Cecile’s Plot: Jatuh Bangun Seorang Penulis Majalah

SATU cara jitu untuk membunuh waktu dengan cara yang ‘kekinian’ adalah dengan memutar video di ponsel pintar. Aktivitas ini cukup menyenangkan. Ada banyak pilihan aplikasi penyedia konten multimedia semacam ini yang gratis dan bisa diakses tanpa harus bayar dengan kartu kredit, seperti Viu dan iFlix.

Buat penulis semacam saya, menonton konten cerita yang mengasyikkan semacam ini bisa juga sebetulnya dipakai untuk menstimulasi daya kreasi sekaligus berekreasi tanpa mesti melangkahkan kaki dan menghabiskan anggaran. Seperti yang dulu dilakukan Shonda Rhimes. Kalau Anda penyuka drama Grey’s Anatomy, tahulah siapa dia. Di waktu luangnya sebagai ibu rumah tangga, Rhimes mengaku sering harus tinggal di rumah untuk merawat bayinya dan jika ada waktu luang ia suka menonton secara marathon serial drama televisi yang pernah ia lewatkan. Ia tonton semua itu dari awal sampai akhir tanpa henti.

Drama berikut ini berasal dari Jepang dan saya pilih untuk ulas di blog ini karena memiliki kedekatan dengan profesi saya [mungkin Anda juga tertarik membaca hasil kurasi saya soal deretan drama korea dengan tema penulis di sini]. Cecile’s Plot juga ternyata sebuah hasil adaptasi dari novel berjudul “Sesiru no Mokuromi” oleh Kei Yuikawa (dimuat dari tahun 2008 hingga 2010 di majalah Story).

Cecile's_Plot-p02

Drama yang berkisah seputar dunia modelling yang kejam dan penuh intrik. Di sini karakter utama yang seorang model amatir diceritakan bisa terangkat berkat kerja keras seorang penulis majalah lepas bernama Eri Okita yang diperankan Ayumi Ito. [sumber foto: AsianWiki.com]

Dalam serial televisi garapan FUJI TV ini, karakter sentralnya memang ada dua, yakni Nao Miyaji dan Eri Okita. Namun, saya lebih tertarik dengan karakter Okita yang memang sangat familiar dengan pekerjaan saya sebagai penulis. Bekerja di sebuah penerbit majalah khusus perempuan, Okita yang sebenarnya pantas juga menjadi model ini memilih terjun ke dalam dunia kepenulisan. Sudah lama ia ingin menulis untuk sebuah merek produk aksesoris yang prestisius. Sebagai sosok yang penuh dedikasi terhadap pekerjaannya, Okita yang masih lajang di usia 36 tahun itu sangat percaya diri dan bersemangat dalam menyelesaikan tugas apapun yang dibebankan padanya oleh wakil kepala editor Junko Kurosawa (diperankan Yuka Itaya) yang selalu tegas dan dingin tetapi sangat bijak dan lembut sebetulnya dalam menjalani pekerjaannya yang sangat menuntut ini. Ia rela tidak memiliki anak demi karier sebagai editor majalah Vanity yang sudah ia lakoni selama 11 tahun.

Kembali ke Okita, menurut saya Okita bisa dikatakan sebagai motor penggerak cerita, karena tanpanya sang model amatiran yang bernama Nao Miyaji itu tidak akan bisa terpilih dan melaju pesat dalam jalur modelling yang penuh persaingan dan intrik keji. Mengapa? Karena ia orang yang pertama kali menemukan Nao Miyaji yang profesi sebetulnya seorang ibu rumah tangga dengan satu anak dan keluarga yang harmonis dan terkesan tidak istimewa. Okita-lah orang yang pertama-tama mengobarkan semangat dalam diri Nao Miyaji, bahwa sebagai perempuan ia sebenarnya bisa saja merengkuh lebih dari apa yang ia miliki saat ini. Bahwa ia bisa saja menjadi terkenal dan memiliki apa saja yang dimiliki oleh tokoh-tokoh model tersohor seperti Kyoko Hasegawa (diperankan Maiko Yasunaga) seperti rumah mewah, kolam renang, ketenaran, kekayaan dan sebagainya. Tapi dalam perjalanannya, Nao tahu ia tidak bisa berkompromi untuk mengubah dirinya demi kemauan publik yang seakan mendikte kehidupan pribadinya, hingga mengganggu kehidupan keluarganya.

Meskipun seorang perempuan, Okita di sini digambarkan sebagai sosok yang tangguh sekali. Ia tidak segan bekerja lembur meski tahu ia bukan pekerja tetap dengan uang lembur. Ia menerima tugas apapun yang diberikan Kurosawa padanya meski itu terlihat sekilas tak mungkin ia capai. Ia tetap bertahan meski bayarannya kecil dan meski ia harus kesulitan membayar sewa tempat tinggalnya. Ia menghabiskan upahnya demi membeli pakain dan aksesoris bagus karena ia bekerja di majalah perempuan yang mengharuskannya berpakaian modis dan trendi.

