Pijat Nikmat Tanpa Maksiat yang Terlaknat

tractionmassage

Mau pijat nikmat tanpa maksiat? Syaratnya: Jangan pakai cawat saja. [Sumber foto: Wikimedia Commons]

SAYA sebagai konsumen jasa pijat. Tukang pijat ini, sebaliknya, sebagai produsen jasa pijat. Meskipun berada di dua pihak yang terlihat berkebalikan, bersama-sama kami memiliki keluhan pada dunia pijat memijat via aplikasi daring yang makin banyak digunakan sekarang.

Sembari menikmati pijatannya yang mantap di punggung dan bahu saya yang ‘remuk’ setelah sukses mencapai 50 kali pull up, 50 kali dips, 30 kali handstand pushups dan 30 kali chin up dalam latihan gymnastics sorenya, saya luncurkan keluhan saya mengenai kelakuan seorang oknum rekannya yang tanpa saya minta memberikan saya servis ‘pijat vitalitas’, yang seharusnya membuat saya berang tapi ternyata serba salah karena saya pikir itu mungkin jenis pijat yang saya tak ketahui pernah ada. Tapi setelah beberapa saat kemudian saya pikir, di aplikasinya saja tidak tertera jenis servis semacam itu, kenapa saya harus memakluminya? Kali ini saya seolah hendak meminta persetujuan darinya. Sekadar memverifikasi dugaan saya bahwa hal itu memang tidak bisa dibenarkan dalam koridor penyediaan jasa pijat yang sah dan etis.

Benar juga firasat saya.

“Bapak bisa laporkan itu. Dilarang banget sama [isi dengan nama aplikasi penyedia jasa pijat masa kini keluaran lokal],” jawab tukang pijat saya ini secara spontan. “Nanti biar bisa dikasih penalti, pak.” Bahkan bisa langsung diputus kemitraan karena bisa dianggap mencemarkan reputasi pihak penyedia layanan pijat panggilan itu.

Ah, saya terkesiap. Berarti saya harus laporkan si tukang pijat laknat ke customer service layanan itu segera, batin saya.

“Takutnya seperti saya, pak. Dapet yang ‘aneh-aneh’,” cerocosnya tanpa saya minta.

ANEH-ANEH???

Ia langsung merinci lagi:”Saya… maaf ini ya pak. Saya menghindari banget area Setiabudi sini.”

Saya terkejut. Saya sudah tinggal di sini selama delapan tahun dan kenapa ia bergidik saban dapat panggilan konsumen pijat dari kecamatan yang konon namanya didapat dari nama pahlawan nasional Indo Belanda, Douwes Dekker, itu?

Saya tanyakan bagaimana etika memijat bagi seorang masseuse, dan ia jawab,”Itu [baca: memijat sampai ke area selakangan dan pribadi] terlarang banget. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.”

Masalah muncul begitu ada satu pihak yang tidak menginginkan hal itu. Baik di sisi pemijat dan yang dipijat. Kami sama-sama korban juga.

Dari sisi yang dipijat, saya merasa sudah diisengi gara-gara oknum tukang pijat itu memberikan jenis ‘pijatan’ yang bahkan tidak terlintas di pikiran saya dan memang tidak saya minta baik secara implisit maupun eksplisit.

Dari sisi yang memijat, tukang pijat ini mengaku kerepotan menolak permintaan yang aneh-aneh dari konsumen pria yang ‘mencurigakan’. Kebanyakan konsumen nakal semacam ini, akunya, tinggal di Setiabudi. Makanya, saat ia tahu alamat saya ternyata bukan di Kampung Melayu [saya kebetulan salah memasukkan alamat] dan baru tahu bahwa saya tinggal di Setiabudi, saya duga ia mengalami syok yang sama. “Ah, sialan. Jangan jangan pelanggan nakal lagi,” batinnya.

Pihak penyelenggara jasa juga sebenarnya susah untuk menyaring orang-orang dengan kelakuan cabul seperti oknum itu. “Paling ketahuannya pas sudah ada customer yang lapor,” kata tukang pijat saya sambil terus menggilasi punggung saya yang tipis mirip papan cucian.

Tukang pijat saya mengadu begini soal kelakuan oknum-oknum pelanggan yang nakal:”Kalau sudah di paha itu ada yang rese. Minta dikocokin lah, segala macem…”

Suatu kali ia pernah dipanggil konsumen di area Setiabudi. Tempatnya bagus. Apartemen mewah pokoknya. Bersih dan rapi. Tapi pikiran si penghuni tak seresik itu juga.

“Saya kan pas pijat pakai baju berkancing seperti yang di foto aplikasi. Nah, pas itu saya sampai hampir bertengkar dengan dia karena baju saya ditarik dan kancing-kancing lepas semua,” ungkapnya jujur. Saya lihat dia memang tak lagi bekerja dengan pakaian model itu, Kaos jadi pilihan yang lebih aman dari tarikan.

Karena panik, tukang pijat aplikasi ini sampai mengancam untuk memanggil “satgas”. Mungkin yang ia maksud adalah petugas sekuriti di apartemen yang bersangkutan itu. Pasti ia akan malu karena ketahuan berbuat tak senonoh. Dengan sesama pria lagi! Duh!

“Bukan saya memvonis ya, pak. Maaf-maaf kata nih. Orderan yang saya ambil di daerah Setiabudi itu rata-rata hampir semuanya minta [baca: jasa pijat maksiat],” ucapnya lemah, seakan menandaskan bahwa dirinya juga sama-sama korban seperti saya.

Modus operandi si konsumen pijat nakal ini biasanya adalah mengamati dulu foto-foto tukang pijat. “Biasanya kalau fotonya kurang cakep, langsung dia cancel.”

Saya sendiri sebelum mendapatkan tukang pijat satu ini saja malah di-cancel oleh tukang pijat lainnya. “Terlalu jauh pak. Saya di Cempaka Putih,” alasan si tukang pijat itu. Apakah ia juga meneliti foto saya di aplikasi? Tunggu, saya tak pernah merasa memasukkan foto di aplikasi itu. Jadi musykil ia membatalkan sebab rupa atau kesan pertama.

Akun-akun konsumen nakal yang sering batalkan pesanan tanpa sebab yang ‘jelas’ itu bisa dicekal oleh pihak penyelenggara jasa aplikasi pijat panggilan ini.

“Masih bujang atau homo kali dia, pak. Kalau seperti saya yang pijat buat cari nafkah untuk anak istri sudah beda pasti cara kerjanya.”

Ia sendiri pernah memiliki langganan seorang pria yang begitu dermawan. “Kalau dia ngasih duit cuma untuk pijat dua jam itu nggak dihitung lagi duitnya. Pertama dia kasih Rp600.000. Kemudian dua kalinya dia panggil lewat nomor pribadi saya. Nah, baru ketiga kalinya baru ketahuan dia punya ‘niat yang gituan’. Bukannya disuruh mijit badan, saya malah disuruh meganging ‘itunya’,” ia mengingat.

Ia mencoba menampik secara halus permintaan konsumen yang haus layanan seks ini. Kalau tangannya memijat di sekitar paha dan ditarik ke arah selakangan, ia buru-buru minta maaf dan turun ke lutut. Saya paham, ia juga tidak bisa melewatkan imbalan sebesar ratusan ribu rupiah yang bisa menghidupi diri dan keluarganya dengan begitu saja. Jadi, ia harus menahan diri sebisa mungkin. “Paling akhirnya dia ngocok sendiri,” ujarnya. Tapi ia tetap bertahan karena bayarannya untuk pijat dua jam bisa berpuluh-puluh kali lipat dari konsumen kelas teri macam saya yang hanya bisa memberi imbalan kurang dari Rp100.000 per jam. “Terakhir dia kasih Rp1,3 juta untuk dua jam,” katanya sedikit bangga. Untuk imbalan sebesar itu, ia rela menahan risih saat si pelanggan pria itu merancap dengan tangannya sendiri. “Takut nular juga kan, pak? Virus gituan.”

Kalau sudah tidak memikirkan uang, mungkin ia akan sudah meninggalkan pelanggan itu dan bekerja yang lebih aman dari pelecehan semacam itu. Tapi ia masih memikirkan keluarga yang harus diberi makan, dan ia juga enggan terlibat hubungan seksual apapun dengan pelanggannya. Ia dipanggil hampir tiap minggu oleh pelanggan satu ini, yang bisa dikatakan dapat mencukupi nafkahnya dengan mudah. “Kalau tidak Sabtu ya Minggu. Pastinya sih malem malem. Jam 11 atau 12 malem baru nelpon.”

Kata tukang pijat saya ini, memang pelanggannya itu bukan sengaja memanggil jam segitu tapi karena kesibukan yang tak terkira. “Dari segi pembicaraan saya tahu dia orang penting. Misalnya ngobrol sama temennya habis dari ketemuan dengan kementerian apa gitu.”

Seolah saya tak percaya, saya masih tanyakan,”Ini bapak bapak?”

“Bapak bapak. Iya. Orang Indonesia. Di apartemennya itu banyak juga temannya. Cowok cowok.

Begitulah dilema kami berdua, para korban yang juga mendapatkan kenikmatan dari pijatan. Sebagai konsumen, saya merasa diuntungkan karena saya tak perlu keluar rumah dan biayanya juga lebih murah. Terakhir kali saya pijat di mall, saya masih merasa kurang puas dan lama ditambah dengan keharusan pulang ke rumah setelah pijat, yang membuat otot-otot dan pikiran yang sudah di kondisi rileks maksimal menjadi menegang lagi. Biayanya juga lebih terjangkau dengan jasa pijat panggilan.

Sebagai produsen, ia juga tak kuasa menolak rezeki dari jalur ini. Meskipun itu artinya ia harus menghadapi pelanggan yang haus seks, tak masalah asal ia masih bisa menolak dan pelanggan tidak berang karena penolakan itu.

Benar-benar sebuah dilema.

Lalu mungkinkah bisa menikmati layanan pijat yang nikmat tanpa harus bersinggungan dengan kemaksiatan yang terlaknat itu? Saya dan tukang pijat saya ini tak bisa memberikan jawabannya yang pasti karena masih menemukan sisi yang bisa dinikmati . (*/)

L0058581 Ivory figure of man massaging the back of another man. Japan

Tapi pijat dalam pakaian lengkap juga bukan solusi tepat karena efek pijatannya jadi kurang maksimal. [Sumber foto: Wikimedia Commons]

 

 

 

 

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.