Pria-pria ‘Kering’ dan Bigorexia

22a_new_sandow_pose_28vii29222c_eugen_sandow_wellcome_l0035269

Bigorexia mirip anorexia tetapi dengan obsesi untuk membesarkan tubuh. [Sumber foto: Wikimedia Commons]

“UNTUNG kerjaannya bukan mijit,” ujarnya sambil memijat pinggang saya. Sebagai seorang pria, tangannya tergolong lembut tapi tetap kuat.

Ia tak punya resep khusus. Hanya mengurangi olahraga angkat beban dengan barbel. Karena jika ia masih sering angkat beban seperti itu, ia akan dikomplain penerima jasa pijatnya.

“Pernah pakai sarung tangan. Busa juga pernah. Tapi tetap saja kasar jadinya dan kapalan,” tukasnya pada saya begitu saya melontarkan keluhan yang sama pada kedua telapak tangan saya.

Sekarang tukang pijat saya ini hanya menyempatkan diri berolahraga angkat beban yang sesungguhnya ia gemari cuma seminggu sekali. Apalagi alasannya mengurangi selain agar kelembutan tangannya tak rusak.

Kalau tidak olahraga, ia bisa kerepotan mengendalikan kolesterolnya. Bisa 259! Harusnya 100. “Makan bakso saja sudah pusing,” keluhnya. Padahal usia baru 39 tahun. Kupikir ada yang salah dengan pola makannya. Tapi masih untung ia bisa mengimbangi dengan olahraga dan mau rutin melakukannya. Ada yang sudah tahu punya keluhan kolesterol tinggi tapi tidak berbuat apapun dan hanya mengharapkan keajaiban dari Tuhan agar dirinya sehat. Seolah jika ia tidak berbuat apapun, masalah kesehatan itu bisa sirna dengan sendirinya. Meski ia tahu di dalam benaknya sendiri itu mustahil bisa terjadi.

Saya menyuruhnya agar tidak lupa memijat lengan saya yang pegal setelah melakukan dips sore tadi. “Nanti jadi gede nih,” komentarnya.

Saya menampik dengan tertawa kecil,”Ah, susah kalau saya. Memang habis latihan kayak gede dikit tapi habis itu kempes lagi kok.”

Ia mencoba menghibur saya dengan berkata bahwa itu bisa terjadi. “Kalau badan ini kan tipe kering jadi lama jadinya. Tapi nanti gedenya gede otot bukan karena lemak, pak.”

“Iya ya,” saya meratapi.

Tukang pijat saya ini menimpali,”Seperti saya nih. Mau fitness kayak apa juga nggak bakal gede. Segini gini aja.”
Dulu ia juga memiliki ambisi yang sama: membesarkan badan agar tampak gagah, kekar dan macho. Ia pun ke gym dan teratur angkat beban di sana. Dari selintas melihat perawakannya, meski tak besar saya juga tahu ia memiliki ketegapan yang tidak bakal bisa dimiliki jika seseorang tidak berolahraga secara teratur.

Untuk itu ia menganggarkan dana untuk membeli tiga kaleng susu penggenjot berat badan. Habis mengkonsumsi, tak ada perubahan sama sekali. Ia beli di toko offline Rp700.000-an tapi di toko online Rp500.000-an.

“Kalau badan tipe ‘basah’ gitu cepet gede badannya,” ucapnya lagi, menyanjung rekan-rekannya yang sudah memiliki bodi binaragawan.

Untuk menghibur dirinya dan saya sendiri yang ‘kering’, saya katakan:”Tapi mereka kalau sudah tidak olahraga dan makan sembarangan juga langsung naik berat badan dan gendut juga.”

Begitu bersemangatnya membesarkan fisik, ia sampai pernah menghabiskan putih telur dua kilo saban hari. “Saya buat cemilan itu putih telur. Dua kilo sehari. Tetep aja badan segini…” Ia dengan sengaja membeli putih telur yang ia rebus dan makan setiap hari. Ia makan dengan nasi juga. Sampai bosan dan muak. “Sudah dihajar susu dan putih telur, tetep aja segini.” Ia menyebut angka timbangan berat badannya antara 48 (sebelum fitness) dan 52 (setelah fitness).

Kalau disuruh pull up, ia mengaku bisa 3 set, masing-masing set 12 kali. Lumayanlah. Mengingat usianya mendekati kepala empat.

“Sekarang saya tujuannya sehat saja,” katanya sambil memijat kepala saya, menandakan sesi pijat ini segera usai.
Saat saya berkata kalau sudah tak olahraga beberapa hari saja rasanya sudah tidak enak, ia mengiyakan. “Otot yang sudah terbiasa olahraga itu nagih begitu nggak dibuat olahraga. Meski itu artinya ‘nagih’ dalam koridor yang positif juga. “Daripada nagih yang nggak nggak kayak narkoba.”

Mulanya ia rajin ke gym dan di sana saban pagi ia olahraga sampai energinya terkuras. “Jadi begitu habis nge-gym, malah capek, nggak sanggup buat kerja. Mending olahraga pagi-pagi di rumah pakai barbel sendiri dan bar di pintu buat pull up.” Berolahraga di gym memang asyik dan bersemangat tetapi kadang lupa daratan karena ada banyak orang lain sehingga muncul atmosfer kompetisi.
Sebagai sesama pria ‘kering’, saya merasakan apa yang ia rasakan. Kejengkelan kami melihat teman-teman kami yang berbadan lebih besar dengan porsi latihan yang sama atau bahkan lebih sedikit dari kami. Sementara itu, kami yang berjuang lebih banyak tidak kunjung ada hasil nyata. Pahit. Sepahit empedu.

Kami ini bosan dengan perawakan kurus dan tipis. Kami ingin bisa lebih ‘mengembang’. Dan seperti dirinya yang kini berolahraga bukan lagi untuk memfokuskan diri pada segi estetik tapi lebih pada kesehatan, kami beruntung tidak terjerumus pada BIGOREXIA, sebuah obsesi yang menggejala di kalangan pria muda akibat merebaknya video tutorial body building, calisthenics, dan sejenisnya di YouTube atau foto atlet yang pamer bisep, perut dan dada yang ototnya terdefinisi ideal di Instagram.

Bigorexia ini mirip anorexia. Ia sebuah kelainan psikologis yang ingin badannya lebih besar daripada yang terlihat sekarang di cermin. Dan bayangan di cermin itu seolah tak pernah cukup besar untuk memenuhi ekspektasinya. Obsesi itu pun melampaui akal sehat. Dari makan makanan sehat yang berkandungan protein tinggi setiap saat, sampai ke gym setiap hari dua sesi. Tanpa sakit, rasanya tak ada kemajuan. Harus sampai capek dan menembus batas kesanggupan fisik. Lalu agar bisa menjadi lebih besar, segala cara ditempuh. Dari minum susu whey, sampai makan dada ayam rebus tanpa bumbu. Begitu terus sampai jadi rutinitas.

Adakah yang salah dengan olahraganya? Tentu tidak. Sepanjang tidak melewati batas kemampuan dan kewajaran, olahraga sangat bagus. Tapi jika obsesi sudah masuk dan membuat olahraga itu menjadi penuh target dan ambisi tanpa kita bisa menikmatinya, lalu buat apa? (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in health and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.