Saya terkesan dengan deskripsi kehidupan para penulis lepas di majalah perempuan Vanity tersebut yang bisa dikatakan cukup akurat dan blak-blakan. Mereka ini pribadi-pribadi yang ambisius, mereka tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup ini, mereka berani berkorban dan menghadapi penghakiman oleh masyarakat [karena misalnya belum menikah di usia yang sudah sematang itu atau belum memiliki anak di usia yang sudah menginjak 40-an]. Dan mereka [penulis-penulis lepas itu] juga terbelit kesulitan keuangan karena dieksploitasi oleh perusahaan penerbitan yang ingin menekan biaya produksi serendah mungkin. Sangat sulit membayangkan bagaimana Okita bisa mengatasi semua masalah itu dan masih tampak bisa modis, sehat dan tak tampak lelah atau tertekan.

Okita sejatinya seorang pekerja perempuan di Tokyo modern yang sudah mapan. Namun, siapa sangka hidupnya langsung berubah begitu perusahaan merumahkannya di usia 33 tahun untuk menangani penjualan langsung karena merek itu meninggalkan pasar Jepang. Langsung saja ia menganggur. Saat ia tahu ada tawaran menjadi penulis lepas di majalah Vanity, ia langsung menyambut tawaran itu karena mode sudah mendarah daging dalam dirinya sejak kecil. Neneknya sudah menggandrungi produk fashion terkini dari jenama Ferroni yang dikenal mahal. Satu-satunya yang ia tak miliki ialah pengalaman sebagai penulis dan Vanity tidak keberatan menerima kandidat tak berpengalaman sepertinya. Okita jujur mengakui ia tak punya tabungan dan membelanjakan hampir semua uangnya untuk pakaian.

“Karena itu aku harus menjadi penulis terkenal…” -Okita (Cecile’s Plot, episode 2)

Sebagai penulis lepas, ia hanya dibayar berdasarkan proposal yang diterima jadi jika proposal yang dibuat tak lolos, ia hanya bisa gigit jari walaupun sudah menyiapkannya secara mati-matian. Hasilnya sangat menentukan tak peduli prosesnya bagaimana, kata Kurosawa. Dengan kehidupan yang begitu mengenaskan, toh Okita masih sanggup bertahan. Ia mempertaruhkan semua yang ia miliki untuk menjadi penulis majalah yang terkenal.

Dedikasinya dibuktikan dengan menolak pinangan seorang pria yang bekerja di industri yang sama. Okita menampik lamarannya karena sang pria menuntutnya untuk melepaskan karier yang sudah ia bangun jikalau nanti bersedia menjadi istrinya. Ia mengatakan tidak akan menyesal jika ia bahkan masih bisa bekerja di masa tuanya nanti, meskipun tidak punya anak atau suami sekalipun.

Karakter Okita ini saya pikir juga sangat relevan dengan kehidupan penulis majalah di tanah air. Bekerja di industri media bisa dikatakan hanya bergelimang citra. Dananya seret. Tentu kita tahu bagaimana kisah majalah Femina yang kembang kempis akhir-akhir ini dalam mempertahankan bisnis mereka. Karyawan-karyawan dijanjikan untuk menerima gaji dalam beberapa kali cicilan karena masalah keuangan yang terbilang sangat parah. Bagi para pekerja lepas, upah mereka juga ditahan selama beberapa bulan. Tampilan luar yang glamor memang belum bisa dijadikan jaminan kesejahteraan. Apalagi di Jakarta. Karena ternyata kesejahteraan seorang pekerja kerah putih yang modis dan resik di bidang yang membutuhkan ketrampilan dan pengalaman yang khusus bisa berbeda tipis sekali dengan kesejahteraan para pekerja kerah biru yang ada di proyek-proyek bangunan.

Bagi mereka yang memiliki passion setinggi Okita, atau kebutuhan mendesak [baca: ketiadaan pilihan] untuk menyambung hidup seperti Okita, rasanya bekerja di industri media cetak bukanlah sesuatu yang berat. Karena itu mereka bisa bertahan hingga habis masa produktif mereka. Namun, bagi mereka yang lebih realistis, bekerja di industri itu tidak memberikan banyak pilihan kecuali benar-benar menghamba pada pemilik modal dan menggadaikan banyak hal yang Anda seharusnya pertahankan seperti keseimbangan kehidupan pribadi, keluarga dan pekerjaan. Tapi sekali lagi, manusia hidup dengan membuat banyak pilihan dan menanggung konsekuensi dari pilihan yang ia buat. Pada akhirnya, apapun pilihan itu jangan sampai membuat kita merasa menyesal di kemudian hari. Ingatlah bahwa keputusan kita di masa lalu sudah diambil dengan pertimbangan yang kuat. Dengan demikian, kita tidak akan merasa menyesal.

Kalau Anda penyuka dunia media atau modelling atau tema feminisme, drama satu ini mungkin suguhan yang patut dinikmati di waktu luang. Plotnya penuh kejutan; kecepatan penceritaannya membuat Anda tak sabar menyaksikan episode berikutnya; dialog-dialognya yang cerdas dan menohok membuat kita terperangah dan jatuh terduduk memikirkan kehidupan dan pekerjaan kita sendiri. Sebuah drama yang menggelitik pemirsanya untuk mengevaluasi lagi seperti apa kebahagiaan yang mereka inginkan. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.