiri laksana daun pisang dan jati.

Tapi sekali lagi, saya tidak mau menyerah dengan semua tantangan itu. Mari bersepeda terus. Sebab kita harus menjadi perubahan yang kita inginkan, sabda Mahatma Gandhi. (*/)

 

%d bloggers like this: