Mari Saling Rangkul, Bukan Pukul

Jepretan Layar 2018-05-14 pada 15.59.05.png

”Sahabat-sahabat yang keras dan ganas itu jangan dijauhi. Harus ada yang mendekati, menyayangi, mencintai mereka. Terutama agar mereka keluar dari lingkaran gelap kekerasan”.- Gede Prama dalam “Bunga Cinta untuk Teroris

SAYA dan sahabat-sahabat saya baru saja menikmati kelas yoga pagi yang nikmat pagi hari kemarin. Seperti biasa, kami gulung matras lalu mencari tempat untuk duduk dan memesan santapan pagi.

Mbak Mei, teman yang kebetulan duduk di samping saya, tertegun beberapa detik menekuni sebuah teks di newsfeed Facebooknya yang baru saja disegarkan. Saya sendiri sudah melepaskan diri dari jejaring sosial berwarna dominan biru itu dan memilih untuk lebih banyak menulis di sini daripada di dinding Facebook karena saya ingin gairah menulis panjang di blog saya kembali tinggi seperti dahulu sebelum media sosial ‘sang pemuas instan’ merebak. Saya tak sengaja juga jadi tertarik membaca teks yang rupanya pemberitahuan dari temannya bahwa nun jauh di ujung timur pulau ini, saudara-saudara kami sedang dilanda aksi teror. Lagi.

Dan baru saja saya makan pagi tadi, berita terbaru menyatakan adanya satu bom meledak lagi di gerbang depan markas Kepolisian Surabaya. Jumlah korban total mencapai 18 orang kata pembawa acara berita. Mungkin bisa bertambah lagi jika kondisi tak terkendali dan korban luka ada yang kritis dan tak sanggup bertahan hidup.

Dalam hati saya berdoa, hentikan semua ini.

Kutipan Gede Prama di atas seperti sebuah pengingat yang ampuh untuk mengingatkan bahwa ‘jembatan-jembatan’ antarkelompok dan manusia yang berpotensi saling salah paham ini bisa dibangun kembali setelah bom-bom itu meluluhlantakkannya. Sejatinya saya yakin bom-bom ini hanyalah akumulasi dari ambruknya ‘jembatan-jembatan’ lainnya yang lebih kecil.

Seorang teman berkomentar,”Apa yang ada dalam pikiran mereka sampai seorang ibu bisa mengajak anaknya mati bunuh diri dengan memantik bom?”

Saya jawab karena mereka pasti memiliki cara pikir yang sungguh berbeda dari kita. Mereka menganggap ini sebagai suatu jalan suci dan kita tidak. Logika mereka berbeda jauh dari kita yang menganggap ini suatu cara nista melakukan perjuangan untuk sesuatu yang suci dan mulia. Apalah artinya berjuang untuk sebuah tujuan yan benar dan baik namun cara yang kita lakukan menyakiti hati sesama atau bahkan sampai menyambil nyawa yang tak tahu duduk perkara?

Bagaimana mereka bisa memiliki cara pikir yang berbeda jauh dari kita? Salah satunya saya yakini ialah karena tidak adanya komunikasi yang baik dengan mereka. Kita bisa jadi memisahkan diri dari mereka, atau secara sengaja atau tidak sudah menepikan mereka dalam berbagai upaya pembangunan kita. Kemungkinan lain tentu karena mereka memisahkan diri dari kita karena kita dianggap tak peduli atau tak seiring sejalan dengan mereka.

Dan kutipan gede Prama di atas sebenarnya kalimat ajakan yang ia temukan di sebuah majelis taklim di ibukota. Jadi, sebenarnya sudah ada kesadaran dari dalam diri umat muslim sendiri untuk membangun ‘jembatan-jembatan’ yang mulai keropos dan rontok tadi agar insiden kemanusiaan yang memilukan ini tak lagi terjadi.

Akhirnya, mari jangan lawan terorisme dengan kekerasan yang sama. Bila berniat menghentikannya, marilah tinggalkan analogi bakteri dan antibiotik, yang membuat kita terus menerus berkompetisi mempertinggi dosis antibiotik agar tetap lebih unggul daripada virus yang makin resisten.

Mulailah merangkul mereka karena pada hakikatnya bibit-bibit terorisme itu ada di dalam diri semua manusia. Subur tidaknya ia bergantung pada banyak faktor. Dan saat Anda mengisolasi mereka yang Anda anggap tidak sepaham dari sekeliling Anda, maka makin subur bibit terorisme itu berkembang. (*/)

 

Author: akhlis

Writer & yogi

2 thoughts on “Mari Saling Rangkul, Bukan Pukul”

  1. Yup setuju, teroris itu memiliki pola pikir sendiri, yang berbeda dengan yang lain.

    Di sekitar saya banyak yang rajin beribadah, tapi hatinya busuk, bukan teroris namun cenderung ke kriminal (penipu, pencuri, dll). Dan mereka ini sering sekali menasihati saya agar rajin beribadah, disini saja saya tidak mengerti dengan pola pikir mereka.

    Saya jarang beribadah tapi saya tidak pernah mau merugikan orang lain dalam hal apapun, berbeda dengan orang2 yang merasa “suci”.

    Yang saya takutkan jika bomb ini berkelanjutan, investor akan pada cabut, pariwisata melemah, dan dollar naik, harga barang naik.

    1. Makasih dah baca ya Ryan. Semoga tidak terjadi. Saya pikir ini cuma skenario yang dibuat untuk menahan Indonesia supaya nggak jadi negara besar. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: