Ketidaktelitian Indosat Oreedo, Kejengkelan Pelanggan

Jepretan Layar 2018-06-25 pada 15.54.32.png

SUDAH sembilan tahun saya menjadi pelanggan operator yang dikenal dahulu sebagai IM3 ini. Saya bukan tipe pelanggan seluler yang gemar berganti nomor atau memiliki nomor lebih dari satu. Sehingga saat ada kebijakan pendaftaran dan pembatasan nomor seluler saya juga tidak keberatan.

Beberapa hal yang saya perhatikan dari pelayanan operator yang sekarang dikenal sebagai Indosat Oreedo ini ialah pelayanannya yang kerap dikeluhkan. Satu yang saya juga ingin sampaikan di sini ialah bagaimana ketidaktelitian operator itu (yang mungkin tak sengaja) membuat saya dan seorang teman saya (dan mungkin banyak orang lain yang belum bersuara tapi melewatkannya karena berpikir “ya sudahlah, cukup tahu aja”) jengkel benar karena kami diperlakukan seperti keledai.

Apa pasal?

Begini ceritanya. Seperti yang Anda bisa baca di tangkapan layar di atas, saya ingin memperpanjang paket internet saya dengan mengakses aplikasi MyIM3 di perangkat. Lalu saya pilih sebuah paket dan pesan pendek untuk konfirmasi pembelian pun terkirim.

“Balas OK jika setuju, BATAL jika tdk setuju” begitu tulis operator.

Karena saya setuju, saya pun balas dengan ketikkan OK.

Tapi pembelian gagal. Untungnya pulsa saya utuh. Kalau sudah hilang, mungkin saya akan tambah berang lagi. Untuk ini, saya akui Indosat Oreedo patut diapresiasi. Pulsa saya juga akhir-akhir ini (sejak saya komplain via Twitter dengan menyebut @indosatcare) selamat dari pemotongan yang tak jelas alasannya (untuk itu ada kode pendek tertentu yang harus diketikkan untuk men-unsubscribe apapun itu dari nomor pelanggan, yang sayangnya tidak banyak orang tahu).

Percobaan ini saya lakukan berkali-kali dari tengah malam sampai siang karena saya takut pulsa saya akan tersedot untuk konsumsi data per kb (operator ini juga terkenal membuat pulsa pelanggan raib tanpa alasan jelas dan saya pernah jadi korban juga).

Dari puluhan kali seperti orang idiot mengirim balasan OK itu, saya akhirnya berhenti dan menyimpulkan ada gangguan di jaringan atau faktor lain.

Lalu saya entah kenapa iseng saja saat santai membalas pesan pendek tadi dengan “YA”, bukan “OK” seperti yang dituliskan.

Langsung ada SMS balasan tanda pembelian paket itu berhasil.

Saya ungkapkan itu di Instagram dan seorang teman juga mengatakan hal yang sama terjadi padanya. Instruksi itu terkesan membodohi pelanggan yang ingin membeli.

Sungguh saya tidak habis pikir, bagaimana bisa operator sendiri tidak seteliti ini memberikan instruksi pembelian paket?!! Saya bingung harus merasa geli, jengkel, atau bersumpah serapah saja.

Entah apakah tulisan ini terbaca oleh pihak operator atau tidak, saya simpulkan kualitas layanan Indosat Oreedo dalam hal pemberian instruksi sesimpel ini saat ini MENGECEWAKAN. Titik.

Apakah dengan ini saya akan pindah operator?

Kecil kemungkinan akan demikian karena saya sudah malas berganti nomor sebab operator lain juga pasti ada kelemahannya sendiri yang saya belum tahu. Plus, semua famili dan relasi tahunya nomor ini saja.

Jadi, mohon Indosat Oreedo peliharalah kami existing customers yang masih setia ini. Jangan permainkan kami dengan instruksi yang meski terlihat remeh tapi sangat penting begini. (*/)

Paket Data, Stimulus Ekonomi Digital Indonesia

MEMAKAI layanan operator Indosat selama hampir sepuluh tahun, saya jarang memiliki keluhan. Walaupun tentu sesekali ada hal-hal yang perlu diperbaiki, seperti sinyal kurang merata atau ada tempat yang mengalami ketiadaan sinyal sama sekali (blank spot), saya pikir itu wajar saja. Apalagi jika tinggal di ibukota yang penuh gedung pencakar langit ini sehingga sinyal tak mulus penerimaannya di perangkat kita. Dan ini sudah mafhum. Saya lihat di kelompok pelanggan operator lain juga sama saja keluhannya. Ada yang membanggakan sinyal merata di seluruh nusantara tapi di kantor yang lokasinya di tengah Mega Kuningan (kurang apalagi coba?) Sinyal malah ‘melempem’. Padahal kantor pusat operatornya sejarak 1-2 km dari pengguna. Ironis.

Tapi beberapa waktu terakhir ini, problem mengemuka. Sebagai pengguna layanan Indosat, saya jadi jengah juga. Masalahnya, pernah saya isi pulsa 100.000 dan membeli paket data 70.000. Saya memang tidak mau terlalu boros sebab di tempat kerja juga sudah ada koneksi wifi. Jadi, buat apa beli paket data sebanyak-banyaknya? Kebutuhan hidup saya bukan cuma data. Sisa 30.000 di saldo saya itu entah bagaimana bisa menguap tanpa tahu penyebabnya. Tidak cuma sekali. Ini terjadi beberapa kali.

Saya pun meradang di Twitter. Saya sampaikan masalahnya. Untung ditanggapi dengan baik via direct message Twitter oleh seorang petugas bernama Deli yang meminta nomor ponsel, tanggal kejadian, jumlah pulsa awal dan akhir. Untuk meyakinkan, saya kirimkan juga tangkapan layar atau screenshot dari aplikasi My IM3 yang menunjukkan pulsa saya yang nol gara-gara tindak pemotongan pulsa misterius. Kalau saya cuma 30.000, ada banyak lagi yang mengeluhkan kasus serupa. Bayangkan saja besarnya penerimaan Indosat Oreedo dari pemotongan pulsa misterius ini. Sangat tidak etis menurut saya karena saya sebagai pelanggan tidak pernah memberi persetujuan untuk layanan apapun baik via pesan singkat atau surel atau apapun. Melukai kepercayaan pelanggan tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Sebagai protes, karena saya tak berdaya, saya tidak lagi membeli paket data yang mahal. Cukup yang termurah saja. Ada 35.000 sebulan, lalu saya beli saja paket itu. Mau membiarkan nomor ini hangus rasanya mustahil karena semua relasi dan famili tahu nomor ini. Memberitahu nomor baru sungguh merepotkan. Membiarkan kasus ini berlanjut juga seperti makan hati. Akhirnya saya putuskan ‘menghukum’ Indosat Oreedo dengan memangkas anggaran untuknya.

Kebetulan saya juga sedang bosan dan sudah muak dengan media sosial yang semakin tidak karuan di masa jelang pemilihan presiden. Jadi saya berniat menggunakan media sosial lebih jarang. Seperlunya saja. Karena meninggalkan sama sekali juga tidak mungkin. Akan lebih repot lagi hidup saya tanpanya.

Entah kenapa sepertinya ada kecenderungan untuk menggenjot konsumsi data baik dari pihak operator dan penyedia layanan media sosial sendiri. Misalnya, Indosat Oreedo menyediakan paket akses gratis media sosial untuk pengguna layanannya. Hanya saja media sosial tersebut adalah media sosial yang populer di pasar RI seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, Line, dan YouTube. Saya sendiri tidak habis pikir kenapa tidak turut menggratiskan layanan email Gmail atau aplikasi chat Kakao Talk. Apakah karena Gmail dipandang layanan non media sosial, sehingga bukan prioritas? Mungkin karena Gmail cuma dipakai untuk urusan kerja. Karena masa sekarang, mana ada anak milenial berkomunikasi via email? Semua bisa dilakukan di aplikasi chat. Lalu bagaimana dengan Kakao Talk yang menurut saya lebih seru daripada WhatsApp? Dugaan saya karena kurang populer itulah ia tidak digratiskan. Audiensnya juga lebih banyak orang Korsel. Hipotesis lainnya ialah mungkin pihak Facebook yang notabene memiliki Instagram dan Facebook bekerjasama secara eksklusif dengan operator untuk menggratiskan layanan. Begitu juga dengan Google yang punya situs YouTube. Kalau untuk kasus YouTube, saya pikir Google ingin menaikkan kepopulerannya lagi akibat kemunculan aplikasi layanan konten semacam Iflix dan Viu yang merebut perhatian konsumen konten multimedia di tanah air. Bayar 100.000 saja sudah bisa menonton sepuasnya sampai berbulan-bulan tanpa memangkas paket data utama pula. Menggiurkan kalau menurut saya. Tapi lagi lagi, saya tak tergiur karena menikmati konten di ponsel sama saja membuat ponsel saya lebih cepat rusak. Baterai makin boros dan layar juga bekerja ekstra keras karena penggunaan ponsel untuk aktivitas ini bisa berlangsung selama berjam-jam (contohnya untuk menonton film atau main Mobile Legend sambil ngabuburit). Selain itu, mereka juga menggratiskan akses ke layanan ecommerce seperti Bukalapak dan Tokopedia.

Semua hal itu membuat saya merumuskan teori bahwa ada skema di balik semua ini yang menggiring masyarakat Indonesia untuk lebih banyak berkegiatan di dunia digital. Bagaimanapun caranya harus digenjot karena dengan begitu tingkat konsumsi bisa terus dipacu. Dan jika tingkat konsumsi dalam negeri naik, pertumbuhan ekonomi pun naik mengikutinya. Begitu setidaknya asumsi dan proyeksinya. Tak ayal, karena masyarakat kita penyuka gratisan, kenapa tidak memberikan paket akses gratis ke layanan-layanan yang terbukti sudah menyedot perhatian orang? Ini bisa jadi suatu tindakan pemberian insentif atau stimulus kepada pelaku ekonomi digital kita baik yang dalam posisi produsen dan konsumen maupun distributor barang dan jasa. Semuanya digerakkan, diberdayakan, didorong, disokong. Dan koneksi internet dan data yang murah meriah ialah stimulan utamanya. Selamat menjalani revolusi digital dan ecommerce, warganet Indonesia! (*/)

Kenapa Orang Indonesia Buang Sampah Sembarangan

img_20160912_074832
Bahkan di tempat peribadatan sesakral masjid pun kesadaran menjaga kebersihan sangat rendah. Foto diambil di Masjid Istiqlal Jakarta setelah salat Idul Fitri. (Dok: Pribadi)

BUANG SAMPAH SEMBARANGAN ialah satu kebiasaan buruk masyarakat Indonesia. Memang kebiasaan ini bukan monopoli orang kita. Jorok merupakan suatu bagian sifat manusia tanpa kenal ras dan bangsa. Bahkan di Barat, kebiasaan ini juga bisa dijumpai di area perdesaan yang kelihatan sekilas permai dan hijau di musim panas.

Akan tetapi, masalahnya efek buruk kebiasaan ini di tanah air terlihat bahkan di tempat-tempat umum yang seharusnya dijaga kebersihannya secara ketat oleh semua elemen masyarakat. Pembiaran ini menjadi pemberian pesan bahwa seolah-olah membuang sampah sembarangan bukan perilaku memalukan, dan meskipun sudah didirikan papan-papan peringatan bahwa pembuang sampah akan didenda sekian ratus ribu rupiah atau bla bla, saya ragu aturan itu secara serius ditegakkan.

Ada beberapa alasan mengapa orang Indonesia bisa sampai separah ini.

Pembiaran dalam keluarga

Melihat anak-anak yang mau membuang sampah di tempat yang seharusnya masih jarang. Alasan sederhananya karena orang tua mereka tidak memberi teladan juga. Mungkin mereka ini hanya dinasihati untuk buang sampah dan menuruti cuma di sekolah tapi di luar setelah sekolah usai, buang sampah sesukanya bukan lagi masalah.

Kebersihan cuma formalitas

Penghargaan Adipura adalah bentuk nyata paling memuakkan dari poin argumen saya ini. Saya dari dulu mempertanyakan apa tujuan mengadakan penghargaan semacam itu kalau hanya menilai kebersihan sebuah kota di area-area tertentu dan mengabaikan manajemen sampah, cara hidup masyarakat, tata kota, dan pemeliharaan kebersihannya secara keseluruhan. Bukan cuma di jam-jam tertentu, tanggal tertentu, tapi juga sepanjang tahun. Kebersihan menjadi semacam kedok semata. Topeng yang bisa menaikkan gengsi sebuah daerah dan kepala daerahnya.

Sampah bisa membusuk dan hilang dengan sendirinya

Kesadaran yang amat rendah itu bisa dipahami karena masyarakat menganggap sampah terutama yang anorganik dan plastik itu sama dengan dedaunan yang bisa busuk dengan sendirinya. Padahal tidak! Akibatnya orang membeli dan memakai plastik secara bebas bak nenek mereka yang membeli dan memakai daun pisang untuk membungkus makanan secara leluasa.

Sudah ada pengurus sampah dan pemulung petugas kebersihan yang bisa dibayar

“Kenapa susah-susah jalan ke sana kemari mencari tong sampah kalau bisa tinggal buang? Toh nanti juga ada yang bersihkan.” Begitu pikiran orang-orang Indonesia pada umumnya. Pasukan petugas kebersihan yang dipekerjakan pemerintah memang sudah membuat manja masyarakat. Alhasil, mereka cuma peduli pada kebersihan di sekitar rumah. Di luar pagar rumah, ya urusan kebersihan itu ada pada pundak pemerintah. Ini juga menjelaskan kenapa perumahan-perumahan mewah selalu resik dan permukiman orang miskin selalu kumuh dan kotor.

Penegakan hukum yang lemah

Apakah ada berita seseorang yang ketahuan membuang sampah langsung diseret ke meja hukum dan menjadi sorotan? Musykil. Di tengah animo masyarakat yang haus berita sensasional, berita semacam itu kurang menarik. Dan karena itulah, orang jadi kurang sadar bahwa membuang sampah sembarangan adalah kejahatan serius juga bagi lingkungan. Tidak jelas juga siapa yang bisa melaporkan pelaku pembuangan sampah sembarangan. Semua orang berpikir,”Ya itu kan urusan aparat/ pejabat. Bukan saya. Apalah saya?” Plus, biasanya pelaku buang sampah sembarangan adalah orang yang kita kenal sendiri, misalnya tetangga atau keluarga. Bisa jadi kita hanya bisa memaklumi dan menganggap tak pernah terjadi.

Penanganan sampah yang amburadul

Manajemen sampah di Indonesia tidak pernah serius dan menyeluruh dan pemerintah tidak pernah menunjukkan itikad untuk memperbaikinya secara sistematis dan berkelanjutan dan nyata. Itu terlihat dari cara membuang sampah yang sembarangan. Masyarakat sampai petugas kebersihan tidak pernah diberi edukasi mengenai pemisahan sampah yang sepatutnya (saya menahan diri untuk tidak membandingkan dengan masyarakat negara ‘maju’) tetapi pemerintah membeli saja tempat sampah dengan tiga kategori berbeda (organik, anorganik dan B3) untuk disediakan di tempat-tempat umum. Alhasil, sama saja bohong. Semua sampah bercampur begitu saja di ketiga tempat sampah tadi. Label sama sekali tidak berpengaruh. Orang tak akan ambil pusing untuk membedakan mana yang organik, mana yang anorganik, dan mana yang limbah berbahaya. Jadi, tempat-tempat sampah yang sok ‘maju’ itu cuma lelucon saja bagi saya. Omong kosong dan formalitas.

Kebersihan sebagian dari iman?

Bukan kebetulan bahwa masyarakat Indonesia muslim dan tak peduli kebersihan. Selama ini mereka hanya diajari bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. “Ya, tak masalah lah, masih ada sebagian lainnya kok. Nggak hilang semuanya kan,” begitu pikiran bawah sadar mereka berkelit. Kekotoran sebagian dari dosa, mungkin begitu seharusnya cara pandang itu mulai dibalik. (*/)

jakarta_slumlife65
Keseriusan menangani sampah baru sebatas mengangkut dan menumpuk sampah di satu tempat. Mengolahnya agar bisa digunakan dan didaur ulang rasanya masih terlampau muluk-muluk. (Foto: Wikimedia Commons)

Tata Cara Membatalkan Tiket Kereta Api (Sebuah Drama)

img_20180613_094837.jpg

SAYA punya kategori khusus di blog ini yang bernama “Save Our Nation”. Entah kenapa saya pilih itu tapi mungkin karena dulu saya berpikir banyak hal-hal yang dilakukan bangsa ini dan masyarakatnya yang perlu diperbaiki dan jika tidak segera diperbaiki akan membuatnya ketinggalan dan usang dan menjengkelkan.

Untuk tulisan ini, saya tanpa ragu memilih kategori tersebut karena saya pikir ini memerlukan perbaikan. SANGAT AMAT memerlukan perbaikan. Karena jika dibiarkan begini terus menerus, saya jamin akan lebih banyak lagi keluhan-keluhan semacam ini beredar di dunia maya dan nyata sampai menteri perhubungan bisa tahu dan mau menyuruh bawahan-bawahannya memperbaiki kondisi yang ada.

Berlawanan dari kemudahan yang ditawarkan saat kita membeli tiket kereta api secara daring di aplikas-aplikasi semacam Tiket.com dan Traveloka.com, hanya ada kesengsaraan saat kita akan membatalkan tiket itu.

Mudah beli, susah kembali.

“Tapi ya sudah untung masih bisa dikembalikan, kan?” begitu mungkin pikir orang yang menganggap tiket kereta seharga setengah juta rupiah sebagai recehan belaka. Saya mau berpikir seperti itu. Sayangnya, saya hanya pemudik jelata yang mencoba mengerem setiap pengeluaran jelang, selama dan setelah musim Lebaran yang super konsumtif ini.

Saya paham dan maklum bahwa PT KAI memotong 25% dari harga tiket karena kerepotan yang disebabkan. Saya rela. Masukkan saja itu sebagai infak bagi perbaikan sarana transportasi bangsa yang saya akui makin memuaskan. Tapi untuk sektor pengembalian uang tiket yang dibatalkan, rasanya pengakuan itu tidak bisa saya berikan begitu saja.

Urgensi perbaikan prosedur pembatalan dan pengubahan jadwal tiket ini sudah saya rasakan sejak saya sampai di stasiun seminggu sebelumnya. Kata petugas, tiket baru bisa dicetak jika sudah masuk periode seminggu sebelum tanggal keberangkatan. Saya pun ke stasiun seminggu sebelum hari H. Dan tebak apa kata mesin cetak tiket mandiri itu di layarnya. TIDAK BISA DICETAK.

Untung saya masih puasa jadi saya meninggalkan stasiun tanpa berteriak-teriak seperti orang gila. Kenapa saya harus mencetaknya dulu? Karena saya butuh bukti fisiknya agar bisa diurus dan dibatalkan.

img_20180613_094846.jpg

Lalu saya kembali beberapa hari setelah itu dengan tekad bulat. Sudah tengah hari dan loket 9-10 di stasiun Gambir itu terlihat agak penuh tapi tak sampai berdesakan dan meluber. Saya bingung apakah harus ke Customer Service (ternyata di depan pintu mereka sudah memajang peringatan tidak melayani pembatalan tiket) atau mengantre. Ok, saya antre tapi bahkan sebelum saya mengambil nomor antrean, seorang petugas yang saya tanya mengatakan kurang lebih begini:”Wah, sudah ratusan hari ini, pak. Besok lagi. Kalau mau mulai antre, dari jam 4.”

Sekali lagi saya pulang dengan tangan hampa.

Esoknya saya bangun pukul 3.30 dan tidak peduli belum sahur saya ke stasiun dan tebak apa yang saya temukan di depan loket pembatalan tiket? Sembilan orang laki-laki sudah mengantre di depan mesin pemberi nomor antrean. Bahkan antrean untuk mengambil noor antrean saja sudah dimulai pukul 3.50 dini hari. Saya dapat nomor 10.

Alhamdulillah!

Tinggal menunggu dipanggil dan saya akan dapat uang 75% dari harga tiket itu, pikir saya polos dan sederhana dan naif.

Saya lari ke gerai makanan cepat saji dan memesan makanan dan sebelum saya menghabiskan gigitan pertama, saya lihat nomor antrean pertama dipanggil ke depan. Saya buru-buru ke kursi tunggu, takut tertinggal. Saya pikir cuma satu loket yang dibuka tapi ternyata dua. Bagus, saya apresiasi itu.

Tiba giliran saya dalam waktu kurang dari 30 menit. Cukup cepat, saya akui.

Saya serahkan formulir pembatalan (foto pertama di atas) dan KTP dan mengharapkan penggantian dalam bentuk tunai, bukan transfer.

Alasan saya pilih tunai?

Kalau transfer, lebih lama pengembaliannya. Dan saya tidak mau ambil risiko, mereka lupa mentransfer dan saya menunggu seperti orang dungu memeriksa saldo rekening setaip hari. Kalau tunai, saya bisa lebih cepat dapat dan saya pikir sekarang juga.

Ternyata tidak, saudara-saudaraku terkasih.

Uang itu akan baru bisa diambil setidaknya sebulan setelah hari ini saat saya mengajukan pembatalan di stasiun terdekat. Setelah tanggal itu bahkan masih bisa diambil tapi tidak sebelum tanggal itu, kata petugas.

Apa daya saya?

Uang yang saya harap masih bisa saya dapatkan di saat yang relatif penting seperti lebaran, ternyata tertahan.

Drama ini masih akan berlanjut setidaknya 30 hari ke depan. Jadi, nantikan kelanjutannya. Saya pastikan akan ada kabar terbaru di sini begitu saya rampung dengan ‘episode hidup’ saya ini.

‘Cegukan’?

Fenomena ini menunjukkan betapa seringnya kita sebagai bangsa berlari sekencang-kencangnya dalam mengadopsi satu aspek teknologi saja dan abai untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan lainnya. Tersedak atau hiccup mungkin istilah tepatnya. Terlalu bernafsu dengan digitalisasi ini itu. Semua jadi online. Tapi di sisi-sisi yang terkesan remeh dan sepele, kita lupa memikirkan solusinya. Seperti kasus ini: membeli online dan modern dan praktis dan cukup duduk di depan laptop atau menggenggam ponsel, tapi membatalkan masih harus offline, bolak-balik, primitif, menghabiskan waktu, tenaga, dan kewarasan, dan harus bangkit keluar rumah, mengantre sebelum subuh.

Bagaimana menurut Anda sendiri, pernah mengalami hal semacam ini juga? (*/)

 

 

Inilah Alasan Kuat Tinggalkan Chrome dan Beralih ke Mozilla Firefox

firefox_logo2c_2017

PERBINCANGAN warganet mengenai privasi daring (online privacy) pasca skandal Facebook-Cambridge Analytica beberapa waktu lalu terus menghangat. Dan meskipun kita mulai bosan, isu ini sebetulnya sangat penting untuk terus-menerus digaungkan karena kita tidak bisa membiarkan dominasi yang tidak sehat semacam ini tetap terjadi.

Salah satu cara yang terbaik agar data kita tidak disalahgunakan oleh perusahaan-perusahaan internet besar semacam Google, Facebook, dan sebagainya ialah dengan menggunakannya menurut kebutuhan dan menghindari penggunaan semua produknya secara terpusat. Maksudnya ialah bila Anda menggunakan ponsel Android, akan sangat berisiko jika Anda juga menggunakan peramban Chrome, lalu mencari tempat dengan Google Maps, menggunakan Google Docs. Itu sama saja dengan hidup di satu ekosistem yang sama, seolah Anda tidak memiliki pilihan. Dan dengan demikian, data Anda yang lengkap dan komprehensif dipegang oleh satu korporasi saja yakni Google. Akan lebih baik menggunakan beberapa layanan dari perusahaan-perusahaan  berbeda sesuai kebutuhan Anda.

Satu langkah nyata untuk membatasi risiko penyalahgunaan data Anda di internet ialah dengan menggunakan peramban Firefox dari Mozilla dan meninggalkan peramban-peramban lainnya yang kurang menunjukkan komitmen untuk melindungi privasi penggunanya.

Mengapa Firefox?

 StatCounter-browser-ww-monthly-201705-201805-2.png

Source: StatCounter Global Stats – Browser Market Share

 

Saat ini menurut Statcounter, peramban Chrome mendominasi pangsa pasar peramban di seluruh dunia sebagian alasannya berkat merebaknya perangkat bergerak yang bersistem operasi Android. Sementara itu, Firefox hanya berada di urutan keempat. setelah Safari dan UC Browser.

Di Indonesia sendiri, Chrome masih jawara dan Firefox berada di  peringkat keempat setelah UC Browser dan Opera, bersaing dengan Safari dan peramban lainnya.

Perlu diketahui, peramban Firefox pertama diperkenalkan ke publik tahun 2004 sehingga sudah cukup lama ada. Bagi kalangan awam, ia mungkin sama saja dengan Internet Explorer,  Chrome dan Opera. Namun, yang patut diketahui ialah bahwa lain dari Chrome yang saat ini sangat dominan, Firefox dibuat oleh Mozilla yang merupakan lembaga nirlaba dengan sebuah misi mewujudkan internet sehat dan terbuka. Prinsip privasi dan keamanan menjadi dua poin utamanya.

Chrome kurang mengutamakan privasi Anda sebagai pengguna. Ini bisa dilihat dari kebijakannya yang menyatakan Chrome menyimpan data penjelahan internet Anda secara lokal kecuali Anda keluar (sign out) dari akun Google Anda. Ini artinya Chrome bisa mengirimkan informasi Anda ke Google. Selain itu, Chrome juga mengizinkan website pihak ketiga untuk mengakses alamat IP dan informasi lain yang telah dilacak website yang memakai kuki (cookies). Bila Anda memiliki kecemasan soal privasi, sudah barag tentu hal ini mencemaskan sebab data anda bisa dijual ke pengiklan dan perusahaan pihak ketiga bisa melacak gerak-gerik Anda di internet.

Kebebasan

Di Firefox, Mozilla memberikan beragam pilihan mesin pencari. Kebebasan inilah yang tidak ditemui di peramban lain. Atau jika adapun kurang dikedepankan. Pengguna bisa saja memilih Google sebagai mesin pencari mereka tetapi bedanya hal itu dilakukan bukan secara paksaan tetapi sadar dan bila tidak berkenan, pengguna bisa memilih mesin pencari yang lain. Inilah yang dimaksud kebebasan itu.

Perlindungan

Anda bisa mengendalikan data dengan lebih leluasa dan dilindungi dari pelacakan yang tidak dikehendaki dengan menggunakan peramban Firefox. Firefox ialah peramban besar satu-satunya yang ada dan bisa mencegah pengiklan mengikuti Anda. Pernahkah Anda masuk ke sebuah situs ecommerce dan belum menyelesaikan transaksi kemudian mengakses situs lain tetapi di situs tersebut Anda tiba-tiba disodori iklan tentang barang yang baru saja Anda akan beli di situs ecommerce tadi? Nah, itulah yang dimaksud pelacakan oleh pengiklan.

Privasi untuk Semua

Tentu tidak semua orang yang memakai internet adalah geek alias paham teknologi. Di luar sana jauh lebih banyak orang yang tidak tahu internet tetapi memiliki ponsel pintar dan mereka punya dana untuk membeli paket data dan tak peduli apa itu privasi dan keamanan data dan informasi pribadi. Orang-orang awam seperti inilah yang justru sangat mendapatkan manfaat banyak dari penggunaan Firefox karena mereka tidak perlu repot-repot menghidupkan fitur “jangan lacak” (Do Not Track). Di peramban Firefox, fitur itu sudah hidup atau aktif secara sendirinya. Tetapi lain halnya di Chrome. Fitur semacam ini tidak secara otomatis dihidupkan sehingga menyulitkan bagi para pengguna internet awam dan belum sadar pentingnya privasi dan keamanan untuk mengaktifkannya.

firefox-focus-hero-crop-1000x573

Bahkan jika Mozilla Firefox dirasa belum cukup untuk melindungi privasi Anda di internet, silakan unduh Firefox Focus, peramban terbaru dari Mozilla yang jauh lebih ketat dalam melindungi privasi Anda. Sayangnya produk ini baru tersedia di iOS versi terkini. Untuk iPhone 5 seperti yang saya punya, karena iOSnya versi lebih lama, belum bisa mengunduhnya. Informasi tentang Firefox Focus lebih lengkap ada di sini.  Untuk mengunduh Mozilla Firefox, cukup ketikkan “Firefox” di pencarian Google Play dan Apple Store. Selamat berselancar tanpa dikuntit! (*/)

 

Kudus di “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”

Jepretan Layar 2018-06-04 pada 14.22.38.pngDALAM karya-karya yang saya baca dan nikmati, entah itu buku, lukisan, atau apapun, saya selalu berupaya menemukan sesuatu yang memiliki pertalian dengan pribadi saya, masa lalu dan masa kini saya. Sering saya bisa melarutkan diri dalam sebuah buku bila saya berhasil menemukan benang merah tersebut. Seolah saya menemukan kepingan dar diri saya di dalamnya dan membuat saya terus ingin tahu sampai habis.

Seperti juga saat saya membaca buku yang ditulis sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer yang dijudulinya “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”. Buku terbitan tahun 2005 oleh Penerbit Lentera Dipantara ini ternyata menyimpan cukilan-cukilan historis tentang kota kelahiran saya, Kudus, yang memang juga dilewati oleh proyek pembangunan jalan super ambisius yang dalam pelajaran sejarah Indonesia dikenal sebagai “Jalan Daendels”. Bayangkan saja di masa yang belum begitu modern dan belum dikenal adanya mesin-mesin berat yang bertugas memperingan beban tenaga kerja manusia, proyek tadi bisa diselesaikan dalam waktu setahun saja. Mengagumkan tetapi juga membuat trenyuh. Karena di balik kesuksesan itu tersimpan duka mendalam bagi bangsa Jawa di pulau ini, yang menjadi latar belakang etnis saya.

Buku tersebut disusun dalam sejumlah bab pendek yang dinamai sesuai kota-kota penting yang dilalui jalan Daendels, karena memang buku ini jauh lebih tipis daripada karya-karya Pram sebelumnya yang bergenre fiksi. Buku ini meskipun menggunakan gaya penuturan yang personal, lugas dan apa adanya tetap menggunakan data dan temuan sejarah sebagai landasan penceritaannya. Pram juga tampak serius menggunakan hasil-hasil wawancaranya seperti saat ia menyelidiki desas-desus penimbunan harta karun emas di sebuah tambang.

Kudus dalam buku ini disebut beberapa kali. Dua kali tepatnya. Sekali Kudus disinggung saat Pram menjelaskan pembuatan ruas jalan Demak-Kudus. Begini ia bercerita:

“Sedang waktu menggarap ruas Demak-Kudus memotong semenanjung Muria/Jepara, para pekerja berkaparan dalam meninggikan tanah di rawa-rawa Karanganyar baik karena kelelahan, perlakuan keras, maupun malaria yang berabad menghantui wilayah Karanganyar.” (Jalan Raya Pos, Jalan Daendels; 2005: hal. 26)

Menurut Pram, kondisi penuh rawa besar di sana ideal untuk tempat berkembang biaknya buaya-buaya. Saya sendiri selama ini tidak pernah sekalipun berpikir bahwa sungai penuh lumpur di Karanganyar yang saya pasti lewati bilamana harus meninggalkan Kudus untuk menuju ke Jakarta itu bisa menjadi habitat yag cocok untuk buaya-buaya. Kalaupun memang pernah ada buaya di sini, pastinya populasinya sudah turun drastis karena manusia tidak akan membiarkan mereka hidup bebas. Bisa saja hewan-hewan ini sudah ditangkapi untuk dipelihara atau diternakkan atau kalau tidak, dikuliti untuk dijadikan komoditas perdagangan.

Jalan Daendels yang melewati Demak dan Kudus juga sebetulnya hanya pengaspalan jalur transportasi yang sudah lama ada bahkan sejak merebaknya penyebaran agama Islam di abad ke-15-16 di Pantura Jawa.

Pram menyanjung Kudus sebagai kota yang “menempati mata rantai penting dalam penyebaran Islam tingkat pertama di Jawa” (hal.95). Hipotesisnya itu cukup beralasan karena di abad ke-16 Sunan Kudus yang tak cuma dikenal sebagai pemuka agama tetapi juga politikus turut berperan serta dalam roda pemerintahan Kerajaan Demak.

Si penulis meneruskan elaborasinya soal Kudus dengan membeberkan data demografisnya, yang mengetengahkan jumlah buruh perempuan di industri rokok per 1980 yang relatif besar. Perdagangan dan industri rokok memang menjadi kekuatan Kudus selama ini, dan masih kita bisa saksikan sampai detik ini. Pram merasa perlu menekankan ini mungkin karena ia sendiri adalah penggemar berat rokok kretek.

Kudus juga dikenal sebagai produsen kapuk terkemuka. Produksi kapuk mulai mengalam kemunduran saat saya lahir di tahun 1983 dan memang kapuk sudah bukan komoditas yang banyak ditemui. Kalau Anda di Pantura, mungkin Anda akan masih menemukan bantal dan guling yang diisi dengan kapuk yang mirip kapas tetapi memiliki warna lebih kuning gading dan tidak seputih kapas yang kini dianggap lebih bagus dan resik.

images-3
Pabrik gula Rendeng

Untuk produksi tebu, Kudus juga memiliki pabrik gula Rendeng yang saya sudah kenal sejak lahir. Keberadaan pabrik gula ini masih ada sekarang dan sudah lama memberikan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat Kudus meskipun di saat yang sama saya juga sudah mendengar lama soal tingkat polusinya yang cukup mengganggu, misalnya jemuran yang penuh dengan abu sisa pembakaran dari cerobongnya. Pabrik ini masih berdiri tegak di Kudus.

Buku Pram yang terakhir di masa hidupnya ini bisa saya katakan sebagai buku yang bagus untuk memberikan uraian sejarah mengenai satu ruas jalan yang penting dalam sejarah bangsa ini. Namun, yang agak membingungkan adalah susunan babnya, yang pemilihannya kurang saya pahami dan mungkin hanya Pram yang bisa pahami. Ia mengawali buku dengan “Blora, Rembang” yang mungkin memiliki makna besar baginya. Hanya saja, menurut saya agak kurang sesuai karena buku ini soal Daendels dan proyek jalan yang bersejarah tersebut. Di sini Pram agak mencampurbaurkan impresi pribadinya dengan penceritaan sejarah yang akan lebih mudah dipahami bila diceritakan seacra kronologis. (*/)

Diet Rendah Kalori: Satu Cara Ilmiah Obati Diabetes

Membatasi kalori yang masuk ke tubuh kita ternyata membuat tubuh tidak hanya ramping tetapi juga jauh lebih sehat dan jauh dari diabetes.

Tidak percaya? Coba simak hasil penelitian berikut ini.

Dinyatakan oleh tim riset yang didanai oleh The US Public Health Service bahwa mekanisme pembatasan asupan kalori secara cepat membalikkan kondisi seseorang yang didera diabetes tipe dua menjadi lebih sehat dan produktif serta bisa bertahan hidup lebih lama. Bila ini bisa dibuktikan dengan lebih jauh, bukanlah sebuah kejutan jika kita akan segera menemukan obat baru untuk mengobati penyakit ini.

Diet yang rendah kalori ini mencakup pembatasan berikut ini:

  • pengurangan konversi laktat dan asam amino menjadi glukosa;
  • pengurangan tingkat konversi glikogen di liver menjadi glukosa; dan
  • pengurangan lemak dalam makanan yang akan meningkatkan respon liver pada insulin.

Di AS, satu dari tiga orang warganya berisiko terkena diabetes tipe 2 hingga tahun 2050 menurut prediksi terkini yang dirilis The Center for Disease Control and Prevention. 

Kabar baiknya ada harapan untuk kembali sehat bagi para pasien yang menjalani operasi pengurangan berat badan bariatrik yang membuat membuat mereka membatasi asupan kalori sehingga memungkinkan penurunan berat badan secara lebih aman.

Tim peneliti Yale University meneliti lebih jauh dampak diet rendah kalori ini. Mereka meneliti subjek (tikus percobaan) yang hanya diberi makan seperempat asupan normal mereka. Ilmuwan melacak dan menghitung sejumlah proses metabolik yang berkontribusi pada produksi glukosa yang naik dalam liver.

Metode ini dikenal sebagai PINTA dan memungkinkan peneliti melakukan serangkaian analisis mendalam terhadap aliran metabolik penting dalam liver yang mungkin turut memicu resistensi insulin dan meningkatkan jumlah produksi glukosa dalam liver. Keduanya adalah proses utama yang memicu kenaikan gula darah pada pasien diabetes.

Dengan metode diet rendah kalori ini, ditemukan tiga mekanisme utama yang bertanggung jawab atas efek dramatis diet rendah kalori yang menurunkan dengan cepat gula darah dalam tubuh hewan percobaan yang menderita diabetes.

Di liver, diet rendah kalori membantu menurunkan produksi glukosa juga. Semua dampak positif ini bisa langsung dialami hanya dalam tiga hari menjalani diet.

“Memakai pendekatan ini untuk meneliti metabolisme lemak dan karbohidrat dalam liver membantu kita tahu bahwa ada gabungan tiag mekanisme yang bertanggung jawab atas penyembuhan kondisi hiperglikemia setelah menjalankan diet rendah kalori,” kata peneliti senior Gerald I. Shulman, pengajar ilmu kedokteran dan fisiologi sel dan molekuler di Yale dan peneliti di Howard Hughes Medical Institute.

Jadi, apakah Anda mau mencoba menjalankan diet rendah kalori ini untuk menurunkan kadar gula darah Anda selama tiga hari? Coba dulu ya.

%d bloggers like this: